📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4 dokumenANALISIS PENENTUAN POSISI DIFFERENSIAL MENGGUNAKAN RECEIVER GPS TIPE NAVIGASI
Penelitian tugas akhir ini melakukan penambahan dalam inovasi pengambilan dan penyimpanan data pengamatan dari receiver GPS tipe navigasi. Receiver GPS tipe navigasi yang biasanya langsung menghasilkan data absolut berupa koordinat, dipakai untuk pengamatan GPS secara diferensial. Penelitian ini menggunakan data kode C/A dan data fase L1. Saat pengambilan data receiver navigasi tersebut dihubungkan kedalam perangkat keras dan lunak khusus, kemudian dilakukan pengamatan secara diferensial terhadap titik referensi yang diamati oleh receiver GPS geodetik. Pengolahan baseline dibagi kedalam empat macam yaitu baseline sangat pendek (54.794 m), baseline pendek (0.583 km), baseline sedang (7.722 km) dan baseline panjang (95.314 km) dengan menggunakan data broadcast ephemeris dan precise ephemeris.. Hasil dari penelitian ini pada umumnya menunjukan penyimpangan koordinat pengamatan dengan GPS navigasi terhadap geodetik berkisar pada nilai sub-meter (desimeter). Penyimpangan koordinat terkecil terjadi pada pengamatan baseline sangat pendek dan penyimpangan koordinat terbesar terjadi pada pengamatan baseline panjang. Hasil penelitan juga menunjukan koordinat yang dihasilkan dengan data precise ephemeris kisaran penyimpangan koordinatnya tidak terlalu signifikan dibanding data hasil broadcast ephemeris, sehingga tidak efektif bila menggunakan data precise ephemeris.
ANALISIS DEFORMASI PULAU BALI BERDASARKAN PENGAMATAN GPS KONTINU TAHUN 2010-2012 DAN GPS BERKALA TAHUN 2013
Pulau Bali terletak di dekat daerah subduksi Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Subduksi yang terjadi mengakibatkan regangan dan tegangan secara spasial dan temporal yang menyebabkan deformasi. Untuk mengamati deformasi tersebut digunakan metode pengamatan GPS dimana titik-titik pengamatan tersebar di Pulau Bali. Data yang digunakan adalah data pengamatan GPS kontinu tahun 2010-2012 dan data pengamatan GPS berkala bulan maret dan September tahun 2013. Pengolahan data pengamatan GPS menghasilkan koordinat geosentrik yang kemudian di transformasikan ke dalam bentuk koordinat toposentrik. Selanjutnya dilakukan perhitungan pergeseran dengan memperhatikan pergerakan dari blok Sunda. Hasil hitungan tersebutlah yang digunakan untuk menganalisis deformasi yang terjadi di Pulau Bali. Hasil perhitungan data menunjukkan bahwa besar pergeseran Pulau Bali berkisar antara 3,1 mm/tahun sampai 22,6 mm/tahun dengan vektor pergeseran dominan ke arah timur-utara. Berdasarkan hasil yang didapat, diketahui bahwa Pulau Bali mengalami deformasi dan terpengaruh pergerakan dari lempeng Indo-Australia. Namun, penelitian ini hanya merupakan hasil penelitian awal yang memerlukan penelitian lebih lanjut agar pola deformasi Pulau Bali dapat menghasilkan data yang lebih akurat.
KAJIAN PENGARUH PENGGUNAAN METODE SURVEI GPS JARING TERTUTUP DAN RADIAL TERHADAP KETELITIAN POSISI
Saat ini kegiatan pengamatan GPS di Indonesia didasari oleh Standar Nasional Indonesia (SNI) 19-6724-2002. Salah satu hal yang diuraikan dalam standar nasional tersebut adalah penggunaan metode jaring tertutup untuk pengukuran Kerangka Dasar Horizontal (KDH). Metode jaring tertutup memang lebih unggul dari segi ketelitian posisi dibanding metode jaring radial. Di sisi lain metode jaring radial memiliki kelebihan dari segi waktu dan biaya pelaksanaan survey. Dengan semakin berkembangnya teknologi receiver, perangkat lunak pengolahan data GPS, serta semakin banyaknya jumlah satelit semenjak dibuatnya standar nasional tersebut, ketelitian posisi dengan menggunakan metode radial mungkin akan sama telitinya dengan metode jaring tertutup. Dalam Tugas Akhir ini akan dibahas seberapa presisi dan akurat koordinat yang dapat dihasilkan dari kedua metode tersebut. Sebagai parameter untuk membandingkan kepresisian dan akurasi ketelitian posisi metode jaring radial dan metode jaring tertutup, maka dianalisis perbedaan koordinat, setengah sumbu elips kesalahan, dan nilai standar deviasi yang diperoleh masing-masing jaring. Berdasarkan parameter-parameter tersebut didapatkan bahwa metode jaring tertutup memang lebih teliti dibandingkan jaring radial. Namun dengan level perbedaan hanya dalam milimeter sampai sentimeter, untuk kegiatan survei GPS yang tidak memerlukan ketelitian yang tinggi dapat saja menggunakan metode pengamatan jaring radial.
STUDI KARAKTERISTIK PENGIKATAN JARINGAN TITIK GPS TERHADAP SERI ITRF 1994, 1996, 1997, 2000, 2005 (Studi Kasus Pengikatan Jaring GPS Sesar Lembang)
Dalam pengolahan data GPS untuk memperoleh ketelitian posisi sesuai dengan yang dibutuhkan, terdapat tahapan yang cukup penting, yaitu bagaimana teknik pengikatan data terhadap titik ikat atau titik referensi. Titik ikat tersebut dapat berupa titik kerangka referensi seperti DGN 95, WGS 84 atau ITRF (International Terestrial Reference Frame) 199X, 200X. Hasil pengikatan terhadap satu sistem kerangka referensi belum tentu sama dengan sistem kerangka referensi lainnya, dalam hal nilai maupun ketelitiannya. Sebagai contoh hasil pengikatan ke sistem DGN 95 belum tentu sama dengan WGS 84, atau ITRF 1994 belum tentu sama dengan ITRF 2000 atau ITRF 2005. Variasi nilai sangat dimungkinkan sekali terjadi diantaranya. Secara teori mungkin pengikatan ke ITRF 2005 akan memberikan ketelitian hasil yang lebih baik apabila dibandingkan dengan ITRF 1994, karena ITRF 2005 lebih stabil. Berdasarkan hal tersebut karya tulis ini dibuat. Untuk melihat korelasi dari penggunaan seri ITRF dengan hasil koordinat yang diperoleh. Dengan mengikatkan Jaring titik pantau deformasi sesar Lembang terhadap beberapa seri ITRF mulai dari ITRF 1994, 1996, 1997, 2000, dan 2005 untuk kemudian dilihat koordinat hasil pengolahannya serta implikasinya terhadap vektor pergeseran dalam studi sistem sesar (dengan studi kasus Sesar Lembang).