📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5 dokumenSTUDI ARSITEKTUR KOLONIAL DI KOTA BENGKULU PERIODE EAST INDIA COMPANY (1685-1825) HINGGA DUTCH EAST INDIES (1825-1942)
Kota Bengkulu memiliki sejarah panjang yang tercatat sejak awal abad ke-12 pada masa Kerajaan Empat Petulai dan kerajaan lokal lainnya, jauh sebelum bangsa Eropa mendarat di wilayah Pantai Barat Sumatera. Kota Bengkulu pernah didominasi oleh dua kekuatan kolonial dari Eropa, yaitu East India Company (1685-1825) dan Dutch East Indies (1825-1942). Selama 140 tahun, bangsa Inggris berperan signifikan dalam membentuk struktur tata kota Bengkulu. Dalam masa transisi pendudukan kolonial, Kota Bengkulu diserahkan kepada Dutch East Indies atas manifestasi Traktat London 1824, yang menandai awal periode kolonial Belanda selama 117 tahun. Penelitian ini berfokus pada perkembangan arsitektur kolonial masa pendudukan bangsa Inggris dan Belanda. Warisan arsitektur yang didirikan oleh kolonial Inggris beralih fungsi dan diduga mengalami modifikasi oleh kolonial Belanda. Proses tersebut membentuk lapisan historis yang tumpang tindih, sehingga menjadikan narasi sejarah yang kompleks. Tingginya distorsi dan akumulasi perubahan bahkan jauh setelah pascakemerdekaan berisiko menyamarkan nilai historis yang dimiliki oleh bangunan kolonial di Bengkulu. Terbatasnya dokumentasi terkait arsitektur kolonial di Kota Bengkulu menyebabkan rentannya eksistensi bangunan tersebut. Di samping itu, terbatasnya penelitian yang tersedia terkait topik ini mengindikasikan bahwa arsitektur kolonial di Kota Bengkulu belum banyak dibahas dalam ranah akademik maupun nonakademik. Penelitian ini bertujuan memetakan persebaran arsitektur kolonial melalui kajian peta historis; mengidentifikasi elemen arsitektur dan material; serta mengidentifikasi karakteristik arsitektur kolonial di Kota Bengkulu. Hal ini berfungsi untuk menguraikan narasi Kota Bengkulu secara lebih utuh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif-eksploratif. Metode ini menerapkan konsep sinkronis dan diakronis untuk mengonfirmasi data sejarah dan bukti fisik di lapangan. Data diperoleh melalui studi literatur, analisis peta historis, dokumentasi bangunan kolonial, serta observasi di lapangan. Penelitian ini berupaya memperluas wacana akademik terkait arsitektur kolonial di Indonesia, khususnya di wilayah Pantai Barat Sumatera. Di samping itu, penelitian ini juga dimaksudkan untuk dapat menjadi referensi bagi tim ahli cagar budaya dan pemangku kepentingan dalam pemerintahan guna merumuskan strategi pelestarian bangunan dan kawasan bersejarah di Kota Bengkulu.
PENGGUNAAN METODE FOTOGRAMETRI RENTANG DEKAT DAN LASER SCANNING DALAM PEMBUATAN DENSE POINT CLOUD (STUDI KASUS : CANDI CANGKUANG)
Rekonstruksi dijital 3D dari objek jarak dekat diperlukan dalam aplikasi yang berbeda, seperti industri, kedokteran dan warisan budaya. Untuk merekonstruksi dijital suatu objek dapat dicapai dengan metode yang ada yaitu laser scanning dan fotogrametri rentang dekat (FRD). Kedua metode tersebut menyediakan data yang disebut point cloud yang mewakili permukaan objek. Dalam FRD, banyak perangkat lunak yang dapat melakukan hal tersebut, diantaranya adalah perangkat lunak komersil, photomodeler scanner, perangkat lunak open source local, bundler dan perangkat lunak open source remote, my3Dscanner. Semua hasil dari perangkat lunak fotogrametri tersebut akan dikomparasi dan diintegrasikan dengan hasil dari metode laser scanning. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa metode laser scanning menghasilkan point cloud yang lebih rapat dibandingkan dengan metode FRD. Sedangkan hasil yang didapat dari perbandingan perangkat lunak FRD, perangkat lunak photomodeler scanner dan bundler menghasilkan point cloud yang lebih rapat dibandingkan perangkat lunak my3Dscanner.
MODEL INVESTIGASI DAN REINTERPRETASI RUMOH ACEH DALAM UPAYA DOKUMENTASI DAN REGENERASI PENGETAHUAN TEKTONIKA DENGAN PENDEKATAN GRAMATIKA TEKTONIKA LOKAL
Arsitektur tradisional di Indonesia, termasuk Rumoh Aceh, menghadapi ancaman degradasi dan kepunahan serius. Kondisi ini menghambat upaya pelestarian warisan budaya tersebut di tengah arus modernisasi. Ancaman kepunahan Rumoh Aceh dipicu oleh berbagai faktor kompleks, meliputi: akulturasi budaya, minimnya representasi arsip dan dokumentasi pengetahuan, berkurangnya jumlah ahli (Utoh), dan kerentanan terhadap bencana alam. Banyak penelitian yang telah dilakukan dalam konteks pelestarian dan pengembangan, namun umumnya terbatas pada deskripsi pengetahuan sebagai sebuah artefak. Faktanya, ancaman kepunahan bukan hanya terjadi pada artefak, tapi juga pengetahuan dan sumber pengetahuannya. Salah satu gagasan dan strategi yang dapat dilakukan adalah dengan mengkaji tektonika sebagai atribut fundamental untuk menyelamatkan artefak sekaligus pengetahuan konstruksinya. Kajian tektonika dinilai layak diteliti sebagai resolusi terhadap degenerasi budaya dan dokumentasi pengetahuan yang terjadi pada Rumoh Aceh saat ini. Oleh karena itu, penelitian mendalam diperlukan untuk menginvestigasi, mendokumentasikan dan meregenerasi pengetahuan tektonika Rumoh Aceh. Tujuan utama penelitian ini adalah mendokumentasikan, menemukenali, dan mengodifikasi aturan (rule) gramatika tektonika Rumoh Aceh melalui pendekatan Gramatika Tektonika Lokal. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini berfokus pada pengembangan model investigasi dan integrasi pengetahuan eksplisit, implisit, dan artefaktual, dilanjutkan dengan reinterpretasi (artikulasi dan kodifikasi) sistematis pengetahuan tektonika ke dalam seperangkat aturan formal. Hasil kodifikasi ini digunakan untuk merumuskan model regenerasi esensi pengetahuan tektonika Rumoh Aceh agar aplikatif dalam konteks arsitektur kontemporer, sekaligus melestarikan nilai budayanya. Penelitian ini menggunakan desain sekuensial eksploratori (Exploratory Sequential Mixed Methods Design). Pendekatan ini secara struktural diawali dengan fase kualitatif, yang kemudian diikuti oleh fase kuantitatif. Seluruh sekuens dirancang secara sistematis untuk mengintegrasikan data secara bertahap dan terstruktur, mencakup proses pengumpulan, analisis, dan interpretasi data di setiap tahap. Metodologi penelitian ini mengadopsi pendekatan komprehensif yang terstruktur dalam enam tahapan utama: investigasi aspek pengetahuan tektonika, investigasi pengetahuan tektonika, investigasi pengetahuan tektonika artefak, artikulasi pengetahuan tektonika, kodifikasi pengetahuan tektonika, dan regenerasi pengetahuan tektonika Rumoh Aceh. Proses validasi dilakukan melalui triangulasi dua tahap. Tahap pertama berfokus pada validasi ahli terhadap taksonomi pengetahuan tektonika yang disintesis dari pengetahuan eksplisit dan implisit. Tahap kedua adalah dokumentasi pengetahuan tektonika Rumoh Aceh berdasarkan tiga aspek kunci, yaitu pengetahuan eksplisit (kerangka teoritis), pengetahuan implisit (keahlian), dan artefak (bukti fisik yang memvalidasi temuan). Penelitian ini berhasil merumuskan model konseptual baru yang memperkaya khazanah keilmuan arsitektur, yaitu Tektonika Arsitektur Lokal (TAL) dan Gramatika Tektonika Lokal (GTL). TAL dikembangkan sebagai perluasan konsep tektonika klasik yang menjadi fondasi bagi GTL. Model GTL berfungsi sebagai kerangka teoritis dan metodologis sistematis, mengintegrasikan aspek morfologi, sintaksis, dan semantik. Lebih dari sekadar alat analisis, GTL hadir sebagai alat berpikir yang memfasilitasi proses artikulasi dan kodifikasi pengetahuan tektonika yang mendalam pada Rumoh Aceh. Implikasi dari temuan ini sangat luas. Pertama, memberikan basis pengetahuan kritis untuk perumusan strategi pelestarian yang tepat, efektif, dan berkelanjutan, demi menjaga keberlanjutan warisan arsitektur ini. Lebih dari sekadar konservasi fisik, melalui lensa tektonika dan gramatika bentuk, Rumoh Aceh tidak hanya sebagai warisan budaya yang statis, melainkan berfungsi sebagai medium untuk memperkaya pemahaman mengenai bagaimana suatu peradaban merajut narasi eksistensinya melalui karya arsitektur. Hal ini memastikan Rumoh Aceh dapat dipertahankan sebagai warisan yang hidup dan relevan, berfungsi sebagai penghubung fungsional dan filosofis antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Selain itu, proses ini membuka peluang signifikan untuk inovasi arsitektur kontemporer yang berlandaskan pada nilai-nilai dan keunggulan tektonika lokal, menegaskan bahwa warisan budaya ini dapat terus hidup dan berkontribusi pada perkembangan arsitektur masa kini. Penelitian ini memberikan kontribusi substansial dengan mengembangkan model metodologi Gramatika Tektonika Lokal, yang memperkaya disiplin arsitektur. Secara praktis, temuan ini berfungsi sebagai landasan ilmiah yang kuat untuk pelestarian aset pengetahuan Rumoh Aceh secara terstruktur dan berkelanjutan. Selain itu, studi ini menawarkan solusi inovatif untuk penyelamatan warisan budaya takbenda dan secara aktif mendorong kesadaran serta motivasi masyarakat untuk melestarikan pengetahuan dan artefak budaya Rumoh Aceh.
PERANCANGAN VIDEO DOKUMENTER 360° BERBASIS VIRTUAL REALITY UNTUK MENGENALKAN GAMBAR CADAS PRASEJARAH DI KAWASAN KARST SANGKULIRANG-MANGKALIHAT
Gambar cadas prasejarah di Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat merupakan warisan budaya bernilai global yang menghadapi tantangan pelestarian, terutama akibat keterbatasan akses fisik dan rendahnya kesadaran publik, khususnya di kalangan Generasi Z. Sementara itu, metode edukasi konvensional terbukti kurang efektif dalam menjangkau generasi digital native ini, sehingga dibutuhkan inovasi media yang imersif dan relevan. Menjawab tantangan tersebut, penelitian ini merancang dan mengevaluasi sebuah video dokumenter 360° berbasis virtual reality (VR) sebagai media untuk menghadirkan petualangan digital imersif. Proses perancangan mengikuti pendekatan Design Thinking dalam lima tahap: empathize, define, ideate, prototype, dan user testing. Tahap awal dimulai dengan riset kebutuhan pengguna melalui observasi lapangan, survei daring (n=72), dan wawancara pakar. Prototipe awal berupa video VR 360° berdurasi 8 menit 41 detik diuji pada 19 responden siswa SMA/SMK di Samarinda. Umpan balik pengguna mendorong iterasi desain menjadi format serial tiga episode berdurasi 4-6 menit yang didistribusikan melalui microsite interaktif. Analisis data kuantitatif menggunakan Wilcoxon Signed-Rank Test menunjukkan bahwa VR 360° secara signifikan lebih unggul dibanding video 2D dalam membangun sense of presence (Z= 3,309; p< 0,001) dan realisme visual (Z= 3,059; p= 0,002). Namun, efektivitas narasi lebih tinggi pada 2D (Z= –1,883; p= 0,036), yang menunjukkan adanya trade-off antara imersif dan kejelasan cerita. Analisis kualitatif menemukan bahwa adegan dengan sudut pandang orang pertama menjadi favorit (dipilih oleh 89% responden), sementara pointer visual dan audio spasial dinilai penting dalam memperkuat pengalaman imersif. Sebagai hasilnya, penelitian ini merumuskan enam pilar persyaratan desain yang aplikatif dan menawarkan sebuah model inovatif untuk diseminasi serta pelestarian warisan budaya digital di Indonesia yang berpusat pada pengalaman imersif generasi muda.
PUSAT KEBUDAYAAN: RUANG PUBLIK DENGAN PENDEKATAN ENVIROMENTAL EXPERIENCE DAN COMMUNITY DI KABUPATEN GARUT
Pusat Kebudayaan di Garut diharapkan dapat merealisasikan visi dan misi yang telah ditetapkan dengan menerapkan pendekatan arsitektur spatial. Kesinambungan antara kebudayaan lokal dan desain arsitektur yang unik diharapkan dapat menarik minat masyarakat dan membantu pelestarian serta pengembangan warisan budaya setempat. Pusat kebudayaan ini akan mencakup berbagai fasilitas seperti museum, teater, studio, galeri, perpustakaan, dan pusat pengembangan kebudayaan, semuanya dirancang untuk meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap budaya lokal. Dalam mencapai tujuan proyek ini, kriteria perancangan diterapkan untuk menciptakan kesan yang unik dan menarik. Performance requirements melibatkan penggunaan ruang terbuka dengan ventilasi alami, komposisi bentuk geometri dasar yang disusun secara berulang, aplikasi material dan tekstur pada fasad bangunan, serta permainan cahaya dan bentukan arsitektural yang menghasilkan estetika ilusi bayangan. Pendekatan placemaking for public good juga diterapkan dengan prinsip-prinsip seperti welcoming, friendly, neighborly, attractive, active, dan safe. Selain itu, bangunan ini diharapkan dapat menjadi identitas lokal dengan mengintegrasikan elemen-elemen alam, menggunakan material lokal, merespons iklim setempat, melestarikan warisan budaya, mendorong interaksi sosial, dan menyediakan pendidikan serta interpretasi bagi pengunjung. Dengan demikian, pusat kebudayaan ini diharapkan tidak hanya menjadi pusat pelestarian dan ekspresi budaya tetapi juga menjadi titik fokus bagi pengembangan dan pemahaman kekayaan budaya lokal.