📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5 dokumenANALISIS PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN BERDASARKAN NORMALIZED DIFFERENCE VEGETATION INDEX (NDVI) KOTA CIMAHI PERIODE 2015–2024
Tutupan lahan merupakan informasi penting dalam berbagai bidang, seperti pertanian, pertambangan, kehutanan, perencanaan wilayah, dan pengelolaan lingkungan. Tutupan lahan pada suatu wilayah dapat berubah seiring berjalannya waktu akibat proses alam maupun aktivitas manusia. Perkembangan wilayah perkotaan Kota Cimahi berpotensi menyebabkan perubahan kondisi lingkungan, terutama pada tutupan vegetasi. Perubahan yang berlangsung secara terus-menerus dapat berimplikasi pada berkurangnya ruang terbuka hijau, meningkatnya suhu permukaan, menurunnya kemampuan resapan air, dan meningkatnya potensi genangan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi kondisi tutupan lahan Kota Cimahi berdasarkan nilai NDVI pada periode 2015–2024; (2) menganalisis perubahan tutupan lahan Kota Cimahi pada periode 2015–2024; dan (3) mengkaji implikasi perubahan tersebut terhadap ruang terbuka hijau, suhu permukaan, daya resap air, serta potensi genangan atau banjir. Penelitian dilaksanakan pada seluruh wilayah administratif Kota Cimahi dengan luas wilayah analisis sekitar 42,497 km². Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif deskriptif, spasial, dan multitemporal melalui pengolahan citra Landsat 8 OLI/TIRS tahun 2015, 2018, 2021, dan 2024. Nilai NDVI dihitung menggunakan band 5 sebagai saluran inframerah dekat dan band 4 sebagai saluran merah. Nilai NDVI kemudian dikelompokkan menjadi lima kelas, yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Analisis dilakukan melalui penghitungan jumlah piksel, luas, persentase, dan perubahan antartahun. Google Earth hanya digunakan untuk pencocokan visual kondisi umum permukaan dengan peta NDVI, bukan sebagai metode validasi atau uji akurasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas vegetasi rendah mendominasi pada seluruh periode pengamatan. Persentase kelas rendah sebesar 60,25% pada tahun 2015, menurun menjadi 43,29% pada tahun 2018, kemudian meningkat menjadi 48,62% pada tahun 2021 dan sekitar 50,40% pada tahun 2024. Kelas tinggi mengalami peningkatan dari 5,18% pada tahun 2015 menjadi 14,99% pada tahun 2024. Kelas sangat tinggi meningkat tajam menjadi 20,10% pada tahun 2018, kemudian menurun menjadi 13,88% pada tahun 2021 dan 10,74% pada tahun 2024. Pola tersebut menunjukkan perubahan tutupan vegetasi yang fluktuatif. Dominasi kelas vegetasi rendah dan penurunan kelas sangat tinggi setelah tahun 2018 dapat mengindikasikan tekanan terhadap fungsi ekologis vegetasi, terutama apabila perubahan terjadi bersamaan dengan peningkatan kawasan terbangun. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi fungsi peneduhan, evapotranspirasi, intersepsi, dan infiltrasi. Pengelolaan tata ruang, perlindungan vegetasi yang masih rapat, serta penghijauan secara berkala diperlukan untuk menjaga kualitas lingkungan dan mendukung pembangunan Kota Cimahi yang berkelanjutan.
ANALISIS VARIABILITAS SPASIAL-TEMPORAL SIMPANAN AIR TANAH DI PULAU PAPUA BERBASIS DATA CITRA SATELIT
Penelitian ini bertujuan untuk memetakan pola variabilitas spasial dan temporal simpanan air tanah di Pulau Papua selama periode 2002 hingga 2024 serta menganalisis pengaruh faktor iklim yang meliputi curah hujan, El Niño Southern Oscillation, dan Indian Ocean Dipole serta perubahan tutupan lahan terhadap dinamika simpanan air tanah. Pulau Papua merupakan wilayah beriklim tropis lembap dengan kompleksitas fisiografi serta variabilitas hidrologi yang tinggi. Meskipun memiliki potensi sumber daya air yang besar, informasi kuantitatif dan berkelanjutan mengenai dinamika simpanan air tanah di wilayah ini masih terbatas sehingga menimbulkan kesenjangan pengetahuan dalam kajian hidrologi regional. Penelitian ini memanfaatkan data citra satelit Gravity Recovery and Climate Experiment dan Gravity Recovery and Climate Experiment Follow On untuk mengestimasi perubahan simpanan air total daratan. Data Global Land Data Assimilation System Noah Land Surface Model digunakan untuk mengestimasi komponen hidrologi permukaan berupa kelembapan tanah dan canopy water storage yang selanjutnya dikurangkan dari simpanan air total guna memperoleh estimasi simpanan air tanah. Analisis temporal dilakukan menggunakan uji tren Mann Kendall untuk mengidentifikasi kecenderungan jangka panjang. Analisis spasial dilakukan menggunakan metode Empirical Orthogonal Function untuk mengekstraksi pola dominan variabilitas simpanan air tanah. Hubungan antara simpanan air tanah dengan faktor iklim serta perubahan tutupan lahan dianalisis menggunakan korelasi Spearman rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode 2002 hingga 2024 simpanan air tanah di Pulau Papua secara umum mengalami tren peningkatan yang signifikan sebesar sekitar 0,32 mm per bulan, meskipun disertai fluktuasi antarwaktu yang cukup kuat. Fluktuasi paling menonjol terjadi pada periode 2013 hingga 2016 yang berkaitan erat dengan kejadian El Niño kuat pada tahun 2015 hingga 2016. Pada periode tersebut wilayah Papua mengalami penurunan simpanan air tanah yang signifikan dengan laju rata rata sebesar -0,59 mm per bulan yang sejalan dengan kondisi defisit curah hujan. Secara spasial variabilitas simpanan air tanah menunjukkan heterogenitas yang jelas. Wilayah utara dan barat Pulau Papua cenderung memperlihatkan peningkatan simpanan air tanah yang lebih stabil, sedangkan wilayah selatan khususnya Merauke menunjukkan penurunan yang konsisten. Pola musiman simpanan air tanah mengikuti karakteristik monsunal, dengan kondisi surplus pada akhir musim hujan dan defisit pada puncak musim kemarau, yang mencerminkan peran dominan curah hujan terhadap proses pengisian ulang akuifer. Analisis korelasi menunjukkan hubungan negatif yang signifikan antara curah hujan dan komponen utama pertama simpanan air tanah di Papua Selatan, yang mengindikasikan bahwa penurunan curah hujan diikuti oleh penurunan simpanan air tanah. Sebaliknya wilayah barat dan utara menunjukkan kecenderungan peningkatan simpanan air tanah meskipun curah hujan relatif rendah, yang mengindikasikan adanya efek hydraulic memory pada sistem akuifer. ENSO berpengaruh signifikan terhadap dinamika simpanan air tanah terutama di wilayah selatan, sedangkan pengaruh IOD relatif lebih lemah namun tetap berkontribusi terhadap variabilitas regional. Perubahan tutupan lahan juga berperan penting, di mana penurunan tutupan hutan di Papua Utara berkaitan dengan peningkatan simpanan air tanah, sementara intensifikasi pertanian di Papua Selatan berkontribusi terhadap penurunan simpanan air tanah akibat degradasi sifat hidraulik tanah. Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi informasi iklim dan perubahan tutupan lahan dalam mendukung pengelolaan sumber daya air tanah yang adaptif dan berkelanjutan di Pulau Papua.
ANALISIS VARIABILITAS SIMPANAN AIR TANAH DI PULAU JAWA BERDASARKAN DATA SATELIT GRACE: PENGARUH IKLIM DAN AKTIVITAS ANTROPOGENIK
Pulau Jawa merupakan wilayah dengan populasi tertinggi di Indonesia dan menghadapi tekanan besar terhadap sumber daya air tanah akibat pertumbuhan penduduk, ekspansi lahan terbangun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variabilitas spasial dan temporal simpanan air tanah di Pulau Jawa selama periode 2002–2024 serta mengevaluasi pengaruh faktor iklim dan antropogenik terhadap dinamika Groundwater Storage Anomaly (GWSA). Estimasi GWSA diperoleh melalui integrasi data satelit Gravity Recovery and Climate Experiment (GRACE) dengan data Global Land Data Assimilation System (GLDAS) untuk mengisolasi komponen air tanah dari total simpanan air daratan. Faktor iklim direpresentasikan oleh curah hujan, indeks El Niño–Southern Oscillation (ENSO), dan Indian Ocean Dipole (IOD), sedangkan faktor antropogenik direpresentasikan oleh perubahan tutupan lahan. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan statistik nonparametrik, uji tren Mann-Kendall, serta metode Empirical Orthogonal Function (EOF) untuk mengidentifikasi pola dominan variabilitas GWSA dan keterkaitannya dengan faktor pengontrol iklim dan antropogenik. Hasil analisis menunjukkan bahwa variabilitas GWSA di Pulau Jawa selama periode 2002–2024 bersifat heterogen secara spasial. Wilayah Jawa bagian barat dicirikan oleh nilai GWSA yang relatif rendah dengan fluktuasi yang lebih kecil, sedangkan wilayah Jawa bagian tengah dan timur menunjukkan nilai GWSA yang lebih tinggi dengan variabilitas antar-tahun yang lebih besar. Analisis tren jangka panjang menggunakan uji Mann-Kendall menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan simpanan air tanah pada skala regional dengan laju sekitar +3,12 mm/tahun. Namun, tren tersebut tidak bersifat linear dan dipengaruhi secara kuat oleh kejadian iklim ekstrem. Pada periode El Niño kuat tahun 2011–2016, terjadi penurunan GWSA sekitar -7,22 mm/tahun, yang menunjukkan sensitivitas sistem air tanah terhadap kondisi iklim kering. Analisis EOF menunjukkan bahwa variabilitas GWSA pada skala resolusi GRACE didominasi oleh satu mode utama (EOF-1) yang menjelaskan sekitar 67,14% dari total variabilitas GWSA. Komponen temporalnya (PC-1) menunjukkan korelasi signifikan dengan faktor hidroklimat, yaitu korelasi positif dengan Indian Ocean Dipole (IOD) (? = 0,30; p < 0,05) serta korelasi signifikan negatif dengan curah hujan (? = -0,12; p < 0,05), yang mencerminkan adanya respon tertunda (hydrological lag) sistem air tanah terhadap variabilitas curah hujan. Selain pengaruh iklim, PC-1 juga menunjukkan hubungan yang signifikan dengan faktor antropogenik yang direpresentasikan oleh perubahan tutupan lahan. Korelasi positif yang kuat dengan luas lahan terbangun (? = 0,69; p < 0,001) dan korelasi positif dengan luas tutupan hutan (? = 0,59; p < 0,01) mengindikasikan bahwa meskipun variabilitas utama GWSA dikendalikan oleh faktor hidroklimat regional, perubahan tutupan lahan berperan sebagai tekanan jangka panjang yang memodulasi penguatan atau pelemahan pola dominan simpanan air tanah pada skala Pulau Jawa.
ANALISIS PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN SELAMA 2019-2023 DAN PEMODELAN DISTRIBUSI SPASIAL SPESIES BAMBU DI KABUPATEN CIANJUR, JAWA BARAT
Perubahan tutupan lahan (Land Cover Changes/LCC) menunjukkan perubahan karakteristik yang terus-menerus seperti pada jenis vegetasi, sifat tanah, dan sebagainya. Kabupaten Cianjur yang memiliki karakteristik topografi wilayah pegunungan dan perbukitan dengan potensi pertanian dan perkebunan yang tidak terlepas dari adanya fenomena perubahan tutupan lahan tersebut. Kabupaten Cianjur pun memiliki potensi yang besar pada sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan dengan bambu sebagai salah satu hasil dari sektor kehutanan. Penelitian mengenai potensi bambu belum banyak dilakukan khususnya di Kabupaten Cianjur. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan tutupan lahan selama 2019 – 2023 dan memodelkan distribusi bambu di Kabupaten Cianjur. Klasifikasi tutupan lahan dilakukan dengan menggunakan Google Earth Engine melalui metode supervised classification dengan algoritma random forest model dengan membagi tutupan lahan menjadi lima kelas, yaitu air, pertanian, lahan terbangun, lahan terbuka, dan hutan. Pemodelan distribusi bambu dilakukan menggunakan Maxent (Maximum Entropy) dengan 100 titik kehadiran, dan variabel lingkungan berupa tutupan lahan, ketinggian (elevation), kemiringan (slope), sudut arah matahari (aspect), leaf area index (LAI), land surface temperature (LST), presipitasi, dan jarak dari sungai. Berdasarkan hasil penelitian, perubahan tutupan lahan di Kabupaten Cianjur mengalami peningkatan terbesar pada lahan pertanian seluas 8.339 ha dan penurunan terbesar pada tutupan lahan pohon dengan luas 6.013 ha. Melalui pemodelan pendugaan distribusi bambu, diperoleh luas potensi bambu di Kabupaten Cianjur sebesar 49.697 ha yang terdiri dari 7 spesies bambu.
IDENTIFIKASI PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN KAWASAN SEKITAR JALUR BRT (BUS RAPID TRANSIT) TMP (TRANS METRO PASUNDAN) KORIDOR 5
BRT dapat memicu adanya perubahan tutupan dan guna lahan akibat adanya konektivitas antar kawasan urban dan periphery. Kawasan periphery yang berkembang memiliki tutupan dan guna lahan yang beragam dan akan terus bersifat dinamis dengan meningkatnya urbansiasi. Kawasan di sekitar Bandung dipilih karena perkembangan fisik kotanya terbatas dan merupakan kawasan perkotaan terpadat ketiga di Indonesia dan terdapat jalur BRT. Penelitian mengenai perubahan tutupan dan guna lahan akibat adanya infrastruktur di Indonesia memang sudah marak, tapi penelitian mengenai perubahan akibat adanya BRT (Bus Rapid Transit) masih minim di Indonesia. Penelitian ini menggunakan GIS agar wilayah transisi kawasan pusat kota dan pinggirannya dapat teramati dengan baik. Metode Cellular Automata digunakan untuk memprediksi guna lahan kedepannya karena lebih sederhana, fleksibel, dan memiliki kapasitas untuk memasukan dimensi spasial dan temporal dari proses perubahan lahan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi perubahan guna lahan akibat dari adanya BRT di Kawasan Metropolitan Bandung sebagai mitigasi mismanagement perkotaan. Adanya BRT membuat pertumbuhan kawasan terbangun khususnya permukiman berkembang pesat di kawasan sekitar jalur BRT TMP Koridor 5. Pertumbuhan kawasan terbangun khususnya untuk permukiman terindikasi adanya perkembangan leapfrog dan ribbon di kawasan periphery. Selain itu, terdapat pertumbuhan kawasan industri juga di sekitar jalur BRT. Berkembangnya kawasan terbangun mengakibatkan menyusutnya kawasan hutan dan sawah. Di masa mendatang, kawasan terbangun semakin masif dan diperlukan kebijakan untuk mengatur konversi perubahan lahan hijau ke kawasan terbangun agar tidak menghasilkan dampak negatif.