πŸ“š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 9 dokumen

PERANCANGAN β€œJAGAT KERTHI” LIVING HERITAGECENTER SEBAGAI PUSAT EDUKASI WARISAN BUDAYA BALI DENGAN PENDEKATAN NARATIF-MULTISENSORI

Perkembangan masif pariwisata di Bali selama beberapa dekade terakhir telah memicu krisis sosial yang tidak hanya berdampak pada degradasi ekosistem, tetapi juga pada terputusnya relasi manusia dengan nilai budaya yang selama ini menjadi dasar keharmonisan kehidupan masyarakat Bali. Alih fungsi lahan, degradasi lingkungan, dan overturisme pada ruang pariwisata telah menggeser praktik budaya dari sistem pengetahuan hidup menjadi komoditas simbol yang terlepas dari konteksnya. Kondisi ini menunjukkan kelemahan ruang edukasi publik dalam mentransmisikan makna budaya secara utuh, baik kepada masyarakat urban maupun wisatawan. Untuk menjembatani permasalahan tersebut, diperlukan sebuah pusat warisan budaya yang tidak hanya berfungsi sebagai wadah pelestarian budaya, tetapi juga dirancang untuk menerjemahkan nilai-nilai kearifan lokal Bali menjadi sebuah narasi ruang yang relevan terhadap kondisi masa kini dan dapat diapresiasi oleh pengunjung. Penelitian ini mengusulkan perancangan sebuah pusat warisan budaya sebagai fasilitas edukasi publik di Uluwatu, Bali, dengan fokus pada penciptaan ruang edukasi yang interaktif. Metode penelitian kualitatif berupa pengumpulan data studi literatur, observasi lapangan, dan studi preseden diterjemahkan ke dalam strategi desain interior berbasis naratif dan desain multisensori untuk membangun pengalaman belajar yang lebih imersif dan meningkatkan keterlibatan emosional pengunjung. Berlandaskan pada teori persepsi spasial yang memandang pengalaman ruang sebagai hasil interaksi antara stimulus lingkungan dengan proses kognitif dan sensorik pengguna, hasil perancangan menghadirkan desain interior yang mendukung aktivitas pembelajaran budaya Bali melalui pendekatan desain naratif-multisensori yang diimplementasikan pada materialitas, tata ruang, pencahayaan, tata suara, aroma, tekstur, serta sekuens antar program ruang.

2026
πŸ‘€ Penulis: I Made Primasandya
🏷️ Desain Interior 🏷️ Pendidikan Budaya 🏷️ Persepsi Spasial

PERANCANGAN BUKU ILUSTRASI INTERAKTIF TARI GAMBYONG SEBAGAI MEDIA PENGENALAN BUDAYA TERHADAP ANAK USIA 7-10 TAHUN

Indonesia memliki kekayaan budaya tari yang berakena ragam di tiap daerahnya, salah satunya tari Gambyong dari Jawa Tengah. Tari Gambyong merupakan salah satu tarian tradisional yang kaya akan nilai dan filosofi. Namun, seiring waktu budaya dapat tergerus dan hilang apabila tidak dilestarikan dan tidak dikenalkan kepada generasi muda. Oleh karena itu, diperlukan media yang menarik untuk memperkenalkan tari Gambyong kepada anak. Perancangan ini bertujuan untuk membuat buku ilustrasi interaktif yang mampu menjadi media pengenalan budaya dengan pendekatan yang edukatif dan menyenangkan, terutama untuk anak usia 7-10 tahun. Metode pengumpulan data yang digunakan meliputi studi literatur, observasi, dan wawancara dengan praktisi dan akademisi tari. Buku ini dirancang untuk mendukung pembelajaran budaya dengan memanfaatkan daya tarik visual dan aktivitas partisipatif. Diharapkan buku ilustrasi interaktif ini dapat menjadi alternatif media edukasi dan pengenalan budaya bagi anak-anak serta dapat berkontribusi dalam upaya pelestarian budaya Indonesia.

2025
πŸ‘€ Penulis: Qonita Mumtaz Gantari
🏷️ Kebudayaan 🏷️ Pendidikan Budaya 🏷️ Buku Ilustrasi Interaktif

INTEGRASI KEBUDAYAAN, TEKNOLOGI, DAN EKONOMI KREATIF: PUSAT KEBUDAYAAN NUSANTARA DI IKN

Di tengah maraknya globalisasi, salah satu aspek yang terdampak yaitu aspek budaya, terutama budaya lokal dari masing-masing daerah. Generasi muda yang merupakan pewaris dari kebudayaan ini justru menjadi lebih tertarik terhadap budaya asing yang dianggap lebih keren dan lebih modern. Apabila tidak dilakukan upaya untuk meningkatkan minat generasi muda terhadap budaya lokal, kelak budaya-budaya ini pun akan menghilang dan hanya menjadi sejarah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan secara arsitektural yaitu dengan menyediakan fasilitas pembelajaran dan pelestarian kebudayaan seperti pusat kebudayaan. Proyek pusat kebudayaan ini terletak di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN dan dirancang dengan empat fungsi utama: fungsi seni dan budaya, fungsi edukasi, fungsi rekreasi, dan fungsi sosial. Pusat kebudayaan ini pun dilengkapi dengan sejumlah fasilitas seperti penyewaan pakaian tradisional, pameran digital yang interaktif, serta pemeran fisik untuk menyediakan pengalaman yang lebih imersif bagi para pengunjung. Melalui berbagai pengalaman dan aktivitas yang disediakan, diharapkan pengunjung dapat lebih memahami keberagaman budaya lokal di Indonesia sehingga budaya-budaya tersebut akan terpelihara. Tak hanya masyarakat dan wisatawan, pusat kebudayaan ini juga turut mewadahi komunitas-komunitas lokal untuk berkarya dan memperdagangkan hasil karya tersebut.

2025
πŸ‘€ Penulis: Audrey Priscilla
🏷️ Kebudayaan Lokal 🏷️ Pendidikan Budaya 🏷️ Inovasi Teknologi Dalam Pembelajaran

SENTRA KEBUDAYAAN WASTRA PALEMBANG: IKON WISATA TRADISIONAL

Kota Palembang, sebagai salah satu pusat kebudayaan di Indonesia, memiliki warisan budaya yang kaya, terutama dalam bentuk wastra atau kain tradisional. Namun, tantangan dalam pelestarian dan pengembangan kebudayaan di Palembang semakin mendesak, terutama terkait dengan minimnya fasilitas kebudayaan dan rendahnya minat generasi muda terhadap wastra. Perancangan ini bertujuan untuk merumuskan solusi strategis melalui pembangunan pusat budaya yang berfungsi sebagai pusat edukasi dan promosi kebudayaan. Wastra Palembang, yang terdiri dari songket, batik, dan jumputan, tidak hanya memiliki nilai estetika tetapi juga mencerminkan identitas dan sejarah masyarakat. Namun, data menunjukkan bahwa fasilitas kebudayaan di Palembang masih sangat terbatas, dengan hanya tiga pusat kebudayaan yang terdaftar secara resmi. Hal ini mengakibatkan kurangnya transfer pengetahuan dari generasi tua ke generasi muda, serta rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian budaya lokal. Sebagai respons terhadap tantangan ini, proyek pembangunan pusat budaya wastra di Kecamatan Ilir Barat II dirancang untuk menjadi ikon pariwisata tradisional sekaligus mendukung pelestarian, edukasi, dan pengembangan kebudayaan lokal. Pusat budaya ini diharapkan dapat berfungsi sebagai ruang edukasi yang menyediakan fasilitas hands-on learning, di mana masyarakat, khususnya generasi muda, dapat belajar tentang sejarah dan teknik pembuatan wastra. Selain itu, proyek ini juga bertujuan untuk meningkatkan daya tarik wisata Palembang dan mendorong ekonomi kreatif lokal dengan menyediakan ruang bagi pelaku industri kreatif untuk mengembangkan keterampilan dan memperluas pasar.

2025
πŸ‘€ Penulis: Nayla Auliya Putri
🏷️ Kebudayaan Indonesia 🏷️ Pendidikan Budaya 🏷️ Ekonomi Kreatif

MEMPERKENALKAN BUDAYA LOKAL KUTAI KARTANEGARA KEPADA ANAK USIA 9–12 TAHUN MELALUI PERANCANGAN BUKU CERITA BERGAMBAR INTERAKTIF TENTANG FESTIVAL ERAU

Festival Adat Erau merupakan warisan budaya Kutai Kartanegara yang kaya akan nilai sejarah, sosial, dan spiritual. Namun, di era globalisasi, eksistensinya menghadapi tantangan, terutama dalam menarik minat dan meningkatkan pemahaman generasi muda, khususnya anak usia 9–12 tahun. Menanggapi tantangan tersebut, dirancang sebuah media pembelajaran inovatif berupa buku cerita bergambar interaktif yang bertujuan mengenalkan dan menanamkan nilai-nilai budaya Erau secara menarik dan edukatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara dengan ahli budaya, guru, dan siswa, serta observasi terhadap media pembelajaran sejenis. Temuan menunjukkan bahwa visualisasi yang menarik dan elemen interaktif yang engaging dapat meningkatkan minat dan pemahaman anak terhadap budaya lokal. Buku yang dikembangkan memadukan narasi sederhana, ilustrasi menarik, dan elemen interaktif seperti pop-up, lift-the-flap, dan pull-tabs, yang tidak hanya menghibur tetapi juga mendorong keterlibatan aktif dalam proses belajar. Perancangan ini diharapkan menjadi media edukasi efektif dalam pelestarian budaya Erau serta menumbuhkan kebanggaan terhadap warisan leluhur di kalangan generasi muda. Selain itu, buku ini juga berpotensi diadaptasi sebagai model pembelajaran budaya lokal lain di Indonesia, sebagai kontribusi dalam menjaga keragaman budaya nasional di tengah tantangan modernisasi.

2025
πŸ‘€ Penulis: Dea Ayu Septi Ahadiah
🏷️ Budaya Lokal 🏷️ Pendidikan Budaya 🏷️ Media Pembelajaran Inovatif

PERANCANGAN BUKU EDITORIAL FENGSUI DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI SEBAGAI PENGENALAN BUDAYA BAGI DEWASA MUDA DI INDONESIA

Fengsui, sebagai bagian dari budaya Tionghoa, seringkali disalahpahami sebagai hal mistis dan rumit. Buku ini dirancang untuk meluruskan kesalahpahaman tersebut dengan menyajikan informasi yang mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan modern, menjelaskan prinsip dasar fengsui, elemen, serta memberikan contoh praktis penerapannya di berbagai aspek kehidupan, seperti pemilihan lokasi, penataan, dan keseimbangan dalam kehidupan. Dalam upaya untuk melestarikan budaya Tionghoa di Indonesia, dibutuhkan sarana informasi yang memberikan informasi mengenai fengsui dengan metode penyampaian yang menarik secara visual bagi dewasa muda. Metode penyampaian informasi ini melalui buku editorial dengan visual dan bahasa yang mudah dimengerti serta menarik yang dapat menjadi solusi untuk permasalahan ini karena media tersebut merupakan media yang dapat menggabungkan teks dan visual secara bersama sehingga pembaca tidak bosan membaca buku tersebut. Target audiens yang dipilih adalah generasi muda (18-40 tahun). Perancangan ini berbentuk buku editorial yang terdiri dari buku utama yang dilengkapi kolateral lain yang mendukung dengan gaya ilustrasi yang menarik dan menggunakan aksen Tionghoa-Indonesia.

2025
πŸ‘€ Penulis: Angeline
🏷️ Budaya Tionghoa 🏷️ Pendidikan Budaya 🏷️ Media Edukatif

PERANCANGAN ANIMASI VIRTUAL REALITY SEBAGAI UPAYA REKONTEKSTUALISASI PESAN CERITA PADA RELIEF KARMAWIBHANGGA CANDI BOROBUDUR UNTUK REMAJA USIA 14-21 TAHUN

Indonesia memiliki banyak peninggalan kuno yang tersebar luas sebagai konsekuensi logis banyaknya kerajaan di pulau Jawa sehingga meninggalkan warisan sejarah dan budaya, dan salah satunya adalah peninggalan candi Borobudur. Candi tersebut memiliki tiga representasi visual yang khas berupa 1212 relief dekoratif dan 1460 relief naratif sebagai wujud budaya yang terbangun dari gagasan (konsep manusia yang diidealkan), aktivitas (refleksi diri dan pencapaian), dan artefak (teks narasi visual relief) yang diciptakan oleh masyarakat lampau untuk diturunkan dari generasi ke generasi. Relief Karmawibhangga merupakan relief yang tidak banyak diketahui orang banyak karena terletak di bawah kaki candi Borobudur, dan hanya empat panil yang terlihat di sisi tenggara candi Borobudur. Kenyataan tersebut menyebabkan terputusnya kisah relief Karmawibhangga sehingga banyak wisatawan yang tidak mengetahui dan tidak menikmati sepenuhnya kisah-kisah dibalik relief tersebut, dan dengan demikian dibutuhkan media-media yang dapat menyampaikan kisah-kisah dibalik cerita relief Karmawibhangga. Virtual Reality (VR) adalah salah satu media visual yang mampu menceritakan kembali cerita relief dengan cara yang menarik dan mudah dimengerti oleh masyarakat luas khususnya remaja. Perancangan ini menargetkan segmen wisatawan Borobudur dengan kategori remaja berusia 14 sampai dengan 21 tahun. Teori bahasa rupa digunakan dalam perancangan ini sebagai alat bantu penulis dalam menafsirkan dan meciptakan cerita sesuai dengan unsur di dalam relief Karmawibhangga. Melalui teknologi VR yang mampu memberikan pengalaman imersif kepada penggunanya, memungkinkan cerita relief dapat mudah dimengerti dan diminati oleh remaja. Dengan demikian, perancangan ini dibuat untuk mengenalkan kisah relief Karmawibhangga mengenai hakikat hidup kepada wisatawan Borobudur khususnya remaja melalui media interaktif Virtual Reality.

2024
πŸ‘€ Penulis: Anisa Zhafira Nasution
🏷️ Virtual Reality 🏷️ Relief Karmawibhangga Candi Borobudur 🏷️ Pendidikan Budaya

PERANCANGAN GALERI BATIK KONTEMPORER DENGAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI DIGITAL SEBAGAI METODE PENGENALAN BATIK DI MASA KINI

Kebudayaan batik merupakan salah satu jenis kesenian yang menjadi sebuah ikon kebudayaan nusantara bahkan hingga mancanegara. Salah satu daerah yang terkenal akan produksi dan corak batiknya adalah Yogyakarta. Sayangnya, generasi muda saat ini semakin sedikit yang mempelajari dan meneruskan kebudayaan batik. Selain itu, berbagai sarana pembelajaran dan rekreasi yang memanfaatkan teknologi terkini lebih diminati masyarakat. Oleh karena itu, sebuah rancangan interior sebuah batik center yang memanfaatkan teknologi interaktif dan tetap membawa unsur budaya perlu dibuat. Tujuan dari perancangan ini adalah untuk merancang sebuah sarana edukasi dan juga sarana rekreasi yang diminati berbagai kalangan masyarakat terutama kalangan muda serta berhasil meningkatkan pengetahuan masyarakat terhadap batik. Desain yang dihasilkan merupakan sebuah interior yang memadukan berbagai unsur kebudayaan lokal Yogyakarta dan segala potensinya dengan teknologi instalasi interaktif seperti video mapping dan touch screen. Selain display yang menarik tersebut, sentra batik menyediakan fasilitas workshop dan rental baju agar pengunjung dapat terlibat dalam proses pembatikkan itu sendir

2024
πŸ‘€ Penulis: Gitara Ika Aliva
🏷️ Interior 🏷️ Teknologi Interaktif 🏷️ Pendidikan Budaya

ENHANCING CHINATOWN IDENTITY: GLODOK CULTURAL CENTER SEBAGAI PUSAT PENGENALAN BUDAYA TIONGHOA DI KAWASAN PECINAN JAKARTA

Warisan budaya merupakan hal penting yang perlu diteruskan dari generasi ke generasi. Salah satu bentuk dari warisan budaya adalah kawasan perkotaan bersejarah yang memiliki identitas tempat kuat. Identitas tempat yang kuat dapat menciptakan rasa kepemilikan manusia yang kuat terhadap tempat tersebut. Namun, seiring perkembangan zaman, identitas tempat pada kawasan bersejarah terancam memudar akibat globalisasi. Kawasan Pecinan Glodok merupakan salah satu kawasan bersejarah di Jakarta dengan beragam potensi budaya dan ekonomi lokal khas Pecinan. Sayangnya, kawasan ini juga terdampak oleh fenomena globalisasi yang menyebabkan banyaknya perubahan elemen arsitektur masa lampau dengan masa kini yang berpotensi memudarkan identitas kawasan sebagai sebuah Pecinan. Hal tersebut secara tidak langsung menyebabkan pudarnya rasa kepemilikan generasi muda terhadap budaya setempat. Guna merespons isu tersebut, dibutuhkan suatu ruang yang mampu meningkatkan identitas Glodok sebagai Kawasan Pecinan secara relevan terhadap karakteristik pengguna masa kini tanpa meninggalkan konteks lingkungan dan sejarahnya. Tujuan ini dapat dicapai dengan menciptakan ruang edukasi budaya yang interaktif, ruang apresiasi dan ekshibisi aktivitas kebudayaan, serta ruang rekreasi berbasis komersial untuk menciptakan pengalaman berbelanja yang kuat di Pecinan. Perancangan proyek berupa cultural center menggunakan pendekatan creative placemaking sebagai landasan utama perancangan untuk menciptakan tempat yang mampu merespons pengguna, bangunan, dan lingkungan di sekitarnya melalui aspek kreativitas dan ekonomi. Dengan demikian, proyek dapat mengembalikan identitas Kawasan Pecinan Glodok secara kontekstual sehingga mampu meningkatkan kepemilikan generasi muda terhadap kebudayaan setempat.

2024
πŸ‘€ Penulis: Robin
🏷️ Kawasan Bersejarah 🏷️ Creative Placemaking 🏷️ Pendidikan Budaya
πŸ’¬