📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 9 dokumenKAJIAN POTENSI TIMBULAN DAN PENGELOLAAN SAMPAH MENGANDUNG BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN RUMAH TANGGA DI KOTA CIREBON
Kota Cirebon sebagai pusat ekonomi dan jasa di wilayah Jawa Barat bagian timur menghadapi peningkatan timbulan sampah spesifik B3 (SSB3) dan sampah yang mengandung Limbah B3 (SSLB3) akibat pertumbuhan penduduk dan konsumsi rumah tangga. Penelitian ini bertujuan menentukan timbulan, proyeksi, komposisi dan karakteristik, serta mengevaluasi pengelolaan SSB3 dan SSLB3. Metode yang digunakan meliputi penyebaran kuesioner kepada 100 responden (rumus Slovin, tingkat kepercayaan 90%), pengukuran timbulan sampah pada 40 rumah tangga terpilih, observasi lapangan, dan wawancara. Hasil menunjukkan rata-rata timbulan SSB3 dan SSLB3 sebesar 0,0434 kg/orang/hari, dengan timbulan sampah infeksius rumah tangga sebesar 0,0085 kg/orang/hari yang didominasi pembalut bekas dan masker. Proyeksi timbulan meningkat dari 14.620 kg/hari (2021) menjadi 17.935 kg/hari (2030), seiring proyeksi penduduk mencapai 413.240 jiwa. Komposisi sampah kemasan/sisa B3 didominasi obat nyamuk pada aktivitas kamar (35,09%) dan sampah elektronik didominasi kulkas (57,26%). Karakteristik sampah didominasi oleh sifat beracun, infeksius, mudah menyala, korosif, reaktif, dan mudah meledak, dengan baterai, lampu CFL, obat kadaluwarsa, dan elektronik besar tergolong risiko tinggi. Pengelolaan menunjukkan kondisi yang belum optimal: 96,7% masyarakat belum memilah sampah B3 dan belum tersedianya TPS khusus B3. Untuk pengembangan pengelolaan SSB3 dan SSLB3 diperlukan peningkatan regulasi teknis, edukasi masyarakat, dan pengembangan fasilitas sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2020. Kata kunci: Kota Cirebon,
PROPOSED WASTE MANAGEMENT CONCEPT FOR EQUAFOLE'S CORPORATESOCIAL RESPONSIBILITY PROGRAM IN PANGALENGAN
Saat ini kegiatan CSR telah dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Setiap program yang berkaitan dengan masyarakat dan lingkungan tentu akan membuat pengaruh pada konsep pengelolaan sampah yang akan dilakukan. Untuk mengkonsepkan program CSR di Equafole. Penulis menggunakan metode primer dan data sekunder untuk mengumpulkan data. Equafole adalah perusahaan yang dikelola oleh mahasiswa SBM-ITB tingkat II sebagai sarana belajar bagaimana melakukan bisnis. Teori Manajemen Limbah adalah pengetahuan tentang sampah dan pengelolaan limbah, dan didasarkan pada harapan bahwa pengelolaan sampah dapat mencegah sampah untuk menyebabkan kerusakan pada kesehatan manusia dan lingkungan serta mempromosikan optimalisasi penggunaan sumber daya. Corporate Social Responsibility (CSR) umumnya mengacu pada operasional bisnis yang mempertimbangkan nilai-nilai etika, kepatuhan persyaratan hukum, kepedulian bagi orang-orang, masyarakat, dan lingkungan Dari banyak metode yang dapat digunakan untuk mengatur pembuangan limbah untuk meminimalkan dampak, Hirarki Sampah dapat digunakan sebagai referensi untuk tugas akhir ini. Dalam tugas akhir ini, penulis ingin memberikan tiga rekomendasi untuk konsep Equafole. Rekomendasi tersebut langkah perencanaan harus dilakukan secara menyeluruh sehingga dapat mengurangi hambatan dalam proses pelaksanaan, sangat penting dan vital untuk mendapatkan dukungan dari warga lokal, dan dalam pelaksanaan rencana, baik strategis atau masyarakat berbasis, selalu menggunakan Plan-Do-check-Act langkah. Program yang direkomendasikan dihasilkan melalui pertimbangan kebiasaan dan persepsi Kata kunci: Equafole, Pengabdian Masyarakat, tanggung jawab sosial mahasiswa, aktivitas ramah lingkungan
PERANCANGAN FASILITAS PENGOLAHAN SAMPAH DAPUR DAN SISA MAKANAN DI TPA PUTRI CEMPO, KOTA SURAKARTA
Sampah merupakan isu krusial yang masih dihadapi Indonesia, termasuk Kota Surakarta yang pada tahun 2023 menghasilkan sekitar 419 ton sampah per hari. Seluruh timbulan sampah tersebut dibuang ke TPA Putri Cempo sebagai satusatunya fasilitas pemrosesan akhir, yang setiap harinya menampung 409 ton per hari. Namun, saat ini TPA Putri Cempo menghadapi permasalahan kelebihan kapasitas sehingga secara fungsional tidak dapat lagi menampung sampah tambahan. Kondisi kelebihan kapasitas tersebut menunjukkan bahwa diperlukan upaya optimasi sistem pengolahan di TPA Putri Cempo agar keberlanjutan pengelolaan sampah dapat terjamin, salah satunya yaitu pengolahan sampah dapur dan sisa makanan. Komposisi sampah di Kota Surakarta didominasi oleh sampah compostable, seperti sisa makanan, sayur, buah, dan dedaunan, dengan persentase mencapai 62,7%. Apabila tidak ditangani dengan pengolahan yang tepat, sampah organik dapat menimbulkan berbagai dampak, seperti peningkatan emisi gas rumah kaca, pencemaran air tanah akibat lindi, serta bau tidak sedap yang mengganggu lingkungan. Selain itu, penimbunan langsung sampah dapur dan sisa makanan dapat mempercepat keterisian landfill, sehingga memperpendek umur teknis dan meningkatkan kebutuhan lahan. Oleh karena itu, diperlukan perancangan fasilitas pengolahan khusus sampah organik di TPA Putri Cempo. Berdasarkan analisis metode Simple Additive Weighting (SAW), alternatif terpilih adalah pengolahan sampah organik menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF) dengan hasil akhir kasgot yang kemudian diolah melalui metode windrow composting. Fasilitas yang dirancang mencakup unit pengolahan dan unit penunjang, meliputi area pemilahan, unit pengolahan sampah organik, unit pembiakan BSF, unit pemanenan hasil, unit pengolahan larva, unit pengolahan residu, serta sarana pendukung seperti kantor, ruang istirahat, dan toilet. Hasil perhitungan biaya menunjukkan kebutuhan investasi sebesar Rp9.976.158.199 dengan biaya operasional Rp4.031.619.864 per tahun dan estimasi pemasukan Rp11.104.577.500 per tahun. Analisis kelayakan ekonomi menggunakan metode Net Present Value (NPV) menghasilkan nilai NPV positif, sehingga proyek perancangan fasilitas pengolahan sampah organik dengan teknologi BSF dinyatakan layak secara ekonomis.
PERANCANGAN PUSAT KULINER DENGAN PENDEKATAN ECO-FRIENDLY SEBAGAI SOLUSI DALAM MENGATASI WASTE PROBLEM INDUSTRI KULINER DI KOTA BANDUNG
Sektor industri kuliner memiliki potensi yang sangat menjanjikan dan menjadi peluang besar, terutama di Kota Bandung, di mana jumlah wisatawan lokal maupun mancanegara terus meningkat dengan persentase 16% dari tahun-tahun sebelumnya. Namun, pertumbuhan sektor ini juga menimbulkan berbagai permasalahan baru, khususnya terkait sampah. Hingga saat ini, belum ada langkah signifikan dari pemerintah dalam menangani limbah yang dihasilkan oleh industri kuliner di Kota Bandung. Selain itu, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan dari dampak sampah masih tergolong rendah, sehingga permasalahan ini terus berlanjut (Kompasiana,2022). Perancangan tugas akhir ini berfokus pada pusat kuliner yang terintegrasi dengan pusat pengolahan sampah dengan pendekatan ramah lingkungan untuk mengatasi permasalahan limbah dalam industri kuliner. Kriteria dan konsep perancangan dalam penelitian ini didasarkan pada peraturan pemerintah yang mewajibkan pelaku usaha kuliner untuk mengelola sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah tangga serta mempertimbangkan kebutuhan masyarakat Kota Bandung akan fasilitas yang mendukung pengelolaan limbah bagi pelaku usaha kuliner. Pendekatan yang digunakan mencakup penerapan kebiasaan ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan furnitur yang mendukung kriteria & konsep perancangan tersebut, serta pemanfaatan material ramah lingkungan yang tahan lama.
MENGUKUR EFEKTIFITAS PROGRAM CSR GERAK BERSEMI DI PT KALTIM PRIMA COAL
Studi ini bertujuan untuk mengukur efektivitas program Corporate Social Responsibility (CSR) "Gerak Bersemi" yang diimplementasikan oleh PT Kaltim Prima Coal (KPC) di Kabupaten Kutai Timur. Masalah utama yang dihadapi kawasan ini adalah manajemen sampah yang tidak efektif, terlihat dari tumpukan sampah di pinggir jalan dan lahan kosong. Menurut data, sekitar 48% dari total sampah yang dihasilkan berasal dari sampah rumah tangga, sementara anggaran lokal dan sumber daya manusia di sektor pengelolaan sampah sangat terbatas. Kabupaten Kutai Timur memiliki sumber daya alam dan budaya yang melimpah, namun belum dioptimalkan untuk mendukung ekonomi lokal. Dalam konteks ini, PT KPC berkomitmen untuk memberikan perhatian khusus pada pengembangan lingkungan dan upaya pelestarian. Melalui program "Gerak Bersemi", KPC bertujuan untuk mengatasi masalah sampah dengan melibatkan partisipasi masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga berdasarkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle). Program ini tidak hanya berfokus pada pengurangan volume sampah, tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk menganalisis implementasi program "Gerak Bersemi". Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program ini telah berhasil meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah, meskipun masih ada tantangan dalam hal konsistensi dan keberlanjutan program. Dalam konteks ini, analisis media menjadi sangat penting. Media, baik melalui saluran berita tradisional maupun platform media online, berperan besar dalam membentuk opini publik dan memperkuat suara pihak eksternal seperti anggota masyarakat, organisasi non-pemerintah (NGO), atau kritikus. Dengan melakukan analisis sentimen media, organisasi dapat memperoleh wawasan tentang bagaimana program CSR mereka dipersepsikan, apakah secara positif atau negatif Temuan dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi bagi PT KPC dan pemerintah daerah dalam merumuskan strategi yang lebih efektif untuk pengelolaan limbah di Kabupaten Kutai Timur. Dengan demikian, program CSR 'Gerak Bersemi' tidak hanya berfungsi sebagai inisiatif perusahaan, tetapi juga sebagai model kolaborasi antara sektor swasta dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.
DESAIN DAN ANALISIS INSTALASI PENGOLAHAN SAMPAH TERPADU (IPST) SABUGA
Pada tahun 2023, TPA Sarimukti menampung 15 juta ton sampah, meskipun fasilitas ini hanya dirancang untuk 2 juta ton. Hal tersebut menunjukkan bahwa fasilitas pengolahan sampah di hulu perlu ditingkatkan untuk mengurangi jumlah residu yang dikirim ke TPA, termasuk IPST Sabuga yang merupakan fasilitas pengolahan sampah di ITB. Kegiatan pengolahan sampah yang dilakukan di IPST Sabuga saat ini hanya berupa pemilahan daur ulang dan pengomposan yang masih menghasilkan residu dalam jumlah besar. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas pengolahan sampah di IPST Sabuga perlu dilakukan. Studi ini dilakukan untuk merancang alur pengolahan sampah di IPST Sabuga agar infrastruktur yang ada dapat dimanfaatkan dengan maksimal. Desain yang diusulkan akan dievaluasi berdasarkan pengurangan massa, total produksi energi, emisi gas rumah kaca (GRK), dan arus kas harian. Analisis lebih lanjut dilakukan untuk menentukan nilai arus kas harian maksimum yang dapat tercapai melalui modifikasi biaya operasional dan pendapatan. Berdasarkan analisis, sistem pengolahan sampah yang sesuai untuk IPST Sabuga mencakup pemilahan sampah pada konveyor, pengomposan, serta pengolahan residu dengan gasifikasi. Hasil dari desain ini menunjukkan pengurangan sampah 1184% lebih baik dari 7,21% menjadi 92,62%, peningkatan total energi 309% dari -1170,65 MJ/hari menjadi 2452,21 MJ/hari, 70,68% penurunan emisi GRK dari 4554,36 kgCO2e menjadi 1335,42 kgCO2e, dan pengurangan arus kas harian sebesar 21,59% dari -Rp2.195.941/hari menjadi -Rp1.721.801/hari. Arus kas harian maksimum sebesar -Rp1.395.793/hari dari desain ini didapatkan dengan mengurangi pemilah menjadi tiga orang. Peningkatan arus kas harian dapat juga dicapai dengan memasukkan penjualan surplus listrik ke dalam pendapatan, sehingga arus kas harian menjadi Rp544.767/hari. Dapat disimpulkan bahwa desain ini dapat meningkatkan pengurangan massa, menghasilkan surplus energi, menurunkan emisi GRK, dan mengurangi arus kas harian dibandingkan dengan pengolahan saat ini. Kata Kunci: fasilitas pengolahan sampah, teknologi pengolahan sampah, analisis kas harian
ANALISIS FAKTOR PENGARUH DAN PENERIMAAN RETRIBUSI OLEH MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SAMPAH DI TPST KOTA BANDUNG (STUDI KASUS: TPST CICUKANG HOLIS DAN TPST BABAKAN SARI)
Pertumbuhan penduduk yang semakin pesat serta keragaman aktivitas khususnya di kota besar di Indonesia, seperti Kota Bandung, mengakibatkan munculnya persoalan dalam pelayanan prasarana seperti pengelolaan sampah. Berdasarkan data SIPSN, pada tahun 2022 sampah yang terkelola mencapai 96,78% atau 3% sampah berakhir ke Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Sarimukti. Kondisi TPPAS Sarimukti yang sudah over capacity, maka tahun 2024 akan ditutup. Salah satu upaya yang dilakukan Pemerintah Kota Bandung yaitu membangun fasilitas pengolahan sampah berupa Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Selain itu, program pembangunan TPST pun digagas oleh Improvement of Solid Waste Management to Support Regional Area and Metropolitan Cities (ISWMP). Tujuan penelitian ini yaitu menentukan faktor yang berpengaruh dalam pengelolaan sampah di TPST program (TPST Cicukang Holis) dan non-program (TPST Babakan Sari) dan merencanakan tarif pengelolaan sampahnya. Sasaran responden yaitu 100 sampel masyarakat yang terlayani pengangkutan sampah ke TPST Cicukang Holis dan 154 sampel masyarakat yang terlayani pengangkutan sampah ke TPST Babakan Sari (persentase error 8%). Pengambilan data melalui observasi, kuesioner, dan wawancara. Penelitian ini menganalisis 5 (lima) aspek dalam pengelolaan sampah di permukiman yaitu teknis operasional, peraturan, peran serta masyarakat, pembiayaan, dan kelembagaan. Metode yang digunakan yaitu metode SEM (Structural Equation Modelling) untuk menentukan faktor yang berpengaruh dalam pengelolaan sampah di TPST dan CVM (Contingent Valuatin Method) serta kalkultor sampah (Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 7 Tahun 2021) untuk merencanakan tarif pengelolaan sampahnya. Hasil penelitian menunjukkan jika faktor yang paling berpengaruh dalam pengelolaan sampah di TPST yaitu aspek pembiayaan dengan nilai 0,434 (TPST Cicukang Holis) dan 0,404 (TPST Babakan Sari). Kemudian, faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap nilai kemauan membayar (WTP) jasa pelayanan pengelolaan sampah yaitu tingkat pendidikan terakhir dan pendapatan. Nilai rata-rata kemampuan membayar (ATP) masih ada yang melebihi nilai rata-rata kemauan membayar (WTP) akibat masyarakat belum merasakan utilitas dari jasa pelayanan pengelolaan sampah. Lalu, nilai tarif retribusi hasil kalkulator sampah lebih besar dari CVM sehingga diperlukan subsidi dari Pemerintah. Selain itu, terbentuknya skema insentif dan disinsentif dalam pengelolaan sampah.
RE-DESAIN TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH REDUCE, REUSE, RECYCLE (TPS 3R) 09 JATISARI MENJADI PUSAT DAUR ULANG (PDU) DAN TAMAN EDUKASI 3R JATISARI DI KECAMATAN JATIASIH, KOTA BEKASI
Kota Bekasi adalah kota yang memiliki landfill terbesar se-Indonesia yang terletak di Kecamatan Bantargebang yang menempati lahan lebih dari 140 hektar. Hal ini menyebabkan minimnya fasilitas pengolahan sampah di luar TPA. Padahal, TPA semakin penuh dan diprediksi memiliki sisa umur yang singkat. Salah satu fasilitas pengolahan sampah yang berhasil adalah TPS 3R 09 Jatisari yang sudah mengolah sampah 4-5 ton/hari dan ikut membantu mengurangi sampah yang diangkut ke TPA. Untuk itu, TPS 3R ini perlu diapresiasi dan dikembangkan lagi dengan redesain menjadi Pusat Daur Ulang (PDU). Melalui pembobotan dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP), telah terpilih teknologi yang akan diterapkan pada PDU Jatisari adalah Refuse Derived Fuel (RDF) untuk sampah combustible, serta Black Soldier Fly dan Anaerobic Digester untuk sampah biodegredable. Berdasarkan proyeksi, PDU yang dirancang akan menerima sampah sebesar 33,07 ton/hari. Konfigurasi pengolahan yang dilakukan adalah penimbangan, pembongkaran, bag opener, pemilahan manual, pencacahan organik, pengeringan, pencacahan RDF, dan pemilahan berdasarkan ukuran. Selain menjadi fasilitas pengolahan sampah, PDU yang dirancang juga akan menjadi fasilitas edukasi bagi masyarakat mengenai pengelolaan sampah dengan adanya fasilitas edukasi seperti ruang baca, taman bermain, dan mini theatre. PDU meenempati lahan sebesar 2960,98 m2 dengan luas bangunan sebesar 1966,2 m2. Dari rangkaian pengolahan, akan dihasilkan RDF sebanyak 17,59 ton/hari dan larva BSF kering sebanyak 30,85 kg/hari. Biaya pembangunan PDU diestimasikan sebesar Rp3.560.535/m2 dan biaya operasional sebesar Rp215.537/ton sampah. Secara ekonomi, dengan produksi dari pengolahan sampah dan retribusi dari masyarakat proyek ini dinilai layak untuk dilaksanakan.
PERANCANGAN INSTALASI PENGOLAHAN LINDI TPA TERJUN KOTA MEDAN
Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Terjun terletak di utara pusat Kota Medan yaitu di Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara dan telah beroperasi sejak tahun 1993. Saat ini TPA Terjun berada di bawah pengendalian dan pengawasan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Medan. Lokasi yang digunakan untuk TPA ini merupakan lahan kosong seluas 100 Ha. Kondisi lahan yang saat ini digunakan TPA Terjun adalah tanah kosong yang lokasinya dekat dari permukiman penduduk Kota Medan. TPA Terjun melayani Kecamatan Medan Amplas, Kecamatan Medan Maimun, Kecamatan Medan Polonia, Kecamatan Medan Kota, Kecamatan Medan Johor, Kecamatan Medan Tuntungan, dan 15 kecamatan lainnya. TPA Terjun saat ini memiliki kantor, jembatan timbang sebelum memasuki daerah landfill, serta satu zona aktif dan direncanakan untuk zona baru yang akan dibuka sistem landfill yang akan digunakan adalah sanitary landfill. Debit lindi yang akan digunakan sebagai dasar perencanaan unit-unit di dalam IPL sebesar 1,8 L/detik . Berdasarkan perbandingan hasil analisis data literatur, beberapa parameter pencemar melebihi baku mutu seperti COD mencapai 2940 mg/L, BOD 1280 mg/L, dan TSS 168 mg/L. Berdasarkan hasil pembobotan yang dilakukan, alternatif pengolahan yang terpilih untuk IPL Terjun merupakan paket pengolahan lindi yang terdiri dari Kolam Anaerobik - Fakultatif - Maturasi – Landtreatment/Wetland. Alternatif ini dipilih dengan pertimbangan rasio nilai BOD dan COD menghasilkan angka perbandingan yaitu 0,44 yang berarti memerlukan pengolahan biologis utama. Perkiraan efluen dari hasil pengolahan lindi seperti COD mencapai 42,33 mg/l, BOD 20,04 mg/l, dan TSS 20,16 mg/l. Dengan total biaya investasi unit pengolahan lindi adalah sebesar Rp.39.250.856.852,-.