📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 6 dokumen

PERANCANGAN WELLNESS CENTER SEBAGAI PUSAT TERAPI DAN EDUKASI DENGAN PENDEKATAN MULTISENSORI UNTUK WANITA

Perancangan ini berangkat dari fenomena tingginya tingkat stres pada wanita urban di Indonesia yang dipengaruhi oleh tekanan beban ganda, tuntutan sosial, serta tantangan biologis yang seringkali kurang mendapat perhatian. Kondisi ini menunjukkan urgensi akan hadirnya fasilitas pemulihan non-medis yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat relaksasi, tetapi juga sebagai ruang terapi dan edukasi yang dirancang secara khusus untuk menjawab kebutuhan fisik, mental, dan emosional wanita secara berkelanjutan. Perancangan ini berfokus pada pengalaman pemulihan holistik melalui pendekatan multisensori, yaitu dengan mengoptimalkan stimulasi indra penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, dan perasa sebagai media terapi. Pendekatan ini diterapkan melalui pengolahan elemen interior seperti warna, material, tekstur, pencahayaan, aroma, suara, serta pengalaman konsumsi herbal yang dirancang untuk mendukung relaksasi tubuh, edukasi, dan peningkatan kepercayaan diri.

2026
👤 Penulis: Aisha Nayla Felia
🏷️ Kesehatan Mental 🏷️ Interior Design 🏷️ Pendidikan Kesehatan

EVALUASI KEPATUHAN PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA SETELAH KONSELING OBAT DI SALAH SATU PUSKESMAS DI KOTA BANDUNG

Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit kronis dengan prevalensi tinggi di Indonesia, yang memerlukan pengelolaan jangka panjang melalui terapi dan edukasi berkelanjutan. Konseling atau edukasi obat berperan penting dalam meningkatkan pemahaman pasien mengenai penyakit, pola hidup dan kepatuhan pasien terhadap pengobatan. Oleh sebab itu, kualitas konseling perlu dievaluasi berdasarkan tingkat kepuasan pasien dan masukan terbuka yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman, pola hidup, kepatuhan, dan kepuasan pasien diabetes melitus tipe 2 terhadap layanan konseling di salah satu puskesmas di Kota Bandung, serta mengevaluasi hubungan antar variabel tersebut, khususnya antara pemahaman dan pola hidup dengan tingkat kepatuhan pasein. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional), melibatkan 67 pasien diabetes melitus tipe 2. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis secara deskriptif serta inferensial. Analisis korelasi dilakukan untuk mengidentifikasi hubungan antara pemahaman, pola hidup, dan kepatuhan, serta keterkaitannya dengan data demografi dan kondisi klinis pasien. Hasil menunjukkan 77,33% pasien memiliki tingkat emahaman yang baik (kategori skor DKQ-R ? 75%), dan 88,06% telah menjalankan pola hidup yang baik. Namun 35,82% pasien menunjukkan tingkat kepatuhan rendah. Sebanyak pasien (71,14%) menyatakan puas terhadap layanan konseling yang diterima. Analisis korelasi menunjukkan adanya hubungan bermakna antara pola hidup dan kepatuhan (? = 0,525; kategori sedang). Penelitian ini menyimpulkan bahwa konseling yang efektif perlu dilengkapi dengan penguatan perilaku dan media edukatif tambahan untuk meningkatkan kepatuhan pasien.

2025
👤 Penulis: Tasya Cornelia
🏷️ Keputusan Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 🏷️ Pendidikan Kesehatan 🏷️ Analisis Korelasi

IDENTIFIKASI PERAN APOTEKER DALAM PROSES PENDAMPINGAN PRAKTIK SWAMEDIKASI DI APOTEK WILAYAH KECAMATAN COBLONG KOTA BANDUNG

Swamedikasi adalah pengobatan mandiri untuk mengatasi gejala ringan tanpa konsultasi dokter, namun masih banyak dilakukan tanpa mengikuti aturan yang benar. Sekitar 51,7% masyarakat membeli obat tanpa resep di warung atau swalayan dan 41% penggunaan antibiotik dilakukan tanpa resep. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran apoteker dalam swamedikasi di Kecamatan Coblong, Kota Bandung, melalui pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring kepada masyarakat dan wawancara mendalam dengan lima apoteker. Kuesioner mencakup data demografi, pengalaman swamedikasi, serta kepuasan terhadap layanan apoteker menggunakan metode SERVQUAL. Wawancara menggali pelaksanaan peran apoteker dalam swamedikasi. Sebanyak 191 responden tercatat pernah melakukan swamedikasi, mayoritas berpendidikan SMA/sederajat dengan rata-rata melakukan swamedikasi satu sampai dua kali dalam sebulan. Hasil menunjukkan tingkat kepuasan berada dalam kategori puas dengan Customer Satisfaction Index (CSI) sebesar 71,6%. Analisis Importance-Performance Analysis (IPA) mengidentifikasi beberapa atribut berada di Kuadran I yang perlu menjadi prioritas perbaikan, seperti penyampaian informasi efek samping, edukasi aktivitas yang harus dihindari saat penggunaan obat (reliability), dan jaminan atas kesalahan informasi obat (assurance). Wawancara menunjukkan bahwa apoteker telah menjalankan fungsinya secara aktif dalam praktik swamedikasi, namun tetap diperlukan peningkatan kualitas layanan dan fasilitas apotek.

2025
👤 Penulis: Cindy Claudia Manalu
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kepuasan Pelanggan 🏷️ Pendidikan Kesehatan

PERANCANGAN GIM PENTINGNYA REMAJA 12-15 TAHUN MEMPERHATIKAN KANDUNGAN MINUMAN BERPEMANIS DALAM KEMASAN (MBDK)

Pemahaman informasi nilai gizi (ING) termasuk jumlah sajian dan Angka Kecukupan Gizi (AKG) dalam Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK) sangat penting bagi kesehatan. Peneliti selaku mahasiswa DKV bertujuan merancang game untuk meningkatkan kesadaran remaja usia 12-15 tahun mengenai bahaya konsumsi MBDK berlebihan dan pentingnya memahami ING. Game ini dirancang dengan pendekatan pembelajaran aktif, yang memungkinkan pemain berinteraksi dengan konten dan memperoleh pengetahuan dengan cara yang menarik. Dengan memberikan pengetahuan sejak dini, diharapkan remaja dapat membuat keputusan konsumsi yang lebih baik, mengurangi risiko obesitas dan penyakit kronis lainnya.

2025
👤 Penulis: Felicia
🏷️ Pendidikan Kesehatan 🏷️ Kecerdasan Buatan Dalam Pengajaran 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Minuman

PERANCANGAN ALAT PERMAINAN EDUKATIF UNTUK PEMBELAJARAN P3K ANAK SD DALAM PROGRAM DOKTER KECIL

Saat dihadapkan dengan situasi darurat dengan ancaman nyawa, sebagian besar masyarakat Indonesia lebih memilih untuk menunggu ahli datang untuk menangani korban daripada berisiko memperburuk keadaan. Waktu antara terjadinya kecelakaan dan kedatangan petugas medis tersebut dihabiskan menunggu tanpa penanganan lanjut dan meningkatkan risiko cedera pada korban kecelakaan. Hal tersebut dapat ditelusuri kembali dari kurangnya paparan keterampilan P3K di sekolah-sekolah Indonesia walaupun angka cedera termasuk tinggi di sekolah. Salah satu usaha yang bersangkutan dengan kesehatan di Indonesia ada pada Usaha Kesehatan Sekolah melalui program Trias UKS dan berupa pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, dan juga pembinaan lingkungan sehat. UKS memaparkan materi-materi terkait dengan kesehatan peserta didik serta dengan orang-orang disekitarnya dalam pendidikan kesehatan yang dapat berupa literasi kesehatan, optimalisasi aktivitas fisik, dan juga pembinaan kader kesehatan. Namun walaupun sosialisasi mencakup berbagai macam situasi yang bersangkutan dengan kesehatan, anak-anak akan tetap panik jika dihadapi dengan situasi nyata yang tegang dan menakutkan. Penelitian ini bertujuan untuk membantu anak-anak dalam belajar melakukan P3K dengan menggunakan media permainan edukatif untuk mengurangi rasa takut tersebut melalui metode-metode seperti kajian literatur topik terkait, observasi user anak-anak SD dan lingkungannya, serta dengan mewawancarai pihak yang bertanggung jawab atas pendidikan anak SD. Hasil perwujudan solusi ini akan dihadirkan dalam bentuk produk mainan edukatif yang dapat digunakan oleh guru SD atau UKS untuk segala kebutuhan pembelajaran dalam kelas maupun program lomba Dokter Kecil. Salah satu kerja fungsi produk memanfaatkan teknologi elektronik untuk memberi feedback secara real-time terhadap input teknik P3K yang diberi user sehingga anak-anak SD dapat lebih familiar dengan berbagai teknik P3K.

2025
👤 Penulis: Ghea Amira Firhan
🏷️ Pendidikan Kesehatan 🏷️ Permainan Edukatif 🏷️ Teknologi Elektronik

PERANCANGAN BUKU ANAK SEBAGAI SARANA EDUKASI MENGENAI PENYAKIT TOKSOPLASMOSIS PADA KUCING UNTUK ANAK PEREMPUAN USIA 8-10 TAHUN

Penyakit toksoplasmosis termasuk ke dalam penyakit tropis yang cenderung diabaikan karena gejala yang tidak langsung dapat diidentifikasikan, padahal penyakit tersebut dapat menyebabkan berbagai risiko kesehatan hingga kematian terutama pada wanita yang hamil karena dapat menyebabkan keguguran pada janin. Hewan kucing merupakan inang definitif bagi parasit T. gondii yang menyebabkan penyakit toksoplasmosis tersebut. Meskipun begitu, masyarakat Indonesia tetap gemar untuk menjadikan hewan kucing sebagai hewan peliharaan. Sehingga perlu diadakan edukasi mengenai penyakit toksoplasmosis serta cara perawatan kucing yang sesuai untuk menyampaikan pengetahuan mengenai penyakit tersebut. Edukasi ini dilakukan kepada anak-anak perempuan usia 8-10 tahun sebagai upaya penyampaian sejak dini, melalui buku anak yang bersifat interaktif. Pengumpulan data dilakukan dengan metode kajian pustaka dan studi literatur, wawancara, dan observasi.

2024
👤 Penulis: Kaira Ashanala Sulasmoro
🏷️ Kesehatan Hewan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Pendidikan Kesehatan
💬