📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 26 dokumen

PENGARUH PERUBAHAN IKLIM TERHADAP KARAKTERISTIK HUJAN DI TIGA WILAYAH HUJAN DOMINAN INDONESIA

Perubahan iklim dapat mengubah karakteristik hujan ekstrem dan menurunkan keandalan hujan rancangan yang disusun hanya berdasarkan data historis. Penelitian ini menganalisis pengaruh perubahan iklim terhadap karakteristik hujan di tiga wilayah hujan dominan Indonesia, yaitu Region A yang diwakili Stasiun Meteorologi Tanjung Priok, Region B yang diwakili Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda, dan Region C yang diwakili Stasiun Meteorologi Sultan Babullah. Data observasi BMKG periode 1990–2020 digunakan sebagai baseline lokal, sedangkan proyeksi perubahan iklim diperoleh dari keluaran CMIP6 skenario SSP2-4.5 pada periode historical (1990–2014), near future (2030–2060), dan far future (2070–2100). Analisis dilakukan melalui validasi model historis, pendekatan delta change, Annual Maximum Series (AMS), distribusi probabilitas ekstrem, kurva Intensity-DurationFrequency (IDF), indikator I90 dan I90c, jumlah hari ekstrem, time series total hujan tahunan, Probability Distribution Function (PDF), skewness, nilai kuantil, serta kontribusi bottom 25%, bottom 50%, middle 50%, dan top 10% kejadian hujan. Hasil validasi menunjukkan bahwa data historical CMIP6 mampu merepresentasikan pola intensitas hujan rancangan dengan nilai NSE sebesar 0,777 pada Region A, 0,965 pada Region B, dan 0,985 pada Region C. Hasil evaluasi nilai absolut menunjukkan PBIAS sebesar ?31,49% pada Region A, ?8,13% pada Region B, dan 3,39% pada Region C, yang secara berurutan menunjukkan underestimation cukup besar pada Region A, underestimation lebih rendah pada Region B, dan overestimation ringan pada Region C. Region A menunjukkan penurunan IDF pada near future dan perubahan yang lebih lemah pada far future, tetapi indikator ekstrem harian dan bagian atas distribusi tetap menunjukkan peningkatan. Region B memperlihatkan sinyal peningkatan hujan ekstrem yang paling konsisten, terutama pada far future dan periode ulang yang lebih besar. Region C menunjukkan respons yang lebih kompleks, dengan karakter hujan basah dan kontribusi hujan intensitas tinggi yang tetap dominan. Analisis PDF menunjukkan bahwa distribusi curah hujan harian pada ketiga region bersifat right-skewed. Kelompok kejadian top 10% menyumbang sekitar 35,03–40,18% dari total volume hujan, jauh lebih besar daripada kelompok bottom 25% dan bottom 50%, serta secara umum sebanding dengan kelompok middle 50%. Region B menunjukkan penguatan ekor kanan distribusi paling jelas, ii Region A menunjukkan penguatan bagian atas distribusi terutama pada far future, sedangkan Region C mempertahankan karakter distribusi basah dan right-skewed sejak periode historical. Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak hanya memengaruhi hujan rancangan pada kurva IDF, tetapi juga mengubah struktur distribusi curah hujan harian. Oleh karena itu, evaluasi dan pembaruan dasar hujan rancangan perlu mempertimbangkan perbedaan sistem hujan dominan, perubahan struktur distribusi hujan harian, indikator ekstrem harian, serta ketidakpastian model iklim untuk mendukung perencanaan drainase dan infrastruktur air hujan yang lebih adaptif.

2026
👤 Penulis: Ferditya Maulana Haq
🏷️ Perubahan Iklim 🏷️ Analisis Hujan Ekstrem 🏷️ Distribusi Curah Hujan Harian

DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP LAJU EROSI DAN SEDIMENTASI DAS SERAYU HULU: ANALISIS KOMPARATIF SKENARIO SSP2-4.5, SSP3-7.0, DAN SSP5-8.5 MENGGUNAKAN MODEL SWAT+

DAS Serayu Hulu sebagai daerah tangkapan Waduk Mrica menghadapi permasalahan erosi dan sedimentasi yang tinggi serta berpotensi dipengaruhi oleh perubahan iklim. Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan karakteristik curah hujan, membandingkan laju erosi dan hasil sedimen pada kondisi baseline dan tiga skenario perubahan iklim (SSP2-4.5, SSP3-7.0, dan SSP5-8.5), serta mengkaji keterkaitan antara perubahan curah hujan dengan perubahan erosi dan hasil sedimen. Analisis dilakukan menggunakan model SWAT+ dengan data iklim historis CHIRPS dan proyeksi CMIP6 ensemble lima model yang telah dikoreksi bias menggunakan metode Quantile Mapping. Simulasi dilakukan pada periode Near Future, Mid Future, dan Far Future. Hasil penelitian menunjukkan bahwa curah hujan diproyeksikan menurun pada Near Future, kemudian meningkat pada Mid Future hingga Far Future, terutama pada skenario SSP5-8.5. Perubahan tersebut diikuti oleh perubahan limpasan permukaan, laju erosi, dan hasil sedimen dengan pola yang serupa. Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan iklim berpotensi meningkatkan risiko degradasi lahan dan sedimentasi di DAS Serayu Hulu, sehingga diperlukan strategi pengelolaan DAS yang adaptif terhadap perubahan iklim.

2026
👤 Penulis: Fajar Nur Azizi
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Lahan 🏷️ Perubahan Iklim

PENGARUH PERSEPSI RISIKO PERUBAHAN IKLIM DAN FAKTOR SOSIAL EKONOMI TERHADAP ADOPSI STRATEGI ADAPTASI WATER, SANITATION, AND HYGIENE (WASH) PADA RUMAH TANGGA DI KELURAHAN KEPUTIH, KOTA SURABAYA

Perubahan iklim telah menjadi ancaman signifikan terhadap sektor Water, Sanitation, and Hygiene (WASH), di Kelurahan Keputih. Gangguan hidrometeorologi seperti banjir dan kekeringan secara langsung merusak infrastruktur WASH rumah tangga, meningkatkan risiko penyakit berbasis air, dan memperburuk masalah kesehatan Masyarakat kota Surabaya, terutama di daerah padat penduduk dan rumah berdekatan. Adaptasi WASH yang tangguh (seperti pembangunan sanitasi anti-banjir dan manajemen air mandiri) sangat krusial, namun keberhasilannya bergantung pada inisiatif dan investasi dari rumah tangga itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris hubungan antara Persepsi Risiko Perubahan Iklim rumah tangga dengan Adopsi Strategi Adaptasi WASH di Kelurahan Keputih. Penelitian ini menggunakan metodologi pendekatan kuantitatif melalui survei cross-sectional terhadap sampel rumah tangga yang berisiko. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang mengukur persepsi risiko, sosial ekonomi dan tingkat adopsi adaptasi WASH. Analisis data menggunakan Partial Least Squares - Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan Persepsi Risiko berpengaruh positif dengan koefisien 0,169 dan Sosial-Ekonomi juga berpengaruh positif dengan koefisien 0,332, sehingga semakin tinggi persepsi risiko dan sosial-ekonomi rumah tangga, maka semakin tinggi pula kecenderungan rumah tangga dalam melakukan adopsi adaptasi WASH. Nilai R-square sebesar 0,176 menunjukkan bahwa Persepsi Risiko dan Sosial-Ekonomi mampu menjelaskan variasi Adopsi Adaptasi sebesar 17,6%. Dengan demikian penguatan adaptasi WASH perlu didukung oleh literasi risiko, akses informasi, dukungan sosial, dan peningkatan kapasitas sosial-ekonomi rumah tangga.

2026
👤 Penulis: Firdaus Pratama Wiwoho
🏷️ Perubahan Iklim 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air

PENGARUH RDTR DALAM MEMITIGASI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM YANG DISEBABKAN OLEH KONVERSI TUTUPAN LAHAN DI KOTA BANDUNG

Peningkatan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) di kawasan perkotaan telah menjadi masalah utama dalam perubahan iklim secara global. Pada negara berkembang seperti Indonesia, lonjakan emisi ini dipengaruhi oleh perubahan tutupan lahan. Ekspansi lahan terbangun mengakibatkan konversi ruang terbuka hijau sebagai penyerap karbon. Menanggapi akan pentingnya dekarbonisasi perkotaan maka penerapan 1,5-Degree Lifestyle menjadi langkah mitigasi yang memerlukan dukungan instrumen kebijakan tata ruang. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi keselarasan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota Bandung 2024-2044 dalam mereduksi dampak perubahan iklim akibat alih fungsi lahan. Untuk menjawab tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan metode campuran. Analisis kuantitatif dilakukan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk memetakan perubahan tutupan lahan secara historis dan melakukan proyeksi tutupan lahan ke depan beserta estimasi stok karbon. Sedangkan analisis kualitatif dilakukan dengan studi dokumen terhadap RDTR Kota Bandung Tahun 2024-2044. Instrumen dan pasal tata ruang dievaluasi menggunakan matriks keselarasan kebijakan untuk menilai pemenuhan kriteria gaya hidup 1,5 derajat. Hasil proyeksi spasial menunjukkan Kota Bandung terancam defisit ekologis parah. Alokasi pola ruang dalam RDTR justru melegitimasi penyusutan kapasitas stok karbon menjadi hanya 92.503,13 ton, menurun drastis dari periode tata ruang sebelumnya. RDTR baru memenuhi 50% indikator kelayakan meskipun telah mengakomodasi konsep Kawasan Berorientasi Transit (TOD), kebijakan ini masih memfasilitasi urban sprawl dan pembangunan yang berpusat pada kendaraan bermotor. Terbatasnya daya dukung lingkungan ini diperparah oleh minimnya akses transportasi publik dan Sarana Pelayanan Umum (SPU) di wilayah timur dan selatan, yang memaksa tingginya penggunaan kendaraan pribadi, sehingga dokumen RDTR Kota Bandung belum selaras dan belum mampu memfasilitasi perwujudan 1.5-Degree Lifestyle.

2026
👤 Penulis: Angkasa Cindradewa
🏷️ Perubahan Iklim 🏷️ Kawasan Berorientasi Transit (Tod) 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Lingkungan

PROYEKSI VARIABILITAS KEDALAMAN TERMOKLIN DI PERAIRAN BARAT SUMATRA MENGGUNAKAN DATA MODEL CMIP6 TAHUN 2015-2045

Termoklin merupakan lapisan dilautan yang memiliki gradien suhu vertikal yang tajam dan berperan penting dalam dinamika laut-atmosfer serta ekosistem laut. Variabilitas kedalaman termoklin dipengaruhi oleh faktor musiman, pola angin, dan variabilitas iklim. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variabilitas tahunan kedalaman termoklin di perairan barat Sumatra pada periode 2015-2045 serta mengkaji perubahannya sebagai indikator dampak perubahan iklim berdasarkan data model CMIP6 pada skenario SSP1 dan SSP5, dengan ORAS5 sebagai data referensi. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh model CMIP6 mampu merepresentasikan pola spasial kedalaman termoklin. Pada skenario SSP1, kedalaman termoklin berkisar antara 120-146 m di lintang 3° LS-3° LU dan 75-120 m di laut lepas. Pada skenario SSP5, kedalaman termoklin meningkat menjadi sekitar 121-148 m di lintang 3° LS-3° LU dan 74-121 m di laut lepas, yang mengindikasikan adanya pendalaman sekitar 5 m pada skenario emisi tinggi. Secara temporal, ORAS5 menunjukkan kedalaman termoklin yang relatif stabil pada kisaran 95-120 m dengan kecenderungan pendangkalan. Sebaliknya, sebagian besar model CMIP6 menyimulasikan kedalaman termoklin yang lebih dalam dan menunjukkan tren pendalaman, terutama pada skenario SSP5. Perubahan skenario emisi lebih mempengaruhi nilai kedalaman dan bias termoklin, sedangkan pola penyebaran spasialnya relatif tidak banyak berubah. Di antara seluruh model yang dianalisis, TaiESM1 menunjukkan kinerja yang paling konsisten dalam merepresentasikan variabilitas kedalaman termoklin pada kedua skenario, dengan tingkat ke

2026
👤 Penulis: Stefani Budiarti
🏷️ Hidrologi 🏷️ Model Simulasional 🏷️ Perubahan Iklim

ANALISIS PERUBAHAN ZONA AGROKLIMAT OLDEMAN MASA DEPAN DI INDONESIA

Sektor pertanian, terutama subsektor tanaman pangan, memegang peran penting dan strategis. Namun, sektor pertanian di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan yang dapat mempengaruhi produktivitas, salah satunya adalah gagal panen akibat curah hujan yang tak menentu. Perubahan iklim global memberikan dampak signifikan terhadap pola curah hujan di berbagai wilayah, termasuk Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan dan persebaran zona agroklimat Oldeman masa depan di Indonesia sebagai dampak dari adanya perubahan iklim menggunakan data proyeksi curah hujan dari model iklim global CMIP6 yang telah di-downscalling dalam NEX-GDDP-CMIP6. Dipilih 9 model yang dinilai baik untuk analisis curah hujan, serta digunakan skenario SSP2-4.5 dan SSP5-8.5. Dari sembilan model, dipilih empat model terbaik melalui metrik evaluasi RMSE dan korelasi Pearson. Model-model tersebut meliputi EC-EARTH3, ACCESS-CM2, MIROC-ES2L, dan CNRM-ESM2-1. Analisis dilakukan pada data curah hujan resolusi spasial 0.25°x0.25° dari periode historis (1984-2014) dan periode proyeksi near-future (2015-2040), mid-future (2041-2070), dan far-future (2071-2100). Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan zona agroklimat di berbagai wilayah, meliputi perluasan wilayah basah yang meliputi zona A, B, dan C1 di wilayah Sumatera bagian utara dan barat. Selain itu, terdapat indikasi beberapa wilayah yang akan mengalami kondisi lebih kering, ditandai oleh zona C1 yang terlihat berkurang dan bergeser menjadi zona C2 hingga D, contohnya di wilayah Sumatera bagian tengah. Terdapat pula wilayah dengan pola agroklimat yang cenderung stabil dan hanya mengalami perubahan yang sedikit sepanjang periode proyeksi, yaitu wilayah Jawa Tengah bagian timur, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara. Pada wilayah-wilayah dengan produksi padi terbesar, perubahan yang cukup signifikan terjadi pada wilayah Sumatera Utara dan Sumatera Barat, meliputi perluasan zona basah A dan B. Wilayah Sulawesi Selatan, Jawa Barat, dan Jawa Tengah bagian barat juga diproyeksikan memiliki perubahan yang cukup mencolok, meliputi bertambahnya kondisi kering dan basah di beberapa titik. Sementara itu, wilayah-wilayah lain cenderung memiliki pola yang mirip dengan periode historis.

2025
👤 Penulis: Nurul Hidayati
🏷️ Perubahan Iklim 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

STUDY OF RAINFALL CHARACTERISTICS IN IBU KOTA NUSANTARA, EAST KALIMANTAN, UNDER GLOBAL CLIMATE CHANGE

Kurva Intensitas-Durasi-Frekuensi (IDFC) sangat penting untuk manajemen sumber daya air, perencanaan infrastruktur, pencegahan bencana, dan penjadwalan pertanian, terutama di daerah seperti IKN Nusantara, Kalimantan Timur. Seiring dengan percepatan urbanisasi, prediksi curah hujan yang akurat menjadi sangat penting untuk merancang infrastruktur yang tangguh dan sistem manajemen air hujan. Perubahan iklim semakin memperburuk tantangan dalam manajemen air, khususnya di daerah rawan banjir, dengan menyebabkan pergeseran yang tidak dapat diprediksi dalam intensitas dan distribusi curah hujan. Untuk mengatasi hal ini, pengembangan kurva IDF berdasarkan hasil model iklim sangat penting. Model-model ini telah lama digunakan untuk memproyeksikan perubahan dalam variabel hidrologi, memberikan wawasan berharga untuk tren curah hujan masa depan dan strategi manajemen air. Memahami karakteristik curah hujan dalam konteks perubahan iklim memastikan efektivitas sistem manajemen air hujan dan perencanaan infrastruktur dalam menghadapi kondisi iklim yang terns berubah. Studi ini menekankan pentingnya menggunakan model iklim untuk beradaptasi dengan pola curah hujan masa depan, memastikan bahwa manajemen sumber daya air di IKN Nusantara tetap tangguh terhadap tantangan terkait perubahan iklim. Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa proyeksi masa depan untuk PUH 2, 5, dan 10 lebih rendah dari nilai historis, sementara proyeksi masa depan untuk PUH 25 sangat mirip dengan data yang telah dikoreksi bias. Selain itu, PUH 50 dan PUH 100 menunjukkan peningkatan intensitas, yang menyoroti kebutuhan yang semakin mendesak akan manajemen air hujan yang efektif.

2025
👤 Penulis: Muhammad Hafizh Ardhanikusumah
🏷️ Perubahan Iklim 🏷️ Manajemen Sumber Daya Air 🏷️ Hidrologi

ANALISIS PERUBAHAN KETERSEDIAAN AIR PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR (PLTA) DI INDONESIA AKIBAT PERUBAHAN IKLIM DI MASA DEPAN

Perubahan iklim berdampak signifikan terhadap ketersediaan air yang menjadi faktor utama dalam operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak perubahan iklim terhadap pola curah hujan dan pasokan air di wilayah tangkapan air pada 34 PLTA di Indonesia. Data historis curah hujan periode baseline (1985–2014) diperoleh dari data CHIRPS. Data proyeksi curah hujan periode masa depan (2031–2060) menggunakan lima model global CMIP6 yaitu CNRM-CM6-1, MRI-ESM2-0, MPI-ESM1-2-HR, EC-Earth3-Veg-LR, dan NorESM2-MM, berdasarkan dua skenario emisi yaitu rendah (SSP1-2.6) dan tinggi (SSP5-8.5). Hasil analisis menunjukkan bahwa pada skenario SSP1-2.6, terjadi peningkatan curah hujan signifikan di beberapa PLTA. Di Papua, PLTA Orya mengalami kenaikan sebesar 4,25% atau sekitar 90,18 mm/tahun. Di Sumatera Utara, PLTA Wampu meningkat 4,67% (114,83 mm/tahun), Renun 3,65% (83,09 mm/tahun), dan Sipansihaporas 2,87% (103,60 mm/tahun). Sebaliknya, terjadi penurunan curah hujan di Pulau Jawa, khususnya Jawa Timur, di mana PLTA Tulungagung turun 5,21% (102,34 mm/tahun), Wlingi turun 4,61% (102,43 mm/tahun), Sutami turun 4,52% (99,91 mm/tahun), dan Sengguruh turun 4,48% (97,86 mm/tahun). Di Jawa Barat, PLTA Jatigede turun 4,38% (129,25 mm/tahun), Saguling turun 3,53% (98,84 mm/tahun), dan Rajamandala turun 3,50% (98,85 mm/tahun). Skenario SSP5-8.5 menunjukkan penurunan curah hujan yang lebih luas dan intens. Di Jawa Barat, PLTA Jatigede turun 6,62% (195,25 mm/tahun), Saguling 6,29% (175,98 mm/tahun), dan Rajamandala 6,31% (178,15 mm/tahun). Di Jawa Timur, PLTA Tulungagung turun 7,36% (144,65 mm/tahun), Wlingi turun 6,70% (148,91 mm/tahun), Sutami turun 6,60% (145,85 mm/tahun), dan Sengguruh turun 6,55% (142,92 mm/tahun). Meskipun demikian, terdapat peningkatan curah hujan pada skenario SSP5-8.5 di beberapa PLTA seperti di Sumatera Utara PLTA Wampu meningkat sebesar 4,52% (111,03 mm/tahun), PLTA Renun naik 3,17% (72,17 mm/tahun), PLTA Sipansihaporas naik 0,99% (35,58 mm/tahun) dan PLTA Orya di Papua naik 3,69% (78,19 mm/tahun), Pendekatan multi-model yang digunakan dalam penelitian ini membantu meminimalisir ketidakpastian proyeksi dengan menggunakan metode ensemble mean (rata-rata hasil proyeksi dari beberapa model) dan ensemble spread (variasi antar proyeksi model) yang dihitung menggunakan standar deviasi. Standar deviasi menunjukkan sebaran data hasil simulasi model terhadap rata-rata ensemble, dimana nilai yang lebih kecil menunjukkan konsistensi hasil antar-model yang lebih tinggi. Penelitian ini menghasilkan pemetaan risiko spasial terhadap PLTA yang dapat digunakan untuk perencanaan adaptasi perubahan iklim di sektor energi air dan proyeksi curah hujan di masa depan pada PLTA PLN.

2025
👤 Penulis: Kevin Sahat Parsaulian
🏷️ Perubahan Iklim 🏷️ Ketersediaan Air 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi Air

INVENTARISASI KARBON BERBASIS KADASTER UNTUK ADAPTASI DAN MITIGASI PERUBAHAN IKLIM

Perubahan iklim yang didorong oleh emisi gas rumah kaca menuntut adanya sistem inventarisasi karbon yang presisi dan berbasis spasial untuk mendukung kebijakan adaptasi dan mitigasi, terutama di wilayah urban. Proyek ini bertujuan mengembangkan sistem inventarisasi karbon di Kecamatan Sumur Bandung dengan pendekatan level makro dan mikro. Inventarisasi level makro dilakukan melalui pemetaan tutupan lahan tahun 2016, 2018, dan 2023 untuk menghitung stok dan emisi karbon berdasarkan jenis dan luas tutupan, serta menganalisis perubahan tutupan lahan antarwaktu yang berkontribusi pada peningkatan atau penurunan karbon. Level mikro menggunakan pendekatan kadaster yang memungkinkan keterhubungan antara data spasial, kepemilikan lahan, dan tanggung jawab emisi menjadikannya dasar bagi penerapan insentif-disinsentif karbon yang adil. Inventarisasi dilakukan dalam skala persil tanah untuk memetakan stok karbon pohon, emisi kendaraan bermotor, dan emisi material atap bangunan. Dari proyek ini, dihasilkan tiga peta tematik inventarisasi karbon level makro, tiga peta tematik inventarisasi karbon level mikro, serta satu geodashboard inventarisasi karbon berbasis MapStore. Sistem ini mendukung visualisasi distribusi emisi dan stok karbon secara detail. Prototipe ini berpotensi direplikasi di wilayah urban lain sebagai alat bantu pengambilan kebijakan mitigasi iklim.

2025
👤 Penulis: Vita R.A. Siahaan
🏷️ Perubahan Iklim 🏷️ Inventarisasi Karbon 🏷️ Geodashboard

TINJAUAN TERHADAP AKSI SKALA LANSKAP: PEMBELAJARAN DARI IMPLEMENTASI PROGRAM LANSKAP DI RIAU, INDONESIA

Selama beberapa dekade terakhir, dunia menghadapi peningkatan risiko serta tantangan sosial dan lingkungan akibat naiknya suhu global yang mencapai rekor tertinggi. Perubahan iklim menyebabkan dampak luas, mulai dari cuaca ekstrem, kekeringan berkepanjangan, dan hilangnya keanekaragaman hayati, hingga dampak sosial-ekonomi yakni kerawanan pangan, perpindahan penduduk secara massal, serta kerugian ekonomi. Dampak ini akan terus memburuk dan menyebabkan kerusakan permanen tanpa adanya upaya mitigasi risiko dan dampak perubahan iklim. Hingga saat ini, berbagai inisiatif telah dilakukan untuk mengatasi perubahan iklim. Upaya ini memerlukan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan sebagai kunci dalam mengatasi perubahan iklim, salah satunya melalui program lanskap sebagai initisiatif untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keberhasilan, tantangan, dan pembelajaran dari implementasi program lanskap Riau Fase 1 (2021-2025) oleh Earthworm Foundation (EF), serta menyusun rekomendasi strategis untuk meningkatkan efektivitas Fase 2 (2026-2030). Program lanskap EF bertujuan untuk mendorong kolaborasi multi-pihak dalam membangun lanskap yang resilien, dimana para pemangku kepentingan mendukung tercapainya keseimbangan dalam produksi komoditas, konservasi hutan, penghidupan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat dalam skala besar. Pendekatan lanskap menawarkan solusi holistik dibandingkan dengan inisiatif berbasis proyek atau rantai pasok, yang terbatas dalam mengatasi tantangan sosial-lingkungan yang kompleks seperti deforestasi dan alih fungsi lahan untuk pertanian dan perkebunan.Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif melalui wawancara semi-terstruktur, diskusi kelompok terstruktur (FGD), serta telaah dokumen internal dan kebijakan yang relevan. Data primer dikumpulkan dari staf internal dan pihak donor yang terlibat dalam program lanskap. Hasil temuan mengidentifikasi empat tema utama yang memengaruhi keberhasilan dan tantangan pelaksanaan Fase 1: desain dan implementasi program, dukungan kebijakan dan institusi, keterlibatan dan kolaborasi multipihak, dan tata kelola internal serta kapasitas organisasi. Lebih lanjut, penelitian ini memberikan lima rekomendasi strategis untuk mendukung implementasi Fase 2, yang diadaptasi dari kerangka kerja Five E’s untuk pendekatan lanskap yang efektif, yakni: (1) evaluasi kemajuan, mengidentifikasi pembelajaran dari Fase 1 sebagai dasar merancang program di Fase 2, (2) membangun tata kelola yang baik, dengan memperjelas peran dan proses pengambilan keputusan di berbagai tingkatan, memperkuat sistem control internal dan kerangka kerja monitoring, evaluasi, dan pembelajaran (MEL), serta memastikan model pendanaan yang selaras dengan pendekatan rantai pasok, (3) transformasi yang adaptif, dengan menerapkan pendekatan bertahap dan proses pembelajaran yang responsif terhadap dinamika lapangan dan selaras dengan pendekatan rantai pasok, (4) memperkuat keterlibatan multipihak, mendorong kolaborasi dengan LSM, pemerintah, dan organisasi berbasis komunitas untuk menciptakan dampak skala besar, serta sinergi praktik di lapangan dengan kebijakan di daerah dan nasional, serta (5) mendukung proses yang dinamis, melalui program yang adaptif dengan manajemen risiko yang kuat serta proses pembelajaran yang iteratif. Penelitian juga mengusulkan dua arah kajian lanjutan, antara lain: (1) penilaian dampak pendekatan lanskap terhadap rantai pasok korporasi dalam mendukung inisiatif keberlanjutan dan memperkuat kerjasama dengan mitra korporasi, dan (2) eksplorasi skema pembiayaan inovatif, seperti blended finance, obligasi hijau, dan kredit karbon untuk mendukung keberlanjutan program lanskap, terutama dalam konteks Indonesia. Temuan ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan pendekatan lanskap yang menyeimbangkan proteksi lingkungan dan pembangunan ekonomi.

2025
👤 Penulis: Angeline Gloria
🏷️ Perubahan Iklim 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

PROYEKSI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP POTENSI ENERGI SURYA DI INDONESIA

Indonesia sebagai negara kepulauan tropis dengan potensi sinar matahari yang melimpah memiliki peluang untuk pengembangan energi surya fotovoltaik (PV). Namun, potensi tersebut sangat dipengaruhi oleh variabel meteorologi yang rentan terhadap perubahan iklim. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana perubahan iklim dapat memengaruhi ketersediaan energi surya di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk memproyeksikan dampak perubahan iklim terhadap potensi energi surya PV di Indonesia dengan menggunakan data multi-model dari NEX-GDDP-CMIP6. Potensi PV dihitung menggunakan metode energy rating, dengan melibatkan variabel radiasi matahari di permukaan, temperatur, dan kecepatan angin. Evaluasi model dilakukan dengan data reanalisis ERA5 sebagai referensi dan menggunakan ukuran statistik koefisien korelasi, root mean square error (RMSE), dan mean bias error (MBE). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa ensambel model NEX-GDDP-CMIP6 merepresentasikan potensi PV dengan cukup baik. Potensi PV pada periode historis (1969–2014) dihitung menggunakan data ERA5 dan menunjukkan nilai tertinggi di wilayah Kepulauan Nusa Tenggara, Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Jawa dengan nilai rata-rata potensi berkisar antara 20–23%. Proyeksi masa depan (2015 2060) menunjukkan bahwa wilayah Jawa mengalami peningkatan potensi PV sebesar 0,5-2% sepanjang tahun pada skenario SSP1-2.6 dan SSP2-4.5. Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Kepulauan Maluku menunjukkan peningkatan sebesar 0,5-1% pada musim DJF dan MAM di bawah skenario SSP1 2.6, sedangkan di musim dan skenario emisi lain terjadi penurunan potensi PV yang tergolong kecil dengan nilai kurang dari 2%.

2025
👤 Penulis: Khodja Ummi Medina
🏷️ Perubahan Iklim 🏷️ Energi Surya Fotovoltaik 🏷️ Analisis Multi-Model

PERANCANGAN WATERFRONT KAWASAN WISATA PANTAI CERMIN BERBASIS CLIMATE RESILIENT URBAN DESIGN (CRUD)

Kawasan wisata Pantai Cermin di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, merupakan salah satu destinasi wisata bahari yang memiliki daya tarik tinggi dan berpotensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Namun, kawasan ini menghadapi tantangan serius akibat dampak perubahan iklim, seperti abrasi pantai, kenaikan muka air laut, dan penurunan kualitas lingkungan pesisir. Dampak ini tidak hanya mengancam kelestarian lingkungan, tetapi juga menurunkan daya saing dan keberlanjutan sektor pariwisata di wilayah tersebut. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan perancangan kawasan yang tangguh terhadap perubahan iklim guna mempertahankan fungsi sosial-ekonomi dan ekologi kawasan wisata secara berkelanjutan. Tugas Akhir ini bertujuan untuk menerapkan kriteria dan prinsip perancangan kawasan tepi air yang adaptif terhadap perubahan iklim dengan menggunakan pendekatan Climate Resilient Urban Design (CRUD) pada studi kasus di Kelurahan Pantai Cermin Kanan. Penelitian ini menggunakan metode campuran dengan pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Data primer diperoleh melalui observasi lapangan yang memetakan kondisi fisik eksisting, sedangkan data sekunder dikumpulkan melalui studi literatur, dokumen perencanaan, dan data spasial berbasis sistem informasi geospasial. Analisis dilakukan secara kualitatif untuk menyusun kriteria dan prinsip perancangan normatif berbasis ketahanan iklim serta analisis kuantitatif untuk mengidentifikasi potensi dan persoalan tapak kawasan yang dirancang. iiHasil tugas akhir ini menunjukkan bahwa kawasan Pantai Cermin Kanan memiliki kekayaan ekosistem, potensi wisata, serta nilai budaya yang tinggi, namun memiliki kerentanan terhadap perubahan iklim yang signifikan. Berbagai permasalahan ditemukan, antara lain minimnya ruang terbuka hijau, belum adanya jalur evakuasi bencana yang terintegrasi, serta belum diterapkannya prinsip perancangan yang mempertimbangkan ketahanan lingkungan dalam pengembangan pariwisata. Dengan mengkaji beberapa studi komparatif dari kawasan tepi air internasional seperti Barangaroo Reserve (Australia), Hafencity (Jerman), dan Garden by the Bay (Singapura), penelitian ini menyusun prinsip perancangan yang meliputi integrasi ekosistem pesisir, efisiensi penggunaan lahan, penguatan aksesibilitas, kenyamanan termal, edukasi lingkungan, serta mitigasi risiko bencana. Kebaruan dari tugas akhir ini terletak pada pengintegrasian konsep CRUD dalam konteks kawasan wisata bahari di Indonesia, yang belum banyak diadopsi secara komprehensif. Rancangan kawasan tepi air tidak hanya dirancang sebagai ruang wisata dan rekreasi, tetapi juga sebagai infrastruktur adaptif yang mampu merespons risiko iklim sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat pesisir. Simulasi desain menghasilkan rencana rancangan kawasan yang meliputi zonasi adaptif, ruang terbuka berbasis ekologi, sistem sirkulasi dan parkir terintegrasi, jalur pejalan kaki yang ramah lingkungan, dan area edukasi publik terkait perubahan iklim. Tugas akhir ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu perencanaan dan perancangan kawasan pesisir melalui formulasi kriteria dan prinsip perancangan yang mempertimbangkan aspek keberlanjutan dan ketahanan iklim. Selain itu, hasil rancangan yang dihasilkan dapat dijadikan sebagai rekomendasi praktis dan strategis bagi pemerintah daerah serta pemangku kebijakan lainnya dalam menyusun arah kebijakan pengembangan kawasan wisata pesisir yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.

2025
👤 Penulis: Viviany Marcella
🏷️ Kawasan Wisata Pesisir 🏷️ Perubahan Iklim 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Lingkungan

ASESMEN PEMUTIHAN KARANG (CORAL BLEACHING) DI WILAYAH SEKSI PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL (SPTN) III, KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTA, PADA AWAL TAHUN 2024

Semenjak awal tahun 2023, fenomena pemutihan karang (coral bleaching) massal keempat telah berlangsung secara global, ditandai dengan meningkatnya frekuensi, intensitas, dan durasi, yang merupakan konsekuensi langsung dari akselerasi perubahan iklim. Tantangan ini dapat mengancam stabilitas ekosistem terumbu karang yang menopang peranan esensial bagi masyarakat pesisir. Salah satu perairan di Indonesia yang terdampak adalah bagian selatan Laut Jawa, khususnya Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS), yang merupakan kawasan konservasi yang melindungi ekosistem terumbu karang dan keanekaragaman hayati di dalamnya. Penelitian ini dilakukan untuk: (1) mendeskripsikan kondisi tutupan dan struktur komunitas karang, (2) mengukur tingkat keparahan pemutihan karang, dan (3) mengukur variabilitas genera karang yang terdampak di Satuan Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III TNKpS di awal tahun 2024. Survei dilakukan pada awal Februari 2024 di lima stasiun, yaitu Area Perlindungan Laut (APL), Karang Bongkok (KB), Kotok, Pramuka, dan Panggang yang mewakili karakteristik komunitas karang di wilayah tersebut. Survei dengan metode Underwater Photo Transect (UPT) pada dua rentang kedalaman (3–5 m dan 6–10 m) dan dilakukan pembobotan dengan Bleaching Response Index (BRI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata persentase tutupan karang di kelima stasiun adalah (28,78±15,06)% dengan perbedaan yang signifikan pada tutupan karang antar stasiun. Tutupan karang tertinggi ditemukan di stasiun APL (54,62%) dan terendah di Kotok (18,24%). Survei pada 1.851 koloni karang menunjukkan distribusi rata-rata 61,7±23,15 koloni per stasiun. Dari jumlah tersebut, persentase koloni karang yang mengalami pemutihan di kelima stasiun adalah (64,86±12,32)% sehingga dikategorikan dalam tingkat ‘pemutihan sangat tinggi’ (Very High Level of Bleaching). Sementara itu, nilai rerata BRI yang didapatkan adalah (51,47±8,38)%, dengan nilai tertinggi teramati di stasiun KB. Pemutihan karang pada dua rentang kedalaman ditemukan tidak berbeda secara signifikan. Sebanyak 44 dari 45 genera karang keras dan seluruh 8 bentuk hidup karang ditemukan mengalami pemutihan. Genera yang paling terdampak meliputi Acropora, Psammocora, Pachyseris, Pectinia, dan Goniastrea. Signifikansi variasi nilai BRI antar genus menunjukkan adanya respons spesifik setiap genus terhadap stres termal. Penelitian ini memberikan catatan baru mengenai peristiwa pemutihan karang sekaligus memberikan rekomendasi bagi studi lanjutan, kebijakan pengelolaan kawasan yang berkelanjutan, dan mitigasi terhadap perubahan iklim di wilayah TNKpS.

2025
👤 Penulis: Sarah Evelyne Sihombing
🏷️ Pemutihan Karang 🏷️ Ekosistem Terumbu Karang 🏷️ Perubahan Iklim

PERUBAHAN IKLIM SEBAGAI RISIKO BISNIS : PERSPEKTIF PERBANKAN DI INDONESIA

Perubahan iklim saat ini telah menjadi salah satu risiko bisnis yang harus dievaluasi, diukur, dimitigasi, dan dikelola dengan cermat oleh semua entitas, termasuk entitas perbankan. Dampak signifikan yang dapat ditimbulkan akibat perubahan iklim terhadap kondisi keuangan dan keberlangsungan usaha suatu entitas telah menjadikannya sebagai satu hal yang penting untuk disikapi dan dimitgasi sejak awal temasuk oleh sektor perbankan. Pada Juni 2022, Komite Basel untuk Pengawasan Perbankan (Basel Committee on Banking Supervision, BCBS) telah mengeluarkan prinsip-prinsip umum bagi perbankan di dunia l dalam melakukan manajemen risiko dan pengawasan terkait perubahan iklim, yang dituangkan dalam dokumen berjudul 'Prinsip-Prinsip Pengelolaan dan Pengawasan Risiko Keuangan Terkait Iklim yang Efektif'. Pengelolaan risiko keuangan terkait perubahan iklim memerlukan kerangka manajemen yang kuat dan alat informasi yang andal, yang memungkinkan bank untuk memantau, mengukur, dan mengelola portofolio aset yang terpengaruh oleh risiko keuangan akibat perubahan iklim. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kesiapan industri perbankan di Indonesia dalam mengadopsi kerangka manajemen risiko keuangan terkait perubahan iklim yang dikembangkan oleh BCBS. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metodologi berupa wawancara mendalam dan semi terstruktur untuk menggali narasi subjektif dan refleksi dari para responden. Tujuan utama dari interview tersebut adalah untuk menggali pemahaman para profesional perbankan mengenai bagaimana risiko perubahan iklim mempengaruhi bisnis perbankan, terutama dalam aspek manajemen risiko, pengambilan keputusan, dan penerapan strategi berkelanjutan. Penelitian ini mengambil sampel eksekutif bankers yang memiliki kehalian di bidang risk management pada bank-bank besar di Indonesia dan juga regulator (FSA dan Bank Sentral). Hasil penelitian ini memberikan gambaran mengenai perspektif industri perbankan di Indonesia dalam menghadapi risiko bisnis yang disebabkan oleh perubahan iklim, kebijakan Financial Services Authority (FSA) terkait manajemen risiko perbankan terhadap perubahan iklim, kesiapan FSA untuk mengadopsi kerangka manajemen risiko keuangan terkait perubahan iklim yang disusun oleh BCBS, pandangan Bank Sentral tentang integrasi risiko iklim dalam pengawasan makroprudensial, serta dampaknya terhadap stabilitas keuangan dan ketahanan ekonomi. Penelitian ini juga menyajikan rekomendasi kebijakan serta kesiapan perbankan Indonesia dalam menerapkan kerangka manajemen risiko yang efektif terkait perubahan iklim berdasarkan prinsip-prinsip yang ditetapkan oleh Komite Basel.

2025
👤 Penulis: Indah Puspitasari
🏷️ Perubahan Iklim 🏷️ Manajemen Risiko Keuangan 🏷️ Industri Perbankan Indonesia

PRINSIP PERANCANGAN 'FOOD SENSITIVE URBAN DESIGN' PADA COASTAL AREA INDONESIA (KASUS STUDI: PESISIR PANTAI KENJERAN, SURABAYA)

pembangunan perkotaan, terutama di negara berkembang seperti Indonesia, yang menghadapi ketidakstabilan pangan dan pertumbuhan penduduk pesat. Berbagai konsep ketahanan pangan, seperti Food Resilient, Food Security, dan Food Sensitive Planning and Urban Design (FSPUD), telah diterapkan di negara maju dan menawarkan solusi inovatif untuk perencanaan kota yang mendukung sistem pangan berkelanjutan. FSPUD, yang pertama kali dikembangkan di Australia, mengintegrasikan aspek ketahanan pangan dalam desain kota, dengan fokus pada pengelolaan sumber daya pangan, akses, dan interaksi sosial yang dapat memperkuat ketahanan pangan dan mengurangi dampak perubahan iklim. Namun, tantangan besar di Indonesia adalah dualisme tatanan kota, dengan kawasan perkotaan yang terbagi antara kawasan formal dan informal, yang berdampak pada infrastruktur dan akses pangan. Perubahan iklim, termasuk kenaikan permukaan laut yang mengancam wilayah pesisir, memperburuk kondisi ini, sehingga diperlukan penyesuaian standar FSPUD, khususnya di kawasan permukiman informal atau kampung kota yang terletak di wilayah pesisir, untuk meningkatkan ketahanan pangan secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan arahan kepada perancangan kampung kota wilayah pesisir di Indonesia dengan menerapkan prinsip Food Sensitive Urban Design demi meningkatkan ketahanan pangan Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian eksplanatori dan preskriptif yang bertujuan untuk menguji dan menjelaskan hubungan antara variabel yang diteliti serta memberikan saran terkait masalah yang muncul. Dengan pendekatan post-positivisme, yang merupakan penyempurnaan dari positivisme, penelitian ini menguji teori melalui observasi dan menghubungkannya dengan teori-teori sebelumnya. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik evaluasi, survei, wawancara, dan observasi, untuk mengumpulkan data subjektif dan menggambarkan kondisi wilayah studi. Pendekatan deduktif diterapkan untuk mengkaji masalah di lapangan berdasarkan teori yang ada. Dalam hasil temuan pada penelitian ini dapat dilihat bahwa terdapat empat kriteria utama dalam arahan konsep FSUD pada pesisir pantai Kenjeran, yaitu aksesibilitas, ruang terbuka, komunitas dan aktivitas, serta lingkungan dan sumber daya. Pada setiap kriterianya terdiri atas beberapa elemen dan prinsip yang menghasilkan integrasi konsep aquaculture dan agriculture pada setiap prinsip. Selain arahan, terdapat beberapa kebutuhan intervensi desain yang muncul seperti rekomendasi simulasi desain “green alley”, adaptasi bentuk bangunan, perencanaan program dan aktivitas oleh komunitas, inovasi konsep food sharing, inovasi rain garden serta pengembangan komunitas bank sampah. Contoh simulasi desain adalah arahan alternatif desain pada lorong/gang kampung kota yang terbagi atas lima tipe lorong, dimana tiap tipe alternatif memiliki kriteria/indikator tersendiri untuk dapat diaplikasikan pada kondisi eksisting. Kawasan Kenjeran di Surabaya adalah area pesisir yang ideal untuk wisata dan rekreasi, namun menghadapi tantangan seperti erosi, perubahan iklim, dan pencemaran yang mengancam biota laut dan kehidupan nelayan. Permukiman permanen membutuhkan pembangunan infrastruktur dan adaptasi bangunan, seperti rumah panggung untuk mengatasi banjir. Komunitas di wilayah studi ingin mempertahankan identitas budaya, namun banyak generasi muda beralih profesi akibat urbanisasi. Ekonomi Kenjeran tumbuh, terutama di sektor pariwisata dan UMKM, tetapi ada keluhan mengenai dampak negatif pembangunan terhadap lingkungan dan ekonomi lokal. Untuk mencapai integrasi pangan dengan sektor lain seperti pariwisata, infrastruktur, dan pelestarian lingkungan, diperlukan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Pendekatan urban farming dengan food sensitive urban design (FSUD) akan diterapkan untuk meningkatkan ketahanan pangan dan sosial-ekonomi, sekaligus mitigasi dampak perubahan iklim. Dengan fokus pada teknik pertanian ramah lingkungan, Kampung kota di Kenjeran diharapkan dapat berkembang secara berkelanjutan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi komunitas.

2024
👤 Penulis: Annisa Sukma Ningrati
🏷️ Desain Kota 🏷️ Ketahanan Pangan 🏷️ Perubahan Iklim
Halaman 1 dari 2
💬