📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 3 dokumen

PERANCANGAN SISTEM PRODUKSI FILLET BANDENG (CHANOS CHANOS) COATED MENGGUNAKAN EDIBLE COATING KARAGENAN DENGAN PENAMBAHAN KITOSAN DAN FILTRAT KUNYIT (CURCUMA LONGA)

Ikan bandeng (Chanos chanos) merupakan salah satu komoditas perikanan unggulan di Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi, namun bersifat mudah rusak (perishable) dan memiliki banyak duri halus yang mengurangi minat konsumen. Kondisi tersebut mendorong perlunya penerapan inovasi teknologi pascapanen yang mampu meningkatkan mutu, memperpanjang umur simpan, serta memberikan nilai tambah pada produk. Perancangan ini mengembangkan industri fillet bandeng tanpa duri dengan penerapan edible coating berbasis karagenan yang diperkaya filtrat rimpang kunyit (Curcuma longa) dan kitosan sebagai bahan aktif alami yang berfungsi menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan mempertahankan kualitas produk selama penyimpanan dingin. Industri yang dirancang berlokasi di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan baku bandeng yang melimpah, akses distribusi yang baik, serta kedekatan dengan pasar potensial. Sistem produksi menggunakan proses batch selama 10 jam kerja per hari dengan kapasitas bahan baku sebesar 857 kg ikan bandeng segar per hari yang menghasilkan sekitar 330 kg fillet bandeng berlapis edible coating atau 1.500 kemasan berukuran 220 gram per hari. Proses produksi meliputi penerimaan bahan baku, pembersihan, filleting dan pencabutan duri, aplikasi edible coating, pengemasan, penyimpanan dingin, dan distribusi menggunakan kendaraan berpendingin. Produk yang dihasilkan merupakan fillet bandeng siap masak dengan lapisan edible coating berbahan alami yang mampu mempertahankan mutu mikrobiologis, kimia, fisik, dan sensori selama penyimpanan dingin suhu 4°C hingga 8 hari. Penerapan teknologi ini memberikan nilai tambah berupa umur simpan yang lebih panjang, keamanan pangan yang lebih baik, serta mengurangi potensi food loss selama distribusi. Produk dipasarkan pada segmen konsumen menengah ke atas melalui supermarket dan ritel modern. Analisis finansial menunjukkan bahwa industri memerlukan investasi awal sebesar Rp4,374,608,625 dengan sistem membeli bangunan. Biaya operasional terdiri atas biaya tetap sebesar Rp2,539,550,262 per tahun dan biaya variabel 4 sebesar Rp10,205,008,555 per tahun. Dengan kapasitas produksi 468.000 kemasan per tahun dan harga jual Rp33,500 per kemasan, industri diproyeksikan memperoleh pendapatan sebesar Rp15,678,000,000 per tahun. Hasil analisis kelayakan menunjukkan bahwa nilai Net Present Value (NPV) positif, Internal Rate of Return (IRR) lebih besar daripada tingkat diskonto, Benefit Cost Ratio (BCR) lebih besar dari satu, Profitability Index (PI) lebih besar dari satu, Payback Period (PP) lebih pendek daripada umur proyek, serta kapasitas produksi telah melampaui Break Even Point (BEP), sehingga industri dinyatakan layak untuk dikembangkan. Selain itu, dilakukan analisis sensitivitas terhadap kenaikan harga bahan baku dan penurunan harga jual untuk mengevaluasi ketahanan finansial industri terhadap perubahan kondisi ekonomi. Secara keseluruhan, perancangan industri fillet bandeng tanpa duri dengan teknologi edible coating berbasis karagenan, filtrat kunyit, dan kitosan menawarkan solusi inovatif dalam meningkatkan nilai tambah komoditas bandeng sekaligus menghasilkan produk yang aman, praktis, berkualitas, dan layak dikembangkan secara teknis maupun finansial. 5

2026
👤 Penulis: Muhammad Ridho Ardiansyah
🏷️ Teknologi Pascapanen 🏷️ Produksi Ikan Bandeng 🏷️ Edible Coating

PERANCANGAN SISTEM PRODUKSI FILLET BANDENG (CHANOS CHANOS) COATED MENGGUNAKAN EDIBLE COATING KARAGENAN DENGAN PENAMBAHAN KITOSAN DAN FILTRAT KUNYIT (CURCUMA LONGA)

Ikan bandeng (Chanos chanos) merupakan salah satu komoditas perikanan unggulan di Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi, namun bersifat mudah rusak (perishable) dan memiliki banyak duri halus yang mengurangi minat konsumen. Kondisi tersebut mendorong perlunya penerapan inovasi teknologi pascapanen yang mampu meningkatkan mutu, memperpanjang umur simpan, serta memberikan nilai tambah pada produk. Perancangan ini mengembangkan industri fillet bandeng tanpa duri dengan penerapan edible coating berbasis karagenan yang diperkaya filtrat rimpang kunyit (Curcuma longa) dan kitosan sebagai bahan aktif alami yang berfungsi menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan mempertahankan kualitas produk selama penyimpanan dingin. Industri yang dirancang berlokasi di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan baku bandeng yang melimpah, akses distribusi yang baik, serta kedekatan dengan pasar potensial. Sistem produksi menggunakan proses batch selama 10 jam kerja per hari dengan kapasitas bahan baku sebesar 857 kg ikan bandeng segar per hari yang menghasilkan sekitar 330 kg fillet bandeng berlapis edible coating atau 1.500 kemasan berukuran 220 gram per hari. Proses produksi meliputi penerimaan bahan baku, pembersihan, filleting dan pencabutan duri, aplikasi edible coating, pengemasan, penyimpanan dingin, dan distribusi menggunakan kendaraan berpendingin. Produk yang dihasilkan merupakan fillet bandeng siap masak dengan lapisan edible coating berbahan alami yang mampu mempertahankan mutu mikrobiologis, kimia, fisik, dan sensori selama penyimpanan dingin suhu 4°C hingga 8 hari. Penerapan teknologi ini memberikan nilai tambah berupa umur simpan yang lebih panjang, keamanan pangan yang lebih baik, serta mengurangi potensi food loss selama distribusi. Produk dipasarkan pada segmen konsumen menengah ke atas melalui supermarket dan ritel modern. Analisis finansial menunjukkan bahwa industri memerlukan investasi awal sebesar Rp4,374,608,625 dengan sistem membeli bangunan. Biaya operasional terdiri atas biaya tetap sebesar Rp2,539,550,262 per tahun dan biaya variabel 4 sebesar Rp10,205,008,555 per tahun. Dengan kapasitas produksi 468.000 kemasan per tahun dan harga jual Rp33,500 per kemasan, industri diproyeksikan memperoleh pendapatan sebesar Rp15,678,000,000 per tahun. Hasil analisis kelayakan menunjukkan bahwa nilai Net Present Value (NPV) positif, Internal Rate of Return (IRR) lebih besar daripada tingkat diskonto, Benefit Cost Ratio (BCR) lebih besar dari satu, Profitability Index (PI) lebih besar dari satu, Payback Period (PP) lebih pendek daripada umur proyek, serta kapasitas produksi telah melampaui Break Even Point (BEP), sehingga industri dinyatakan layak untuk dikembangkan. Selain itu, dilakukan analisis sensitivitas terhadap kenaikan harga bahan baku dan penurunan harga jual untuk mengevaluasi ketahanan finansial industri terhadap perubahan kondisi ekonomi. Secara keseluruhan, perancangan industri fillet bandeng tanpa duri dengan teknologi edible coating berbasis karagenan, filtrat kunyit, dan kitosan menawarkan solusi inovatif dalam meningkatkan nilai tambah komoditas bandeng sekaligus menghasilkan produk yang aman, praktis, berkualitas, dan layak dikembangkan secara teknis maupun finansial.

2026
👤 Penulis: Najma Izzati Azhar
🏷️ Teknologi Pascapanen 🏷️ Produksi Ikan Bandeng 🏷️ Edible Coating

PERANCANGAN SISTEM PRODUKSI FILLET BANDENG (CHANOS CHANOS) COATED MENGGUNAKAN EDIBLE COATING KARAGENAN DENGAN PENAMBAHAN KITOSAN DAN FILTRAT KUNYIT (CURCUMA LONGA)

Ikan bandeng (Chanos chanos) merupakan salah satu komoditas perikanan unggulan di Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi, namun bersifat mudah rusak (perishable) dan memiliki banyak duri halus yang mengurangi minat konsumen. Kondisi tersebut mendorong perlunya penerapan inovasi teknologi pascapanen yang mampu meningkatkan mutu, memperpanjang umur simpan, serta memberikan nilai tambah pada produk. Perancangan ini mengembangkan industri fillet bandeng tanpa duri dengan penerapan edible coating berbasis karagenan yang diperkaya filtrat rimpang kunyit (Curcuma longa) dan kitosan sebagai bahan aktif alami yang berfungsi menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan mempertahankan kualitas produk selama penyimpanan dingin. Industri yang dirancang berlokasi di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan baku bandeng yang melimpah, akses distribusi yang baik, serta kedekatan dengan pasar potensial. Sistem produksi menggunakan proses batch selama 10 jam kerja per hari dengan kapasitas bahan baku sebesar 857 kg ikan bandeng segar per hari yang menghasilkan sekitar 330 kg fillet bandeng berlapis edible coating atau 1.500 kemasan berukuran 220 gram per hari. Proses produksi meliputi penerimaan bahan baku, pembersihan, filleting dan pencabutan duri, aplikasi edible coating, pengemasan, penyimpanan dingin, dan distribusi menggunakan kendaraan berpendingin. Produk yang dihasilkan merupakan fillet bandeng siap masak dengan lapisan edible coating berbahan alami yang mampu mempertahankan mutu mikrobiologis, kimia, fisik, dan sensori selama penyimpanan dingin suhu 4°C hingga 8 hari. Penerapan teknologi ini memberikan nilai tambah berupa umur simpan yang lebih panjang, keamanan pangan yang lebih baik, serta mengurangi potensi food loss selama distribusi. Produk dipasarkan pada segmen konsumen menengah ke atas melalui supermarket dan ritel modern. Analisis finansial menunjukkan bahwa industri memerlukan investasi awal sebesar Rp4,374,608,625 dengan sistem membeli bangunan. Biaya operasional terdiri atas biaya tetap sebesar Rp2,539,550,262 per tahun dan biaya variabel 4 sebesar Rp10,205,008,555 per tahun. Dengan kapasitas produksi 468.000 kemasan per tahun dan harga jual Rp33,500 per kemasan, industri diproyeksikan memperoleh pendapatan sebesar Rp15,678,000,000 per tahun. Hasil analisis kelayakan menunjukkan bahwa nilai Net Present Value (NPV) positif, Internal Rate of Return (IRR) lebih besar daripada tingkat diskonto, Benefit Cost Ratio (BCR) lebih besar dari satu, Profitability Index (PI) lebih besar dari satu, Payback Period (PP) lebih pendek daripada umur proyek, serta kapasitas produksi telah melampaui Break Even Point (BEP), sehingga industri dinyatakan layak untuk dikembangkan. Selain itu, dilakukan analisis sensitivitas terhadap kenaikan harga bahan baku dan penurunan harga jual untuk mengevaluasi ketahanan finansial industri terhadap perubahan kondisi ekonomi. Secara keseluruhan, perancangan industri fillet bandeng tanpa duri dengan teknologi edible coating berbasis karagenan, filtrat kunyit, dan kitosan menawarkan solusi inovatif dalam meningkatkan nilai tambah komoditas bandeng sekaligus menghasilkan produk yang aman, praktis, berkualitas, dan layak dikembangkan secara teknis maupun finansial.

2026
👤 Penulis: Adinda Fadhilla Ramadhani S
🏷️ Teknologi Pascapanen 🏷️ Produksi Ikan Bandeng 🏷️ Edible Coating
💬