📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5 dokumenEVALUASI PERBAIKAN TANAH MENGGUNAKAN METODE STONE COLUMN TERHADAP POTENSI LIKUIFAKSI DI PROYEK JALAN TOL TRANS JAWA STA 4+200-STA 4+405, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Jalan tol sebagai proyek strategis yang memberikan kebermanfaatan yang sangat besar bagi daerah yang terkoneksi serta perkembangan ekonomi nasional dan regional menuntut adanya perancangan yang matang. Proyek Jalan Tol Trans Jawa STA 4+200-STA 4+405, dilakukan pada Daerah Istimewa Yogyakarta yang merupakan daerah dengan aktivitas seismik tinggi, serta kondisi geoteknik yang didominasi oleh tanah pasir dengan muka air dangkal yang menuntut adanya solusi perbaikan tanah yang dapat memitigasi fenomena likuifaksi pada lokasi studi. Perbaikan tanah yang digunakan untuk mencegah akumulasi peningkatan air pori digunakan adalah metode stone column. Potensi likuifaksi diukur menggunakan metode NCEER. Metode stone column adalah perbaikan tanah menggunakan material batu pecah yang digunakan untuk mengisi tanah dengan membentuk kolom. Stone column menciptakan material batu-tanah komposit yang lebih kaku, sehingga penurunan total dapat bernilai kurang dari 0,1 m dan stabilitas lereng pada kondisi statik memiliki SF?1,5 dan kondisi pseudostatik memiliki nilai SF?1,1. Hasil desain stone column diameter 1 m dan spacing 1,7-2,3 m menunjukkan bahwa perbaikan tanah efektif dalam meningkatkan resistensi likuifaksi, mengurangi penurunan total tanah dan meningkatkan stabilitas lereng sesuai standard teknis.
STUDI RESPONS TANAH POTENSI LIKUEFAKSI DENGAN PERBAIKAN TANAH DEEP SOIL MIXING SECARA ANALISIS DINAMIK RIWAYAT WAKTU
Deep Soil Mixing (DSM) tipe grid adalah metode perbaikan tanah yang umum digunakan dalam dunia praktis untuk memitigasi potensi likuefaksi. Metode ini sudah terbukti mampu memitigasi potensi likuefaksi, salah satunya pada saat gempa Hyogo-ken Nanbu pada tahun 1995. Saat ini, praktisi menggunakan persamaan empiris rasio reduksi tegangan geser siklik dengan perbaikan tanah DSM tipe grid yang dikembangkan oleh Nguyen et al. (2013) yang berbasis pada model tanah linear elastic. Akan tetapi, perilaku tanah bersifat non-linear dan pada saat terjadi gempa mampu mengenerasi tegangan air pori berlebih. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi persamaan empiris oleh Nguyen et al. (2013) dengan memodelkan tanah secara non-linear dan mampu mengenerasi tegangan air pori secara dinamik 3D untuk dapat mengakomodasi distribusi tegangan tanah dalam grid. Tanah potensi likuefaksi dikalibrasi terhadap pengujian centrifuge yang dilakukan oleh Cao et al. (2023). Hasil penelitian menunjukkan bahwa performa DSM dalam memitigasi likuefaksi dipengaruhi oleh rasio spasi terhadap panjang DSM. Hasil menunjukkan bahwa dengan menggunakan pemodelan replacement ratio yang sama dengan Nguyen et al. (2013), rasio reduksi tegangan geser siklik mendekati atau penurunan 15% untuk replacement ratio diatas 33% dan terjadi peningkatan 22% untuk replacement ratio dibawah 33%. Akan tetapi, dengan spasi yang besar dengan tetap mempertahankan replacement ratio, diperoleh rasio reduksi tegangan geser siklik meningkat 60% untuk seluruh replacement ratio. Selain itu, diperoleh juga bahwa meskipun terjadi penurunan tegangan geser siklik, hal tersebut tidak menutup potensi terjadinya likuefaksi yang bergantung pada spasi terhadap panjang DSM. Oleh karena itu, dikembangkan design chart yang baru dengan mempertimbangkan efek rasio spasi terhadap panjang DSM terhadap rasio reduksi tegangan geser siklik dan rasio tegangan air pori berleih untuk masing-masing rasio tegangan geser dan direkomendasikan menggunakan rasio spasi terhadap panjang DSM dibawah 0.3 dengan rasio tegangan geser diatas 13.5 agar memitigasi likuefaksi secara maksimal untuk konfigurasi DSM grid persegi.
DESAIN PERANCANGAN PERBAIKAN TANAH LUNAK DAN PERKUATAN LERENG GALIAN TIMBUNAN PADA PROYEK JALAN TOL JAKARTA – CIKAMPEK II SELATAN STA 09+775 DAN STA 15+000
Proyek Jalan Tol Jakarta-Cikampek II Selatan merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional yang dibangun melalui kerjasama Badang Usaha Jalan Tol (BUJT) PT. Jasa Marga dan PT. Wiranusantara Bumi. Jalan Tol ini dibangun sepanjang 64 km dan terbagi ke dalam 3 (tiga) seksi konstruksi, yaitu seksi 1 Jatiasih – Setu sepanjang 9.3 km, seksi 2 Setu – Taman Mekar sepanjang 24.85 km, dan seksi 3 Taman Mekar – Sadang sepanjang 27.85 km. Berdasarkan hasil investigasi lapangan, proyek ini memiliki berbagai masalah dalam bidang geoteknik, yaitu adanya konstruksi timbunan setinggi 8 meter di atas tanah lempung lunak sedalam 17 meter pada STA 09+775 s.d STA 09+900 dan adanya konstruksi lereng tegak atau memiliki kemiringan sebesar 90???? pada STA 15+000 s.d. 15+125. Tanah lempung lunak memiliki dampak yang cukup buruk dalam konstruksi jalan karena akan menyebabkan penurunan struktur cukup parah dan ironisnya proses penurunan ini akan berlangsung cukup lama sebagai akibat dari nilai permeabilitas tanah lempung yang sangat kecil. Akibatnya, penurunan tanah yang berlangsung cukup lama ini akan memberi kerusakan yang cukup parah pada struktur jalan. Adapun timbunan tinggi yang mencapai 8 meter dan lereng galian tegak dengan kemiringan 90???? memiliki potensi keruntuhan yang lebih tinggi sehingga penting untuk diberikan perkuatan. Metode perbaikan tanah lempung lunak yang diajukan dalam tugas akhir ini adalah pemberian beban preloading dan pemasangan prefabricated vertical drain (PVD) dengan konfigurasi segitiga pada variasi pemasangan spasi PVD sebesar 1 meter, 1.25 meter, dan 1.5 meter. Pemasangan ini dilakukan untuk mempercepat waktu penurunan konsolidasi. Dari hasil pemasangan, diperoleh bahwa waktu yang dibutuhkan untuk proses penurunan konsolidasi pada masing-masing variasi pemasangan spasi PVD berturut-turut adalah 183 hari, 281 hari, dan 421 hari. Adapun metode perkuatan lereng timbunan yang diajukan adalah dengan menggunakan geotekstil berkekuatan 100 kN/m pada zona atas dan 150 kN/m pada zona bawah. Dari hasil pemeriksaan keamanan global menggunakan aplikasi PLAXIS 2D didapatkan bahwa nilai keamanan lerengnya adalah sebesar 1.478 untuk kondisi short term dan 1.589 untuk kondisi long term. Berdasarkan standard yang telah ditetapkan, dapat disimpulkan bahwa nilai keamanan lereng ini telah memenuhi batas minimum, yaitu 1.3 untuk kondisi short term dan 1.5 untuk kondisi long term. Pada kasus lereng galian, metode perkuatan yang diusulkan adalah soil nailing dan sheet pile. Untuk soil nailing, perkuatan direncanakan akan dibuat adalah pola segiempat dengan spasi horizontal dan vertikal sebesar 1.5 meter dengan diameter lubang bor sebesar 100 mm. Adapun kemiringan nail bar dibuat bervariasi, yaitu sebesar 10????,15????, dan 20????. Dari hasil perancangan, didapatkan bahwa metode perkuatan ini untuk masing-masing variasi telah memenuhi syarat keamanan global, kegagalan cabut, kegagalan tarik, kegagalan geser, kegagalan dinding, kegagalan punching shear, dan kegagalan facing head stud. Namun, nilai defleksi yang terjadi masih belum memenuhi kriteria batas izin maksimum, yaitu sebesar 4.7 cm. Berdasarkan proses pengecekan ini, dapat disimpulkan bahwa metode perkuatan soil nailing untuk seluruh variasi belum mampu memenuhi kriteria desain yang telah ditetapkan. Untuk sheet pile, perkuatan direncanakan menggunakan sheet pile baja PZ27 yang memiliki nilai driving distance 457.2 meter dan panjang penetrasi sedalam 9.5 meter. Dari hasil perancangan, didapatkan bahwa metode perkuatan ini untuk masing-masing variasi telah memenuhi syarat keamanan global, kegagalan basal heave, kegagalan blow-in, dan kegagalan piping. Namun, nilai defleksi yang terjadi masih belum memenuhi kriteria batas izin maksimum, yaitu sebesar 4.7 cm. Berdasarkan proses pengecekan ini, dapat disimpulkan bahwa metode perkuatan sheet pile untuk seluruh variasi belum mampu memenuhi kriteria desain yang telah ditetapkan.
EVALUASI KINERJA PERBAIKAN TANAH DENGAN METODE RIGID INCLUSION DAN STONE COLUMN PADA KASUS GEMPA PALU 2018
Perbaikan tanah tipe kolom berupa rigid inclusion dan stone column umum digunakan sebagai solusi dalam mitigasi potensi likuefaksi. Mitigasi potensi likuefaksi pada umumnya dilakukan berdasarkan tiga prinsip yaitu melalui mekanisme pemadatan akibat proses konstruksi, reduksi tegangan geser sebagai efek perkuatan akibat kekakuan kolom yang lebih tinggi, dan drainase tegangan air pori ekses. Rigid inclusion meningkatkan ketahanan tanah terhadap potensi likuefaksi melalui mekanisme pemadatan dan reduksi tegangan geser akibat kekakuan kolom. Sementara stone column bekerja melalui ketiga mekanisme tersebut. Saat ini metode perancangan rigid inclusion dan stone column umum dilakukan dengan asumsi terjadi kompatibilitas regangan geser antara kolom diskrit dan tanah di sekitarnya, sehingga memberikan estimasi reduksi tegangan geser yang relatif besar. Namun terdapat perbedaan pendapat bahwa tidak terjadi kompatibilitas regangan geser yang berdampak pada estimasi reduksi tegangan geser yang lebih kecil. Pada penelitian ini dievaluasi kinerja rigid inclusion dan stone column yang berfokus pada mekanisme reduksi tegangan geser akibat kekakuan kolom yang lebih tinggi pada kondisi Gempa Palu 2018 di Desa Petobo. Evaluasi dilakukan melalui pemodelan numerik menggunakan PLAXIS 2D dengan analisis dinamik. Analisis parametrik dilakukan dengan variasi nilai area replacement ratio, rasio kekakuan kolom terhadap tanah, dan diameter kolom untuk menentukan kompatibilitas regangan geser dan reduksi tegangan geser yang terjadi. Hasil pemodelan numerik menunjukkan bahwa reduksi tegangan geser yang terjadi dengan instalasi rigid inclusion lebih kecil daripada yang diperkirakan dengan asumsi kompatibilitas regangan geser. Pada stone column diperoleh hasil serupa dimana reduksi tegangan geser yang terjadi relatif lebih kecil terutama pada area replacement ratio yang tinggi. Kompatibilitas regangan geser yang terjadi antara rigid inclusion maupun stone column dan tanah di sekitarnya tidak terjadi di permukaan, namun mulai terjadi pada kedalaman tertentu. Parameter yang mempengaruhi terjadinya reduksi tegangan geser dan kompatibilitas regangan geser pada rigid inclusion maupun stone column adalah area replacement ratio, sementara rasio modulus geser dan diameter kolom tidak terlalu berpengaruh secara signifikan.
STUDI PARAMETRIK ANALISIS PERBAIKAN TANAH DENGAN METODE RIGID INCLUSION PADA PROYEK PEMBANGUN JALAN TOL SERANG-PANIMBANG
Jaringan jalan merupakan elemen penting dalam mendorong mobilitas di berbagai sektor ekonomi, sosial, dan budaya. Menjamin efisiensi dan kualitas layanan transportasi memerlukan pendekatan pembangunan daerah yang komprehensif untuk memastikan pembangunan yang seimbang dan berkeadilan, sejalan dengan tujuan pembangunan nasional. Namun, pembangunan jalan tol sering menghadapi tantangan geoteknik akibat karakteristik tanah yang kurang stabil, yang memerlukan perbaikan khusus untuk meningkatkan daya dukung dan stabilitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbaikan tanah menggunakan metode rigid inclusion pada proyek pembangunan jalan tol Serang- Panimbang, di mana tanah eksisting adalah tanah lunak yang rentan terhadap deformasi besar akibat beban berat. Metode perbaikan tanah mengacu pada SNI 8460:2017 dan melibatkan berbagai konfigurasi spasi, panjang, dan tinggi timbunan. Timbunan dengan tinggi 8 meter lebih cocok digunakan dengan berbagai konfigurasi karena perbedaan penurunan yang lebih mendekati garis linear, sehingga lebih efektif saat dilakukan perubahan konfigurasi. Perbandingan antara model dengan dan tanpa geotextile menunjukkan bahwa meskipun tidak ada perbedaan signifikan pada penurunan, penggunaan geotextile berpengaruh terhadap peningkatan faktor keamanan dan stabilitas, terutama pada deformasi lateral kolom. Peningkatan konfigurasi spasi, panjang, dan tinggi timbunan secara signifikan mempengaruhi penurunan tanah, dengan peningkatan spasi sebesar 33,88%, panjang sebesar 5,52%, dan tinggi timbunan sebesar 5,17%. Kesimpulannya, metode rigid inclusion efektif dalam menahan gaya aksial dari beban di atasnya dan mengurangi deformasi lateral dengan penambahan tulangan pada kolom untuk mengantisipasi gaya lateral, lentur, dan tarik.