📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 8 dokumenPENILAIAN RISIKO KESEHATAN AKIBAT PAJANAN PARTICULATE MATTER < 0,5 (PM<0,5) DI LINGKUNGAN KERJA PANDAI BESI
Polusi udara menjadi salah satu isu lingkungan dan kesehatan yang paling serius di berbagai sektor industri di seluruh dunia, termasuk industri besi skala kecil yaitu pandai besi di Indonesia. PM sangat terkait dengan risiko kesehatan, maka penting untuk memahami kompleksitas pajanannya. Untuk meminimalkan risiko kesehatan pekerja akibat pajanan PM, dibutuhkan langkah untuk mengidentifikasi secara cepat tingkat risiko pajanan PM terhadap kesehatan pekerja melalui pendekatan Human Health Risk Assessment (HHRA).Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penilaian risiko kesehatan akibat pajanan PM khususnya Ultrafine Particle (UFP)/ PM0,1 dan PM<0,5 pada pekerja pandai besi informal di Indonesia melalui pendekatan terintegrasi yang mencakup empat tahap HHRA yaitu identifikasi isu dan bahaya, analisis dosis respon, analisis pajanan, karakterisasi risiko dan dilanjutkan validasi tingkat risiko dan formulasi manajemen risiko. Identifikasi isu dan bahaya dilakukan dengan karakterisasi size-segregated dan komposisi kimia PM di lingkungan kerja pandai besi. Pengukuran konsentrasi PM secara real time dengan sensor kualitas udara, sedangkan pengambilan sampel udara indoor dan outdoor dengan alat Ambient Nano Sampler. Analisis komposisi kimia terdiri dari analisis unsur, ion anorganik dan karbon. Analisis dosis respon dilakukan pemilihan nilai RfC dan IUR unsur dalam PM serta model dosis respon. Analisis pajanan dilakukan dengan pengambilan sampel PM personal dengan alat Personal Nano Sampler, pengukuran konsentrasi PM secara real time dengan sensor kualitas udara dan analisis unsur dalam PM dengan Energy Dispersive X-Ray Fluorescence (EDXRF). Validasi tingkat risiko meliputi analisis biomarker pajanan yaitu Si urin, As urin dan Fe darah dan biomarker efek yaitu 8-OHdG darah baik pada pekerja maupun kontrol. Analisis urin dilakukan dengan alat ICP-MS dan darah dengan LC-MS/MS. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas pengelasan sebagai sumber utama PM di lingkungan kerja, dengan konsentrasi PM2,5 tertinggi mencapai 7849 µg/m³. Rasio PM0,1/PM2,5 rata-rata di seluruh bengkel (0,26-0,42) jauh lebih tinggi dibandingkan udara ambien (0,08), dan konsentrasi PM0,1 tercatat 51–255 kali lipat di atas konsentrasi udara ambien. Komposisi kimia PM didominasi oleh unsur logam (Fe, K, Si), ion anorganik (Ca2+, SO42-, K+), serta karbon dengan total karbon tertinggi mencapai 161,046 µg/m³. Pajanan personal menunjukkan konsentrasi PM<0,5 rata-rata pekerja (2.669,91 µg/m³) jauh lebih dominan dibandingkan PM0,5–1 (618,42 µg/m³), menandakan fraksi ukuran terkecil sebagai pajanan utama yang lebih berisiko karena dapat menembus saluran pernapasan bagian dalam dan masuk ke peredaran darah. Karakterisasi risiko menemukan 29 pekerja memiliki HI > 1 (risiko non-karsinogenik) dan 11 pekerja memiliki ILCR > 1 × 10-4 (risiko karsinogenik). Validasi awal biomarker menemukan korelasi positif antara seluruh biomarker pajanan dan biomarker efek, dengan korelasi signifikan diperoleh antara Si urin dan 8-OHdG darah (r = 0,36; p = 0,024). Si urin juga berkorelasi positif signifikan dengan EC PM<0,5 (r = 0,38; p = 0,023) dan kandungan Si dalam PM<0,5 (r = 0,41; p = 0,004), menegaskan bahwa Si urin merepresentasikan pajanan Si yang berasal dari lingkungan kerja. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan pajanan personal berbasis karakterisasi size-segregated PM dari coarse particle (PM10) sampai ultrafine particle (PM0,1) yang dipadukan dengan validasi awal biomarker pajanan dan biomarker efek, serta usulan Si urin sebagai kandidat biomarker pajanan internal yang relevan untuk validasi awal tingkat risiko kesehatan akibat pajanan PM. Manajemen risiko diformulasikan melalui penetapan konsentrasi, frekuensi dan durasi pajanan aman. Cara manajemen risiko meliputi pendekatan teknologi ( penerapan cross ventilation dan exhaust fan pada sumber emisi, kewajiban masker dan respirator), pendekatan sosial-ekonomis (diskusi berkala dengan pekerja terkait pengaturan jam kerja dan rotasi kerja), dan pendekatan institusional (kerjasama lintas lembaga, mencakup layanan kesehatan, instansi pemerintah, dan mitra akademik). Hasil penelitian berkontribusi pada pengembangan kerangka penilaian risiko kesehatan terintegrasi yang dapat diadopsi untuk sektor industri informal sejenis di Indonesia, sekaligus memperkaya khazanah ilmu pengetahuan mengenai biomarker pajanan PM khususnya PM<0,5 pada lingkungan kerja informal yang masih jarang dikaji secara komprehensif.
PERANCANGAN KOMIK DIGITAL UNTUK MENINGKATKAN KEPEDULIAN GENERASI Z USIA 18-22 TAHUN TERHADAP POLUSI UDARA
Polusi udara merupakan permasalahan lingkungan yang semakin serius dan berdampak langsung terhadap kesehatan serta kualitas hidup masyarakat, khususnya di wilayah perkotaan. Generasi z, khususnya kelompok usia 18–22 tahun, menjadi kelompok yang rentan terdampak sekaligus memiliki potensi besar sebagai agen perubahan karena kedekatan mereka dengan media digital dan budaya visual. Oleh karena itu, diperlukan media komunikasi visual yang mampu menyampaikan isu polusi udara secara relevan, menarik, dan mudah dipahami. Penelitian ini bertujuan untuk merancang komik digital sebagai media edukasi guna meningkatkan kepedulian generasi z terhadap polusi udara. Metode perancangan yang digunakan meliputi studi literatur mengenai polusi udara dan komik digital di platform Webtoon, serta analisis target audiens sebagai dasar pengembangan konsep visual dan naratif. Hasil perancangan berupa komik digital dengan pendekatan cerita fiksi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari generasi muda, didukung oleh gaya ilustrasi yang ekspresif, visual yang komunikatif, serta alur naratif yang mampu membangun keterlibatan emosional pembaca. Melalui pendekatan visual dan cerita yang kontekstual, perancangan komik digital ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran, pemahaman, serta sikap kritis generasi z terhadap permasalahan polusi udara sekaligus mendorong perilaku yang lebih peduli terhadap lingkungan.
ANALISIS TREN POLUSI UDARA, PM10 DAN OZON TROPOSFER, SERTA FAKTOR METEOROLOGI DI KAWASAN PERKOTAAN JAKARTA
Jaringan transportasi, aktivitas industri, dan faktor meteorologi menjadikan wilayah perkotaan seperti Jakarta rentan terhadap akumulasi polutan udara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsentrasi ????????10 dan ozon troposfer (????3) secara temporal dan spasial, di lima stasiun pemantauan kualitas udara (SPKU) di Jakarta selama periode 2013-2017. Analisis temporal dilakukan melalui statistik deskriptif, visualisasi deret waktu, heatmap musiman dan diurnal, serta pemodelan prediktif menggunakan algoritma random forest, berbasis fitur waktu dan lag. Sementara itu, analisis spasial dilakukan dengan menggunakan Granger Causality dan pemodelan graf berbobot untuk menilai arah dan kekuatan keterkaitan antar lokasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa ????????10 cenderung tinggi pada waktu pagi dan malam hari, serta meningkat pada musim kemarau. Sebaliknya, ozon memuncak siang hingga sore, dengan nilai tinggi juga terjadi pada musim kemarau. Model random forest mampu memprediksi konsentrasi dengan sangat baik, ditunjukkan oleh nilai R² tahunan di atas 0.90. Analisis spasial mengungkap bahwa keterkaitan antar wilayah meningkat pada musim kemarau dan lebih kuat untuk ozon troposfer dibanding ????????10. Pola ini menunjukkan bahwa ????????10 lebih bersifat lokal, sedangkan ozon dipengaruhi oleh transportasi regional. Penelitian menawarkan kontribusi dengan menggabungkan pendekatan statistik, machine learning, dan keterkaitan spasial dalam satu kerangka analisis polusi udara. Kebaruan utama dari penelitian ini adalah pemanfaatan graf berbobot hasil Granger Causality untuk memahami penyebaran spasial polutan secara kuantitatif. Temuan ini dapat menjadi dasar pengembangan strategi mitigasi spasial-temporal yang lebih terarah, termasuk kemungkinan penerapan teori kontrol untuk mengevaluasi efektivitas kebijakan secara dinamis dan kuantitatif di masa depan.
PEMANTAUAN PAPARAN PRIBADI PM2,5 MENGGUNAKAN SENSOR PORTABEL PADA PENGEMUDI OJEK ONLINE DAN KURIR PAKET DI KOTA BANDUNG
Polusi udara, khususnya polusi Particulate Matter 2.5 (PM2,5), telah menjadi permasalahan global yang meresahkan. Di Indonesia, polusi udara sudah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Kota-kota besar seperti Bandung menghadapi permasalahan serius terkait polusi udara, terutama tingginya tingkat PM2,5. Kelompok yang rentan terhadap dampak buruk polusi udara diantaranya adalah individu yang bekerja di luar ruangan seperti pengemudi ojek online dan kurir paket. Mereka terpapar langsung pada polusi udara saat bekerja, yang dapat mengakibatkan penurunan kesehatan yang signifikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai paparan pribadi terhadap PM2,5 di berbagai lingkungan mikro selama 24 jam di Kota Bandung, menggunakan sensor berbiaya rendah, yang bertujuan untuk memahami pola paparan dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat paparan PM2,5. Sensor yang digunakan untuk mengukur konsentrasi PM2,5 adalah sensor AS-LUNG portabel dengan kombinasi GPS dan survei demografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan individu terhadap PM2,5 bervariasi pada kelompok pengemudi ojek online laki-laki, pengemudi ojek online perempuan, dan kurir paket secara berurut sebesar 49,56 ?g/m3, 62,76 ?g/m3, dan 67,28 ?g/m3. Faktor paparan asap rokok menjadi kontribusi utama yang mempengaruhi peningkatan paparan PM2,5 pada seluruh kelompok partisipan. Ratarata analisis potensi risiko kesehatan jangka panjang menunjukkan bahwa hanya kelompok partisipan pengemudi ojek online laki-laki yang masih dalam kategori “aman” dengan nilai Risk Quotient (RQ) < 1. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya langkah-langkah mitigasi untuk mengurangi paparan PM2,5 sehingga dapat mencegah dampak negatif terhadap kesehatan.
PEMODELAN SPASIAL KONSENTRASI NO2 BERDASARKAN TUTUPAN LAHAN (STUDI KASUS DI WILAYAH BANDUNG TIMUR)
Bandung merupakan salah satu kota metropolitan besar di Indonesia yang mengalami peningkatan jumlah penduduk cukup tinggi dalam 10 tahun terakhir sehingga memengaruhi aktivitas yang dapat meningkatkan polusi udara. Pertumbuhan populasi yang pesat di wilayah perkotaan telah menyebabkan peningkatan aktivitas transportasi dan emisi polutan, terutama nitrogen dioksida (NO?). Penelitian ini bertujuan untuk memetakan distribusi spasial konsentrasi nitrogen dioksida (NO?) di wilayah Bandung Timur (Kecamatan Batununggal, Kiaracondong, dan Cibeunying Kidul) dan menganalisis pengaruh tutupan lahan terhadap konsentrasi tersebut. Pemantauan dilakukan menggunakan passive sampler pada 40 titik sampling selama 12 minggu, menghasilkan konsentrasi rata-rata NO? sebesar 100,9 µg/m³, dengan konsentrasi tertinggi 153,95 µg/m³ di area jaringan jalan dan terendah 54,60 µg/m³ di area dengan tutupan lahan hijau. Distribusi spasial NO? dipetakan menggunakan metode interpolasi IDW (Inverse Distance Weighting), Spline, dan Kriging. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa metode IDW memberikan hasil paling akurat dengan nilai RMSE (Root Mean Square Error) 0,043 µg/m³ dan SD (Standar Deviasi) 0,0038 µg/m³ dibandingkan metode lain. Analisis spasial dan deskriptif antara konsentrasi NO? dan tutupan lahan menunjukkan bahwa konsentrasi tertinggi sebesar 173,29 µg/m³ terdapat pada area dengan persentase jaringan jalan sebesar 27,49%, ruang terbuka hijau sebesar 0%, pemukiman sebesar 26%, area komersil sebesar 46,16% , sedangkan konsentrasi terendah 62,32 µg/m³ terdapat pada area dengan persentase jaringan jalan sebesar 40,39%, ruang terbuka hijau sebesar 38%, pemukiman sebesar 0,34%, area komersil sebesar 21,44%. Hasil korelasi konsentrasi NO2 terhadap tutupan lahan menunjukkan hubungan yang lemah. Temuan ini menegaskan bahwa terdapat faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi konsentrasi NO2. Hasil penelitian ini memberikan pemahaman tentang distribusi pencemaran udara berdasarkan karakteristik tutupan lahan dan menawarkan wawasan untuk perencanaan tata ruang kota serta pengendalian kualitas udara yang berkelanjutan.
KETERKAITAN ANTARA POLUSI CAHAYA DAN POLUSI UDARA BERDASARKAN PENGUKURAN SENSOR SKY QUALITY METER DAN PURPLEAIR
Perkembangan teknologi dan industri yang pesat memberikan dampak bagi kehidupan. Meningkatnya aktivitas manusia menciptakan masalah terhadap lingkungan seperti polusi cahaya dan polusi udara. Sebuah studi baru yang mendokumentasikan polusi cahaya di seluruh dunia menemukan bahwa lebih dari 80% populasi dunia hidup di bawah polusi cahaya. Amerika Serikat dan Eropa bahkan mengalami kondisi yang lebih buruk lagi, dengan 99% penduduknya mengalami sky glow di malam hari. Pada tahun 2019, Indonesia menduduki peringkat ke-6 sebagai negara dengan polusi udara tertinggi dari 98 negara pesaing lainnya di seluruh dunia, dengan tingkat PM2,5 mencapai angka 141 AQI atau 5 kali lipat lebih tinggi dari rekomendasi paparan World Health Organization (WHO). Polusi cahaya dan polusi udara merupakan permasalahan global yang dampaknya tidak hanya dirasakan oleh manusia, tetapi juga berdampak kepada hewan dan tumbuhan. Pada Tugas Akhir ini, akan dilakukan analisis mengenai kecerahan langit malam dan kualitas udara dengan lokasi di atap Gedung Center for Advanced Sciences (CAS), Kampus Ganesha, Institut Teknologi Bandung. Pengambilan data kecerahan langit dilakukan menggunakan perangkat Unihedron Sky Quality Meter (SQM), sedangkan kadar polusi udara diketahui dengan sensor PurpleAir. Selama 7 (tujuh) bulan pengamatan, yaitu bulan Oktober 2023 sampai Mei 2024, tingkat polusi cahaya menunjukkan tren korelasi linier dengan kadar polusi udara, baik menggunakan indikator PM2,5 ataupun PM10. Hasil lainnya adalah tingkat polusi udara siang hari lebih besar dibandingkan malam hari. Kadar PM2,5 pada rentang jam 6-7 pagi mencapai maksimum 290 ?g/m3 atau berada dalam kategori berbahaya menurut Nilai Ambang Batas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
SIMULASI PENGARUH SEA BREEZE TERHADAP SEBARAN PM2.5 DI DKI JAKARTA DENGAN MENGGUNAKAN WRF-CHEM
Fenomena angin laut dapat mempengaruhi sirkulasi angin lokal di DKI Jakarta, kondisi ini selanjutnya ikut mempengaruhi pola sebaran PM2.5 yang ditunjukkan oleh hasil observasi pada penelitian sebelumnya menunjukkan konsentrasi PM2.5 di daratan lebih tinggi dibandingkan pesisir saat siang hari terjadi sea breeze. Akan tetapi, kajian simulasi pengaruh angin laut terhadap sebaran PM2.5 di DKI Jakarta masih terbatas, terutama terhadap hasil observasi yang ada. Pada simulasi ini, akan menggunakan kejadian SBF identifikasi hasil penelitian Mardliyah (2022) yang selanjutnya diverifikasi untuk diketahui bagaimana performa simulasi angin laut terhadap sebaran polutan menggunakan model WRFChem. Berdasarkan analisis performa tersebut, diharapkan dapat diketahui seberapa baik model WRF-Chem dalam mensimulasikan angin laut dan pola sebaran PM2.5 di DKI Jakarta selama periode pengamatan. Hasil simulasi menunjukkan bahwa model cenderung underestimate terhadap data observasi. Dilihat dari parameter angin, angin dominan pada data observasi adalah angin calm, kemudian dari hasil simulasi menunjukkan nilai angin yang lebih kuat daripada observasi. Dari tutupan awan menunjukkan bahwa model memiliki lag waktu 3 jam terhadap data observasi. Sedangkan dari nilai PM2.5, korelasi yang bagus terjadi pada saat SBD lemah dengan nilai 0,82. Kemudian hasil simulasi menunjukkan nilai error yang kecil pada saat SBD kuat yang ditunjukkan dengan nilai RMSE yang lebih rendah daripada saat SBD lemah, dengan nilai 13,03. Pada saat SBD kuat, simulasi menunjukkan adanya sea breeze circulation, kecepatan angin laut 4 m/s, konsentrasi PM2.5 di dekat permukaan cenderung rendah, ketinggian penyebaran polutan mencapai 3 km, sehingga polutan tersebar dengan baik saat SBD. Sedangkan pada saat SBD lemah, kecepatan angin laut 2-3 m/s, tidak menunjukkan adanya sea breeze circulation, konsentrasi polutan di dekat permukaan cenderung tinggi, dengan ketinggian penyebaran polutan hanya mencapai 2 km, sehingga polutan tidak cepat terdispersi. Secara umum simulasi yang mendekati data observasi pada saat SBD lemah.
ANALISIS PENGARUH CURAH HUJAN TERHADAP VARIASI MUSIMAN KONSENTRASI PM2.5 DI KOTA MEDAN
Kota Medan memiliki pertumbuhan yang signifikan dibandingkan kota-kota lain di Sumatra Utara, terutama dilihat dari jumlah kendaraan bermotor dan penduduk yang menduduki peringkat pertama berdasarkan data BPS tahun 2020. Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya curah hujan dapat mempengaruhi polusi udara. Salah satu polutan yang berbahaya bagi kesehatan adalah PM2.5. Akan tetapi, dampak curah hujan terhadap PM2.5 secara spasial dan temporal di Kota Medan masih belum didalami. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui bagaimana hubungan antara curah hujan terhadap sebaran PM2.5 secara spasial dan temporal di Kota Medan pada tiap musim selama periode Desember 2014 hingga November 2022. Penelitian ini menggunakan data bulanan curah hujan GPM dan konsentrasi PM2.5 MODIS. Dalam penelitian ini dilakukan deteksi data pencilan. Selanjutnya, penelitian ini memanfaatkan plot temporal, scatter plot, dan peta spasial dalam melakukan analisis. Hasil dari penelitian ini yaitu menunjukkan bahwa secara temporal berdasarkan rata-rata per musim, curah hujan secara umum memiliki pengaruh terhadap penurunan konsentrasi PM2.5, namun kekuatan pengaruh ini bervariasi tergantung terhadap musim. Pada musim MAM terjadi penurunan yang lebih signifikan dibandingkan dengan musim lainnya yaitu pada y = -0,15x + 83.61. Mestinya, terdapat penurunan yang lebih signifikan dalam konsentrasi PM2.5 seiring dengan peningkatan curah hujan. Akan tetapi, walaupun curah hujannya berada di rentang yang tidak terlalu berbeda yaitu diantara 150 mm/bulan dan 250 mm/bulan, nilai konsentrasi PM2.5 bervariasi ada yang lebih tinggi dan ada yang lebih rendah. Secara spasial berdasarkan rata-rata per musim, menunjukkan bahwa pada tiap musim konsentrasi PM2.5 di bagian Selatan Kota Medan cenderung lebih rendah di bandingkan bagian Utara. Hal ini berkaitan dengan curah hujan yang lebih tinggi terjadi di bagian Selatan Kota Medan di setiap musimnya.