📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4 dokumenANALISIS DAMPAK PAJANAN PM2.5 TERHADAP KESEHATAN PEKERJA PANDAI BESI DI DESA MEKARMAJU, KECAMATAN PASIRJAMBU, KABUPATEN BANDUNG
Industri pandai besi merupakan sektor informal yang berpotensi menghasilkan pencemaran udara berupa partikulat halus PM2.5 dari proses pembakaran dan penempaan logam. Paparan PM2.5 secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan penurunan fungsi paru pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsentrasi PM2.5 di lingkungan kerja, menghitung nilai intake dan risiko kesehatan pekerja, serta menganalisis pengaruh intake PM2.5 terhadap fungsi paru pekerja pandai besi di Desa Mekarmaju, Kabupaten Bandung. Penelitian menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Pengukuran konsentrasi PM2.5 dilakukan menggunakan alat PurpleAir PA-II pada beberapa titik lokasi kerja. Subjek penelitian terdiri atas 20 pekerja pandai besi dan 10 responden kontrol. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji ANCOVA dengan pengendalian variabel usia, berat badan, lama kerja, dan status merokok. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata konsentrasi PM2.5 sebesar 101,82 µg/m³, melebihi baku mutu PM2.5 berdasarkan Permenkes RI No. 2 Tahun 2023 sebesar 25 µg/m³. Sebagian besar pekerja memiliki nilai Hazard Quotient (HQ) > 1 yang menunjukkan adanya potensi risiko non-karsinogenik. Hasil uji ANCOVA menunjukkan bahwa intake PM2.5 berpengaruh signifikan terhadap rasio FEV1/FVC setelah dikontrol oleh variabel kovariat (p<0,05). Selain itu, berat badan juga menunjukkan pengaruh signifikan terhadap rasio FEV1/FVC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan intake PM2.5 berpotensi menurunkan fungsi paru pekerja pandai besi. Upaya pengendalian diperlukan melalui peningkatan ventilasi, penggunaan alat pelindung diri (APD), dan pemantauan kualitas udara secara berkala.
PENGARUH VARIABILITAS PARAMETER METEOROLOGI TERHADAP KONSENTRASI NITROGEN DIOKSIDA (NO2) DI DKI JAKARTA
Sebagai pusat ekonomi, DKI Jakarta memiliki beragam kegiatan industri dan lalu lintas kendaraan bermotor yang dapat menghasilkan emisi. Salah satu akibatnya yaitu pencemaran udara dengan jenis polutan nitrogen dioksida (NO?). Di kawasan perkotaan, NO? banyak digunakan sebagai indikator kualitas udara. Konsentrasi NO? di udara ambien dipengaruhi oleh kondisi meteorologi seperti temperatur, kelembapan relatif, dan curah hujan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuibagaimana variabilitas parameter meteorologi meliputi curah hujan, temperatur, dan kelembapan relatif berperan terhadap konsentrasi NO? di DKI Jakarta selama tahun 2021-2023.Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data observasi konsentrasi nitrogen dioksida (NO?) serta data parameter meteorologi meliputi temperatur, kelembapan relatif, dan curah hujan dengan resolusi waktu 1 jam. Data tersebut mencakup periode dari 1 Januari 2021 hingga 31 Desember 2023 yang diperoleh dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta. Pengamatan dilakukan di lima titik yang mewakili lima kota administrasi di DKI Jakarta yaitu Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, dan Jakarta Timur. Metode analisis meliputi uji normalitas dan uji korelasi digunakan untuk mengetahui hubungan antara konsentrasi NO? dan parameter meteorologi skala bulanan, diurnal, dan diurnal untuk setiap musim (DJF, MAM, JJA, SON)Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara bulanan, hanya temperatur yang berpengaruh signifikan terhadap konsentrasi NO? dengan korelasi tertinggi berada di Bundaran HI, Jakarta Pusat. Secara diurnal, temperatur, kelembapan relatif, dan curah hujan berpengaruh signifikan terhadap konsentrasi NO? dengan korelasi tertinggi berada di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Secara musiman, temperatur dan kelembapan relatif berpengaruh signifikan terhadap konsentrasi NO? pada semua musim dengan korelasi tertinggi pada musim JJA masing-masing sebesar -0,726untuk temperatur dan sebesar 0,716 untuk kelembapan relatif. Curah hujan berpengaruh signifikan terhadap konsentrasi NO? pada musim DJF, JJA, dan SONdengan nilai korelasi tertinggi juga terjadi pada musim JJA sebesar -0,652. Konsentrasi NO? menunjukkan pola penurunan saat temperatur dan curah hujan meningkat, serta saat kelembapan relatif menurun
IDENTIFIKASI SUMBER EMISI BERDASARKAN KOMPOSISI KIMIA PARTIKEL SEBAGAI DASAR PEMILIHAN TEKNOLOGI PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA
Kota Jakarta Timur merupakan salah satu kota yang menghasilkan konsentrasi particulate matter (PM2.5) tinggi di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh kepadatan penduduk Jakarta Timur yang terus bertambah ± 1,42% setiap tahunnya, sehingga berpotensi menghasilkan emisi PM2.5 yang berasal dari berbagai sumber. Penelitian terkait identifikasi sumber pencemar dan rekomendasi air pollution control pada lokasi tersebut sangat diperlukan. Sampel PM2.5 diukur dengan menggunakan instrument SuperSASS selama 24 jam pengukuran, setiap 3 hari, dalam periode pengukuran 18 Oktober 2023 – 27 Mei 2024. Filter Teflon digunakan untuk mengetahui konsentrasi massa PM2.5, Black carbon, Trace elements dan Dissolved ions. Sedangkan Filter Quartz digunakan untuk mengetahui konsentrasi Organic carbon dan Elemental carbon. Konsentrasi rata-rata massa PM2.5 yang dihasilkan sebesar 39,13±16,7 µg/m3, dengan masing-masing kontribusi terhadap PM2.5 adalah Black carbon (18,12%), Organic carbon (33,42%), Elemental carbon (8,07%), Trace elements (11,26%) dan Dissolved ions (19,25%). Positive Matrix Factorization (PMF) diaplikasikan untuk mengidentifikasi kontribusi sumber pencemaran udara yang dominan. Hasil yang diperoleh dari PMF menghasilkan 8 sumber faktor, dengan faktor Transportasi (48,8%) menjadi yang paling dominan. Berdasarkan sumber faktor dominan tersebut, maka di rekomendasikan perlu dilakukan kajian komprehensif pemilihan alat pengendali pencemaran udara untuk faktor Transportasi berupa Diesel particulate filter (DPF) dan Gasoline particulate filter (GPF) sebagai upaya untuk mengendalikan permasalahan pencemaran udara di Kota Jakarta Timur
PENGARUH EMISI KENDARAAN BERMOTOR TERHADAP POHON PENEDUH TEPI JALAN MAHONI (SWIETENIA MACROPHYLLA KING) DI TIGA TITIK DI KOTA BANDUNG
Penggunaan kendaraan bermotor yang semakin tinggi menyebabkan jumlah emisi yang dihasilkan terus bertambah dan emisi kendaran menjadi sumber pencemar udara paling tinggi. Salah satu pencemar yang dihasilkan dari pembakaran mesin kendaraan bermotor adalah partikel timbal (Pb). Pb merupakan logam berat yang tidak memiliki fungsi biologis dan dapat terakumulasi pada tubuh makhluk hidup dan dapat bersifat toksik. Untuk mengurangi emisi kendaraan dari udara, salah satu upaya pemerintah adalah penanaman tumbuhan di pinggir jalan. Pohon mahoni (Swietenia macrophylla King) merupakan pohon yang umum digunakan sebagai peneduh jalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kadar Pb serta dampaknya terhadap daun mahoni yang terpapar emisi kendaraan bermotor. Sampel daun diambil dari pohon mahoni di tiga tempat yaitu Jalan Diponegoro, Jalan Raya Resor (Resor Dago Pakar), serta Taman Hutan Raya/Tahura Ir Djuanda. Parameter yang diamati berupa jumlah kendaraan, kadar Pb daun, jumlah dan kerapatan stomata, kadar klorofil, dan luas permukaan daun dengan jumlah ulangan sebanyak sembilan daun dari tiga pohon di tiap lokasi. Sebagai data tambahan dilakukan pengukuran mikroklimat di ketiga tempat tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah kendaraan per hari di tiga lokasi berbeda adalah sebagai berikut: 6057 (Jalan Diponegoro), 542 (Jalan Raya Resor), dan 10 (Tahura Ir Djuanda). Kadar Pb (mg/kg) pada daun mahoni di ketiga lokasi tersebut adalah 1,94; 1,81 dan 0,91. Terdapat perbedaan signifikan pada kadar Pb daun mahoni di ketiga lokasi. Kadar klorofil total, a, dan b (mg/L) daun mahoni di ketiga lokasi tersebut adalah 10,99; 7,05; 3,92 (Jalan Diponegoro); 11,20; 7,15; 4,04 (Jalan Raya Resor) dan 12,00; 7,49; 4,50 (Tahura Ir Djuanda). Tidak terdapat perbedaan signifikan pada kadar klorofil total, a, dan b di ketiga lokasi. Luas permukaan (cm2) daun mahoni di ketiga lokasi tersebut adalah 61 cm2, 78 cm2, dan 141 cm2. Jumlah stomata per luas daun mahoni di ketiga lokasi tersebut adalah 3.568.057, 3.863.892, 5.952.328 dan kerapatan stomata (stomata/mm2) daun mahoni di ketiga lokasi tersebut adalah 575, 547, 411. Tidak terdapat perbedaan signifikan pada luas permukaan, jumlah stomata, dan kerapatan stomata daun di Jalan Diponegoro dan Jalan Raya Resor Dago. Di ketiga lokasi pengamatan terdapat perbedaan suhu (°C) dan intensitas cahaya (lux), yaitu 27, 4287 (Jalan Diponegoro); 25, 5446 (Jalan Raya Resor); dan 22, 459 (Tahura Ir Djuanda). Perbedaan intensitas cahaya yang diterima mahoni berpengaruh pada luas permukaan daun dan kerapatan stomata. Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi paparan emisi kendaraan bermotor maka kadar Pb daun dan kerapatan stomata semakin tinggi, sementara kadar klorofil total, klorofil a, klorofil b, luas permukaan daun, dan jumlah stomata semakin rendah, namun tidak terdapat perbedaan signifikan pada kadar klorofil total, a, dan b di ketiga lokasi serta tidak terdapat perbedaan signifikan pada luas permukaan, jumlah stomata, dan kerapatan stomata daun di Jalan Diponegoro dan Jalan Raya Resor Dago.