📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6 dokumenPERTIMBANGAN ILMIAH JEJAK KARBON INFRASTRUKTUR RISET ASTRONOMI DENGAN PENDEKATAN CARBON ACCOUNTING DALAM KERANGKA ETIKA PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
Krisis iklim global mendorong seluruh sektor, termasuk sains dasar seperti astronomi, untuk mengevaluasi kontribusi aktivitasnya pada emisi gas rumah kaca. Penelitian ini mengestimasi jejak karbon infrastruktur riset astronomi serta menganalisis hubungan antara umur fasilitas lifetime, tipe infrastruktur, dan intensitas karbon luaran ilmiah dalam kerangka etika pembangunan berkelanjutan (SDGs). Objek studi mencakup puluhan observatorium landas bumi dan misi antariksa. Metode yang digunakan adalah carbon accounting, yaitu pendekatan kuantitatif emisi karbon berbasis biaya dan massa payload, dikombinasikan dengan analisis statistik. Intensitas karbon dihitung dalam satuan CO2e per publikasi dan per penulis. Ketidakpastian global diestimasi menggunakan bootstrap, sedangkan korelasi Pearson digunakan untuk menguji hubungan antara lifetime, diameter teleskop, dan intensitas karbon. Analisis juga mencakup identifikasi zona efisien, serta fasilitas-fasilitas landas bumi dan antariksa yang intensitas karbonnya mirip. Hasil menunjukkan bahwa jejak karbon global infrastruktur astronomi mencapai 21 MtCO2e dengan fasilitas dominan pada observatorium landas bumi sebesar 12-14 MtCO2e. Fasilitas dengan lifetime lebih panjang cenderung menghasilkan intensitas karbon yang rendah. Namun penilaian efisiensi tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan umur fasilitas. Dalam rentang umur tertentu, observatorium landas bumi dapat memiliki intensitas karbon yang sama dengan misi antariksa. Analisis pada tingkat individual atau tipe fasilitas menunjukkan bahwa pendekatan berbasis karakteristik spesifik setiap infrastruktur memberikan dasar yang lebih akurat untuk merumuskan strategi perbaikan efisiensi energi dan pengurangan emisi karbon. Penelitian ini menyimpulkan bahwa emisi karbon astronomi merupakan sistem multikomponen yang kompleks karena menyangkut banyak hal. Walaupun intensitas karbon relatif tinggi, astronomi juga menghasilkan spin-off teknologi dan kontribusi strategis bagi pembangunan berkelanjutan. Karena itu, diperlukan perencanaan infrastruktur berbasis efisiensi karbon, inventarisasi emisi yang transparan, serta integrasi prinsip keadilan iklim dalam pengembangan fasilitas astronomi ke depan.
EKSPLORASI KEBAYA TRADISIONAL DENGAN TEKNIK RUST DYEING SEBAGAI MOTIF DAN SIMBOL IDENTITAS DI ERA MODERN
Indonesia, sebagai negara megabiodiversitas, memiliki kekayaan flora yang sangat melimpah, di mana tiga bunga yang telah ditetapkan sebagai puspa nasional oleh Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 1993, yaitu Melati (Jasminum sambac), Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis), dan Padma Raksasa (Rafflesia arnoldii), tidak hanya merepresentasikan keindahan alam Indonesia, tetapi juga memiliki nilai simbolik yang mendalam. Meskipun ketiga bunga ini telah ditetapkan sebagai simbol budaya nasional, sebagian besar masyarakat, khususnya generasi muda, belum sepenuhnya memahami dan mengenal keberadaan puspa nasional ini. Minimnya representasi visual puspa nasional dalam kehidupan sehari-hari menjadi isu yang perlu diperhatikan, mengingat pentingnya pelestarian budaya dan identitas bangsa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengangkat puspa nasional sebagai sumber inspirasi dalam desain fashion berbasis keberlanjutan, dengan menggunakan teknik reka latar dalam desain tekstil. Penelitian ini mengadopsi pendekatan Design Thinking, yang terdiri dari tahapan eksplorasi visual, perancangan motif, serta eksperimen berbagai teknik reka latar dalam penerapannya. Teknik reka latar digunakan sebagai metode utama dalam mengolah elemen visual yang terkandung dalam puspa nasional, seperti bentuk kelopak, warna, tekstur, dan struktur bunga, menjadi motif dan pola yang komunikatif dan sesuai dengan kebutuhan desain fashion kontemporer. Pada tahap pertama, dilakukan studi visual terhadap masing-masing puspa nasional untuk mengidentifikasi elemen-elemen desain yang dapat diterjemahkan menjadi motif dalam desain busana. Melati Putih, yang melambangkan kesucian dan ketulusan, diwakili dengan bentuk kelopak yang sederhana, halus, dan elegan. Anggrek Bulan, yang mencerminkan keindahan dan ketahanan, diwakili dengan warna cerah dan struktur yang memikat. Sementara itu, Padma Raksasa, yang merepresentasikan kekuatan dan keunikan alam Indonesia, diwakili oleh bentuk besar dengan warna yang mencolok. Elemen-elemen visual ini kemudian dianalisis dan diolah menjadi motif desain yang dapat diterapkan pada produk fashion, baik dalam bentuk pola, warna, maupun tekstur. Tahap berikutnya adalah eksperimen desain yang dilakukan melalui pembuatan sketsa manual dan digital untuk mengembangkan motif dan pola berbasis puspa nasional. Pada tahap ini, desain digali lebih dalam dengan menggunakan teknik reka latar, Eksperimen ini bertujuan untuk menghasilkan pola dan tekstur yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mengandung makna dan simbolisme yang mendalam sesuai dengan nilai budaya yang terkandung dalam puspa nasional. Setelah motif dan desain dieksplorasi, tahap berikutnya adalah perancangan prototipe busana, di mana desain-desain yang telah dikembangkan diterjemahkan ke dalam bentuk produk fashion. Desain prototipe busana ini kemudian dievaluasi untuk memastikan bahwa ia tidak hanya memenuhi standar estetika, tetapi juga mempertahankan esensi budaya yang menjadi ciri khas puspa nasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan teknik reka latar efektif dalam mentransformasikan citra puspa nasional menjadi desain fashion yang kontemporer dan komunikatif. Teknik ini mampu menggabungkan elemen simbolik dari puspa nasional, sehingga menghasilkan karya yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga kaya akan nilai budaya. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa desain fashion berbasis puspa nasional dapat menjadi media yang efektif untuk meningkatkan kesadaran Masyarakat terhadap pentingnya pelestarian puspa nasional dan identitas budaya Indonesia. Penelitian ini berkontribusi terhadap pengembangan desain fashion berbasis kebudayaan, serta memberikan sumbangan penting bagi dunia mode yang semakin mengedepankan nilai budaya dan pelestarian lingkungan. Karya ini diharapkan dapat memperkenalkan puspa nasional Indonesia secara lebih luas, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya identitas budaya bangsa
PERANCANGAN INTERIOR RESORT WELLNESS DENGAN PENDEKATAN BUDAYA LOKAL DI MOJOKERTO
Pandemi COVID-19 meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan fisik dan mental, mendorong tren wellness tourism yang mengutamakan keseimbangan tubuh, pikiran, dan jiwa. Mojokerto, memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wellness tourism karena sumber daya alamnya yang melimpah, terutama pemandian air panas alami. Namun, optimalisasi potensi ini masih terkendala kurangnya fasilitas akomodasi dan konsep yang mengintegrasikan budaya lokal dalam pengalaman wellness. Penelitian ini bertujuan untuk merancang interior resort wellness dengan pendekatan budaya lokal Mojokerto. Pendekatan ini diterapkan dalam desain interior melalui pemilihan material lokal, tata ruang berbasis keseimbangan alam dan manusia, serta program aktivitas wellness berbasis tradisi. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi lapangan, studi literatur, dan studi preseden. Observasi dilakukan guna untuk mengetahui kondisi site dan kebutuhan untuk perancangan sedangkan studi literatur bertujuan untuk mengkaji teori yang memperkuat dasar perancangan. Studi preseden dilakukan untuk acuan standar dan referensi. Hasil perancangan diharapkan dapat menciptakan pengalaman wellness yang tidak hanya menawarkan relaksasi dan penyembuhan, tetapi juga memperkuat identitas budaya lokal serta mendukung keberlanjutan lingkungan dan ekonomi masyarakat sekitar.
TRADISI, INOVASI, DAN IDENTITAS: TRANSFORMASI NOKEN PAPUA SELATAN TERHADAP MINAT PAKAI GENERASI Z
Indonesia merupakan negara dengan kekayaan budaya yang meliputi kerajinan dan produk tekstil tradisional yang beragam. Salah satu warisan budaya tak benda yang telah diakui oleh UNESCO adalah noken, tas tradisional khas Papua yang memiliki fungsi penting dalam kehidupan masyarakat adat, baik sebagai alat transportasi, simbol identitas budaya, maupun perangkat upacara. Namun, keberlangsungan tradisi noken kini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kurangnya minat generasi muda, perubahan gaya hidup modern, hingga dampak kerusakan lingkungan seperti deforestasi yang mengancam ketersediaan material organik untuk pembuatannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis posisi noken dalam masyarakat modern, khususnya berdasarkan minat pakai generasi muda Papua Selatan. Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini memanfaatkan wawancara dengan pengrajin tradisional, pengamat budaya, dan tokoh pemberdaya masyarakat. Selain itu, survei preferensi juga dilakukan untuk mengeksplorasi minat dan kebutuhan masyarakat modern terkait penggunaan noken sebagai produk tradisional yang relevan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini merekomendasikan kolaborasi antara pengrajin, desainer, dan pemerintah untuk menciptakan produk noken yang tidak hanya menarik tetapi juga sesuai dengan prinsip berkelanjutan dan pelestarian budaya.
FINANCIAL FEASIBILITY STUDY OF TIDAL CURRENT POWER PLANT AT LARANTUKA STRAIT, EAST NUSA TENGGARA
Tidal energy presents a promising solution for Indonesia’s clean energy transition, reducing reliance on fossil fuels while supporting sustainable electricity generation. This study evaluates the financial feasibility of a tidal power plant at Larantuka Strait, focusing on key economic indicators such as the Levelized Cost of Energy (LCOE), Net Present Value (NPV), and Internal Rate of Return (IRR). The results indicate that the project is financially viable, with an LCOE of Rp1,193.72/kWh—significantly lower than East Flores' regional electricity generation cost (BPP) of Rp1,856.59/kWh. Two financing scenarios were assessed: (1) 100% equity financing, yielding an NPV of Rp263.83 billion, an IRR by more than 100%, and a discounted payback period (DPP) of 9 years; and (2) a 70% loan and 30% equity structure, which resulted in a higher NPV of Rp96.97 billion, an IRR of 39.74%, and a shorter DPP of 12 years. The 1st scenario demonstrates superior financial viability, providing a more attractive investment case. Sensitivity analysis further supports this scenario, showing higher tolerance for variations in turbine power output and capital expenditure (CAPEX). These findings contribute to policy considerations for integrating tidal energy into Indonesia’s national energy mix, highlighting its potential to meet projected electricity demands in Adonara Island and Larantuka City while ensuring cost-effectiveness and long-term sustainability.
PENGHIDUPAN RUMAHTANGGA TRANSMIGRAN LOKAL DI DESA PUNCAK JERINGO KABUPATEN LOMBOK TIMUR
Transmigrasi bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan transmigran dan masyarakat sekitarnya. Meski demikian, transmigrasi lambat mengeluarkan transmigran dari kemiskinannya. Setelah 14 tahun ditempatkan, lebih dari setengah jumlah transmigran di Desa Puncak Jeringo, Kabupaten Lombok Timur masih belum keluar dari kemiskinannya. Melalui pendekatan penghidupan berkelanjutan (sustainable livelihood), penelitian ini hendak menggambarkan penghidupan rumahtangga transmigran di desa Puncak Jeringo dan memperoleh gambaran pengaruh transmigrasi dalam merubah penghidupan rumahtangga transmigran. Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif dengan pendekatan studi kasus. Hasilnya, ditemukan bahwa transmigran lokal di Desa Puncak Jeringo memiliki aset penghidupan yang rendah sehingga peningkatan aset penghidupan setelah mengikuti kebijakan transmigrasi tidak signifikan terjadi. Aset penghidupan yang rendah disebabkan oleh rendahnya kepemilikan dan akses transmigran ke modal alam, dan modal keuangan. Kondisi alam membuat kegiatan pertanian hanya dapat dilakukan saat musim hujan saja. Setelah usaha menanam jagung dilakukan, rumahtangga berstrategi dengan menjadi buruh, melakukan usaha ternak, atau berwirausaha. Kerentanan berasal dari eksternal berupa perubahan iklim, ketergantungan pada bantuan sosial pemerintah, dan harga jagung yang berubah- ubah tergantung pasar serta dari internal berupa rendahnya modal keuangan sehingga kesulitan dalam mendapatkan pupuk subsidi, saprodi, dan tenaga kerja. Sampai saat ini, transmigran belum menerima sertifikat tanah. Menurut transmigran, transmigrasi meningkatkan kesejahteraan transmigran karena karena telah memberikan tanah dan rumah kepada transmigran. Perubahan strategi penghidupan dan konteks kerentanan serta kepemilikan aset penghidupan rendah menyebabkan kerentanan rumahtangga transmigran meningkat.