πŸ“š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 25 dokumen

KUANTIFIKASI PERTUMBUHAN, HASIL BIOMASSA, DAN NERACA MASSA DAN ENERGI BUDIDAYA TANAMAN SELADA ROMAINE (LACTUCA SATIVA L. VAR. LONGIFOLIA) DENGAN MEDIA TANAM KOMPOS LIMBAH BAGLOG JAMUR TIRAM (PLEUROTUS OSTREATUS)

Peningkatan permintaan selada romaine (Lactuca sativa var. longifolia) perlu diimbangi dengan penggunaan media tanam yang produktif dan berkelanjutan. Kompos limbah baglog jamur tiram (Pleurotus ostreatus) berpotensi dimanfaatkan sebagai substitusi media tanam karena mengandung unsur hara dan dapat mendukung penerapan ekonomi sirkular. Penelitian ini bertujuan menganalisis pertumbuhan, hasil biomassa, serta neraca massa dan energi budidaya selada romaine pada media berbasis kompos limbah baglog. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap non faktorial dengan empat perlakuan, yaitu tanah dengan NPK, kompos limbah baglog 100%, campuran 60% kompos dan 40% tanah, serta campuran 40% kompos dan 60% tanah. Parameter penelitian meliputi kondisi mikroklimat dan edafi k, pertumbuhan, biomassa, serapan N, P, dan K, serta neraca massa dan energi. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan uji DMRT apabila memenuhi asumsi normalitas, sedangkan data yang tidak normal dianalisis menggunakan uji Kruskal–Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran 40% kompos limbah baglog dan 60% tanah merupakan perlakuan berbasis kompos yang paling potensial untuk menggantikan sebagian media tanam. Namun, tanah dengan NPK tetap memberikan pertumbuhan, biomassa, serta efi siensi neraca massa dan energi terbaik pada sebagian besar parameter.engan demikian, kompos limbah baglog lebih sesuai digunakan sebagai substitusi sebagian media tanam daripada sebagai media tunggal

2026
πŸ‘€ Penulis: Muhammad Nur Nobi Kamosa
🏷️ Kebijakan Sirkulasi Sumber Daya Alam (Sda) 🏷️ Pertanian 🏷️ Analisis Biomassa Dan Neraca Massa

IDENTIFIKASI KEBUTUHAN INFRASTRUKTUR PENGOLAHAN LIMBAH PERTANIAN PADA KAWASAN SENTRA PRODUKSI PANGAN SUMATERA SELATAN

Kawasan Sentra Produksi Pangan (KSPP) Sumatera Selatan merupakan salah satu kawasan strategis nasional dalam mendukung ketahanan pangan, dengan padi sebagai salah satu komoditas pangan pokok yang dibudidayakan. Aktivitas budidaya padi menghasilkan limbah jerami yang pada beberapa wilayah masih ditangani melalui pembakaran terbuka sehingga berpotensi menimbulkan pencemaran udara serta hilangnya bahan organik yang dapat dimanfaatkan kembali dalam sistem pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan infrastruktur pengolahan limbah pertanian berupa fasilitas komposter jerami padi pada KSPP Sumatera Selatan. Penelitian dilakukan melalui identifikasi lahan sawah berdasarkan tiga skenario, meliputi (1) skenario kebutuhan energi pangan, (2) Business as Usual (BAU), dan (3) Protecting Paddy Fields Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PPF-KP2B); estimasi potensi limbah jerami; perhitungan kebutuhan komposter; serta penentuan arahan lokasi komposter melalui analisis kesesuaian lahan dan location-allocation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan lahan sawah berdasarkan skenario kebutuhan energi pangan lebih rendah dibandingkan luas sawah hasil skenario lainnya hingga tahun 2044. Skenario PPFKP2B mempertahankan luas sawah lebih besar dibandingkan BAU sehingga menghasilkan potensi limbah jerami dan kebutuhan komposter yang lebih tinggi. Hasil analisis kesesuaian lahan menunjukkan bahwa ketersediaan ruang yang memenuhi kriteria pengembangan masih mampu mendukung kebutuhan fasilitas komposter yang dihasilkan pada seluruh skenario. Analisis location-allocation menunjukkan bahwa kebutuhan fasilitas komposter cenderung teralokasi pada wilayah dengan konsentrasi produksi padi dan potensi jerami yang tinggi, terutama di Kabupaten Banyuasin, Ogan Komering Ilir, dan Ogan Komering Ulu Timur. Penelitian ini menghasilkan pendekatan perhitungan kebutuhan dan pengalokasian fasilitas komposter secara spasial berdasarkan potensi jerami, kesesuaian lahan, kapasitas fasilitas, dan jangkauan pelayanan yang dapat menjadi masukan dalam perencanaan pengolahan limbah pertanian di KSPP Sumatera Selatan.

2026
πŸ‘€ Penulis: Galuh Sekar Ayu
🏷️ Pertanian 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PROYEKSI CARBON LOSS PADA PEMODELAN LAND USE-LAND COVER (LULC) PROVINSI KALIMANTAN TIMUR TAHUN 2020–2040 BERBASIS VARIASI SKENARIO IBU KOTA NUSANTARA (IKN)

Perubahan Land Use-Land Cover (LULC), khususnya deforestasi, merupakan isu penting yang berdampak pada ekosistem dan iklim global. Di Provinsi Kalimantan Timur, laju deforestasi yang tinggi akibat ekspansi perkebunan, pertanian, pertambangan, dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) menuntut adanya pemodelan spasial untuk memprediksi perubahan tutupan lahan serta dampaknya terhadap carbon loss. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan transisi LULC dominan, menentukan kategori deforestasi terbesar, menghitung carbon loss historis (periode 1990–2020) dan proyektif (2020–2030 dan 2020–2040), serta membandingkan skenario pembangunan IKN agar diperoleh skenario yang paling efektif dalam menekan carbon loss. Analisis dilakukan menggunakan peta tutupan lahan KLHK tahun 1990, 2000, 2011, dan 2020, analisis NDVI dari citra Landsat 5 dan Landsat 8 dengan threshold NDVI 0,4, serta pemodelan perubahan LULC dengan model CA Markov melalui Land Change Modeler (LCM) pada perangkat lunak TerrSet. Estimasi carbon loss dihitung menggunakan metode stock-change pada lima variasi skenario pembangunan IKN yang mencakup kondisi eksisting, Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), dan Protecting Forest Area (PFA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa transisi dominan berubah dari Hutan Lahan Kering Sekunder menjadi Semak Belukar (700 ribu ha) pada 1990–2000, dari Semak Belukar ke Pertanian Lahan Kering Campur (721 ribu ha) pada 2000–2011, dan dari Semak Belukar serta Hutan Lahan Kering Sekunder menjadi Perkebunan (504 ribu ha) pada 2011–2020. Kategori deforestasi terbesar periode 1990–2020 adalah Deforestasi menjadi Semak dan Padang Rumput seluas 718 ribu ha. Validasi model menghasilkan Kappa 0,7544 yang menunjukkan tingkat akurasi kuat dan layak untuk proyeksi lanjutan. Total carbon loss periode 1990–2020 mencapai sekitar 0,29 gigaton C atau 1,08 gigaton CO?e. Hasil pemodelan proyeksi 2020–2040 menunjukkan bahwa skenario pembangunan IKN dengan kebijakan PFA merupakan strategi yang paling efektif dalam menekan carbon loss. Dibandingkan skenario yang hanya menerapkan RDTR, penerapan PFA menghasilkan proyeksi carbon loss yang lebih rendah, sehingga perlindungan Hutan Alam menjadi faktor utama dalam upaya mitigasi perubahan iklim di Provinsi Kalimantan Timur.

2026
πŸ‘€ Penulis: Zakia Dinda Chaerunnissa
🏷️ Pertanian 🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan

IDENTIFIKASI KEPEMILIKAN RUANG PADA PASAR TERAPUNG BANJARMASIN (Studi Kasus: Pasar Terapung Banjarmasin)

Banyak aktifitas yang dijalankan dipasar, terutama aktifitas yang bertujuan meningkatkan perekonomian masyarakat. Apalagi ditambah dengan keadaam pasar yang mungkin bisa dijadikan sebagai objek wisata, yang nantinya juga bisa berperan dalam peningkatan perekonomian masyarakat, dalam hal ini akan diambil salah satu contoh yaitu pada pasar terapung Banjarmasin. Tetapi pada sisi lain kegiatan perekonomian tersebut, terdapat suatu masalah penting yaitu permasalahan kepemilikan lahan atau ruang di perairan, pada pasar terapung itu sendiri yang belum jelas. Yang mana permasalahan ketidak jelasan sistem kepemilikan lahan ini juga berpengaruh terhadap lancarnya kegiatan perekonomian dipasar terapung.Mengingat terdapat permasalahan ketidak-jelasan kepemilikan lahan pada pasar terapung Banjarmasin ini, maka diperlukan suatu kajian untuk mengidentifikasi karakteristik kepemilikan lahan atau ruang pada pasar terapung Banjarmasin. Teridentifikasinya karakteristik kepemilikan lahan atau ruang ini diharapkan dapat diformulasikan hukum pertanahan nasional yang nantinya akan berguna bagi kesejahteraan masyarakat.Penelitian ini dilakukan dengan cara mengidentifikasi aturan kepemilikan ruang perairan di Pasar Terapung Banjarmasin berdasarkan Undang-Undang Pokok Agraria 1960 dan Konsep Kepemilikan Ruang Perairan. Kemudian dilakukan perbandingan karakteristik antara sistem kepemilikan ruang pada Pasar Terapung Banjarmasin dengan sistem kepemilikan tanah.

2026
πŸ‘€ Penulis: DINI PUSPITA SARI (NIM 15106001); Pembimbing: Dr.Ir. Bambang Edhi Leksono,M.Sc., dan Dr. Ir. Andri H
🏷️ Pertanian 🏷️ Hidrologi 🏷️ Kepemilikan Lahan Perairan

ANALISIS KEBERLANJUTAN PENGHIDUPAN PETANI SAWAH PASCA ALIH FUNGSILAHAN DENGAN PENDEKATAN SUSTAINABLE LIVELIHOOD DI KABUPATEN BEKASI(STUDI KASUS DESA SUKAWANGI DAN DESA MEKARWANGI)

Alih fungsi lahan pertanian menjadi non-pertanian di Kabupaten Bekasi terus meningkat seiring pesatnya pembangunan industri, permukiman, dan infrastruktur. Perubahan ini berdampak langsung pada petani yang kehilangan aset utama berupa lahan, sehingga mengubah struktur sosial-ekonomi serta memengaruhi keberlanjutan penghidupan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan luas lahan pertanian akibat alih fungsi, menganalisis dampaknya terhadap penghidupan petani, serta menilai keberlanjutan penghidupan dengan menggunakan Sustainable Livelihood Approach (SLA). Metode penelitian menggunakan mixed method dengan desain convergent parallel. Analisis dilakukan dengan pendekatan lima modal penghidupan (manusia, sosial, alam, fisik, dan finansial) yang dipadukan dengan kerangka Scoones (1998) dan Ellis (2000) untuk memahami dinamika akses, kerentanan, dan strategi adaptasi. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa seluruh modal penghidupan mengalami penurunan pasca alih fungsi lahan, dengan modal alam sebagai yang paling terdampak di kedua desa dengan aspek yang berbeda. Kondisi ini memperkuat kerangka SLA bahwa keberlanjutan ditentukan oleh interaksi antar modal, dan akses yang terbatas terutama bagi petani penggarap semakin memperlemah posisi mereka. Strategi diversifikasi yang ditempuh petani di kedua desa cenderung bergerak ke sektor informal yang berproduktivitas rendah dan tidak stabil. Pola ini lebih mencerminkan coping strategy jangka pendek dibandingkan adaptive strategy jangka panjang. Di Desa Sukawangi, petani masih menjadikan sawah sebagai mata pencaharian utama, sehingga diversifikasi hanya menjadi pelengkap. Sementara itu, di Desa Mekarwangi, maraknya alih fungsi lahan menjadi kawasan industri mendorong petani untuk semakin bergantung pada pekerjaan di sektor informal, meskipun sektor tersebut tidak sepenuhnya mampu menjamin keberlanjutan penghidupan mereka. Temuan ini sejalan dengan konsep livelihood diversification Ellis serta kritik Scoones bahwa strategi penghidupan masyarakat miskin kerap terhambat oleh struktur kekuasaan, kebijakan, dan akses yang timpang, sehingga belum mampu menjamin keberlanjutan penghidupannya.

2025
πŸ‘€ Penulis: Salma Hasna Zulfa
🏷️ Sustainable Livelihood Approach (Sla) 🏷️ Pertanian 🏷️ Perubahan Lahan

PENGARUH PEMBERIAN GREYWATER TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK KIMIA TANAH ANDISOL DAN POTENSI PEMANFAATANNYA SEBAGAI ALTERNATIF AIR BAKU IRIGASI

Meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia turut berkontribusi terhadap peningkatan volume air limbah domestik. Salah satu jenis limbah yang dominan adalah greywater, yaitu air limbah dari aktivitas non-fekal seperti mandi, mencuci, dan memasak. Greywater dari aktivitas pencucian (laundry) diketahui merupakan penyumbang terbesar dari total greywater domestik. Di sisi lain, ketersediaan air bersih terus menurun akibat dampak perubahan iklim dan urbanisasi, sementara sektor irigasi tetap menjadi pengguna air terbesar di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi greywater laundry sebagai alternatif media penyiraman untuk irigasi, dengan membandingkannya terhadap air tanah, serta menilai pengaruhnya terhadap karakteristik fisik-kimia tanah Andisol, jenis tanah vulkanik yang umum dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian. Metode penelitian dilakukan dalam skala laboratorium menggunakan reaktor tanah Andisol dengan empat variasi perlakuan penyiraman selama delapan minggu. Analisis menunjukkan bahwa karakteristik greywater secara umum tidak jauh berbeda dari air tanah dan memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai alternatif air irigasi. Namun, kandungan salinitas greywater yang relatif lebih tinggi perlu diperhatikan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa pemberian greywater menyebabkan peningkatan nilai Exchangeable Sodium Percentage (ESP) dan akumulasi ion Na? yang signifikan, serta penurunan porositas dan permeabilitas tanah. Meskipun demikian, greywater juga berkontribusi terhadap peningkatan kadar fosfat, karbon organik, dan nitrogen dalam tanah. Pada air lindi, volume dan salinitas meningkat, menunjukkan potensi akumulasi ion terlarut. Sementara itu, tanaman indikator menunjukkan biomassa yang sedikit lebih rendah pada perlakuan greywater dibandingkan air tanah. Secara keseluruhan, greywater menunjukkan potensi untuk dimanfaatkan sebagai alternatif air irigasi, terutama karena kandungan nutrisinya yang bermanfaat bagi tanah. Namun, risiko terkait salinitas yang tinggi memerlukan pendekatan pengelolaan tambahan, seperti pengolahan awal terhadap parameter bermasalah, penerapan sistem fertigasi, atau pemanfaatan pada jenis tanah lain yang lebih toleran terhadap salinitas guna memastikan keberlanjutan penggunaannya

2025
πŸ‘€ Penulis: Retria Ambar Febysari
🏷️ Andisol 🏷️ Greywater 🏷️ Pertanian

STUDI KELAYAKAN USAHA PETERNAKAN AYAM PETELUR TELUR TUBAGUS

Penelitian ini mengevaluasi kelayakan finansial ekspansi Telur Tubagus, sebuah peternakan ayam petelur skala kecil di Majalengka, Jawa Barat. Penelitian ini membahas tantangan utama yang dihadapi peternak unggas skala kecil, termasuk volatilitas harga pakan dan telur, keterbatasan daya tawar, dan kebutuhan untuk mencapai skala ekonomi guna profitabilitas yang berkelanjutan. Menggunakan pendekatan metode campuran yang menggabungkan kerangka SWOT-TOWS, Porter's Five Forces, analisis PESTLE, dan teknik penganggaran modal (NPV, IRR, PBP, PI), penelitian ini mengevaluasi kelayakan ekspansi melalui data primer dari catatan bisnis dan wawancara pemilik serta data sekunder termasuk laporan industri dan statistik pemerintah. Analisis finansial menunjukkan kelayakan yang kuat dengan NPV positif sebesar IDR 814 juta dan IRR sebesar 27,72%, secara signifikan melebihi WACC sebesar 11,55%. Periode pengembalian modal 2,38 tahun dan indeks profitabilitas 1,97 semakin menegaskan daya tarik finansial proyek ini. Pendapatan diproyeksikan tumbuh 58% selama lima tahun (2026–2030), didorong oleh diversifikasi aliran pendapatan (penjualan telur, ayam afkir, dan pupuk kandang). Namun, analisis sensitivitas mengungkapkan kerentanan signifikan terhadap fluktuasi harga telur dan pakan, sementara Porter's Five Forces menyoroti tekanan kompetitif industri. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun proyek ekspansi memiliki potensi finansial yang signifikan, kesuksesannya bergantung pada implementasi efektif strategi mitigasi risiko. Penelitian ini merekomendasikan diversifikasi saluran penjualan, negosiasi pembelian pakan dalam jumlah besar, dan mempertahankan cadangan kas untuk mengurangi risiko. Penelitian ini berkontribusi pada literatur tentang UKM pertanian dengan mendemonstrasikan bagaimana alat penganggaran modal dan penilaian risiko dapat memandu pertumbuhan yang dapat diskalakan dalam pasar komoditas yang volatil. Bagi Telur Tubagus, ekspansi ini menawarkan jalur menuju ketahanan kompetitif, dengan temuan yang dapat diterapkan secara luas untuk peternak unggas kecil di ekonomi berkembang. Penelitian masa depan dapat mengeksplorasi integrasi vertikal (misalnya, produksi pakan sendiri) untuk lebih mengurangi risiko rantai pasokan.

2025
πŸ‘€ Penulis: Syarifatul Fatimah
🏷️ Pertanian 🏷️ Analisis Finansial Ukm 🏷️ Porter'S Five Forces

ANALISIS MINAT GENERASI MUDA SERTA STRATEGI REGENERASI PETANI DALAM MENDUKUNG KEBERLANJUTAN PERTANIAN DI JAWA BARAT

Regenerasi petani merupakan kunci penting dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian di Indonesia, khususnya di Provinsi Jawa Barat yang merupakan wilayah agraris strategis. Namun, tingginya dominasi petani usia lanjut dan rendahnya minat generasi muda untuk terjun dalam dunia pertanian menjadi tantangan serius. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis minat dan persepsi generasi muda terhadap sektor pertanian, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya, serta merumuskan strategi regenerasi petani yang tepat. Penelitian dilakukan di tiga daerah sentra pertanian utama di Jawa Barat, yaitu Kabupaten Bandung Barat, Garut, dan Majalengka, dengan menggunakan metode survei melalui wawancara terstruktur dengan bantuan kuesioner terhadap 95 responden generasi muda berusia 15–35 tahun, yang ditentukan dengan rumus slovin. Analisis data dilakukan menggunakan regresi logistik biner untuk mengidentifikasi faktor-faktor signifikan yang memengaruhi minat, serta metode QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) untuk menentukan strategi prioritas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas generasi muda di Jawa Barat saat ini masih berada dalam tahap belajar sebagai pelajar atau mahasiswa, dan 43,2% generasi muda berminat terhadap sektor pertanian, dengan potensi yang dapat ditingkatkan. Faktor-faktor yang berpengaruh signifikan terhadap minat tersebut adalah pendidikan generasi muda, tingkat pemberdayaan melalui pelatihan dan penyuluhan, serta pendapatan orang tua. Sementara itu, pekerjaan orang tua dan luas lahan pertanian keluarga tidak berpengaruh secara signifikan. Berdasarkan hasil analisis QSPM, strategi yang paling diprioritaskan untuk mendorong regenerasi petani adalah optimalisasi pelatihan pertanian berbasis teknologi, keterampilan teknis, serta transformasi praktik tradisional ke arah pertanian modern dan peningkatan adopsi pemasaran digital produk pertanian. Strategi ini dinilai mampu menjawab tantangan utama regenerasi petani dengan memperkuat kapasitas, semangat kewirausahaan, dan kemandirian ekonomi generasi muda di sektor pertanian.

2025
πŸ‘€ Penulis: Maryam Fitrotullah
🏷️ Pertanian 🏷️ Regenerasi Petani 🏷️ Minat Generasi Muda

PERANCANGAN FILM DOKUMENTER MENGENAI KEHIDUPANSOSIAL PETANI TEMBAKAU DI KABUPATEN TEMANGGUNG

Kabupaten Temanggung dikenal sebagai penghasil tembakau terbaik di Indonesia, bahkan mendapat julukan Kota Tembakau. Komoditas ini menjadi tulang punggung perekonomian daerah, dengan kontribusi besar terhadap pendapatan nasional melalui cukai rokok yang mencapai lebih dari 218 triliun rupiah per tahun. Namun, ada ironi yang tersembunyi di balik kejayaan industri tembakau ini: kesejahteraan petani tembakau yang tidak sebanding dengan besarnya kontribusi mereka. Salah satu daerah yang menjadi pusat produksi tembakau berkualitas tinggi adalah Desa Legoksari, yang terletak di lereng Gunung Sumbing. Desa ini terkenal dengan tembakau srintilnya yang bernilai tinggi dan sering diburu oleh industri rokok besar. Meskipun demikian, para petani di Legoksari tetap menghadapi kesulitan dalam hal harga jual yang tidak stabil, ketergantungan pada tengkulak, serta kebijakan pemerintah yang sering tidak berpihak kepada mereka. Meski ada alternatif komoditas pertanian lain, banyak petani tetap bertahan menanam tembakau karena sudah menjadi warisan turun-temurun dan keahlian mereka dalam mengolah tembakau berkualitas tinggi. Untuk mengangkat realitas ini, diperlukan media yang dapat menyampaikan suara para petani. Salah satu bentuknya adalah film dokumenter yang mampu menggambarkan perjuangan mereka secara objektif dan mendalam. Melalui dokumenter ini, diharapkan muncul kesadaran kolektif yang dapat mendorong kebijakan lebih adil serta inovasi dalam industri tembakau yang tidak hanya menguntungkan negara dan industri rokok, tetapi juga memberikan kesejahteraan bagi para petani di Kota Tembakau, khususnya di Desa Legoksari

2025
πŸ‘€ Penulis: Bara Fadhillah Santoso
🏷️ Kebijakan Publik 🏷️ Pertanian 🏷️ Komoditas Pertanian

USULAN SOLUSI LINGKUNGAN KERJA PRODUKSI TANAMAN PANGAN UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN INDUSTRI PERTANIAN DI KABUPATEN SUMEDANG

Indonesia memiliki keanekaragaman budaya yang kaya, yang menjadi peluang sekaligus tantangan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan, mengurangi kesenjangan sosial, dan pertumbuhan ekonomi. Kabupaten Sumedang, sebagai bagian dari Indonesia, telah memprioritaskan ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi perdesaan sebagai strategi utama dalam memerangi stunting dan pengangguran untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana integrasi teknologi, program pelatihan yang terstruktur, dan mekanisme pengawasan yang efektif dapat meningkatkan pertumbuhan industri pertanian dan pemberdayaan masyarakat di Sumedang. Dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, penelitian ini menggunakan observasi partisipan, wawancara, dan diskusi kelompok terarah dengan para pemangku kepentingan seperti Pemerintah Kabupaten Sumedang dan Yayasan Bhakti Insan Motekar (BIM). Temuan studi ini mengungkapkan tiga parameter penting untuk mendorong pertumbuhan industri pertanian: Persyaratan Integrasi Teknologi (TIR), Metode Pelatihan Teknologi (TTM), dan Mekanisme Pemantauan & Evaluasi (MEM). Studi ini menyarankan model adopsi teknologi bertahap, di mana teknologi yang mudah diakses dan mudah digunakan diperkenalkan terlebih dahulu kepada petani skala kecil. Selain itu, program pelatihan yang praktis dan interaktif juga direkomendasikan untuk meningkatkan adaptasi teknologi, terutama bagi petani muda. Studi ini juga menekankan peran Koperasi sebagai model bisnis yang berkelanjutan untuk mendukung petani pascapelatihan dan partisipasi industri. Dengan menyelaraskan kebijakan pemerintah, kemajuan teknologi, dan keterlibatan masyarakat, studi ini mengusulkan model bisnis kolaboratif yang dapat mendorong pembangunan pertanian berkelanjutan, dalam rangka memperkuat ekonomi pedesaan dan berkontribusi pada agenda ketahanan pangan nasional.

2025
πŸ‘€ Penulis: Andi Muhammad Yuandana Putra C
🏷️ Pertanian 🏷️ Koperasi 🏷️ Teknologi Pertanian

POLA KETERKAITAN SPASIAL PENGEMBANGAN EKONOMI DI PROVINSI SULAWESI SELATAN

Sulawesi Selatan merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang beperan dalam perekonomian nasional. Hal ini terlihat berdasarkan laju pertumbuhan ekonomi yang berada diatas pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, tingginya pertumbuhan ekonomi wilayah diikuti dengan tingginya kesenjangan antar wilayah. Salah satu pendekatan dalam mengurangi ketimpangan wilayah adalah dengan meningkatkan keterkaitan antar wilayah melalui pengembangan sektor unggulannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola keterkaitan wilayah menurut sektor unggulan dengan menggunakan data time-series PDRB berdasarkan lapangan usaha tahun 2021-2023. Penentuan sektor unggulan ditentukan berdasarkan hasil analisis metode tipologi klassen, sehingga diketahui terdapat tujuh sektor yang masuk dalam kategori sektor unggulan yaitu: 1) Pertanian,Kehutanan, dan Perikanan, 2)Konstruksi, 3)Perdagangan besar dan Eceran, 4) Real Estat, 5) Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial, 6) Jasa Pendidikan, serta 7) Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial. Hasil analisis tersebut kemudian dijadikan sebagai dasar dalam penentuan keterkaitan spasial menggunakan analisis Morans I dan Local Indicator Spasial Analysis (LISA). Hasil Moran’s I pada ketujuh sektor di Provinsi Sulawesi menunjukkan tidak terdapat keterkaitan spasial secara global berdasarkan sektor unggulan di Sulawesi Selatan. Apabila ditinjau berdasarkan keterkaitan spasial secara lokal menggunakan analisis LISA terdapat 3 pola yang terbentuk yang ditinjau berdasarkan sektor unggulan yaitu Low-Low, Low-High, dan High-Low. Hasil temuan ini memberikan gambaran mengenai tidak meratanya nilai PDRB tiap sektor apabila ditinjau berdasarkan kedekatan wilayahnya, sehingga dapat dijadikan dasar dalam intervensi kebijakan yang lebih efektif dalam pengembangan ekonomi.

2025
πŸ‘€ Penulis: Rizkiyah Amaliah Fadila
🏷️ Pertanian 🏷️ Konstruksi 🏷️ Perdagangan Besar Dan Eceran

KAJIAN INVESTASI SEKTOR PERTAMBANGAN MINERBA PROVINSI ACEH: STUDI KASUS PERBANDINGAN OTONOMI KHUSUS DAN NON-OTONOMI KHUSUS

Perubahan status Provinsi Aceh dari otonomi khusus menjadi non-otonomi khusus pada 2027 membawa implikasi besar terhadap keuangan daerah dan pertumbuhan ekonomi. Penelitian ini menganalisis kinerja keuangan Aceh, dinamika Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), serta prospek sektor pertambangan mineral dan batubara pasca-otonomi khusus.Dengan metode Auto-Regressive Distributed Lag (ARDL) dan Error Correction Model (ECM), hasil penelitian menunjukkan: (1) sektor pertanian (1.269048), pertambangan (1.586756), dan konstruksi (2.034662) menjadi penggerak utama ekonomi Aceh, namun sektor pertambangan memiliki korelasi negatif terhadap PAD (-1.950899), (2) sektor pertambangan belum memberikan kontribusi optimal terhadap PDRB dengan keterkaitan antar-sektor yang lemah (RΒ² 0.5). (3) kemandirian keuangan daerah masih rendah (11-45%) dengan ketergantungan tinggi terhadap transfer pemerintah pusat (86-99%). Kesimpulan penelitian menekankan pentingnya optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD), reformasi kebijakan perimbangan keuangan, dan strategi investasi yang tepat agar Aceh dapat beradaptasi dengan transisi status otonomi dan memastikan stabilitas ekonomi di masa depan.

2024
πŸ‘€ Penulis: Muhammad Izzulhaq
🏷️ Pertanian 🏷️ Konstruksi 🏷️ Pertambangan Mineral Dan Batubara

MEMANFAATKAN ENERGI GEOTERMAL DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS CABAI MERAH (CAPSICUM ANNUUM) DI SELAYO, KABUPATEN SOLOK, SUMATERA BARAT

Daerah Selayo memiliki temperatur antara 18 hingga 22 derajat celsius, merupakan salah satu daerah dengan suhu terendah di antara daerah lainnya di Provinsi Sumatera Barat. Kondisi iklim yang dingin ini memberikan tantangan dalam dunia pertanian, terutama untuk tanaman capsicum annuum (cabai) yang memerlukan temperatur yang lebih hangat dan stabil. Budidaya cabai seringkali terhambat oleh fluktuasi temperatur yang mengakibatkan pertumbuhan terhambat, penundaan panen, dan hasil yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji desain sistem pemanas berkelanjutan berupa rumah kaca yang menggunakan geothermal heat pump dan geothermal radiant floor sebagai sumber panas utama. Sistem ini dirancang untuk menjaga suhu stabil pada 28Β°C guna mendukung pertumbuhan tanaman cabai (Capsicum annuum) di lingkungan dingin, di mana suhu sekitar berkisar 22Β°C pada siang hari dan turun hingga 18Β°C pada malam hari. Sumber panas berasal dari manifestasi geotermal Bukit Kili, yang diharapkan mampu menyediakan panas secara konsisten. Hasil simulasi menggunakan DSSAT menunjukkan bahwa sistem ini mampu meningkatkan produktivitas tanaman cabai secara signifikan. Dengan suhu stabil 28Β°C, rata-rata hasil panen mencapai 1,8 kg per tanaman, atau total 54 kg dari 30 tanaman, jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi tanpa rumah kaca. Sistem pemanas ini juga terbukti mendukung pertumbuhan vegetatif, meningkatkan efisiensi fotosintesis, dan mengurangi abortus bunga dan buah.

2024
πŸ‘€ Penulis: Wily Rustam
🏷️ Geotermal 🏷️ Pertanian 🏷️ Kecerdasan Buatan

INVENARISASI EMISI DARI SUMBER MOBILE, PERTANIAN, DAN DOMESTIK DI KABUPATEN INDRAMAYU

Pencemaran udara telah menjadi perhatian utama bagi kesehatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan, terutama di wilayah yang berkembang pesat. Kabupaten Indramayu, sebagai salah satu kontributor utama pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat, menghadapi tekanan yang semakin meningkat akibat tingginya tingkat aktivitas yang secara signifikan memengaruhi kualitas udara di wilayah tersebut. Oleh karena itu, studi pencemaran udara yang terintegrasi diperlukan untuk menjadi dasar dalam pengembangan kebijakan publik dan rencana pengendalian pencemaran udara yang terpadu. Dalam penelitian ini, inventarisasi emisi dilakukan di Kabupaten Indramayu untuk polutan CO, CO2, NOx, SOx, dan Partikulat (PM2.5 dan PM10) di sektor transportasi, pertanian, dan domestik. Pedoman utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah "Pedoman Pengembangan Inventarisasi Emisi di Asia Timur 2011," "EMEP/EEA Emission Inventory Guidebook 2019," dan "2006 IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories," dengan pendekatan Tier 1 untuk sektor pertanian dan domestik, sedangkan pendekatan Tier 2 digunakan untuk sektor transportasi dengan pendekatan top-down dan bottom-up. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sektor transportasi menghasilkan 6.379.242,04 ton CO2, 86.466,15 ton NOx, 796,36 ton PM2.5, dan 2.010,84 ton PM10. Sementara itu, sektor pertanian menghasilkan 1.262.554,96 ton CO, 64,31 ton SOx, 53.996,03 ton NOx, 1.194,48 ton PM2.5, dan 124.687,11 ton PM10, dan sektor domestik menghasilkan 0,86 ton CO, 0,0099 ton SOx, 1,70 ton NOx, 0,17 ton PM2.5 dan PM10. Emisi tertinggi yang diperkirakan adalah CO2 dengan 6568,59 ribu ton/tahun di mana sektor transportasi menyumbang 97% dari total emisi CO2.

2024
πŸ‘€ Penulis: Muhamad Ihsan Aminuddin
🏷️ Inventarisasi Emissi 🏷️ Pertanian 🏷️ Domestik

ANALISIS FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP KESEHATAN ANAK DI DAERAH PERTANIAN KECAMATAN KERTASARI, KABUPATEN BANDUNG

Anak yang lahir dan besar di daerah pertanian memiliki risiko terpapar pestisida sejak masih dalam kandungan hingga telah lahir dan tumbuh serta berkembang. Paparan pestisida tersebut dapat menyebabkan berbagai penyakit pada anak-anak. Oleh karena itu, dilakukan penelitian dengan tujuan mengetahui faktor risiko lingkungan pada kesehatan anak di area pertanian. Penelitian ini dilakukan di area pertanian Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan 218 sampel. Dilakukan pengukuran tinggi badan dan kuesioner yang berisi mengenai riwayat kesehatan anak dan riwayat paparan pestisida. Analisis chi-square (bivariat) dan menghitung Odds Rasio (OR) dilakukan pada penelitian ini. Berdasarkan nilai OR yang lebih besar dari 1, pekerjaan ibu sebagai petani, kebiasaan anak ikut ke area pertanian/ladang, kebiasaan anak membantu orang tua bertani, kebiasaan anak bermain di area pertanian/ladang, kebiasaan menyimpan pestisida di rumah, tempat tinggal dekat dengan area pertanian/ladang, dan perjalanan rumah ke sekolah melewati area pertanian/ladang merupakan faktor risiko dari kejadian stunting, infeksi saluran pernafasan, sakit kepala, dan sakit kulit. Namun jika melihat nilai p-value, hubungan antara variabel-variabel tersebut tidak signifikan karena nilai p-value yang kurang dari 0,05, kecuali variabel kebiasaan anak bermain di area pertanian/ladang terhadap riwayat sakit kepala dengan nilai p=0,005

2024
πŸ‘€ Penulis: Shafa Syarifah
🏷️ Kesehatan Anak 🏷️ Pertanian 🏷️ Analisis Risiko Lingkungan
Halaman 1 dari 2
πŸ’¬