📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 2 dokumen

ANALISIS VARIABILITAS SUHU PERMUKAAN LAUT (SPL) SELAMA HOLOSEN DI PERAIRAN INDONESIA BERDASARKAN KOMPILASI DATA EKSISTING RASIO MG/CA DAN ?¹?O PADA INTI SEDIMEN LAUT

Perairan Indonesia merupakan wilayah tropis yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia melalui sistem Arus Lintas Indonesia (ARLINDO), sehingga berperan penting dalam pertukaran panas dan massa air dalam sistem iklim global. Variabilitas suhu permukaan laut (SPL) selama Holosen mencerminkan dinamika iklim pascadeglasiasi serta respons oseanografi regional terhadap pengaruh iklim global dan regional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variabilitas SPL selama periode Holosen (0–12.000 cal BP) serta membandingkan pola perubahan SPL antara wilayah perairan Indonesia bagian barat dan timur. Data yang digunakan berupa rasio Mg/Ca dan isotop oksigen (?¹?O) dari foraminifera planktonik Globigerinoides ruber yang berasal dari 12 inti sedimen laut di perairan Indonesia dan diperoleh dari basis data Paleoclimatology NOAA. Rasio Mg/Ca digunakan untuk merekonstruksi suhu permukaan laut, sedangkan kombinasi Mg/Ca dan ?¹?O digunakan untuk menghitung isotop oksigen air laut (?¹?Osw). Hasil rekonstruksi menunjukkan bahwa SPL di perairan Indonesia selama Holosen berada pada kisaran 26,0–30,3 °C dengan tren peningkatan dari Holosen awal hingga Holosen akhir. Rata-rata SPL meningkat dari sekitar 27,7 °C pada Holosen awal menjadi 28,8 °C pada Holosen tengah dan mencapai sekitar 29,2 °C pada Holosen akhir, dengan rata-rata keseluruhan sekitar 28,6 °C. Secara spasial, perairan Indonesia bagian barat menunjukkan variasi SPL yang lebih besar (sekitar 26,0–29,4 °C), sedangkan perairan Indonesia bagian timur menunjukkan variasi yang relatif lebih stabil (sekitar 26,9–29,5 °C). Berdasarkan rata-rata wilayah selama Holosen, suhu di perairan Indonesia bagian barat sekitar 0,6 °C lebih rendah dari rata-rata SPL Indonesia, sedangkan perairan Indonesia bagian timur sekitar 0,1 °C lebih rendah. Nilai ?¹?Osw yang berkisar ?0,18 hingga 0,82‰ menunjukkan bahwa selain suhu, dinamika hidrologi juga mempengaruhi rekaman paleoklimat di perairan Indonesia selama Holosen.

2026
👤 Penulis: Feti Fitriyani
🏷️ Hidrologi 🏷️ Iklim Pascadeglasiasi 🏷️ Perairan Indonesia

ANALISIS HARMONIK DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK KUADRAT TERKECIL UNTUK PENENTUAN KOMPONEN-KOMPONEN PASUT DI PERAIRAN DANGKAL DARI DATA TOPEX/POSEIDON

Teknologi satelit altimetri mempunyai peran penting dalam studi oseanografi dan hidrografi di perairan Indonesia. Pada banyak aplikasi pemanfaatan teknologi satelit altimetri, sinyal yang disebabkan oleh pasut laut harus dihilangkan dari data pengamatan satelit altimetri. Biasanya informasi dari sinyal pasut laut ini diperoleh dari model pasut laut global. Namun, model pasut global tersebut tidak dapat digunakan wilayah perairan Indonesia yang mempunyai karakteristik beragam. Oleh karena itu, diperlukan adanya informasi sinyal pasut lokal untuk menggantikan model pasut global di wilayah perairan Indonesia. Tugas akhir ini membahas mengenai penggunaan data TOPEX/Poseidon untuk menentukan komponen-komponen pasut laut di daerah perairan dangkal menggunakan analisis harmonik. Metode kuadrat terkecil digunakan dalam penentuan komponen-komponen pasut laut tersebut. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa data satelit altimetri dapat digunakan untuk menghitung konstanta-konstanta pasut di perairan Indonesia. Namun masih terdapat masalah yang ditemui dalam penelitian ini yaitu pada penentuan fase komponen pasut yang mempunyai perbedaan cukup besar pada data pass ascending dan descending. Yang menjadi masalah dari perbedaan ini yaitu apabila dari hasil proses analisis harmonik menggunakan TOPEX/Poseidon ini akan dibuat co-tidal chart. Tetapi untuk keperluan prediksi pasut hal ini sudah dapat digunakan.

2026
👤 Penulis: FANANI HENDY KHUSUMA (NIM 15104011)
🏷️ Analisis Harmonik 🏷️ Data Satelit Altimetri 🏷️ Perairan Indonesia
💬