📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 18 dokumenFAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INTENSI PEMBELIAN TERHADAP FITUR GRUP ORDER DI APLIKASI PENGANTARAN MAKANAN ONLINE DI INDONESIA
Aplikasi Pengantaran Makanan Online di Indonesia menunjukkan peningkatan trend di beberapa tahun terakhir. Untuk membuat aplikasi ini semakin menarik, aplikasi Pengantaran Makanan Online meluncurkan fitur Grup Order yang membuat pengguna bisa melakukan pemesanan secara bersama dengan lebih mudah. Fitur Grup Order membantu dalam mengatasi permasalahan konsumen saat memesan makanan secara bersamaan seperti proses pemesanan yang rumit, pembagian tagihan, dan pelacakan order. Keuntungan dari fitur Grup Order membuatnya dikenal di lingkungan kerja dan komunitas. Fitur ini menjadi salah satu tren yang meningkatkan penggunaan aplikasi Pengantaran Makanan Online. Studi sebelumnya umumnya meneliti aplikasi Pengantaran Makanan Online saja dan studi terbaru mulai membahas fitur Grup Order. Pada penelitian ini akan membahas pengaruh sosial, promosi, perilaku konsumen, dan intensi pembelian terhadap fitur Grup Order di Indonesia. Dari variabel yang dianalisis di fitur Grup Order, penelitian ini mengembangkan 7 hipotesa. Setiap hipotesis akan mengetes hubungan antar variabel dan mediasi. Dengan menganalisa variabel ini, tujuan utama dari riset ini adalah memformulasikan solusi marketing yang efektif yang dapat meningkatkan intensi pembelian berdasarkan variabel yang memiliki hubungan terkuat dan efek terbesar. Riset ini dilakukan secara kualitatif untuk riset awal validasi isu bisnis dan secara kuantitatif dengan online kuisioner dengan 239 responden. Data dianalisa menggunakan analisa deskriptif, PLS-SEM, tes hipotesa, dan analisa mediasi. Penelitian ini menunjukan bahwa perilaku konsumen memiliki hubungan terkuat dan efek terbesar dengan intensi pembelian di Grup Order. Aplikasi Pengantaran Makanan Online harus memprioritaskan membangun perilaku konsumen positif untuk mendapatkan pengaruh peningkatan lebih besar terhadap intensi pembelian. Pengaruh sosial memiliki hubungan positif dengan perilaku konsumen dan intensi pembelian. Promosi memiliki hubungan positif terhadap perilaku konsumen dan intensi pembelian. Tetapi, promosi perlu untuk mengutamakan membangun perilaku konsumen daripada langsung intensi pembelian karena efek size pada promosi bekerja melalui perilaku konsumen dan hampir tidak meiliki pengaruh pada pada intensi pembelian. Penelitian ini membantu dalam mengisi kesenjangan riset dari fitur Grup Order sebagai salah satu sumber pertumbuhan menjanjikan dari aplikasi Pengantaran Makanan Online yang belum pernah ditelusuri. Riset ini menyertakan solusi bisnis untuk meningkatkan intensi pembelian di Grup Order berdasarkan temuan dari riset ini.
DAMPAK DARI PERSEPI ESG (ENVIRONMENT, SOCIAL, DAN GORVERNANCE) TERHADAP INTENSI MEMBELI PADA SEKTOR OTOMOTIF DI INDONESIA
Peran klaim Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam membentuk perilaku konsumen masih kurang diteliti dalam konteks otomotif di pasar berkembang. Penelitian ini mengkaji bagaimana persepsi ESG memengaruhi intensi pembelian kendaraan di Indonesia menggunakan Theory of Planned Behavior (TPB) sebagai kerangka analitis utama. Survei kuantitatif dilakukan terhadap 200 konsumen di Jakarta yang baru saja membeli atau berencana membeli kendaraan penumpang roda empat. Analisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) melalui SmartPLS 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perceived Behavioral Control dan Attitude merupakan prediktor langsung terkuat dari intensi pembelian. Di antara dimensi ESG, Governance memiliki pengaruh terbesar, memengaruhi secara signifikan Attitude (? = 0,409, p < 0,001) dan Perceived Behavioral Control (? = 0,341, p < 0,001), sementara persepsi Environment & Social memengaruhi Subjective Norm (? = 0,379, p < 0,001) namun tidak memengaruhi Attitude secara langsung. Model menjelaskan 48,2% varians dalam intensi pembelian. Temuan ini menunjukkan bahwa pengaruh ESG bersifat spesifik berdasarkan dimensinya dan beroperasi melalui jalur psikologis yang berbeda.
PENGARUH PERNYATAAN MORAL REBELS TERHADAP WILLINGNESS TO PAY KONSUMEN DENGAN PERSEPSI IN-GROUP DAN OUT-GROUP SEBAGAI VARIABEL MODERASI
Penelitian kuantitatif ini mengkaji apakah pernyataan yang bermuatan moral dibandingkan dengan yang tidak bermuatan moral yang disampaikan oleh merek yang bertindak sebagai moral rebels mempengaruhi willingness to pay konsumen, serta bagaimana persepsi keanggotaan dalam kelompok (in-group) versus luar kelompok (out-group) memoderasi hubungan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengatasi kesenjangan penelitian terkait penerjemahan pembingkaian pesan moral ke dalam valuasi ekonomi yang lebih tinggi oleh konsumen yang mengarah pada peningkatan willingness to pay, yang hingga saat ini belum diuji. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen between-subjects dengan moderator terukur untuk menguji pengaruh pernyataan bermuatan moral dibandingkan dengan yang tidak bermuatan moral terhadap willingness to pay konsumen. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pernyataan moral dibandingkan dengan non-moral tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap willingness to pay konsumen. Selain itu, persepsi keanggotaan in-group versus out-group juga tidak secara signifikan memoderasi hubungan tersebut. Hasil ini menunjukkan bahwa pembingkaian moral semata mungkin tidak cukup untuk mempengaruhi keputusan pembelian konsumen, khususnya ketika pesan moral tidak memiliki relevansi personal yang kuat atau tidak tertanam dalam identitas kelompok yang terinternalisasi secara mendalam. Penelitian selanjutnya perlu mengeksplorasi faktor mediasi dan moderasi alternatif, berbagai kategori produk, serta konteks lintas budaya untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai kondisi di mana moral framing dapat memengaruhi valuasi ekonomi.
MENGAPA PELANGGAN MENINGGALKAN KERANJANG BELANJA ONLINE: SEBUAH STUDI TENTANG PERILAKU KONSUMEN DI SHOPEE
Penelitian ini bertujuan mengungkap alasan pengabaian keranjang belanja konsumen pada platform Shopee. Studi akan dilakukan kepada pengguna Shopee untuk melihat perspektif mereka alasan mengapa melakukan pengabaian keranjang belanja. Menggunakan atribut variabel sensitvitas harga, keadilan harga, perbandingan harga, dan nilai yang dirasakan untuk dilihat pengaruhnya pada potensi peningkatan pengabaian keranjang belanja. Desain studi menggunakan metode campuran dari data kuantitatif dan kualitatif, dengan teknik pengumpulan data survey. Analisis yang digunakan menggunakan adalah statistik deskriptif, regresi linier berganda, dan didukung dengan analisis tematik. Temuan penelitian menunjukkan elemen keadilan harga dan perbandingan harga memiliki pengaruh pada tingkat pengabaian ekranjang belanja. Di sisi lain, sensitivitas harga dan nilai yang dirasakan tidak memberikan pengaruh langsung pada tingkat pengabaian ekranjang belanja. Temuan ini menyimpulkan bahwa, bagi konsumen pengguna Shopee memiliki alasan pengabaian keranjang belanja karena mempertimbangkan perbandingan harga sebelum memiliki keputusan transaksi aktual. Keadilan harga yang perlu mempertimbangkan ekwajaran harga transaksi aktual juga menjadi pertimbangan bagaimana niat keputusan pembelian dilakukan secara rasional.
APAKAH 'BUATAN INDONESIA' PENTING? STUDI TENTANG PERSEPSI ASAL MEREK PADA MEREK FESYEN INDONESIA: STUDI KASUS SUKO
Penelitian ini menyelidiki apakah negara asal (COO) produk fesyen secara signifikan mempengaruhi niat pembelian konsumen di Indonesia, khususnya menguji merek lokal SUKO. Studi ini mengatasi tantangan bisnis kritis yang dihadapi Matahari Department Store: meskipun SUKO memiliki keunggulan kompetitif termasuk distribusi ritel strategis di 142 toko di 79 kota dan kontrol vertikal penuh rantai pasokan, merek ini kesulitan mengonversi kesadaran konsumen menjadi niat pembelian. Masalah inti berasal dari kesenjangan persepsi-kualitas, di mana konsumen Indonesia mungkin secara sistematis meremehkan kualitas SUKO karena bias COO yang menguntungkan merek asing dan kepercayaan xenosentrisme konsumen bahwa produk asing secara inheren lebih unggul daripada alternatif domestik. Penelitian ini menggunakan desain penjelasan kuantitatif yang memanfaatkan Pemodelan Persamaan Struktural Kuadrat Terkecil Parsial (PLS-SEM) untuk menguji kerangka konseptual yang didasarkan pada teori Country-of-Origin, Theory of Planned Behavior, dan konstruk kualitas yang dirasakan. Data dikumpulkan dari 230 responden beragam usia di Jabodetabek yang memiliki kesadaran tentang merek SUKO melalui kuesioner daring terstruktur. Kerangka kerja mengusulkan lima hubungan yang dihipotesiskan: (H1) persepsi negara-asal secara signifikan mempengaruhi kualitas yang dirasakan; (H2) superioritas/inferioritas produk secara signifikan mempengaruhi kualitas yang dirasakan; (H3) persepsi marketing mix yang dirasakan (4Ps) secara signifikan mempengaruhi kualitas yang dirasakan; (H4) perceived quality secara signifikan mempengaruhi sikap terhadap pembelian; dan (H5) sikap terhadap pembelian secara signifikan mempengaruhi niat pembelian. Temuan penelitian diperkirakan akan mengungkapkan isyarat ekstrinsik dan intrinsik mana yang paling kuat membentuk persepsi kualitas konsumen dan niat pembelian berikutnya untuk SUKO. Hasil dari penilaian model pengukuran mengkonfirmasi reliabilitas kuat dan validitas konvergen di semua konstruk. Namun, analisis validitas diskriminan menggunakan rasio Heterotrait-Monotrait (HTMT) mengungkapkan tumpang tindih konseptual yang substansial antara beberapa konstruk, menunjukkan bahwa dimensi perseptual mengenai elemen bauran pemasaran dan atribut merek sangat saling terkait dalam kognisi konsumen. Penilaian model struktural akan mengevaluasi kekuatan relatif setiap jalur dalam memprediksi niat pembelian, dengan demikian mengidentifikasi mekanisme psikologis dominan di mana COO dan faktor perseptual mempengaruhi perilaku konsumen di pasar fesyen cepat lokal. Penelitian ini berkontribusi secara teoritis dengan memperluas penelitian COO ke konteks spesifik pasar berkembang Asia Tenggara dan kompetisi merek lokal, sambil menerangi bagaimana Attitude towards purchase beroperasi dalam perilaku konsumen fesyen. Secara manajerial, studi ini menyediakan Matahari dengan rekomendasi strategis untuk memposisikan SUKO guna mengatasi kewajiban COO dan memanfaatkan tren lokalisme yang mendukung merek domestik. Penelitian mengidentifikasi bahwa mayoritas responden menemukan SUKO melalui platform media sosial (khususnya Instagram dan TikTok), mengungkapkan peluang pemasaran digital yang kritis. Analisis deskriptif konsumen menunjukkan pasar target mayoritas terdiri dari konsumen milenial dan Gen Z yang sensitif harga dengan lebih dari setengah membeli fesyen satu hingga dua kali sebulan dan kebanyakan mengeluarkan kurang dari Rp150.000 per bulan untuk fesyen. Rekomendasi strategis akan mengatasi penentuan posisi, komunikasi pemasaran, sinyal kualitas produk, dan integrasi ritel omnisaluran yang diperlukan agar SUKO membangun persepsi kualitas kredibel dan konversi di antara konsumen milenial Indonesia meskipun persaingan merek internasional.
ANALISIS PERILAKU KONSUMEN GEN Z UNTUK MAKAN DI LUAR RUMAH SEBAGAI BASIS PREDIKSI TEMPAT MAKAN BARU DI MASA POST-COVID -19
Pandemi Covid-19 telah mengganggu tatanan hidup masyarakat global sejak kemunculannya di Wuhan, Cina, tahun 2019. Pemberlakuan lockdown atau pembatasan sosial diterapkan sesuai dengan kondisi di tiap negara untuk mengantisipasi lonjakan penderita. Penutupan sarana publik seperti restoran mempengaruhi keinginan konsumen untuk makan di luar rumah padahal sebelumnya kegiatan makan di luar rumah merupakan kebutuhan konsumen Gen Z untuk bersosialisasi, berelaksasi, dan mencari pengalaman lain selain makan di rumah. Kondisi lingkungan yang dirasa belum aman dari penularan virus Covid-19 mempengaruhi persepsi konsumen Gen Z untuk bersosialisasi dan memunculkan kekhawatiran untuk makan di luar rumah sehingga mereka akan memilih restoran yang dianggap aman dari penyebaran virus. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan faktor-faktor baru terkait perilaku makan di luar rumah dan menemukan variabel-variabel lingkungan yang mendukung persepsi bersosialiasi dan emosi terkait makan di luar rumah konsumen Gen Z di masa post-Covid-19. Penelitian ini dilakukan melalui dua tahap. Tahap pertama menggunakan Exploratory Factor Analysis untuk mencari faktor-faktor baru pembentuk perilaku makan di luar rumah konsumen Gen Z pada masa post-Covid-19. Tahap kedua dengan menggunakan metode eksperimen dengan menguji stimulus lingkungan yang mengandung variabel tema, partisi, dan zonasi masing-masing dalam dua level kualitas terhadap persepsi bersosialisasi, emosi, dan perilaku makan di luar rumah konsumen Gen Z. Hasil dari penelitian Tahap I diperoleh informasi tentang faktor-faktor baru perilaku makan di luar rumah, yaitu keamanan, kesenangan (pleasure), mood, sosialisasi, kecemasan, dan kepraktisan (convenience). Sedangkan hasil penelitian Tahap II diperoleh hasil bahwa variabel partisi buram, tema modern, dan zona indoor menunjang persepsi bersosialisasi, respon emosi, dan perilaku makan di luar rumah konsumen Gen Z. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa perilaku untuk makan di luar rumah konsumen Gen Z telah kembali seperti sebelum masa pandemi, namun dengan adanya faktor keamanan dan kecemasan mempengaruhi harapan lingkungan baru yang menunjang perilaku konsumen Gen Z untuk makan di luar rumah di masa post-Covid-19.
PENGARUH PROMOTIONAL SIGNAGE TERHADAP POLA PERGERAKAN KONSUMEN DI DALAM TOKO RITEL FESYEN
Industri ritel fesyen di Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup pesat pascar pandemi. Seiring dengan meningkatnya persaingan di industri ritel fesyen, peritel dituntut untuk berinovasi dalam menarik perhatian konsumen, mengarahkan pergerakan mereka, dan pada akhirnya meningkatkan pengalaman berbelanja. Salah satu strategi yang dapat digunakan dalam mencapai tujuan tersebut adalah dengan memanfaatkan elemen desain visual berupa promotional signage, yang berfungsi tidak hanya sebagai alat komunikasi promosi, tetapi juga sebagai pengarah jalur pergerakan konsumen di dalam toko. Penelitian ini juga dilatarbelakangi oleh kecenderungan masyarakat Indonesia yang lebih memilih berbelanja secara langsung di toko fisik karena kebutuhan untuk menyentuh dan merasakan produk secara langsung, serta sensitivitas mereka terhadap berbagai bentuk promosi. Dalam konteks ini, promotional signage yang ditempatkan secara strategis memiliki peran yang signifikan dalam mempengaruhi bagaimana konsumen bergerak dan berinteraksi dengan ruang toko. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana desain elemen-elemen signage, seperti warna, ukuran, pesan yang disampaikan, dan penempatan signage, dapat mempengaruhi pola pergerakan konsumen di dalam toko. Masalah utama yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana promotional signage dapat mempengaruhi pola pergerakan konsumen, baik dalam hal arah pergerakan, keputusan untuk mengeksplorasi produk atau area promosi yang tersedia, maupun durasi kunjungan pada area dengan signage tertentu di dalam toko. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh promotional signage terhadap pola pergerakan konsumen di toko ritel fesyen, dengan fokus pada dua brand lokal ABC dan XYZ, yang memiliki karakteristik dan strategi pemasaran yang berbeda. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk melihat apakah terdapat perbedaan yang signifikan terkait pengaruh signage terhadap pola pergerakan konsumen berdasarkan karakteristik desain toko dan segmentasi pasar dua brand fesyen yang berbeda, yakni ABC dan XYZ. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan campuran (mixed methods), yang menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung terhadap penggunaan promotional signage dan pola pergerakan konsumen di kedua toko ritel fesyen. Pengamatan dilakukan pada kurang lebih 40 orang pada masing-masing toko mulai dari kosumen masuk hingga keluar. Distribusi kuesioner juga dilakukan guna mengukur persepsi konsumen terhadap promotional signage, kuesioner disebarkan dengan target responden 40 orang pada masing-masing toko. Serta wawancara mendalam dengan 10 orang konsumen yang dipilih secara purposive berdasarkan responden yang sudah mengisi kuesioner sebelumnya. Pengambilan data dilakukan pada rentang waktu tertentu guna memastikan promotional signage yang diamati tidak mengalami perubahan. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan uji non-parametric wilcoxon signed rank test untuk menguji hubungan antara variabel yang diteliti, sementara analisis kualitatif dilakukan dengan teknik pengkodean tematik untuk menggali persepsi dan pengalaman konsumen secara lebih mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa promotional signage berperan signifikan dalam mempengaruhi pola pergerakan konsumen. Promotional signage yang ditempatkan pada lokasi strategis, seperti di area pintu masuk, persimpangan utama, dan dekat dengan produk yang sedang dipromosikan, memiliki potensi yang besar dalam menarik perhatian konsumen dan mempengaruhi arah pergerakan mereka. Signage dengan pesan berupa kombinasi huruf dan angka dengan warna yang mencolok serta ukuran yang besar lebih mampu menarik perhatian dan mempengaruhi arah pergerakan konsumen. Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa konsumen yang dikategorikan sangat terpengaruh oleh signage cenderung menunjukkan perilaku impulsif. Sementara konsumen yang berada dalam kategori terpengaruh oleh signage masih menunjukkan dua kemungkinan, yakni impulsif atau mempertimbangkan kebutuhan terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan pengetahuan dalam bidang desain ritel, khususnya dalam konteks visual merchandising dan perilaku konsumen di toko ritel fesyen. Temuan dari penelitian ini dapat menjadi acuan bagi peritel dalam merancang dan menempatkan promotional signage yang tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga efektif dalam mengarahkan pergerakan konsumen serta meningkatkan pengalaman berbelanja mereka. Rekomendasi yang dapat diberikan adalah pentingnya mempertimbangkan elemen-elemen desain yang sesuai dengan karakteristik dan tata letak toko untuk mencapai tujuan pemasaran yang lebih efektif.
PENGARUH GAMIFIKASI PADA BELANJA STREAMING LANGSUNG TERHADAP NIAT MEMBELI DAN PEMBELIAN IMPULSIF DENGAN PERSEPSI KESENANGAN DAN INTERAKSI SOSIAL SEBAGAI VARIABEL MEDIASI.
Pesatnya perkembangan gamifikasi dan belanja streaming langsung (LSS) telah mengubah lanskap e-commerce, terutama di kalangan konsumen Generasi Z dan Y di Indonesia. Studi ini menyelidiki bagaimana fitur gamifikasi, khususnya imbalan memberi dan peningkatan level dalam platform LSS, mempengaruhi persepsi kenikmatan, interaksi sosial, pembelian impulsif, dan niat membeli. Dengan menggunakan pendekatan metode campuran eksploratif sekuensial, penelitian ini mengintegrasikan wawasan kualitatif dari 64 respons survei terbuka dan validasi kuantitatif melalui 400 kuesioner terstruktur yang dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasilnya mengungkapkan bahwa gamifikasi secara signifikan meningkatkan kenikmatan dan interaksi sosial pengguna, yang pada gilirannya mendorong perilaku pembelian impulsif dan intensional. Studi ini mengonfirmasi kedelapan hubungan yang dihipotesiskan, menekankan peran strategis gamifikasi dalam membentuk perilaku konsumen. Temuan ini berkontribusi pada pengembangan teoretis literatur gamifikasi dan konsumsi hedonis serta menawarkan wawasan yang dapat ditindaklanjuti bagi platform e-commerce yang ingin meningkatkan keterlibatan dan mendorong konversi melalui pengalaman belanja interaktif.
MENJELAJAHI ADOPSI ENERGI SURYA DI SEKTOR RESIDENSIAL DI INDONESIA: ANALISIS UNTUK TML ENERGY
Industri pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap di Indonesia masih menunjukkan tingkat adopsi yang rendah di segmen residensial meskipun adanya dukungan kebijakan pemerintah dan meningkatnya perhatian publik terhadap isu keberlanjutan. Penelitian ini membahas permasalahan strategis utama yang dihadapi oleh TMLEnergy, sebuah perusahaan EPC lokal, yaitu penurunan penjualan dan keterbatasan penetrasi pasar di sektor rumah tangga. Kesenjangan antara dukungan kebijakan dan kenyataan di lapangan menunjukkan perlunya kajian terhadap faktor-faktor perilaku yang memengaruhi keputusan pelanggan dalam mengadopsi teknologi PLTS. Permasalahan ini tidak hanya penting dalam konteks strategi bisnis, tetapi juga berkontribusi terhadap pencapaian target energi terbarukan nasional yang tercantum dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pemahaman bahwa kelayakan teknis dan ekonomis tidak serta merta menjamin keberhasilan adopsi teknologi. Faktor-faktor persepsi dan psikologis pengguna memiliki peranan penting dalam membentuk keputusan pembelian. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan kerangka teori Technology Acceptance Model (TAM) yang dikembangkan oleh Davis (1989). Model ini menjelaskan bahwa Perceived Usefulness (PU) dan Perceived Ease of Use (PEOU) memengaruhi Attitude Toward Use (ATU), yang selanjutnya memengaruhi Behavioral Intention (BI). Dalam konteks PLTS, model ini sangat relevan karena mencerminkan keraguan calon pengguna terhadap manfaat nyata dan kemudahan penggunaan teknologi energi surya. Penelitian ini bersifat deskriptif dan menggunakan kuesioner terstruktur yang disebarkan kepada responden residensial di berbagai wilayah Indonesia. Tidak digunakan metode statistik inferensial, melainkan penekanan pada analisis deskriptif terhadap pola-pola perilaku pengguna. Kuesioner mencakup pernyataan berskala Likert berdasarkan konstruk TAM, ditambah pertanyaan ya/tidak, pertanyaan peringkat, serta pertanyaan terbuka yang menggali persepsi dan harapan konsumen secara lebih dalam. Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi bagaimana masyarakat menilai teknologi PLTS dari aspek fungsionalitas, kemudahan instalasi, efisiensi biaya, dan kesesuaian dengan nilai dan ekspektasi pribadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun persepsi terhadap manfaat lingkungan dari PLTS cukup tinggi, masih terdapat kekhawatiran terhadap biaya awal, kompleksitas teknis, dan ketidaktahuan terhadap teknologi tersebut. Perceived Usefulness banyak dikaitkan dengan penghematan jangka panjang dan pengurangan ketergantungan pada listrik PLN, sedangkan Perceived Ease of Use berkaitan dengan persepsi terhadap perawatan dan instalasi sistem. Variabel sikap menunjukkan bahwa meskipun responden mendukung ide energi surya, niat untuk mengadopsinya masih membutuhkan dorongan berupa edukasi, jaminan kualitas, dan skema pembiayaan yang mudah dijangkau. Dari pertanyaan terbuka, ditemukan bahwa calon pengguna mengharapkan transparansi dari penyedia layanan, peran aktif pemerintah dalam memberikan insentif, dan model layanan yang lebih sederhana. Responden juga menyebutkan pentingnya informasi yang terpercaya melalui media sosial, ulasan daring, atau testimoni dari pengguna lain. Berdasarkan temuan ini, perusahaan seperti TMLEnergy disarankan untuk mengembangkan pendekatan pemasaran yang lebih komunikatif, inklusif, dan sesuai dengan persepsi masyarakat. Strategi seperti penawaran bundling, skema cicilan, serta kolaborasi dengan tokoh lokal dan institusi terpercaya dapat meningkatkan daya tarik layanan PLTS. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman adopsi energi surya dengan menekankan pentingnya pendekatan berbasis perilaku dalam inovasi model bisnis. Selain menambah literatur akademik dalam bidang perilaku konsumen energi terbarukan, hasil penelitian ini juga relevan bagi pelaku industri dan pembuat kebijakan yang ingin mendorong transisi energi di Indonesia secara lebih efektif. Kesimpulannya, penelitian ini menegaskan bahwa strategi bisnis yang berfokus pada pengguna dan dipandu oleh pemahaman perilaku akan lebih efektif dalam mendorong adopsi teknologi PLTS di segmen residensial. Pendekatan ini dapat membantu perusahaan dalam menyesuaikan penawaran dengan kebutuhan pasar serta mendukung pencapaian target energi berkelanjutan nasional.
MEMAHAMI NIAT BERPINDAH KONSUMEN TERHADAP TELKOMSEL ONE DI JAWA BARAT: PENDEKATAN MODEL PUSH-PULL-MOORING
Di era Society 5.0, integrasi ruang siber dan fisik mendorong perusahaan untuk mengadopsi konektivitas digital yang mulus. Perubahan ini menuntut perusahaan telekomunikasi berinovasi cepat agar tetap relevan. Telkom merespons melalui inisiatif “5 Bold Moves”, termasuk integrasi IndiHome ke Telkomsel dan peluncuran produk Fixed Mobile Convergence (FMC), yaitu Telkomsel One. Layanan ini menggabungkan internet tetap dan seluler dalam satu platform untuk konektivitas yang terintegrasi di rumah dan saat bepergian. Dengan paket bundling internet, suara, dan hiburan dalam satu langganan, Telkomsel One dirancang untuk meningkatkan pengalaman pelanggan. Meski adopsinya di Jawa Barat terus tumbuh, masih ada ruang peningkatan yang membuka peluang pemahaman lebih dalam terhadap perilaku konsumen dan peningkatan niat beralih. Penelitian ini menggunakan kerangka Push-Pull-Mooring (PPM) untuk menganalisis faktor perilaku yang memengaruhi niat berpindah ke Telkomsel One. Push mencakup ketidakpuasan, pull mencerminkan manfaat yang dirasakan, dan mooring terkait loyalitas serta hambatan perpindahan. Studi ini juga membandingkan perbedaan antar generasi Gen Z, Milenial, dan Gen X yang memiliki perilaku unik. Survei kuantitatif terhadap 300 responden di Jawa Barat dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling (SEM-PLS), dengan MultiGroup Analysis (MGA) untuk melihat variasi antar generasi. Hasil menunjukkan faktor pull seperti manfaat, kenyamanan, dan relevansi memberi pengaruh paling kuat. Push berdampak sedang, sementara mooring seperti loyalitas dan hambatan perpindahan menjadi penghalang utama, khususnya pada konsumen yang lebih tua. Gen Z terbuka untuk berpindah karena kebiasaan digital dan promo menarik, meski bukan pengambil keputusan utama. Milenial responsif terhadap layanan yang fleksibel dan bisa disesuaikan. Gen X paling resisten dan membutuhkan pendekatan yang personal dan membangun kepercayaan.Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa faktor pull mendorong adopsi, mooring menjadi penghalang utama, dan karakteristik generasi berperan penting dalam dinamika switching di layanan FMC.
PENGARUH STORYTELLING CSR TERHADAP PERSEPSI KONSUMEN: KASUS TOMS
Penceritaan yang menarik dapat membentuk cara konsumen memandang dan terlibat dengan merek, meskipun pemanfaatannya mungkin bukan solusi yang cocok untuk semua perusahaan. Penelitian ini menyelidiki dampak penceritaan CSR terhadap persepsi konsumen. Dengan demikian, penelitian ini menyelidiki pengaruh CSR TOMS, yang dikomunikasikan melalui daya tarik naratif terhadap perilaku konsumen dan keberhasilan merek. Penelitian ini menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif terhadap materi pemasaran TOMS dan komentar konsumen untuk mengidentifikasi bagaimana penceritaan yang menarik menunjukkan CSR yang dapat menciptakan konsumen yang lebih loyal serta meningkatkan citra merek terhadap para pemangku kepentingan. Temuan ini memiliki implikasi besar bagi bisnis yang ingin menjadikan CSR sebagai bagian mendasar dari strategi inti mereka.
PERILAKU KONSUMEN PADA FASHION BERKELANJUTAN MENGGUNAKAN INTEGRATED BEHAVIOR THEORY: KASUS MAHASISWA UNIVERSITAS DI INDONESIA
Meningkatnya perilaku konsumsi etis dan meningkatnya minat terhadap mode berkelanjutan menjadi dasar bagi terbentuknya pasar konsumen baru untuk fashion berkelanjutan. Mahasiswa adalah individu kunci yang menerima pengetahuan teknis yang dibutuhkan untuk memajukan solusi yang tepat guna meningkatkan perilaku lingkungan. Oleh karena itu, mengembangkan informasi ilmiah tentang apa yang memotivasi orang untuk bertindak secara lingkungan merupakan topik penting yang menjadi perhatian dengan aplikasi praktis untuk bergerak menuju masa depan yang lebih berkelanjutan. Dalam penyelidikan perilaku konsumen terhadap mode berkelanjutan, penulis menggunakan Integrated Behavior Model sebagai kerangka kerja untuk menggambarkan perilaku konsumen terhadap fashion berkelanjutan di antara 210 mahasiswa sarjana di Indonesia. Analisis deskriptif menunjukkan bahwa norma deskriptif, sikap instrumental, dan efikasi diri merupakan penentu langsung perilaku konsumen terhadap mode berkelanjutan. Analisis uji non-parametrik menunjukkan bahwa konsumsi fashion berkelanjutan dipengaruhi oleh jenis kelamin, sikap instrumental, dan norma subjektif dan injungtif
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NIAT PENGGUNAAN PERANGKAT MEDIS HALAL DI INDONESIA: ANALISIS BERBASIS TPB DAN RENCANA STRATEGIS UNTUK SERTIFIKASI HALAL DI BOSTON SCIENTIFIC INDONESIA
Boston Scientific adalah perusahaan teknologi medis global terkemuka yang mengkhususkan diri dalam pengembangan dan manufaktur perangkat medis inovatif. Didirikan pada tahun 1979 dan berpusat di Marlborough, Massachusetts, Amerika Serikat, PT. Boston Scientific Indonesia berfungsi sebagai kantor perwakilan penjualan resmi yang bertanggung jawab atas representasi dan operasi Boston Scientific di Indonesia. Untuk mempertahankan kompetitivitas pasar di Indonesia dan sejalan dengan regulasi pemerintah terkait implementasi halal pada perangkat medis, PT. Boston Scientific Indonesia sedang mengeksplorasi kemungkinan mendapatkan sertifikasi halal untuk beberapa produk perangkat medisnya. Meskipun beberapa studi telah mengkaji perilaku konsumen terhadap produk halal, belum ada penelitian yang fokus secara khusus pada sektor perangkat medis halal. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi faktor-faktor yang memengaruhi niat beli produk perangkat medis halal di kalangan masyarakat Indonesia dan preferensi mereka dalam menggunakan perangkat medis berdasarkan kategori yang diberikan. Dengan menerapkan teknik pemodelan persamaan struktural dengan partial least squares (SEM-PLS), penelitian ini menguji dan memperkirakan hubungan antara berbagai variabel. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Perceived Self-Efficacy secara langsung memengaruhi Perceived Behavioral Control dan juga memengaruhi Attitude, yang pada gilirannya secara langsung memengaruhi Purchase Intention untuk produk perangkat medis halal.
BAGAIMANA PEMASARAN BERBASIS KELANGKAAN MEMPENGARUHI PERILAKU KONSUMEN DALAM PENJUALAN TIKET UNTUK ACARA HIBURAN LANGSUNG DI INDONESIA?
Seiring perkembangan drastis di industri musik live secara global, permintaan untuk konser pun meningkat dan memicu adanya fenomena perang tiket—ditandai dari adanya hiperkompetisi antara konsumen pada saat membeli tiket. Secara alami, konser dan festival musik memiliki keterbatasan dalam ketersediaan tiket untuk memastikan protokol keselamatan dan kapasitas di tempat acara. Taktik pemasaran berbasis kelangkaan dalam penjualan tiket konser umumnya ditunjukkan melalui adanya tingkatan harga yang berbeda. Dalam beberapa tahun ke belakang, pasar di Indonesia mengindikasi pertumbuhan drastis, seperti yang dapat dilihat dari permintaan konsumen melalui banyaknya tiket yang terjual habis untuk berbagai konser di Indonesia. Pemasaran berbasis keterbatasan memiliki peran penting dalam kesuksesan penjualan tiket konser. Untuk memahami perilaku konsumen dalam fenomena ini, pertanyaan berikut dapat dijawab; Bagaimana nilai dan urgensi dalam penjualan tiket konser dipandang oleh konsumen pada saat pemasaran berbasis kelangkaan diterapkan? Apakah taktik pemasaran berbasis kelangkaan menimbulkan adanya kekhawatiran etis terkait keadilan penjualan tiket bagi para konsumen? Bagaimana emosi dan perilaku konsumen dapat dipicu oleh pemasaran berbasis kelangkaan dalam penjualan tiket konser? Bagaimana pemahaman menyeluruh mengenai perilaku konsumen dapat secara efektif memanfaatkan taktik pemasaran berbasis kelangkaan untuk penjualan tiket konser dalam tujuan meningkatkan pendapatan dan memastikan kesukesesan acara? Riset ini bertujuan untuk memahami lebih dalam terkait perilaku konsumen untuk penjualan tiket konser dan bagaimana mereka memandang nilai dari tiket tersebut melalui penelitian kualitatif. Berdasarkan penemuan melalui tinjauan pustaka dan wawancara, ada korelasi antara keterbatasan/kelangkaan, perilaku konsumen, dan kemunculannya calo tiket. Keterbatasan yang ada mempengaruhi persepsi konsumen dan menghasilkan nilai yang lebih tinggi serta peningkatan dari keinginan konsumen. Meski antusiasme yang tinggi membawa pendapatan yang lebih tinggi bagi promotor dan penyelenggara acara, fenomena ini menimbulkan banyaknya praktik yang tidak etis melalui calo tiket dan penjual tiket yang tidak sah. Oleh karena itu, untuk menanggapi adanya masalah ini, ada beberapa saran untuk mencegah kekhawatiran etis yang berlebih dan rekomendasi bagi promotor dan penyelenggara acara untuk memanfaatkan taktik pemasaran dengan lebih efektif.
PENGARUH ASAL KONTEN TERHADAP KEPERCAYAAN DAN KETERLIBATAN: STUDI PERBANDINGAN KONTEN YANG DIHASILKAN AI DAN MANUSIA UNTUK INDUSTRI KOMUNIKASI DAN INFORMASI INDONESIA
Tesis ini meneliti dampak diferensial konten yang dihasilkan oleh AI dan manusia terhadap kepercayaan pelanggan dan keterlibatan merek dalam industri komunikasi dan informasi Indonesia. Dengan berfokus hanya pada analisis kuantitatif, penelitian ini mengukur bagaimana persepsi kepercayaan dan keterlibatan berbeda tergantung pada sumber pembuatan konten. Penelitian ini menggunakan metodologi survei terstruktur, mengumpulkan tanggapan dari 240 partisipan untuk menilai secara kuantitatif reaksi mereka terhadap kedua jenis konten di sepanjang dimensi kepercayaan yang telah ditetapkan—kompetensi, integritas, dan kebaikan—serta keterlibatan—pemrosesan kognitif, kecintaan emosional, dan aktivasi perilaku. Tujuan utama dari studi ini adalah untuk mengidentifikasi apakah konten yang dihasilkan AI dapat mencocokkan atau melampaui tingkat kepercayaan dan keterlibatan yang biasanya terkait dengan konten yang dihasilkan manusia. Menggunakan alat statistik seperti analisis regresi dan korelasi, studi ini mengeksplorasi dinamika nuansa dari bagaimana konten yang dihasilkan oleh sumber yang berbeda mempengaruhi perilaku dan persepsi konsumen di era digital. Hasilnya menunjukkan preferensi yang jelas untuk konten yang dihasilkan manusia dalam memupuk kepercayaan dan keterlibatan di antara konsumen. Konten yang dihasilkan manusia secara signifikan mengungguli konten yang dihasilkan AI dalam kepercayaan, terutama dalam dimensi integritas dan kebaikan, yang penting untuk membangun koneksi yang dalam dan bermakna dengan audiens. Kepercayaan yang ditingkatkan ini sangat berkorelasi dengan peningkatan keterlibatan merek, yang mengarah pada keterlibatan kognitif yang lebih intens, koneksi emosional, dan perilaku konsumen yang aktif. Sebaliknya, sementara konten yang dihasilkan AI menunjukkan kompetensi, terutama dalam menangani data besar dan mempertahankan konsistensi, ia kekurangan kedalaman emosional dan penilaian etis yang penting untuk menciptakan kepercayaan dan keterlibatan konsumen yang substansial. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun efisiensi AI dalam produksi konten, aplikasinya saat ini dalam menghasilkan konten yang dihadapkan pada konsumen memerlukan integrasi yang hati-hati dengan pengawasan manusia untuk memastikan keaslian dan resonansi emosional yang penting untuk komunikasi merek yang efektif. Tesis ini menganjurkan strategi seimbang yang memanfaatkan kekuatan AI dalam pemrosesan data dan generasi konten awal, dilengkapi dengan kreativitas dan wawasan etis manusia. Pendekatan hibrida ini direkomendasikan untuk mengoptimalkan efisiensi operasional tanpa mengorbankan kualitas keterlibatan, sehingga mempertahankan keaslian dan standar etis yang penting untuk membangun hubungan pelanggan yang kuat. Kesimpulannya, penelitian ini menekankan perlunya mengintegrasikan wawasan manusia dengan kemampuan AI untuk meningkatkan strategi konten dalam sektor komunikasi dan informasi. Temuan memberikan bukti empiris bahwa meskipun AI dapat mendukung proses penciptaan konten, keterlibatan manusia tetap penting di area yang memerlukan kedalaman emosional dan pertimbangan etis. Rekomendasi strategis termasuk mengadopsi model pelengkap di mana AI mendukung tetapi tidak menggantikan kreativitas manusia, memastikan bahwa strategi konten secara efektif membangun kepercayaan dan mendorong keterlibatan dalam lanskap digital Indonesia yang berkembang.