📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 3 dokumenSINTESIS STABILISER TERMAL POLIVINIL KLORIDA DARI MINYAK GORENG BEKAS
Minyak goreng bekas (MGB) merupakan limbah hasil proses penggorengan berulang yang kandungan asam lemak bebasnya (FFA) meningkat signifikan akibat hidrolisis trigliserida selama pemanasan. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis stabiliser termal berbasis kalsium-seng (Ca/Zn) dari MGB sebagai alternatif bahan baku terbarukan untuk aplikasi stabilisasi polivinil klorida (PVC) dan mengevaluasi efektivitasnya secara termal. Stabiliser disintesis melalui dua tahap reaksi, yaitu saponifikasi MGB menggunakan NaOH dalam etanol untuk membentuk sabun natrium, dilanjutkan dengan reaksi metatesis menggunakan garam kalsium (CaCl2) dan seng (ZnSO4) untuk menghasilkan logam karboksilat Ca dan Zn. Karakterisasi produk dilakukan melalui uji proksimat, spektroskopi FTIR, dan analisis difraksi sinar-X (XRD) untuk memverifikasi keberhasilan sintesis. Efektivitas stabilisasi termal diuji secara statis melalui uji dehidroklorinasi (DHC) dan secara dinamis melalui uji two-roll mill pada suhu 180°C. Hasil uji proksimat menunjukkan komposisi yang sebanding dengan stabiliser berbasis stearat komersial. Karakterisasi FTIR mengonfirmasi keberadaan gugus karboksilat logam (COO-), dan pola XRD sesuai dengan referensi logam karboksilat. Pada uji DHC, formulasi dengan dosis 5 phr menunjukkan waktu induksi terpanjang, mengindikasikan kesetimbangan kinetika optimum antara pembentukan dan netralisasi ZnCl2. Pada uji two-roll mill, formulasi dengan rasio Ca:Zn sekitar 4:1 dan penambahan costabilizer pentaeritritol (PE) dan dibenzoilmetan (DBM) menunjukkan ketahanan warna dan stabilitas termal terbaik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa MGB layak dimanfaatkan sebagai bahan baku alternatif yang berkelanjutan untuk sintesis stabiliser termal PVC berbasis Ca/Zn dengan efektivitas yang kompetitif terhadap stabiliser stearat komersial.
STABILISASI TERMAL POLIVINIL KLORIDA DENGAN CAMPURAN LOGAM ORGANIK DAN ESTER BALIK
Polivinil klorida (PVC) rentan terhadap degradasi termal pada suhu proses. Hal ini ditandai dengan pelepasan hidrogen klorida (HCl) dan perubahan warna. Stabiliser berbasis timah, seperti reverse ester organotin stabilizer (RES), mampu mengatasi hal ini secara efektif, tetapi biaya timah yang tinggi mendorong perlunya alternatif. Penelitian ini mengevaluasi potensi merkaptoetil palmat (MEP), ester balik berbasis sawit, sebagai stabiliser yang dapat menurunkan ketergantungan organotin dalam stabilisasi termal PVC. Spektroskopi Fourier transform infrared (FTIR) berhasil memverifikasi mekanisme stabilisasi substitusi klorin alilik pada kedua stabiliser, walau lebih lemah pada MEP. Uji dehidroklorinasi (DHC) menunjukkan bahwa RES menstabilkan PVC melalui dua mekanisme simultan, yaitu substitusi klorin alilik dan HCl scavenger, mendukung pengamatan pada FTIR, sedangkan MEP dominan hanya bekerja sebagai HCl scavenger. Pada uji roll mill, kombinasi 0,25 phr RES dan 0,5 phr MEP menghasilkan waktu diskolorasi terpanjang (45 menit), melampaui penggunaan tunggal RES 0,5 phr (40 menit). Hasil ini membuktikan bahwa penambahan MEP memungkinkan pengurangan dosis RES tanpa menurunkan efektivitas stabilisasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa MEP dapat berperan sebagai kostabiliser yang efisien secara ekonomi.
STABILISASI TERMAL POLIVINIL KLORIDA DENGAN CAMPURAN LOGAM ORGANIK DAN ESTER BALIK
Polivinil klorida (PVC) rentan terhadap degradasi termal pada suhu proses. Hal ini ditandai dengan pelepasan hidrogen klorida (HCl) dan perubahan warna. Stabiliser berbasis timah, seperti reverse ester organotin stabilizer (RES), mampu mengatasi hal ini secara efektif, tetapi biaya timah yang tinggi mendorong perlunya alternatif. Penelitian ini mengevaluasi potensi merkaptoetil palmat (MEP), ester balik berbasis sawit, sebagai stabiliser yang dapat menurunkan ketergantungan organotin dalam stabilisasi termal PVC. Spektroskopi Fourier transform infrared (FTIR) berhasil memverifikasi mekanisme stabilisasi substitusi klorin alilik pada kedua stabiliser, walau lebih lemah pada MEP. Uji dehidroklorinasi (DHC) menunjukkan bahwa RES menstabilkan PVC melalui dua mekanisme simultan, yaitu substitusi klorin alilik dan HCl scavenger, mendukung pengamatan pada FTIR, sedangkan MEP dominan hanya bekerja sebagai HCl scavenger. Pada uji roll mill, kombinasi 0,25 phr RES dan 0,5 phr MEP menghasilkan waktu diskolorasi terpanjang (45 menit), melampaui penggunaan tunggal RES 0,5 phr (40 menit). Hasil ini membuktikan bahwa penambahan MEP memungkinkan pengurangan dosis RES tanpa menurunkan efektivitas stabilisasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa MEP dapat berperan sebagai kostabiliser yang efisien secara ekonomi.