📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 13 dokumen

PERANCANGAN RUANG TERBUKA HIJAU PUBLIK KOTA DENGAN PENDEKATAN PLACEMAKING DAN INKLUSIVITAS: STUDI KASUS DI TAMAN TEGALLEGA, KOTA BANDUNG

Pertumbuhan kota yang pesat sering kali mengakibatkan menurunnya kualitas interaksi sosial dan keseimbangan ekologis di kawasan perkotaan. Dalam konteks tersebut, ruang terbuka hijau publik (RTH publik) memiliki peran vital sebagai wadah rekreasi, interaksi sosial, serta penunjang fungsi ekologis kota. Kota Bandung, sebagai kota metropolitan dengan kepadatan tinggi, menghadapi tantangan dalam mempertahankan proporsi dan kualitas RTH yang dapat diakses secara adil oleh seluruh lapisan masyarakat. Salah satu ruang terbuka utama yang memiliki nilai sejarah, ekologis, sekaligus sosial adalah Taman Tegallega, yang saat ini menunjukkan gejala penurunan fungsi dan identitas akibat tekanan aktivitas urban, ketidakteraturan penggunaan ruang, dan kurangnya keterhubungan antar elemen ruang. Permasalahan tersebut mendorong perlunya perancangan ulang kawasan dengan pendekatan yang menempatkan manusia dan makna ruang sebagai pusat pengembangan, yaitu melalui konsep placemaking dan prinsip inklusivitas. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan arah perancangan lanskap Taman Tegallega Bandung sebagai ruang terbuka hijau publik yang aktif, inklusif, dan memiliki identitas tempat yang kuat. Pendekatan placemaking digunakan untuk menggali potensi ruang melalui dimensi pengalaman, aktivitas, dan makna sosial pengguna, sementara prinsip inklusivitas diterapkan untuk memastikan akses dan keterlibatan setara bagi seluruh kelompok masyarakat tanpa memandang usia, gender, atau latar sosial. Secara khusus, penelitian ini berupaya menjawab bagaimana prinsip placemaking dan inklusivitas dapat diterjemahkan ke dalam elemen fisik dan non-fisik lanskap taman kota, agar ruang publik dapat berfungsi optimal sebagai ruang hidup bersama (shared space). Metode yang digunakan mencakup tahapan site inventory, site analysis, dan conceptual design. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara informal dengan pengguna taman, serta telaah literatur mengenai teori placemaking, desain inklusif, dan kebijakan tata ruang kota. Aspek yang dianalisis meliputi kondisi fisik (topografi, sirkulasi, vegetasi), aspek sosial (pola aktivitas, persepsi pengguna, interaksi sosial), serta aspek kebijakan (RTRW dan RDTR Kota Bandung). Analisis dilakukan dengan pendekatan opportunities and constraints serta significance and suitability, untuk mengidentifikasi potensi dan masalah utama kawasan sebagai dasar perumusan konsep perancangan. Hasil analisis menunjukkan bahwa Taman Tegallega memiliki posisi strategis di pusat Kota Bandung, dengan potensi ekologis dan sejarah yang kuat, namun menghadapi degradasi fungsi ruang akibat aktivitas yang tidak terkelola dan kurangnya integrasi antar zona. Taman ini cenderung berfungsi sebagai ruang transit ketimbang ruang interaksi, dengan distribusi aktivitas yang tidak merata dan area kosong yang belum termanfaatkan optimal. Berdasarkan telaah tata ruang, kawasan ini termasuk dalam zona “Ruang Terbuka Non Hijau (Sarana Olahraga)” dalam RTRW Kota Bandung, yang mengizinkan aktivitas publik non-komersial namun tetap menekankan fungsi hijau dan sosial. Perancangan yang diusulkan menekankan tiga strategi utama, yaitu: (1) Rekontekstualisasi makna ruang publik melalui penerapan prinsip placemaking yang menghidupkan kembali identitas lokal dan memfasilitasi pengalaman ruang yang beragam; (2) Perancangan ruang yang inklusif dengan memastikan akses universal, keberagaman fasilitas, serta distribusi ruang yang adil bagi semua kelompok pengguna; dan (3) Penguatan sistem ekologis dan konektivitas kota melalui pengelolaan vegetasi adaptif, sirkulasi pedestrian dan sepeda yang terhubung, serta integrasi elemen biru-hijau. Pendekatan placemaking yang diterapkan tidak hanya berorientasi pada fisik ruang, tetapi juga menekankan keterlibatan pengguna dalam membentuk identitas dan makna taman. Dengan demikian, rancangan Taman Tegallega diarahkan menjadi ruang hidup yang terbuka, nyaman, dan inklusif serta membangun tempat masyarakat merasa memiliki dan berinteraksi secara setara. Kebaruan penelitian ini terletak pada penerapan simultan konsep placemaking dan inklusivitas dalam konteks perancangan ruang terbuka hijau publik kota yang padat, dengan menggabungkan dimensi sosial, ekologis, dan kebijakan tata ruang secara terpadu. Hasil penelitian ini berkontribusi terhadap pengembangan teori dan praktik perancangan lanskap perkotaan di Indonesia, terutama dalam mewujudkan ruang publik yang berkelanjutan, beridentitas, dan inklusif. Selain itu, hasilnya diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah, akademisi, dan praktisi dalam merumuskan kebijakan maupun rancangan ruang terbuka hijau publik di kawasan perkotaan lain dengan karakter sosial yang serupa.

2026
👤 Penulis: Helmy Annas Kharisma
🏷️ Ruang Terbuka Hijau Publik 🏷️ Placemaking 🏷️ Inklusi Sosial

PERANCANGAN ULANG TAMAN LANSIA PENGGILINGAN SEBAGAI RUANG TERBUKA PUBLIK DENGAN PENDEKATAN RAMAH LANSIA DAN PLACEMAKING

Peningkatan jumlah penduduk lanjut usia di kawasan perkotaan menuntut tersedianya ruang terbuka publik yang mampu mewadahi kegiatan, kebutuhan, dan sosiabilitas lansia. Taman Lansia Penggilingan di Kecamatan Cakung, Jakarta Timur merupakan ruang terbuka publik yang secara identitas ditujukan bagi lansia, namun kondisi fasilitas, aksesibilitas, dan pemanfaatan ruang menunjukkan bahwa fungsinya belum sepenuhnya terwujud. Penelitian ini bertujuan melakukan perancangan ulang Taman Lansia Penggilingan melalui pendekatan ramah lansia dan placemaking untuk menghasilkan kawasan yang mendukung keamanan dan kenyamanan, aksesibilitas, serta aktivitas dan sosiailitas. Analisis dilakukan melalui pendekatan kualitatif berbasis studi kasus dengan studi literatur, studi preseden, observasi lapangan, wawancara, dan kuesioner. Didapatkan hasil, perancangan taman ramah lansia berbasis placemaking perlu memperhatikan empat kriteria utama, yaitu keamanan dan kenyamanan lingkungan, dukungan aksesibilitas dan orientasi ruang, fungsi dan aktivitas, serta sosiabilitas, yang kemudian diterjemahkan ke dalam prinsip normatif perancangan. Identifikasi kondisi eksisting mengindikasikan kawasan mempunyai potensi lokasi strategis dan kemudahan akses. Namun, masih dijumpai persoalan berupa fasilitas yang kurang terawat, aksesibilitas dan sirkulasi yang belum ramah lansia, keterbatasan fasilitas pendukung aktivitas lansia, serta belum optimalnya pemanfaatan taman oleh lansia sebagai pengguna utama. Berdasarkan temuan tersebut, disusun rancangan ulang yang mengintegrasikan zona aktif dan zona pasif, sistem sirkulasi yang lebih aman dan mudah diakses, serta berbagai fasilitas pendukung bagi lansia dan pengguna lainnya. Kebaruan penelitian ini terletak pada sintesis prinsip normatif yang mengintegrasikan pendekatan ramah lansia dan placemaking sebagai dasar perancangan ulang taman. Secara akademik, penelitian ini memperkaya kajian perancangan ruang terbuka publik melalui integrasi kedua pendekatan tersebut, sedangkan secara praktis hasilnya dapat menjadi referensi dalam pengembangan ruang publik ramah lansia yang mendukung aktivitas, interaksi sosial, dan sosiabilitas pengguna.

2026
👤 Penulis: Raysha Aurel Rizqyka
🏷️ Taman Lansia 🏷️ Placemaking 🏷️ Manajemen Ruang Terbuka Publik

PERANCANGAN ULANG KAWASAN RUANG TERBUKA PUBLIK TAMAN LANSIA BANDUNG DENGAN PENDEKATAN PLACEMAKING DAN RAMAH LANSIA

Indonesia dan Kota Bandung tengah menghadapi peningkatan persentase populasi lansia yang signifikan. Di sisi lain, ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Bandung baru mencapai 12,88%, jauh di bawah ambang batas 30%. Meski telah berstatus Kota Ramah Lansia, Bandung belum memiliki panduan perancangan teknis. Taman Lansia Bandung, sebagai RTH situs cagar budaya, memiliki tingkat ketercapaian prinsip ramah lansia yang masih rendah, yakni 42,63%. Penelitian kualitatif ini bertujuan merancang ulang Taman Lansia melalui pendekatan placemaking dan desain ramah lansia. Menggunakan Fragmental Method dengan teknik optimizing, pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, kuesioner kepada 87 responden, wawancara mendalam dengan empat instansi, dan studi dokumen. Analisis tapak memadukan aspek White (1983) dan elemen Shirvani (1985), disertai analisis persepsi pengunjung serta potensi dan persoalan kawasan. Sintesis literatur merumuskan empat kriteria perancangan: keamanan dan kenyamanan, aksesibilitas dan keterbacaan, fungsi dan aktivitas, serta sosiabilitas. Analisis kawasan mengidentifikasi 8 potensi dan 14 persoalan yang didominasi oleh isu keamanan dan aksesibilitas. Rancangan ini mengusung visi "Evergreen and ALIVE" yang diwujudkan ke dalam empat zona aktivitas dan jalur sirkulasi universal. Hasil akhir perancangan mematuhi aturan RTH Sub Zona Rimba Kota dengan proporsi koefisien dasar hijau mencapai 80,18%. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi placemaking dan konsep ramah lansia ke dalam satu kerangka perancangan ulang taman publik cagar budaya. Hasil penelitian berkontribusi menyediakan kriteria ruang publik inklusif bagi lansia, serta menjadi model fisik penerapan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2021 yang dapat diadaptasi oleh kota lain.

2026
👤 Penulis: Fanny Sonia Manurung
🏷️ Desain Ruang Publik 🏷️ Placemaking 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Lingkungan

EVALUASI PEMANFAATAN RUANG PUBLIK ALUN-ALUN CIAMIS PASCA REVITALISASI BERDASARKAN PERSEPSI PENGUNJUNG DENGAN KONSEP PLACEMAKING

Revitalisasi Alun-Alun Ciamis bertujuan untuk menambah RTH dan RTP, relokasi PKL, penataan parkir, dan penambahan fasilitas lain agar ruang lebih inklusif. Di tahun 2023, Pemerintah Kabupaten Ciamis melakukan revitalisasi di bawah naungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menggabungkan Alun-Alun Ciamis Wetan dan Alun-Alun Ciamis Kulon serta menambah sarana prasarana. Tahun 2024, pemerintah kembali merevitalisasi dengan menyediakan gedung parkir dan kuliner agar ruang publik bertambah dan tetap memenuhi kebutuhan fasilitas pengunjung. Meskipun sudah lengkap dan menarik secara visual, penambahan fasilitas baru memengaruhi kualitas dan pola aktivitas pemanfaatan ruang. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi Alun-Alun Ciamis pasca revitalisasi berdasarkan persepsi pengunjung dengan konsep placemaking, teknik pengumpulan data melalui penyebaran kuesioner, observasi, wawancara, dan studi literatur, serta metode analisis data berupa analisis konten, deskriptif kuantitatif, dan deskriptif kualitatif. Penelitian membandingkan kondisi sebelum dan setelah revitalisasi ditinjau dari fasilitas dan pemanfaatan ruang, dengan kesimpulan menunjukkan bahwa pasca revitalisasi berdasarkan persepsi, Alun-Alun Ciamis terdapat peningkatan dibanding sebelum revitalisasi dan sudah sesuai dengan keempat komponen placemaking. Meskipun masih perlu adanya perbaikan dalam aksesibilitas, keterhubungan, kebersihan, dan kenyamanan. Rekomendasi mencakup aksesibilitas, keterhubungan, kebersihan, dan kenyamanan yang harus ditingkatkan agar ruang tercipta lebih inklusif.

2026
👤 Penulis: Dwi Allysa Jingga
🏷️ Placemaking 🏷️ Revitalisasi Ruang Publik 🏷️ Analisis Data Kualitatif

PRINSIP PERANCANGAN RUANG TERBUKA PUBLIK DI BAWAH JALAN LAYANG CIROYOM DENGAN PENDEKATAN LOST SPACE DAN PLACEMAKING

Lost space menjadi salah satu permasalahan perkotaan yang timbul akibat tidak matangnya perencanaan struktur kota sehingga menyebabkan ruang tersebut menjadi terbengkalai dan tidak jelas kepemilikannya. Keberadaan lost space salah satunya dapat ditemukan di bawah jalan layang. Pembangunan jalan layang seringkali tidak disertai dengan perencanaan yang terstruktur terhadap ruang di bawahnya sehingga hanya menjadi residu dari pembangunan jalan layang tersebut. Hal ini juga terjadi pada pembangunan Jalan Layang Ciroyom. Ruang di bawah jalan layang Ciroyom saat ini menjadi lost space yang masih belum jelas pemanfaatannya. Akibat dari ketidakjelasan pemanfaatan ini, dikarenakan lokasinya dekat dengan pasar dan permukiman warga, menjadikan lost space ini digunakan sebagai tempat pembuangan sampah, baik dari pasar, pedagang kaki lima, maupun perumahan warga. Oleh karena itu, sebagai upaya dalam mengaktifkan kembali lost space tersebut menjadi ruang terbuka publik, diperlukan adanya prinsip perancangan dengan pendekatan placemaking. Placemaking merupakan sebuah proses untuk menciptakan tempat-tempat yang berkualitas sehingga memiliki sense of place yang kuat yang dapat mempererat hubungan antara manusia dengan tempat yang dikunjunginya. Maka dari itu, tujuan dari penelitian ini, yaitu merumuskan prinsip perancangan yang sesuai untuk ruang terbuka publik di bawah Jalan Layang Ciroyom dengan pendekatan lost space dan placemaking. Dalam perumusan kriteria dan prinsip ini, dilakukan terlebih dahulu kriteria dan prinsip perancangan normatif berdasarkan tinjauan literatur. Berdasarkan hasil tinjauan literatur didapatkan 9 kriteria normatif, yaitu aksesibilitas, kenyamanan, keamanan, penghijauan, identitas, aktivitas, adaptif, inklusivitas, dan interaksi sosial. Kriteria normatif dan prinsip di dalamnya, digunakan sebagai acuan dalam analisis deskriptif dan analisis gap untuk mengidentifikasi potensi, persoalan, dan kebutuhan perancangan dan merumuskan prinsip perancangan yang sesuai dengan karakteristik ruang di bawah Jalan Layang Ciroyom. Keseluruhan analisis ini menghasilkan prinsip perancangan ruang terbuka publik di bawah Jalan Layang Ciroyom dengan pendekatan lost space dan placemaking

2025
👤 Penulis: Lestari Addieni Nisa Utami
🏷️ Ruang Terbuka Publik 🏷️ Lost Space 🏷️ Placemaking

LIBRARY AS A PLACE AND COMMUNITY HUB: INTEGRATING LEARNING AND COMMUNITY ACTIVITIES THROUGH PLACEMAKING

Kecerdasan Intelektual adalah kemampuan seseorang dalam berpikir secara rasional, memahami ide-ide kompleks, menerapkan kreativitas, dan beradaptasi dengan lingkungan. Kecerdasan intelektual ini bukan hanya kemampuan dalam membaca buku dan mengerjakan kegiatan akademis, melainkan mencakup bagaimana seseorang memahami, memproses, dan menghadapi lingkungan. Kecerdasan ini berperan penting dalam kehidupan seseorang bukan hanya saat situasi belajar, melainkan saat masuk ke dunia profesional yang membutuhkan keunggulan kompetitif seseorang. Faktor-faktor yang memengaruhi kecerdasan dibagi menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang memengaruhi kecerdasan intelektual seseorang, yaitu genetik, perkembangan otak, kesehatan, dan keadaan emosional serta sosial. Sedangkan faktor eksternal yang memiliki pengaruh yang cukup besar yaitu lingkungan, kualitas pendidikan, dan pola aktivitas. Rata-rata tingkat kecerdasan intelektual (IQ) masyarakat Indonesia masih dikategori sangat rendah. Hal ini tentunya memengaruhi kualitas masyarkat Indonesia yang belum baik. Salah satu hal yang bisa meningkatkan kecerdasan intelektual seseorang ialah membaca. Dengan membaca, seseorang melatih otaknya untuk fokus dan memahami suatu bacaan. Selain itu, membaca juga memberikan manfaat bagi perkembangan kognitif, emosional, dan sosial seseorang. Dalam proses membaca, individu menggunakan kemampuan literasi. Literasi merupakan kecakapan individu untuk membaca, menulis, dan mengolah informasi. Literasi merupakan salah satu hal utama yang memengaruhi kecerdasan individu. Dengan meningkatkan literasi, seseorang dapat memiliki kemampuan kognitif yang baik yang bisa membantu meningkatkan kualitas hidup seseorang. Fenomena rendahnya literasi pada masyarakat Indonesia menjadi masalah yang perlu diperhatikan. Rendahnya literasi di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya minimnya akses ke sumber bacaan, tidak adanya budaya membaca, kurangnya kecakapan membaca, dan minimnya alternatif bahan bacaan. Selain faktor-faktor tersebut, stigma masyarakat terhadap perpustakaan juga memengaruhi minat membaca. Masyarakat Indonesia menganggap bahwa perpustakaan merupakan tempat yang membosankan. Ruang-ruang di dalam perpustakaan seringkali dianggap kaku, monoton, dan sangat tidak menarik. Suasana yang konstan ini menimbulkan rasa jenuh yang mengakibatkan masyarakat Indonesia malas membaca. Oleh karena itu, sebagai upaya meningkatkan literasi, kontribusi arsitektur adalah menghadirkan proyek dengan visi merancang perpustakaan sebagai pusat edukasi dan kolaborasi yang mendorong masyarakat untuk belajar, berbagi pengetahuan, dan mengembangkan potensi diri secara berkelanjutan. Proyek ini diharapkan dapat menjadi sarana edukasi nonformal yang membantu meningkatkan literasi di kalangan masyarakat umum dengan kategori semua usia baik dari balita hingga lansia. Selain tempat membaca, perpustakaan ini memiliki fungsi penunjang kegiatan, seperti ruang publik yang dirancang untuk mewadahi kegiatan komunitas-komunitas yang ada. Proyek terdiri atas fungsi utama perpustakaan sebagai pusat edukasi dengan fasilitas meliputi ruang baca, ruang sesuai kategori usia, ruang kelas, co-working space, dan galeri seni. Selain itu, terdapat ruang publik yang berfungsi untuk mewadahi interaksi sosial dan kegiatan masyarakat, meliputi amphitheater, taman bermain, dan area rekreasi. Proyek ini terletak di Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Proyek ini dibangun oleh pengembang Kota Baru Parahyangan, dengan kesepakatan bangunan akan dikelola dan dimiliki oleh pemerintah setelah dibangun. Lokasi tapak berada di Jalan Gelap Nyawang, Kecamatan Padalarang. Pemilihan lokasi tapak didasari oleh lokasinya yang dekat dengan fasilitas pendidikan lain yang berpotensi mengundang civitas akademik untuk datang. Selain itu, terdapat 2 klaster perumahan di dekat tapak, yang menjadi potensi masyarakat penghuni klaster untuk datang ke rancangan ini. Melalui analisis isu, pengguna, tapak, dan konteks proyek, diperoleh rumusan persoalan yaitu strategi meningkatkan minat masyarakat ke perpustakaan melalui konsep placemaking, penciptaan lingkungan belajar yang produktif dan kolaboratif, serta pengadaan lingkungan positif untuk mendorong interaksi sosial. Persoalan-persoalan tersebut berlandaskan pada Teori Placemaking, Teori Biophilic Design, Environmental Preference Theory, dan Teori Transprogramming Architecture. Seluruh teori tersebut kemudian digabungkan untuk menjadi dasar dalam perancangan dengan tujuan menjawab persoalan-persoalan perancangan, yang diikuti dengan perumusan konsep-konsep desain.

2025
👤 Penulis: Elvina Angelica Melson
🏷️ Placemaking 🏷️ Kecerdasan Intelektual 🏷️ Perpustakaan

PERANCANGAN ULANG KAWASAN DI BAWAH JEMBATAN PASUPATI SEBAGAI RUANG TERBUKA PUBLIK DENGAN PENDEKATAN PLACEMAKING

Ruang terbuka publik memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat perkotaan. Keberadaan ruang publik dapat menjadi wadah interaksi sosial, aktivitas komunitas, serta sarana rekreasi bagi masyarakat. Kawasan di bawah Jembatan Pasupati di Kota Bandung merupakan ruang kota dengan lokasi yang strategis dan potensi pemanfaatan tinggi, namun belum dioptimalkan sebagai ruang terbuka publik yang berkualitas. Meskipun telah dilakukan berbagai inisiatif penataan sejak tahun 2013, kawasan ini masih menghadapi berbagai persoalan, seperti keterputusan konektivitas antar segmen, pemanfaatan ruang yang tidak teratur, serta minimnya fasilitas pendukung yang terintegrasi. Penelitian ini bertujuan untuk merancang ulang kawasan tersebut dengan pendekatan placemaking untuk menciptakan ruang terbuka publik yang memiliki makna dan identitas kuat serta dicintai oleh penggunanya. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian memiliki sasaran mengidentifikasi prinsip perancangan normatif placemaking, mengidentifikasi potensi dan permasalahan kawasan, serta merancang ulang kawasan studi sebagai ruang terbuka publik dengan pendekatan placemaking. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan sifat deskriptif dan pendekatan normatif, dengan metode pengumpulan data melalui observasi lapangan dan studi literatur. Temuan utama menunjukkan bahwa kawasan memiliki potensi berupa keberadaan fasilitas yang beragam, lokasi yang strategis dan mudah diakses, serta kondisi alami yang teduh. Namun, terdapat pula permasalahan seperti dominasi elemen non-hijau, jalur pedestrian yang tidak konsisten, fasilitas umum yang tidak terpelihara, serta aktivitas informal yang tidak tertata. Berdasarkan temuan tersebut, dirumuskan konsep perancangan yang mengembangkan zonasi fungsional, meningkatkan konektivitas, menyediakan ruang sosial, merelokasi fasilitas yang mengganggu kenyamanan, serta menerapkan desain visual yang ramah. Hasil rancangan diharapkan dapat mewujudkan ruang terbuka publik yang bersahabat, aktif, dan berkesinambungan.

2025
👤 Penulis: Aqila Syahira Riadi
🏷️ Desain Ruang Publik 🏷️ Placemaking 🏷️ Manajemen Kawasan Kota

PERANCANGAN FASILITAS PUBLIK MELALUI PENDEKATAN PLACEMAKING YANG RESILIEN PADA PULAU KELAPA DAN PULAU HARAPAN DI KEPULAUAN SERIBU

Kepulauan Seribu, terutama Pulau Kelapa dan Pulau Harapan, menghadapi tantangan kompleks akibat keterbatasan fasilitas publik, tekanan pertumbuhan populasi, serta dampak kenaikan permukaan air laut. Kedua pulau ini, yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi di wilayah Kepulauan Seribu Utara, menunjukkan rasio fasilitas publik eksisting yang sangat rendah, yaitu sebesar 3,11 m² per orang di Pulau Kelapa dan 4,16 m² per orang di Pulau Harapan, jauh di bawah standar nasional 10–12 m² per orang (Permen PU No.5 /PRT/M/2008). Dengan pertumbuhan penduduk setinggi 2,75% di Pulau Kelapa dan 4.13% di Pulau Harapan dalam lima tahun terakhir, serta proyeksi berdasarkan data National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menyebutkan bahwa kenaikan air laut hingga 70 cm pada lima tahun mendatang (2030) akan semakin menurunkan rasio tersebut, diperkirakan mencapai 0,31 m² per orang di Pulau Kelapa dan 0,54 m² per orang di Pulau Harapan. Kondisi ini menuntut solusi desain yang adaptif terhadap perubahan lingkungan dan mampu mengakomodasi kebutuhan unik masyarakat pesisir melalui penerapan konsep placemaking berbasis resiliensi. Melalui observasi lapangan, wawancara tidak terstruktur, studi pustaka, dan analisis preseden, penelitian ini mengusung 12 kriteria perancangan yang berorientasi pada keberlanjutan sosial, ekonomi, dan lingkungan, diantaranya seperti Variety of Uses, Adaptive Futures, community-driven spaces, dan ecological enhancement. Analisis tapak menunjukkan bahwa sisi timur Pulau Kelapa menjadi lokasi strategis karena berfungsi sebagai pusat aktivitas komunitas kedua pulau sekaligus merupakan area yang paling rentan terhadap kenaikan permukaan air laut. Keunikan pendekatan placemaking yang diterapkan terletak pada relevansinya yang mendalam terhadap konteks pesisir, dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat sejak tahap awal guna membangun rasa kepemilikan (sense of ownership) dan keterikatan emosional (sense of place) terhadap fasilitas publik. Pendekatan ini tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar terhadap fasilitas publik, tetapi juga memperkuat kapasitas komunitas dalam mengelola dan memanfaatkan fasilitas secara mandiri dan berkelanjutan. Integrasi elemen ekologis seperti mangrove serta penerapan strategi adaptive living shorelines dan artificial reefs semakin memperkuat sistem ketahanan lingkungan, menciptakan ruang adaptif yang harmonis antara masyarakat dan ekosistem pesisir, serta memastikan keberlanjutan jangka panjang. Hasil perancangan menunjukkan bahwa penerapan strategi placemaking berbasis resiliensi tidak hanya meningkatkan kapasitas fasilitas publik, tetapi juga mengoptimalkan efisiensi penggunaan lahan. Perancangan ini mampu mengefisiensikan luas bangunan terbangun sebesar 53%, meningkatkan area terbuka hingga 29%, dan menghasilkan total efisiensi lahan sebesar 22%. Dengan dominasi ruang terbuka dan semi terbuka sebesar 86%, menciptakan fleksibilitas tinggi dalam mengakomodasi dinamika komunitas dan adaptasi terhadap tantangan lingkungan. Peningkatan rasio fasilitas publik dari 1:0,31 m² menjadi 1:1,72 m² per orang merupakan capaian signifikan yang menyediakan ruang yang lebih layak untuk mendukung aktivitas sosial dan produktif masyarakat. Lebih dari sekadar ruang fisik, fasilitas publik dirancang sebagai wadah pemberdayaan komunitas melalui integrasi program kegiatan seperti budidaya ikan keramba dan agrikultur, yang berperan sebagai katalis ekonomi lokal serta memperkuat ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir. Tesis ini memberikan kontribusi penting terhadap pengembangan teori dan praktik placemaking yang resilien, dengan menggabungkan solusi adaptif berbasis komunitas dan strategi keberlanjutan sosial-ekonomi. Model desain yang dihasilkan tidak hanya menjadi jawaban atas tantangan lokal di Pulau Kelapa dan Pulau Harapan, tetapi juga menawarkan pendekatan inovatif yang dapat menjadi acuan global bagi pengembangan fasilitas publik di kawasan pesisir lain yang menghadapi tekanan serupa.

2025
👤 Penulis: Chandra Rio Maulana Akbar
🏷️ Desain Publik 🏷️ Resiliensi Lingkungan 🏷️ Placemaking

REDESAIN FASILITAS PEDAGANG KAKI LIMA DENGAN PENDEKATAN PLACEMAKING (STUDI KASUS: KAWASANGELAP NYAWANG, KOTA BANDUNG)

Penelitian ini membahas perancangan desain untuk fasilitas pedagang kaki lima di daerah Gelap Nyawang, Kota Bandung, dengan fokus pada integrasi aspek partisipasi Masyarakat yang meliputi Pedagang Kaki Lima, Penduduk sekitar dan Konsumen dan kesesuaiannya terhadap peraturan Pemerintah Kota terkait Penataan dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima, dengan menerapkan teori Placemaking dan metode partisipasi dari setiap pemilik kepentingan di dalam prosesnya. Pedagang Kaki Lima memiliki peran penting dalam ekonomi lokal, dengan menyediakan akses ke berbagai jenis barang dan jasa di Kawasan Gelap Nyawang, Kota Bandung, mulai dari kuliner hingga pakaian dan peralatan, serta menciptakan pusat pusat aktivitas sosial yang berharga. Meskipun demikian, Pedagang kaki lima dalam kegiatannya sehari-hari seringkali bergerak secara individual dan tidak mematuhi peraturan terutama terkait perizinan, lokasi, dan tata letak yang tidak tertata yang tidak sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh Pemerintah dalam menciptakan lingkungan tata letak kota yang baik dan berkelanjutan. Penelitian ini mencakup analisis dampak pedagang kaki lima yang beragam dalam jenis usahanya, terhadap lingkungan fisik dan sosial di daerah area Jl. Gelap Nyawang, merujuk pada metode yang memandang lingkungan publik sebagai ruang yang dibentuk oleh dan untuk masyarakat. Selain itu, tesis ini mempertimbangkan berbagai faktor lainnya yang menjadi perhatian, seperti dari Pemerintah Kota terkait aspek perizinan, tata letak, dan regulasi yang memengaruhi pedagang kaki lima yang beroperasi dalam berbagai sektor ekonomi, pengaruhnya terhadap penduduk sekitar, dan dampak yang diberikan terhadap target konsumen dari para Pedagang Kaki Lima. Melalui metode perancangan yang melibatkan setiap pemangku kepentingan, pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan solusi yang memadukan kepentingan Pedagang Kaki Lima, kebutuhan dari para Konsumen dan Penduduk disekitar kawasan serta visi Placemaking dalam menciptakan ruang publik yang baik, yang kemudian diselaraskan dengan kebijakan Pemerintah Kota yang sudah berlaku di kawasan Gelap Nyawang. Adapun parameter Placemaking yang digunakan meliputi beberapa variable diantara Sociability (Infrastruktur), Access & Linkages (Aksesibilitas), Comfort & Images (Tata Ruang), Uses & Activities (Aktivitas). Yang kemudian digunakan sebagai acuan dalam mencari ketidaksesuaian antara temuan dan harapan dari masing-masing pihak di Kawasan Gelap Nyawang, Kota Bandung, yang kemudian dapat dijabarkan dan kemudian diolah dalam menciptakan ruang public yang baik dan inklusif skedepannya. Hasil akhirnya diharapkan dapat memberikan panduan praktis bagi perancang, pengambil kebijakan, dan masyarakat dalam meningkatkan kualitas lingkungan di Kawasan Gelap Nyawang, serta mengatasi masalah yang menjadi perhatian pemerintah kota, sehingga dapat mewujudkan harmoni antara kepentingan ekonomi, tata kota, dan konsep Placemaking dalam membangun lingkungan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berdaya tarik.

2024
👤 Penulis: Ayyas Hubusyahid
🏷️ Desain Fasilitas Pedagang Kaki Lima 🏷️ Placemaking 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PERANCANGAN FASILITAS BUDAYA KREATIF KERAJINAN PERAK DI KOTAGEDE YOGYAKARTA DENGAN PENDEKATAN PLACEMAKING (KOTAGEDE COMMUNITY CREATIVE CENTER)

Yogyakarta dengan fungsi utama kawasan sebagai kawasan pariwisata kerajinan, religi, dan arsitektur dapat menjadi ladang pemasukan bagi daerah dan juga warga sekitar. Sektor Kerajinan perak/logam Kotagede telah berperan sebagai sentral industry kreatif di Indonesia. Kotagede juga memiliki value historical yang kuat dimana mayoritasnya pada dulunya adalah para pengrajin perak. Ini sudah menjadi local dan turun temurun menjadikan identitas Kotagede sehingga dengan potensi ini Kotagede terpilih menjadi lokasi perancangan. Kesadaran terhadap potensi industry dan komunitas kreatif Kotagede perlu dikembangkan yangmana akan merubah individual menjadi kelompok kelompok di dalam wilayah kota yang dinamis dan kreatif, Creative City tidak terlepas dari komunitas-komunitas local yang kreatif. Sehingga pendekatan melalui menyediakan creative center yang mewadahi potensi potensi Kotagede ini untuk membentuk creative city Kotagede yang tetap berdasar pada keluhuran budayanya. Placemaking digunakan sebagai strategi perencanaan Kotagede Community Creative center untuk. Dalam hal ini wisatawan sebagai target placemaker dan komunitas pengrajin perak sebagai katalis. Konsep Placemaking ditinjau sebagai pendekatan utama dalam menguatkan karakter tempat (sense of place) dan citra (image) kawasan pada pusat kawasan bersejarah Kotagede.

2024
👤 Penulis: Habibah A. Larasati Mergwar
🏷️ Kotagede 🏷️ Creative City 🏷️ Placemaking

REVITALISASI BANGUNAN PASAR TUNJUNGAN DAN KANTOR BPN SEBAGAI MIXED-USE DEVELOPMENT DENGAN PENDEKATAN PLACEMAKING

Tunjungan, pusat bisnis bersejarah di Surabaya, telah mengalami penurunan fungsi akibat perencanaan yang tidak terarah, mengakibatkan munculnya "lost space" seperti pada Pasar Tunjungan dan Gedung BPN. Inisiatif komunitas setempat berupaya menghidupkan kembali kawasan ini melalui kegiatan perdagangan, seni, dan pameran. Revitalisasi ini bertujuan menjadikannya pusat area komersial yang aktif dan tetap mempertahankan nilai kesejarahan yang ada pada kawasan. Dalam perancangan, pendekatan placemaking, dapat menciptakan ruang yang sesuai dengan kebutuhan komunitas, memperkuat identitas lokasi sesuai dengan nilai historis, serta menyediakan fleksibilitas ruang untuk berbagai kegiatan, yang pada akhirnya menciptakan ikatan emosional antara individu dan lingkungannya. Serta penerapan strategi adaptive reuse sebagai usaha penggunaan ulang struktur yang sudah ada dengan fungsi lain, sambil mempertahankan nilai – nilai sejarahnya. Tesis ini bertujuan mengoptimalkan fungsi kedua bangunan tersebut berdasarkan potensi pengguna dan nilai sejarah di kawasan Tunjungan, sehingga kawasan ini menjadi lebih aktif dan terintegrasi dengan lingkungan sekitarnya. Selain itu, upaya ini juga bertujuan memulihkan dan menjaga citra historis Tunjungan, bukan hanya sebagai bentuk konservasi, tetapi juga untuk meningkatkan daya tarik wisata serta mendukung perekonomian lokal melalui desain yang tetap memperhatikan nilai-nilai historis kawasan. Proses ini diawali dengan identifikasi kondisi, potensi kawasan, dan dinamika masyarakat, yang kemudian dianalisis guna merumuskan strategi pengembangan tapak yang tepat. Dengan pendekatan yang memadukan pendekatan placemaking dan adaptive reuse didapatkan suatu kriteria yang dapat dijadikan acuan dalam pengembangan pada kawasan yang memiliki potensi komunitas lokal dan memiliki nilai sejarah dan mengintegrasikan kedua potensi tersebut mendorong aktivasi “lost space” menjadi tepat sasaran pada konteks kawasan. Sehingga tesis ini berkontribusi dalam memberikan strategi perancangan fasilitas yang meningkatkan nilai kawasan sesuai potensi komunitas, terutama di kawasan bernilai historis tinggi, sebagai usulan bagi pemerintah kota Surabaya dalam pengembangan sesuai RPJMD 2021-2026, serta sebagai referensi bagi arsitek dalam merancang fasilitas dengan konteks serupa.

2024
👤 Penulis: Danial Rafi Irfan Hadi
🏷️ Revitalisasi Bangunan 🏷️ Placemaking 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Lokal

PENGARUH AFFORDANCES DAN BEHAVIORAL SETTINGS DALAM PEMBENTUKAN AKTIVITAS DAN PLACEMAKING PADA RUANG PUBLIK(STUDI KASUS: BANGUNAN CAGAR BUDAYA DI KAWASAN PARIWISATA BRAGA DAN ALUN-ALUN, KOTA BANDUNG)

Studi ini mengeksplorasi bagaimana sebuah bank pada bangunan cagar budaya (BCB) yang digunakan kembali sebagai bank dapat menimbulkan keragaman jenis aktivitas ruang publik melalui placemaking. Placemaking bertujuan meningkatkan hubungan antara pengguna dan ruang publik, dengan empat indikator utama: access and linkages, sociability, uses and activities, serta comfort and images (PPS, 2024). Penelitian ini dilakukan dengan metodologi kualitatif melalui observasi menggunakan pendekatan studi kasus dan dianalisis secara deskriptif pada lima bangunan cagar budaya di kawasan pariwisata Braga dan Alun-Alun, Kota Bandung. Penelitian ini menemukan bahwa affordances menunjukkan desain ruang mendukung aktivitas tertentu, tetapi pengguna dapat memanfaatkannya secara subjektif. Aktivitas dipengaruhi oleh letak, jarak dari bangunan, waktu, dan cuaca. Faktor internal seperti desain dan faktor eksternal seperti behavioral settings serta konsep image of the city dari Kevin Lynch juga memengaruhi variasi aktivitas. Dalam pembentukan ruang publik, objek penelitian ini ditemukan dimana proses placemaking terjadi secara topdown melalui pengelolaan bangunan dan penyediaan fasilitas publik, serta secara bottom-up melalui keragaman aktivitas pengguna yang memanfaatkan elemen ruang sesuai subjektivitas mereka. Temuan ini diharapkan dapat berkontribusi dalam pengembangan ruang publik pada bangunan cagar budaya lainnya di masa depan.

2024
👤 Penulis: Sulthan Isa Ahmad
🏷️ Placemaking 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Ruang Publik

IDENTIFIKASI PENGEMBANGAN OBJEK WISATA TAMAN EKOWISATA CIMENTENG (EWIC) BERDASARKAN KOMPONEN 4A SERTA PENDEKATAN PLACEMAKING DAN EKOWISATA

Pemerintah Kota Cimahi menggagas "Ekowisata Budaya Cimenteng Kota Cimahi" di Taman Ekowisata Cimenteng (EWIC) dengan fokus pada edukasi perkebunan, peternakan, budaya, dan lingkungan alam. EWIC, yang dibuka pada tahun 2022, belum optimal dalam menyediakan kegiatan ekowisata. Pendekatan placemaking dan ekowisata, yang menekankan partisipasi masyarakat dan pembangunan berkelanjutan, diintegrasikan dengan komponen 4A dapat menjadi solusi untuk mengidentifikasi nilai-nilai yang diperlukan dan merumuskan rekomendasi pengembangan ekowisata yang lebih efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengembangan objek wisata Taman Ekowisata Cimenteng (EWIC) berdasarkan komponen 4A serta pendekatan placemaking dan ekowisata. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan penelitian normatif di mana bertujuan untuk menganalisis, menginterpretasi, dan mengevaluasi nilai-nilai normatif sesuai pendekatan, serta memahami implikasinya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya studi literatur, analisis skoring, dan analisis deskriptif kualitatif. Penelitian ini berhasil mengidentifikasi 20 variabel placemaking dan ekowisata serta 43 objek penelitian berdasarkan komponen 4A untuk menilai tingkat placemaking dan ekowisata di EWIC. Hasil analisis menunjukkan bahwa EWIC berada dalam kategori “cukup” dan memerlukan perbaikan pada beberapa variabel dan objek yang masih kurang dan belum tersedia. Penelitian ini dapat mengidentifikasi dan menilai kualitas EWIC lebih mendalam serta menghasilkan rekomendasi yang lebih komprehensif dan terfokus dibanding penelitian sebelumnya pada lokasi ini. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan teori dan praktik ekowisata dengan mengintegrasikan konsep placemaking dan komponen 4A, serta memberikan kerangka kerja dan pedoman praktis bagi pengembangan ekowisata yang berkelanjutan dan berorientasi pada masyarakat.

2024
👤 Penulis: Geraldo Yoshua Nababan
🏷️ Identifikasi Objek Wisata 🏷️ Placemaking 🏷️ Ekowisata
💬