πŸ“š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 15 dokumen

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK BERBASIS RISET MENGGUNAKAN SOFTWARE PRAAT PADA MATERI GELOMBANG BUNYI DENGAN PEMBELAJARAN MENDALAM

Proyek Akhir ini bertujuan mengembangkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis riset menggunakan software Praat pada materi Gelombang Bunyi dengan Pembelajaran Mendalam. Studi sebelumnya telah menghasilkan LKPD dengan beragam pendekatan, namun belum ada yang mengintegrasikan analisis akustik melalui Praat dan pendekatan Pembelajaran Mendalam. Pengembangan dilakukan berdasarkan model ADDIE (Analyze, Design, Develop, Implement, Evaluate) berbasis riset karakteristik akustik suara berdasarkan gender, rhotacism, dan partially edentulous. Khusus pada penyusunan dasar LKPD untuk siswa kelas VIII SMP berdasarkan frekuensi dasar perbedaan gender. Ditemukan perbedaan signifikan pada frekuensi dasar bunyi [a], [ra], dan [r] pada pasangan kelompok siswa laki-laki dan perempuan serta pasangan kelompok siswa laki-laki dengan kondisi partially edentulous dan gigi lengkap (p < 0,001) serta pasangan kelompok siswa laki-laki penderita dan bukan penderita rhotacism (p < 0,05). Selain itu, perbedaan signifikan terjadi antara laki-laki dan perempuan pada forman F1-F2 bunyi yang mengandung vokal (p < 0,05). Adapun kelompok penderita dan bukan penderita rhotacism tidak menunjukkan perbedaan signifikan pada F3 bunyi [r] (p = 0,626). Adapun kelompok partially edentulous menghasilkan intensitas bunyi yang lebih tinggi dari kelompok gigi lengkap. Hasil validasi LKPD menunjukkan rata-rata skor 4,7 untuk keakuratan konsep, 4,4 untuk penyajian, dan 4,4 ? 0,5 untuk relevansi konsep dengan kategori ketiganya sangat valid. Nilai N-gain yang diperoleh sebesar 0,4 termasuk kategori sedang. Persentase rata-rata dari respons siswa terhadap LKPD sebesar (77,6 ? 10,6)% dengan kategori praktis. Maka, LKPD yang dikembangkan dinyatakan layak, efektif, dan praktis untuk diterapkan dalam pembelajaran Gelombang Bunyi.

2026
πŸ‘€ Penulis: Sasha Elitzsar Latfia
🏷️ Pendidikan 🏷️ Analisis Akustik 🏷️ Manajemen Pembelajaran Mendalam

KAJIAN AKSESIBILITAS SARANA PENDIDIKAN PADA KAWASAN KAMPUNG KOTA (STUDI KASUS : KAMPUNG PELANGI 200, KOTA BANDUNG)

Pertumbuhan penduduk di kawasan perkotaan yang dipicu oleh urbanisasi meningkatkan kebutuhan terhadap lahan hunian dan penyediaan infrastruktur dasar. Kondisi tersebut mendorong muncul serta berkembangnya permukiman informal yang tidak sepenuhnya terlayani oleh sistem perencanaan formal. Salah satu pelayanan dasar yang penting bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat adalah pendidikan, karena pendidikan berperan dalam membuka peluang mobilitas sosial, memperkuat kapasitas sumber daya manusia, dan mengurangi kerentanan kelompok berpenghasilan rendah. Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, akses pendidikan berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama Tujuan 4 tentang pendidikan berkualitas dan Tujuan 11 tentang kota dan permukiman yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan. Pada tingkat nasional, penyediaan sarana pendidikan berkaitan dengan standar pelayanan dan kelayakan sarana prasarana, melalui SNI 03-1733-2004 tentang tata cara perencanaan lingkungan perumahan di perkotaan serta Permendikbudristek Nomor 22 Tahun 2023 tentang standar sarana dan prasarana pendidikan, namun pemenuhan akses pendidikan pada permukiman informal masih menghadapi berbagai kendala yang berhubungan dengan keberadaan fasilitas, jarak, kualitas jalur, keamanan perjalanan, dukungan sosial, dan kemampuan ekonomi keluarga. Kampung Pelangi 200 di Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung merupakan salah satu permukiman informal perkotaan yang berada pada kawasan berkontur, padat, dan memiliki keterbatasan sarana pendidikan formal di dalam kawasan. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi hubungan antara ketersediaan, distribusi, dan kualitas sarana pendidikan terhadap akses pelayanan dasar masyarakat Kampung Pelangi 200. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, penyebaran kuesioner kepada 108 responden, wawancara dengan pengurus wilayah, komunitas, karang taruna, dan pengajar pengajian, serta pengumpulan data sekunder berupa data kependudukan, data sarana pendidikan, data spasial, dan DEMNAS. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif, analisis buffer untuk melihat jangkauan pelayanan sarana pendidikan, analisis topografi iilahan berdasarkan klasifikasi lereng Van Zuidam, serta analisis tipologi untuk menilai kualitas sarana dan tingkat akses fisik, akses sosial, dan akses ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sarana pendidikan formal yang digunakan pelajar Kampung Pelangi 200 berada di luar kawasan, namun secara radius pelayanan masih dapat menjangkau wilayah kampung. Meskipun demikian, keterjangkauan berdasarkan radius belum sepenuhnya mencerminkan kemudahan akses aktual karena jalur menuju sarana pendidikan masih dipengaruhi oleh gang sempit, tangga, tanjakan, kontur terjal, dan kondisi jalan yang licin saat hujan. Sarana pendidikan nonformal tersedia melalui aktivitas komunitas, namun pelaksanaannya belum rutin dan partisipasi pelajar belum merata. Sementara itu, sarana pendidikan informal seperti masjid dan pengajian memiliki keterjangkauan paling baik karena berada di dalam atau dekat kawasan, berbiaya rendah, dan terhubung dengan kehidupan masyarakat. Hambatan terbesar dalam akses pendidikan adalah hambatan fisik, diikuti hambatan ekonomi, serta hambatan kombinasi fisik dan ekonomi. Temuan ini menunjukkan bahwa ketersediaan sarana pendidikan saja belum cukup untuk menjamin akses yang setara apabila tidak didukung oleh jalur yang aman, dukungan sosial yang kuat, dan keterjangkauan biaya bagi keluarga rentan. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap ilmu perencanaan wilayah dan kota melalui pendekatan evaluatif yang menggabungkan dimensi spasial, sosial, dan ekonomi dalam membaca akses pendidikan pada permukiman informal.

2026
πŸ‘€ Penulis: Tamara Shafira Sumirat
🏷️ Pendidikan 🏷️ Kawasan Perkotaan Informal 🏷️ Sustainable Development Goals (Sdgs)

THE DECISIVE FACTORS OF CHOOSING TUTORIAL INSTITUTION(BIMBINGAN BELAJAR): THE CASE STUDY INGANESHA OPERATIONS AND SONY SUGEMA COLLEGE

Pendidikan adalah hal yang dianggap penting bagi seluruh individu. Karena itu, banyak bimbingan belajar yang diklarikan untuk memenuhi permintaan masyarakat akan pendidikan yang lebih baik. Menjadi hal yang lumrah apabila orang tua memasukkan anak mereka ke bimbingan belajar selain menyekolahkan mereka. Namun kemudian muncul permasalahan, apa apa yang yang diharapkan orangtua dari sebuah bimbingan belajar? Faktor apa apa saja yang menjadi penentu orangtua untuk memasukkan anaknya kedalam salah satu bimbingan belajar? Penelitian ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode Servqual (Parasuraman et al, 1998) yang mencakup 10 dimensi (tangible, keandalan, responsivitas, tungkat komunikasi, kredibilitas, keamanan, kompetensi, kesopanan, pengertian terhadap konsumen, danakses) untuk mengidentifikasi faktor yang menentukan keputusan orangtua dalam memilih bimbingan belajar. 120 kuesioner disebarkan kepada orangtua yang memasukkan anak-anak mereka ke dalam bimbingan belajar Ganesha Operation (CO) dan Sony Sugema College (SSC), dua bimbingan belajar yang paling dikenal di Bandung. Kuesioner tersebut dibuat berdasarkan 10 dimensi yang diturunkan menjadi 32 atribut yang mampu mempengaruhi keputusan orangtua. Hasil dari kuesioner tersebut kemudian dianalisis menggunakan perangkat Importance Performance Analysis yang kemudian diterjemahkan kedalam bentuk grafik yang menunjukkan pendapat orangtua akan atribut yang penting, serta menunjukkan persepsi umum orang tua mengenai kinerja bimbingan belajar tersebut. Hasil dari analisis data menunjukkan bahwa kedua bimbingan tersebut harus meningkatkan kinerja mereka. Untuk GO, atribut berikut: ketersediaan tempat parkir, kenyamanan ruang kelas, kebersihan lokasi, jumiah ruang kelas yang mencukupi, kelayakan bangunan, variasi pelayanan, ketepatan waktu pelajaran, ketersediaan guru bantu di luar jam pelajaran, kejelasan biaya yang dibayarkan, kesesuaian nilai antara uang yang dibayar dan hasil yang didapat, respon untuk melayani konsumen, kejelasan prosedur pelayanan, dan ketersediaan situs internet yang baik, adalah atribut yang harus diperbaiki oleh GO untuk memenuhi harapan konsumen mereka. Sementara untuk SSC, atribut berikut: ketersediaan tempat parkir, kenyamanan ruang kelas, kebersihan lokasi, jumlah ruang kelas yang mencukupi, kelayakan bangunan, variasi pelayanan, ketepatan waktu pelajaran, ketersediaan guru bantu di luar jam pelajaran, kejelasan biaya yang dibayarkan, kesesuaian nilai antara uang yang dibayar dan hasil yang didapat, citra bimbingan belajar, serta citra guru dan staff lainnya, adalah atribut yang harus mereka tingkatkan agar konsumen puas dengan layanan yang mereka berikan. Rekomendasi yang diberikan kepada bimbingan belajar adalah untuk memperbaiki dimensi tangibel dan dimensi keandalan mereka karena kedua bimbingan belajar tidak mampu memuaskan konsumen mereka. Kemudian GO sudah seharusnya meningkatkan responsivitas dan komunikasi mereka terhadap konsumen mereka, sementara SSC wajib memperbaiki dimensi kredibilitas mereka karena konsumen mereka menginginkan SSC memiliki kredibilitas yang lebih baik Keywords: Tutorial institution (bimbel), ServQual, Importance Performance analysis.

2026
πŸ‘€ Penulis: Rizky Aditya Kusuma
🏷️ Pendidikan 🏷️ Bimbingan Belajar 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

THE PROPOSAL OF PERFORMANCE MANAGEMENT SYSTEM AT SCHOOL OFBUSINESS AND MANAGEMENT ITB USING BALANCE SCORECARD

Pengukuran kinerja merupakan salah satu faktor yang begitu penting di dalam organisasi bisnis. Di dalam sistem pengendalian manajemen pada suatu organisasi bisnis, pengukuran kinerja merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh pihak manajemen dalam mengevaluasi hasil-hasil kegiatan yang telah dilaksanakan oleh masing-masing pusat pertanggungjawaban dan dibandingkan dengan tujuan yang telah ditetapkan. Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB adalah salah satu organisasi yang bergerak di bidang pendidikan jasa tentu saja harus memiliki kualitas manajemen yang tinggi, haliniberpengaruh nantinyaterhadapkinerja manajemen dari institusi. Berkaitandenganhaltersebut, Sekolah Bisnis dan Manajemen IIB merasaperluuntukmengembangkan manajemen kinerja kepada seluruh perspektif di dalam institusiuntukmeningkatkandanmenghasilkanmanajemen yang lebihbaiklagi. Tujuanutamadarimengembangkan sistem manajemen menggunakan Balanced Scorecard adalahuntuk menyediakan rancangan dari rencana strategi dan hasil evaluasi untukmencapai target dan visi institusi Penulis mencoba untuk membuat formula dari masalah, selanjutnya menentukan objectives dengan tujuan dibuatnya tulisan ini. Selanjutnya penulis mengumpulkan data melalui pengumpulan data setelah itu menganalisa data sesuai dengan literature studi yang ada, data tersebut berupa visi, misi, rencana strategis, program dan selanjutnya membuat problem solving dan saran yang bisa diberikan kepada Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB. Dalamkenyataannya, penelitianinibertujuanuntukmelihatapakah ada hubunganrencana strategi yang dilakukanoleh Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB dengan program yang ada dantepatsesuaidengan visi dan misi dari institusi Penelitianiniakanmenghasilkan Balanced Scorecard sebagaisalahsatumetodealternatifuntukevaluasihasil rencana strategis di dalam institusi. Kata Kunci: Balanced Scorecard, Institusi Pendidikan, Sistem Pengukuran Kinerja.

2026
πŸ‘€ Penulis: Bayu Amengku Praja
🏷️ Manajemen Kinerja 🏷️ Balanced Scorecard 🏷️ Pendidikan

EDUCATION DEVELOPMENT BASED ON ECONOMIC ACCESS IN KAMPUNG CITIIS

Saat ini, keterlibatan perusahaan swasta dalam membantu pengembangan masyarakat sangat diperlukan. Perusahaan swasta memiliki tanggung jawab untuk membangun komuniti di suatu wilayah dalam bentuk corporate social responsibility yang dilakukan oleh perushaan tersebut. Perusahaan swasta memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui program corporate social responsibility tersebut. Bucks Company memanfaatkan peluang serta potensi yang berada di wilayah Kampung Citiis dengan mengembangkan aktivitas pendidikan berdasarkan akses ekonomi dalam bentuk pendirian Madrasah Ibtidaiyah dan pembentukan kegiatan bisnis berupa budidaya ikan mas serta penanaman waluh. Proyek pengembangan masyarakat tersebut bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan bagi generasi penerus yang berada di wilayah Kampung Citiis. Tugas akhir ini dibuat dengan metode deskriptif melalui pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk menyusun tugas akhir ini antara lain menggunakan metode survei, observasi partisipasi, wawancara langsung, dan studi. Unit analisis dalam penelitian ini adalah masyarakat Kampung Citiis yang akan dilihat dari sisi pendidikan, lingkungan, ekonomi dan sosial. Analisis data yang digunakan dalam penyusunan tugas akhir ini berupa rancangan analisis data kualitatif. Akhir penulisan tugas akhir ini adalah penarikan kesimpulan dari penyajian data yang disertai dengan rekomendasi. Kata kunci: Bucks Company, pengembangan pendidikan, pengembangan ekonomi, community development, Corporate Social Responsibility, masyarakat lokal Kampung Citiis

2026
πŸ‘€ Penulis: Faza Fauzan Adima
🏷️ Pendidikan 🏷️ Ekonomi Rantai Pasokan 🏷️ Community Development

INOVASI MODEL BISNIS UNTUK EKSPANSI REGIONAL YANG DAPAT DISKALAKAN PADA LEMBAGA PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS: SEBUAH STUDI PROTOTYPING BERBASIS DESIGN THINKING

UP Speaking Learning Centre (UP SLC) merupakan sebuah lembaga pendidikan bahasa Inggris yang berkembang pesat di wilayah semi-perkotaan, di mana kebutuhan terhadap pengalaman belajar bahasa yang fleksibel dan terjangkau semakin meningkat. Seiring bertambahnya peluang ekspansi, organisasi menghadapi tantangan strategis yang umum dialami penyedia layanan pendidikan di pasar berkembang: bagaimana memperluas jangkauan secara berkelanjutan tanpa mengorbankan kualitas layanan, efisiensi operasional, dan keselarasan dengan kebutuhan para pemangku kepentingan. Pembukaan cabang konvensional membutuhkan investasi modal yang besar, periode pengembalian yang panjang, serta struktur operasional yang kompleks, sehingga tidak selalu mampu mendukung pertumbuhan yang cepat. Pada saat yang sama, peserta didik, tutor, dan mitra usaha mengharapkan lingkungan belajar yang lebih mudah diakses, menarik, dan terintegrasi dengan komunitas. Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan persoalan ilmiah dan manajerial yang perlu dikaji secara sistematis: bagaimana mengidentifikasi strategi model bisnis alternatif dan kerangka operasional yang memungkinkan ekspansi regional secara berkelanjutan tanpa mengulangi keterbatasan model cabang tradisional. Berdasarkan isu tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi, merancang, dan mengevaluasi sebuah inovasi model bisnis bagi UP SLC melalui pendekatan terpadu antara design thinking, wawasan kualitatif, serta prototyping tahap awal. Penelitian ini mengikuti empat tahapan utama. Tahap pertama menggali kebutuhan, keterbatasan, dan aspirasi pemangku kepentingan melalui pendekatan empati, sehingga memungkinkan penelitian menyusun proposisi awal mengenai model nilai yang relevan bagi pasar semi-perkotaan. Tahap kedua menerapkan proses ideasi dan eksplorasi model bisnis untuk menghasilkan alternatif strategi, yang kemudian mengarah pada identifikasi model micro-hub berbasis kafe sebagai konfigurasi yang menjanjikan untuk ekspansi yang dapat diskalakan. Tahap ketiga mengembangkan kerangka operasional yang selaras dengan model tersebut, meliputi alur administrasi, mekanisme kemitraan, adaptasi pengajaran, kesiapan tutor, dan proses digital. Tahap keempat mengevaluasi kelayakan, ketertarikan, dan keberlanjutan model melalui pengujian di lingkungan nyata, penilaian survei, wawancara, serta siklus penyempurnaan. Fondasi metodologis penelitian ini menggabungkan design thinking, logika inovasi model bisnis, serta evaluasi berpusat pada pengguna. Asumsi yang mendasari penelitian mencakup ekspektasi bahwa model pembelajaran berbasis komunitas dapat mengurangi kebutuhan modal, meningkatkan fleksibilitas, dan memperkuat keterlibatan pengguna dibandingkan cabang tradisional. Proposisi yang dirumuskan selama proses eksplorasi menunjukkan bahwa kesiapan operasional, keandalan digital, konsistensi pedagogis, dan keselarasan pemangku kepentingan merupakan faktor penentu keberhasilan adopsi. Proposisi-proposisi ini diuji melalui data kualitatif, pemodelan alur BPMN, pengujian prototipe, serta instrumen evaluasi multi-dimensi. Desain penelitian yang iteratif memungkinkan temuan yang lebih akurat karena mencerminkan pengalaman pengguna secara nyata, bukan sekadar asumsi teoretis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model micro-hub berbasis kafe merupakan pilihan strategis yang layak dan mendukung ekspansi regional. Temuan memperlihatkan tingginya ketertarikan pengguna terhadap lingkungan belajar yang fleksibel dan menyenangkan, kelayakan operasional yang solid, serta indikator keberlanjutan yang positif berkat kebutuhan modal yang rendah dan mekanisme kemitraan yang adaptif. Pengujian operasional juga menyoroti pentingnya desain pengajaran yang terstruktur, alur administrasi yang andal, serta sistem digital yang memadai. Para pemangku kepentingan mengidentifikasi sejumlah kebutuhan termasuk kejelasan komunikasi, koordinasi yang lebih kuat, serta sistem digital yang lebih stabil yang kemudian diintegrasikan dalam refined solution, mencakup penyempurnaan model instruksional, proses operasional, struktur finansial, dan mekanisme dukungan organisasi. Penyempurnaan ini memperkuat dimensi fungsional dan strategis model, memastikan bahwa pendekatan ini tidak hanya inovatif tetapi juga dapat diterapkan dan diskalakan. Kontribusi penelitian ini terletak pada penyajian pendekatan terpadu untuk ekspansi layanan pendidikan yang menggabungkan inovasi model bisnis dengan prototyping operasional serta pengujian berpusat pada pengguna. Penelitian ini menawarkan kerangka yang dapat direplikasi bagi institusi yang ingin berkembang di lingkungan dengan keterbatasan sumber daya, dan menunjukkan bagaimana model berbasis komunitas dan kemitraan dapat meningkatkan keberlanjutan, aksesibilitas, dan kualitas layanan. Studi ini juga memperkaya wacana akademis dengan mengilustrasikan bagaimana design thinking dapat diterapkan secara sistematis dalam menghadapi tantangan pertumbuhan strategis di sektor pendidikan. Temuan ini memberikan arahan praktis bagi UP SLC dalam mempersiapkan implementasi regional, sekaligus menyediakan landasan bagi penelitian lanjutan mengenai kinerja jangka panjang, integrasi digital, dan skalabilitas lintas pasar dari model pembelajaran hybrid.

2025
πŸ‘€ Penulis: Muhamad Rizky
🏷️ Design Thinking 🏷️ Pendidikan 🏷️ Ekspansi Layanan Pendidikan

DAMPAK MODAL MANUSIA TERHADAP HASIL KERJA MIGRAN TURKI DAN MAROKO DI BELANDA

Migrasi secara signifikan membentuk masyarakat, dengan integrasi ekonomi menjadi tantangan utama bagi para migran. Studi ini meneliti dampak tingkat pendidikan dan asal gelar (luar negeri versus Belanda) terhadap peluang kerja bagi imigran Turki dan Maroko di Belanda. Dengan menggunakan regresi logistik, kami menganalisis peran pendidikan dan asal gelar dalam memprediksi peluang kerja, dengan mengendalikan faktor gender, status pasangan, dan faktor demografis lainnya. Hasil penelitian mendukung hipotesis bahwa tingkat pendidikan yang lebih tinggi meningkatkan peluang kerja, dengan individu yang memiliki pendidikan menengah atau tinggi jauh lebih mungkin untuk bekerja. Namun, bertentangan dengan ekspektasi, studi ini tidak menemukan bukti signifikan bahwa migran dengan gelar asing menghadapi lebih banyak hambatan kerja dibandingkan dengan mereka yang memiliki gelar dari Belanda. Temuan ini menekankan pentingnya pendidikan dalam meningkatkan peluang kerja bagi migran, tetapi juga menunjukkan bahwa jaringan sosial dan hambatan struktural memainkan peran penting dalam integrasi pasar tenaga kerja. Studi ini merekomendasikan kebijakan untuk meningkatkan akses pendidikan, pengakuan gelar, dan praktik perekrutan yang lebih inklusif bagi para migran.

2025
πŸ‘€ Penulis: Hersica Margareth Sagala
🏷️ Pendidikan 🏷️ Migrasi Tenaga Kerja 🏷️ Integrasi Pasar Tenaga Kerja

ANALISIS DAMPAK DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) FISIK AFIRMASI BIDANG PENDIDIKAN

Berdasarkan data Potensi Desa (Podes) tahun 2018, masyarakat di 57,4% desa/kelurahan di Wilayah Papua mengalami kesulitan akses menuju sarana pendidikan. Selain itu, menurut data Potensi Desa (Podes) tahun 2018, rata-rata jarak menuju sarana pendidikan di Wilayah Papua mencapai 32,6 km, sedangkan di Wilayah Jawa-Bali hanya 3,9 km. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat ketimpangan antarwilayah dari sisi aksesibilitas menuju sarana pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu, pada tahun 2018 – 2020, pemerintah berupaya menyediakan asrama siswa dan rumah dinas guru melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik Afirmasi Bidang Pendidikan untuk mempermudah aksesibilitas siswa dan guru menuju sarana pendidikan. Dana tersebut dialokasikan bagi daerah afirmasi, yang meliputi entitas wilayah berikut: daerah tertinggal (kabupaten), kawasan perbatasan negara, kawasan transmigrasi prioritas, dan seluruh kabupaten di Provinsi Papua dan Papua Barat. Hingga kini, penelitian mengenai dampak intervensi DAK Fisik Afirmasi Bidang Pendidikan masih sangat terbatas. Hadi dan Mahi (2024) menemukan bahwa DAK Fisik Afirmasi Bidang Pendidikan berdampak positif dan signifikan terhadap Angka Partisipasi Kasar (APK) di 118 daerah tertinggal. Namun demikian, dampak DAK Fisik Afirmasi Bidang Pendidikan terhadap outcome pendidikan lain belum teridentifikasi. Oleh karena itu, penulis berupaya melengkapi penelitian terdahulu dengan memperluas substansi dan wilayah penelitian. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak DAK Fisik Afirmasi Bidang Pendidikan terhadap variabel terikat berikut, yaitu: Angka Partisipasi Murni (APM) SD, SMP, dan SMA; Rata-rata Lama Sekolah (RLS), Harapan Lama Sekolah (HLS), dan Angka Melek Huruf (AMH). Data-data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang bersumber dari situs resmi dan publikasi pemerintah, serta dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, dan kombinasi antara metode Propensity Score Matching (PSM) dan Difference-in-Differences (DiD) yang dioperasionalkan melalui regresi data panel Fixed-Effect Model (FEM). Pada penelitian ini, daerah yang diteliti terbagi atas dua kelompok, antara lain: treatment groupβ€”yaitu kabupaten/kota yang mendapatkan intervensi DAK Fisik Afirmasi Bidang Pendidikan, dan control group, yaitu kabupaten/kota yang tidak mendapatkan intervensi tersebut. Analisis PSM bertujuan untuk memilih kabupaten/kota yang memiliki karakteristik serupa, sehingga pengukuran dampak dapat terhindar dari bias seleksi. Tahun 2017 digunakan sebagai tahun dasar (baseline) untuk melakukan analisis PSM, mengingat DAK Fisik Afirmasi Bidang Pendidikan mulai diimplementasikan tahun 2018. Dari analisis PSM terhadap kovariat di 514 kabupaten/kota, dihasilkan 488 kabupaten/kota yang memiliki karakteristik serupa, sehingga dapat masuk ke tahap analisis dampak. Pada analisis DiD, ruang lingkup waktu terbagi ke dalam periode sebelum (before) intervensi, yaitu tahun 2016 – 2018, dan periode setelah (after) intervensi, yaitu tahun 2019 – 2021. Tahun data variabel terikat yang digunakan pada analisis DiD merupakan satu tahun (t+1) setelah intervensi. Hal ini karena penulis berasumsi bahwa pembangunan fisik setidaknya membutuhkan waktu satu tahun anggaran. Berdasarkan analisis deskriptif, dapat disimpulkan bahwa rata-rata capaian APM SD, APM SMP, RLS, HLS, dan AMH mengalami peningkatan pasca intervensi DAK Fisik Afirmasi Bidang Pendidikan, sedangkan rata-rata APM SMA tidak mengalami kenaikan. Lebih lanjut, berdasarkan analisis PSM-DiD, DAK Fisik Afirmasi Bidang Pendidikan berdampak positif dan signifikan terhadap RLS, HLS, dan AMH. Selanjutnya, DAK Fisik Afirmasi Bidang Pendidikan juga berdampak positif terhadap APM SD, walaupun tidak signifikan secara statistik. Namun demikian, DAK Fisik Afirmasi Bidang Pendidikan belum mampu memberikan perubahan yang positif pada APM SMP dan APM SMA.

2024
πŸ‘€ Penulis: Annisa Dwirizki
🏷️ Pendidikan 🏷️ Analisis Data Panel 🏷️ Kecerdasan Buatan

PENGARUH BAURAN PEMASARAN DAN RASA KEPEMILIKAN MAHASISWA DIMEDIASI OLEH SIKAP TERHADAP INTENSI PEMBELIAN PRODUK MERCHANDISE ITB PRESS

Merchandise telah menjadi alat promosi yang populer di berbagai sektor, tak terkecuali pendidikan. Dengan lebih dari dua puluh ribu mahasiswa pada setiap universitas di Indonesia dan pergantian mahasiswa yang tinggi setiap tahun, potensi pasar dan permintaan tetap sangat menjanjikan. ITB Press, yang saat ini dalam tahun kedua sebagai penjual merchandise resmi ITB, tengah menghadapi tantangan penjualan rendah dan kurangnya kesadaran merek di kalangan mahasiswa. Hal ini mendadakan diperlukannya penetrasi pasar yang lebih baik. Studi ini mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi niat pembelian target pasar mereka, mahasiswa dan alumni ITB, dengan fokus pada 4P dari bauran pemasaran (produk, harga, tempat, promosi) dan rasa kepemilikan mahasiswa, yang dimediasi oleh sikap. Pendekatan kuantitatif komprehensif dengan analisis jalur dengan bantuan SPSS dilakukan untuk menganalisis hubungan antar variabel. Melalui penyebaran kuesioner, 221 responden yang terdiri atas mahasiswa aktif dan alumni ITB terkumpul dalam penelitian ini. Ditemukan bahwa, selain variabel Tempat, seluruh prediktor berpengaruh signifikan terhadap niat pembelian, dengan sikap berperan sebagai variabel mediasi. Penelitian ini mengungkapkan bahwa produk ITB Press memiliki persepsi positif di kalangan mahasiswa. Motivasi pembelian merchandise yang utama ialah kebanggaan dan koneksi mahasiswa dengan ITB serta produk itu sendiri, dengan perhatian utama pada desain, kualitas, dan variasi. Oleh karena itu, ITB Press perlu fokus untuk membuat produk yang menarik sesuai dengan preferensi mahasiswa untuk menjaga persepsi positif, sembari menjaga keseimbangan antara harga dan promosi, serta mempertahankan saluran distribusi yang nyaman dan mudah diakses. Studi ini menyorot pentingnya memahami motivasi dan persepsi baik dari mahasiswa maupun alumni, yang memberikan wawasan berharga bagi ITB Press untuk menyempurnakan pendekatan pemasaran mereka

2024
πŸ‘€ Penulis: Reyna Aszzura Rasyida
🏷️ Pendidikan 🏷️ Promosi Produk 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan

PERANCANGAN KAMPANYE SOSIAL PENCAGAHAN REVENGE PORN: KEKERASAN BERBASIS GENDER ONLINE (KBGO) UNTUK DEWASA MUDA

Keamanan bagi perempuan di tempat umum, termasuk dunia digital, adalah hal mendasar yang wajib dipenuhi. Namun, dengan semakin pesat perkembangan teknologi dan penetrasi penggunaan internet di Indonesia, penyebaran media intim non-konsensual atau revenge porn menjadi masalah yang terus meningkat setiap tahunnya. Meskipun tidak hanya terjadi di internet, revenge porn telah menemukan tempat di mana ia terlindung dari berbagai hambatan hukum. Selain kesulitan proses keadilan melalui hukum, korban revenge porn juga masih menghadapi stigma negatif penyalahan korban atau victim blaming. Perancangan kampanye ini mengusulkan sebuah gerakan untuk mencegah terjadinya revenge porn, terlebih mendorong calon pelaku untuk melakukan balas dendam dalam berbagai bentuk selain yang melibatkan penyebaran gambar intim. Perancangan kampanye ini berfokus pada pencegahan di dalam lingkup institusi pendidikan. Perancangan ini menggunakan metode pengumpulan data melalui studi pustaka, wawancara, dan observasi. Hasil dari perancangan merupakan kampanye sosial terpadu dengan media-media yang relevan. Melalui perancangan kampanye ini, diharapkan dapat membantu mencegah terjadinya revenge porn di kalangan dewasa muda.

2024
πŸ‘€ Penulis: Galuh Mawarni Matahariputri
🏷️ Revenge Porn 🏷️ Pendidikan 🏷️ Kebijakan Hukum

PENENTUAN PRIORITAS KRITERIA SELEKSI MITRA PENGAJAR AKTIF DAN SEMI-AKTIF DI PT PARTNER IMPIAN MILENIAL (SCHOTERS)

Pendidikan di Indonesia telah menghadapi tantangan dalam memastikan akses dan distribusi sumber daya yang merata. Schoters, sebagai salah startup edutech mengalami permasalahan yang cukup krusial dalam menyediakan solusi pendidikan berkualitas, terutama bagi seseorang yang ingin melanjutkan kerja maupun studi keluar negeri. Kualitas pendidikan yang ditawarkan oleh Schoters sangat tergantung pada kompetensi dan kualifikasi mitra pengajar. Berdasarkan hasil identifikasi masalah yang didapatkan dari hasil wawancara dan studi dokumen perusahaan, Divisi Talent Management sub-divisi rekrutmen sebagai divisi yang mengurus rekrutmen dan seleksi pengajar, gagal dalam memenuhi permintaan hiring dengan tepat waktu karena 56% pemenuhan request mentor telah melewati deadline yang ditentukan oleh Service Level Agreement (SLA). Kondisi ini berakibat pada penurunan kualitas pemilihan pengajar dan dampak negatif pada hasil pendidikan yang disediakan. Beberapa penyebab dari permasalahan adalah kriteria seleksi tidak terstandarisasi dengan jelas, tidak adanya sistem prioritas dalam proses seleksi, pemetaan job title yang masih tidak terstruktur, dan beberapa dokumen seperti job description dan job specification yang tidak terpusat. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan proses seleksi mitra pengajar aktif dan semi-aktif di Schoters dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan prioritas kriteria seleksi yang efektif dan efisien. Secara umum, proses seleksi di Schoters meliputi beberapa tahapan, dari pengisian form hingga agreement, dengan variasi tambahan tes tertulis dan simulasi tergantung pada program spesifik. Kriteria seleksi dibuat dengan memprioritaskan aspek seperti pengalaman mengajar, keahlian spesifik, dan keterlibatan dalam program. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman kerja menjadi prioritas utama pada program Lingua Academy, Menlo Park School, dan Work Abroad Academy, sedangkan International Academy dan Study Abroad Academy menunjukkan variasi prioritas yang lebih luas termasuk jurusan, achievement, pendidikan terakhir, soft skill, dan hard skill.

2024
πŸ‘€ Penulis: Bintang Dwi Kurnia Putra
🏷️ Pendidikan 🏷️ Rekrutmen Pengajar 🏷️ Metode Analytical Hierarchy Process (Ahp)

EFEKTIVITAS PENERAPAN PROGRAM BEASISWA TOMAWIN DALAM INVESTASI SOSIAL DI PT FREEPORT INDONESIA

Program investasi sosial PT Freeport Indonesia dijalankan dan dikelola oleh Divisi Community Affairs. PT. Freeport Indonesia terus mendorong keterlibatan dan kemitraan dengan seluruh pemangku kepentingan dalam mencari solusi terbaik untuk mengatasi tantangan investasi sosial yang dihadapi. Dengan cara ini, perusahaan dapat memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat dan mendorong keberlanjutan program. Penelitian ini menyajikan capaian dan tantangan program investasi sosial di bidang pendidikan, khususnya bagi penerima beasiswa Tomawin. PT. Freeport Indonesia berupaya memenuhi komitmennya dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan, khususnya bagi masyarakat di sekitar perusahaan. Laporan ini juga merupakan wujud penerapan prinsip efisiensi, transparansi dan akuntabilitas dalam penggunaan sumber daya PT. PT. Freeport Indonesia dalam program investasi sosial. PT. Freeport Indonesia berharap laporan ini dapat membantu pemangku kepentingan memantau kinerja investasi sosial perusahaan dari waktu ke waktu. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Analisis yang digunakan menggunakan metode SWOT, TOWS dan Smart Respondent dalam penelitian ini meliputi direksi dan karyawan PT. Freeport Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode SMART (Simple Multi-Attribute Rating Technique) dapat membantu menentukan kelayakan penerima beasiswa, meningkatkan efektivitas program, dan memastikan bantuan beasiswa Tomawin dari program investasi sosial Freeport Indonesia dapat diberikan kepada siswa yang memenuhi syarat. kriteria kelayakan yang ditentukan.

2024
πŸ‘€ Penulis: Tasya Adelia C Worabai
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Pendidikan 🏷️ Efisiensi Dan Akuntabilitas Sumber Daya

PERANCANGAN MOTION COMIC INTERAKTIF UNTUK EDUKASI KESELAMATAN DI JALAN RAYA BAGI ANAK USIA 7 – 9 TAHUN

Edukasi keselamatan di jalan raya bagi anak-anak SD kelas 1-3 dinilai masih kurang memadai. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan merancang media pembelajaran interaktif berupa motion comic tentang keselamatan di jalan raya yang menarik dan sesuai untuk karakteristik anak usia SD kelas 1-3. Pengumpulan data dilakukan melalui survei dan wawancara kepada siswa SD, orang tua, dan guru. Hasilnya menunjukkan masih rendahnya pembelajaran keselamatan di jalan raya di sekolah dan perlunya pendekatan edukasi yang lebih menarik. Media motion comic interaktif dipilih karena merupakan gabungan bacaan, tontonan, dan permainan yang cocok untuk karakteristik siswa SD kelas 1-3. Rancangan media menggunakan gaya visual kartunis chibi, warna-warna cerah, dan konten mencakup keselamatan berjalan kaki, menyeberang, bersepeda, dan naik kendaraan umum

2024
πŸ‘€ Penulis: Karina Jodie
🏷️ Pendidikan 🏷️ Media Pembelajaran Interaktif 🏷️ Kesehatan Jalan Raya

PREFERENSI MODA AKSES BERJALAN KAKI TERHADAP TINGKAT LAYANAN TRANSPORTASI PUBLIK DAN KONDISI PEDESTRIAN (STUDI KASUS: JAKARTA)

Penelitian ini membahas tentang pengaruh tingkat layanan transportasi publik dan kondisi pedestrian terhadap moda akses berjalan kaki di Jakarta. Model pilihan diskrit dikembangkan untuk memodelkan preferensi berjalan kaki warga dalam mengakses transportasi publik, dengan mempertimbangkan variabel-variabel seperti jarak berjalan kaki, headway, waktu tempuh moda, kondisi trotoar, dan keberadaan pohon peneduh. Model multinomial logit digunakan dalam analisis ini, yang didasarkan pada data survei yang dikumpulkan dari responden di Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak jalan kaki, headway, waktu tempuh moda, kondisi trotoar, dan pohon peneduh memiliki pengaruh signifikan terhadap preferensi berjalan kaki. Selain itu, sikap terhadap berjalan kaki, tingkat pendidikan, dan kepemilikan mobil juga ditemukan berpengaruh signifikan. Model ini mengungkap bahwa peningkatan kualitas layanan transportasi publik dan kondisi pedestrian yang baik meningkatkan kemungkinan masyarakat untuk memilih berjalan kaki sebagai moda akses menuju transportasi publik. Oleh karena itu, pemerintah perlu memprioritaskan revitalisasi pedestrian dan perbaikan kualitas layanan transportasi publik untuk meningkatkan penggunaan transportasi publik di Jakarta.

2024
πŸ‘€ Penulis: Martina Fitri Lestari
🏷️ Transportasi Publik 🏷️ Kondisi Pedestrian 🏷️ Pendidikan

PANDUAN PERANCANGAN KAWASAN SEKITAR SEKOLAH DASAR DI KOTA BANDUNG UNTUK MENDUKUNG KONSEP KOTA RAMAH ANAK (STUDI KASUS: SD NEGERI 021 CIPOREAT, SD NEGERI 001 MERDEKA, DAN SD NEGERI 200 LEUWIPANJANG)

Kota ramah anak merupakan konsep kota yang menekankan pada pentingnya hak anak dan perlindungan terhadap anak melalui berbagai aspek salah satunya adalah pendidikan. Akses terhadap pendidikan merupakan salah satu hal utama dalam menciptakan kota ramah anak. Dalam penerapannya di Indonesia, sebagai usaha untuk mewujudkan kota yang ramah anak dibuatlah suatu kebijakan yang mengatur sekolah-sekolah yang ada di Indonesia melalui kebijakan sekolah ramah anak. Akan tetapi, terdapat suatu hal yang luput dari perhatian dalam penciptaan kota yang ramah anak. Salah satunya adalah menciptakan kawasan sekitar sekolah dasar yang juga ramah anak. Secara keseluruhan kota memanglah harus bersifat ramah anak tetapi pada kawasan sekitar sekolah dasar perlu menjadi perhatian khusus mengingat kawasan sekitar sekolah dasar menjadi kawasan yang diketahui banyak terdapat anak-anak khususnya anak sekolah dasar beraktivitas. Anak-anak pada usia sekolah dasar dinilai sebagai kelompok yang rentan ketika berada di jalan. Anak-anak dinilai memiliki pengetahuan yang minim akan bahaya di jalan sejalan dengan semakin mudanya usia anak tersebut. Dengan begitu diperlukan adanya panduan perancangan kawasan sekitar sekolah dasar khususnya di Kota Bandung sebagai salah satu kota di Indonesia yang memiliki tingkat mobilitas yang tinggi seperti kota-kota besar lainnya untuk mendukung perkembangan konsep kota ramah anak melalui studi kasus SDN 021 Ciporeat, SDN 001 Merdeka, dan SDN 200 Leuwipanjang sebagai objek penelitian yang mewakili tipologi sekolah yang berada di jalan arteri, jalan kolektor, dan jalan lokal mengingat setiap fungsi jalan memiliki karakteristiknya masing-masing seperti volume, kecepatan, dan besar jalan tersebut. Dalam merumuskan panduan dilakukan tinjauan literatur yang bertujuan untuk membentuk kriteria dan prinsip normatif serta kemudian dilakukan survey lapangan dengan melakukan observasi, kuesioner, dan wawancara. Hasil observasi tersebut kemudian disandingkan sebagai fakta dengan prinsip dan kriteria tersebut yang mana jika terdapat kesenjangan antara fakta dengan prinsip normatif yang disusun teridentifikasi menjadi suatu persoalan. Kemudian kuesioner dan wawancara tersebut dilakukan untuk mengetahui persepsi dan vpreferensi pengguna yang kemudian diidentifikasi urutan prioritas kriteria, komponen, dan persoalan apa saja yang terdapat pada komponen-komponen tersebut. Setelah melakukan identifikasi persoalan berdasarkan observasi dan persepsi serta preferensi pengguna dirumuskan aspek dan komponen apa saja yang perlu untuk di atur dalam perumusan panduan kawasan sekitar sekolah dasar. Setelah mengetahui aspek dan komponen apa saja yang perlu diatur dalam merumuskan panduan perancangan kawasan sekitar sekolah dasar. Dirumuskan prinsip untuk panduan perancangan kawasan sekitar sekolah dasar. Setelah prinsip dibuat kemudian dirumuskan panduan perancangan kawasan sekitar sekolah dasar pada masing-masing sekolah yakni SDN 021 Ciporeat, SDN 001 Merdeka, dan SDN 200 Leuwipanjang. Panduan setiap sekolah dibuat secara spesifik menyesuaikan karakteristik masing-masing sekolah dan tetap mengutamakan prinsip-prinsip yang sebelumnya di susun. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, didapatkan jika masing-masing sekolah memiliki karakteristiknya masing-masing mengingat sekolah tersebut berada di tipologi jalan yang berbeda berdasarkan fungsinya. Terdapat perbedaan panduan yang signifikan pada bagian ruang pejalan kaki dan ruang untuk kendaraan bermotor mengingat terdapat perbedaan luasan dan karakter kendaraan yang melewati setiap jalan dengan tipologi yang berbeda tersebut. Studi ini dapat lebih sempurna dengan dilakukan studi lanjutan terkait dengan penyelesaian persoalan yang kurang bisa diintervensi melalui desain sehingga dapat dilakukan kajian lebih lanjut untuk menyelesaikan persoalan yang tidak terselesaikan melalui perancangan kawasan.

2024
πŸ‘€ Penulis: Adissty Putri Sulistiyanto
🏷️ Pendidikan 🏷️ Kota Ramah Anak 🏷️ Desain Kawasan Sekolah
πŸ’¬