📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 1 dokumenPENGARUH POLA KERJA FLEKSIBEL GENERASI Z TERHADAP PERILAKU PERJALANAN DAN PEMILIHAN MODA TRANSPORTASI DI KOTA BANDUNG (STUDI KASUS: KECAMATAN COBLONG, BANDUNG WETAN, DAN SUMUR BANDUNG)
Normalisasi pola kerja fleksibel remote work, hybrid work, dan freelance pascapandemi COVID-19 berpotensi mengubah karakteristik perjalanan harian secara signifikan, khususnya di kalangan Generasi Z yang kini mendominasi angkatan kerja perkotaan. Namun implikasinya terhadap sistem transportasi perkotaan di Indonesia masih belum banyak diteliti secara empiris. Penelitian ini mengkaji pengaruh pola kerja fleksibel Generasi Z terhadap perilaku perjalanan dan pemilihan moda transportasi di Kecamatan Coblong, Bandung Wetan, dan Sumur Bandung tiga kecamatan pusat Kota Bandung dengan konsentrasi ekosistem kerja fleksibel tertinggi. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan sequential explanatory design, menggabungkan survei kuesioner terhadap 97 responden Gen Z pekerja fleksibel yang dianalisis menggunakan statistik deskriptif, korelasi Spearman, ChiSquare, dan regresi logistik multinomial, dengan wawancara mendalam kepada 10 informan yang diolah melalui analisis tematik dan triangulasi.vi Temuan menunjukkan bahwa kerja fleksibel tidak mengurangi total mobilitas Gen Z melainkan mentransformasikan karakternya 89,1% responden tetap bepergian pada hari tidak ada kewajiban ke kantor, dengan pola perjalanan multi-tujuan yang didominasi kuliner (74,2%), co-working space (67,0%), dan belanja (63,9%). Meskipun rebound effect tidak terkonfirmasi secara statistik (rho = -0,005, p = 0,958), pergeseran karakter perjalanan dari komuter terjadwal menuju mobilitas yang lebih cair tergambar jelas secara deskriptif. Sepeda motor pribadi mendominasi pilihan moda kerja (68,0%) maupun non-kerja (63,9%), dengan kepemilikan kendaraan sebagai prediktor terkuat (?² = 28,3, p < 0,001) jauh melampaui pengaruh jenis pekerjaan yang terbukti tidak signifikan (p = 0,720). Faktor biaya dan fleksibilitas waktu menempati posisi teratas kepentingan pemilihan moda, merevisi dugaan awal bahwa teknologi dan kenyamanan lebih dominan bagi Gen Z. Gap analysis mengidentifikasi empat kesenjangan struktural: temporal, spasial, moda, dan kebijakan yang mencerminkan ketidaksesuaian antara sistem transportasi berbasis asumsi 9-to-5 dengan kebutuhan mobilitas Gen Z yang lebih cair dan beragam. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi tipologi kerja fleksibel sebagai determinan perilaku perjalanan dalam konteks kota berkembang Indonesia, memberikan dasar empiris bagi pembaruan kebijakan transportasi Kota Bandung yang responsif terhadap perubahan sosial angkatan kerja muda.