📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 7 dokumenPERANCANGAN ULANG KAWASAN PASAR KEBAYORAN LAMA, KOTA JAKARTA SELATAN
Kawasan Pasar Kebayoran Lama memiliki beberapa permasalahan, seperti fasilitas yang kurang memadai, sirkulasi kawasan yang kurang baik, serta permasalahan pedagang informal yang berjualan di pinggir jalan hingga mengganggu aktivitas masyarakat sekitar. Padahal, kawasan pasar ini memiliki beragam potensi yang bisa dioptimalisasi agar bisa memenuhi fungsinya sebagai sumber pendapatan dan penggerak ekonomi daerah, serta menjadi salah satu pusat kegiatan ekonomi paling penting di masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, penelitian berupa konsep perancangan ulang kawasan Pasar Kebayoran Lama perlu dilakukan untuk mengatasi persoalan dan meningkatkan kualitas lingkungan sehingga tercipta kawasan yang dapat memenuhi kebutuhan kegiatan perdagangan dan jasa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan pendekatan perancangan yang dilakukan secara fragmental dengan teknik problem solving yang mengacu pada elemen perancangan perkotaan Shirvani (1985). Penelitian ini juga melakukan sintesis teori untuk merumuskan kriteria dan prinsip normatif yang diambil dari pedoman perancangan pasar rakyat. Sintesis teori menghasilkan enam kriteria utama perancangan pasar rakyat, yaitu comfortable, clean and healthy, connected, safe, secure, dan organized. Hasil analisis potensi dan persoalan kawasan menunjukkan bahwa fasilitas dan sarana yang tersedia di kawasan Pasar Kebayoran Lama masih belum cukup memadai. Untuk menanggapi hal tersebut, dihasilkan rumusan prinsip perancangan yang secara spesifik menyesuaikan kebutuhan serta potensi kawasan, sehingga terbentuk konsep dan ilustrasi desain perancangan ulang yang lebih baik. Perancangan ini menawarkan sebuah solusi yang memadukan tiga zona utama kawasan pasar yang bersifat aksesibel, tertata, dan hidup selama 24 jam. Konsep perancangan ini diharapkan dapat menjadi referensi komprehensif bagi penelitian selanjutnya, serta menjadi solusi relevan untuk mengupayakan pelestarian pasar tradisional serta keberlanjutan lingkungan kawasan Pasar Kebayoran Lama.
KAJIAN TEKNIS UNDANG-UNDANG INFORMASI GEOSPASIAL (UU-IG) DAERAH KOTA UNTUK SKALA BESAR
Undang-Undang Informasi Geospasial telah disahkan oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 21 April 2011 yang lalu, dan berbagai bentuk turunan kegiatan dari UU tersebut harus segera dilaksanakan dalam kurun waktu 2 (dua) tahun setelah Undang-undang tersebut disahkan. salah satu turunan kegiatan dari undang undang tersebut terkait dengan masalah perkembangan perkotaan. Disamping itu, perkembangan kota-kota yang semakin tidak teratur pun terjadi. Untuk itu, diperlukan perencanaan kota yang baik untuk mengatasi permasalahan fisik yang terjadi di wilayah perkotaan di Indonesia. Perencanaan kota membutuhkan peta berskala besar. Untuk mendapatkan peta skala besar dibutuhkan suatu metode. Metode yang memenuhi tujuan tersebut adalah survey pemetaan terestris. Oleh karena itu, diperlukan kajian teknis Undang-Undang Informasi Geospasial (UU-IG) berdasarkan survey pemetaan terestris yang memiliki batasan masalah tersendiri. Output dari kajian teknis tersebut berupa pedoman teknis pelaksanaan survey pemetaan terestris di wilayah perkotaan untuk digunakan sebagai acuan dalam perencanaan perkotaan di Indonesia. Penyusunan pedoman teknis pelaksanaan survey pemetaan di area kota dilakukan dengan menyeleksi dan mengidentifikasi Undang-Undang Informasi Geospasial (UU-IG) ditinjau dari ketelitian posisi sedangkan Permendagri No. 2 Tahun 1987 ditinjau dari definisi kota. Hasil seleksi dan identifikasi sebagai acuan untuk penjabaran berupa ketelitian titik kerangka dasar horisontal menurut analisis visual kartografi, yang selanjutnya digunakan sebagai acuan ketentuan dalam penyelenggaraaan kerangka dasar horisontal. Hasil dari kajian teknis Undang-Undang Informasi Geospasial (UU-IG) ini adalah berupa pedoman teknis pelaksanaan survey pemetaan area kota untuk skala besar.
LIDAR (LIGHT DETECTION AND RANGING) UNTUK PEMODELAN KOTA TIGA DIMENSI (STUDI KASUS : KOTA DAVAO, FILIPINA)
Fenomena meningkatnya pertumbuhan urbanisasi dan industrialisasi berpengaruh terhadap kebutuhan sistem perencanaan kota yang baik. Banyak teknik yang dapat digunakan untuk membangun sistem perencanaan kota, salah satu teknik yang akurat dan memiliki kepadatan data yang tinggi adalah teknik dengan menggunakan LIDAR (Light Detection and Ranging). Dari pengolahan data LIDAR dapat dihasilkan model kota 3D yang nantinya digunakan sebagai sistem perencanaan kota yang baik. Hasil utama dari teknik LIDAR adalah DSM (Digital Surface Model) dan DTM (Digital Terrain Model) yang nantinya dapat digunakan untuk membangun model kota 3 dimensi. Model kota 3D dari daerah pusat kota dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam aplikasi, contohnya adalah operasi militer, manajemen bencana alam, pemetaan gedung dan ketinggian gedung, simulasi gedung baru, pembaharuan dan pelestarian data kadaster, rekonstruksi bangunan, dll. Metode yang penulis gunakan dalam pembuatan model kota tiga dimensi ini adalah ekstraksi bangunan menggunakan data LIDAR dan orthophoto. Pada penelitian ini penulis menggunakan data LIDAR dan orthophoto dari kota Davao di Filipina. DTM area penelitian dihasilkan dengan cara pembuatan TIN (Triangulated Irregular Network) dari point cloud yang berada pada kelas ground area penelitian. Hasil akhir yang diharapkan adalah model bangunan 3D diatas DTM area penelitian.
PERANCANGAN KAWASAN TOD (TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT) DI STASIUN CIREBON
Stasiun Cirebon (Kejaksan) memiliki potensi untuk dijadikan kawasan Transit Oriented Development (TOD) dibandingkan Stasiun Cirebon Prujakan dan Terminal Harjamukti karena Stasiun Cirebon menjadi persimpangan utama jalur kereta api di Pulau Jawa, memiliki lokasi yang strategis dengan pusat kota, infrastruktur yang lebih lengkap, dan peran pentingnya dalam jaringan transportasi nasional. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi kriteria dan prinsipprinsip perancangan normatif terkait perancangan kawasan TOD (Transit Oriented Development), mengidentifikasi karakteristik, potensi, dan persoalan pada kawasan Stasiun Cirebon, serta membuat konsep perancangan kawasan TOD di Stasiun Cirebon. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif, dan menggunakan metode perancangan fragmental. Fragmental menggunakan empat langkah dalam proses perancangan yaitu dengan mengumpulkan dan menganalisis data, kemudian merumuskan tujuan dan sasaran, serta akhirnya mengembangkan rencana perancangan kota. Hasil analisis menunjukkan bahwa Stasiun Cirebon yang berada di Kecamatan Kejaksan memiliki potensi yang melimpah sebagai kawasan TOD, dengan beragam simpul transit dan penggunaan lahan yang bervariasi. Perancangan pada kawasan ini diarahkan pada kawasan integrasi bangunan yang bersifat campuran guna lahan dengan pejalan kaki dan pesepeda sebagai prioritas utama yang dilengkapi dengan kawasan pejalan kaki yang mendukung akses pejalan kaki dan bersepeda. Sirkulasi kawasan ini juga mendukung sirkulasi vertikal yang lebih banyak sehingga mengurangi interaksi antara pejalan kaki dengan kendaraan bermotor. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi dalam merancang kawasan TOD Stasiun Cirebon yang berada di Kecamatan Kejaksan.
IDENTIFIKASI TINGKAT PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROGRAM PENINGKATAN KUALITAS DAN PENATAAN PERMUKIMAN KUMUH PARTISIPATIF DI DKI JAKARTA
Tingkat intensitas persoalan permukiman kumuh di DKI Jakarta semakin jelas serta ekspansi luas kawasan kumuh yang memperburuk kondisi lingkungan dan kualitas hidup. Pada tahun 2018, Pemerintah DKI Jakarta memperkenalkan Peraturan Gubernur No. 90 yang mengedepankan pendekatan partisipatif melalui program Community Action Plan (CAP) dan Collaborative Implementation Program (CIP), yang juga mencakup aspek sosial, dan ekonomi yang sering luput dalam spektrum perencanaan. Meskipun program ini dirancang untuk melibatkan masyarakat, penanganan ini masih dilakukan secara top-down. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kapasitas partisipasi masyarakat dalam setiap tahapan program dan juga mengidentifikasi pemahaman masyarakat dan hambatan keberjalanan program peningkatan kualitas dan penataan permukiman kumuh di DKI Jakarta, menggunakan pendekatan kualitatif dengan data yang diperoleh dari observasi, wawancara, tinjauan dokumen dan literatur dengan teknis analisis kerangka teoritis, deskriptif kualitatif dan konten. Hasil temuan menunjukkan bahwa, masyarakat merasa program begitu kompleks dari sisi tahapan dan tidak terdapat upaya untuk menjamin akan pemahaman program dan peran masyarakat, sehingga partisipasi ternilai belum sepenuhnya menerapkan konsep partisipatif. Perlu penegasan dalam pelaksanaan kolaborasi antar pihak terkait peranan masingmasing, agar dapat mencakup tujuan program. Dengan menelusuri dinamika pelaksanaan dan partisipasi program, diharapkan akan memperkaya literatur dan praktik di bidang perencanaan kota dan pengelolaan permukiman dan juga pada konteks program CAP CIP, dan sebagai bentuk awal untuk memulai evaluasi program.
PERANCANGAN ULANG KAWASAN SINGLE-FAMILY HOUSING DI DAERAH GRAND CANAL DOCK, KOTA DUBLIN DENGAN MENGGUNAKAN KONSEP UP-ZONING
Penelitian ini bertujuan untuk merancang ulang kawasan perumahan single-family di Grand Canal Dock melalui penerapan konsep up-zoning. Dublin saat ini menghadapi masalah krisis pasokan perumahan dan pemanfaatan lahan yang kurang optimal meskipun memiliki potensi yang cukup besar. Dengan mengadopsi konsep up-zoning, di mana peraturan zonasi diubah untuk memungkinkan pembangunan dengan ketinggian dan kepadatan yang lebih tinggi, diharapkan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan lahan sekaligus memberikan solusi terhadap kebutuhan perumahan yang terus meningkat. Metodologi yang digunakan dalam perancangan ini menggunakan metode fragmental dengan melibatkan analisis mendalam terhadap kondisi eksisting kawasan, studi perbandingan dengan kawasan lain yang telah berhasil menerapkan up-zoning, serta simulasi desain untuk menguji berbagai skenario perancangan. Penelitian ini juga mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan untuk memastikan bahwa perancangan ulang kawasan tidak hanya berfokus pada peningkatan densitas, tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup penghuni serta keberlanjutan lingkungan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan up-zoning di kawasan Grand Canal Dock berpotensi meningkatkan kapasitas hunian hingga 50% tanpa mengorbankan kualitas ruang publik dan lingkungan. Rancangan ulang ini juga mampu mengakomodasi berbagai tipe hunian, mulai dari apartemen hingga mixeduse development, yang dapat mendukung keberagaman sosial dan dinamika ekonomi kawasan. Perancangan ini merekomendasikan implementasi konsep upzoning sebagai strategi jangka panjang untuk pembangunan kota yang lebih efisien dan berkelanjutan.
KAJIAN WALKABILITY KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BANDUNG DENGAN URBAN NETWORK ANALYSIS
Keramahan pejalan kaki merupakan hal esensial sebelum transportasi bermotor ditemukan. Namun, perubahan tata lingkungan kota telah menggeser moda ini, menyebabkan masalah lingkungan seperti penurunan kesehatan, ketidaksetaraan sosial, dan peningkatan emisi gas rumah kaca. Urgensi akan walkable community mendorong perencanaan, perancangan, serta kebijakan untuk meningkatkan aktivitas berjalan kaki. Salah satu pusat kota yang perlu menerapkannya adalah PPK Alun-alun Kota Bandung. Arahan perancangan pusat kota menyebutkan bahwa keberadaan alun-alun dinilai sebagai ruang publik untuk masyarakat berinteraksi. Jejaring jalan pada pusat kota ini menjadi krusial sebab adanya peranan sebagai penghubung dari satu destinasi heritage kepada destinasi lainnya. Penelitian ini dilakukan sebagai upaya menilai keramahan jejaring pejalan kaki di Kawasan Alun-alun Kota Bandung dengan Urban Network Analysis (UNA). Metode penelitian yang digunakan merupakan metode kuantitatif eksploratif dengan pengambilan data lewat observasi, tinjauan literatur, dan studi preseden. Data tersebut kemudian digunakan untuk merumuskan kriteria dan variabel yang dibutuhkan dalam simulasi UNA. Hasil simulasi kemudian disandingkan dengan kondisi eksisting untuk menentukan komponen perancangan yang dapat ditingkatkan. Penelitian ini menunjukkan bahwa persebaran kawasan yang ramah pejalan kaki di Alun-alun Bandung belum merata. Dengan demikian, diharapkan usulan perancangan yang dirumuskan dapat membantu untuk meningkatkan lingkungan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan area yang lebih ramah pejalan kaki