📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5 dokumenPERANCANGAN STRUKTUR ORGANISASI CV SAHARA PRATAMA BERDASARKAN ALUR PROSES BISNIS
CV Sahara Pratama merupakan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di industri konversi kertas yang berfokus pada proses pemotongan kertas dari gulungan besar menjadi gulungan kecil. Berdiri sejak tahun 2017, perusahaan mengalami peningkatan permintaan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, peningkatan tersebut belum diimbangi dengan pengembangan pengelolaan internal perusahaan. Kondisi ini ditunjukkan oleh belum jelasnya pembagian tugas dan kewenangan, belum efektifnya pelaksanaan tanggung jawab antarbagian, serta belum terdokumentasinya proses bisnis perusahaan. Akibatnya perusahaan menghadapi permasalahan terkait beban kerja, koordinasi aktivitas, dan ketepatan waktu pengiriman. Oleh karena itu, diperlukan perancangan struktur organisasi berdasarkan alur proses bisnis. Perancangan struktur organisasi pada penelitian ini didasarkan pada teknologi organisasi berupa interdependensi antar proses bisnis. Hal ini diidentifikasi melalui pemetaan proses bisnis existing dan proses bisnis usulan berdasarkan standar acuan Process Classification Framework (PCF). Proses bisnis usulan kemudian divalidasi dan digunakan sebagai dasar identifikasi keterkaitan antar proses bisnis, departementalisasi, dan pemetaan tingkat tanggung jawab menggunakan matriks RASCI untuk menghasilkan rancangan struktur organisasi usulan perusahaan. Penelitian ini menghasilkan rancangan proses bisnis usulan yang mengintegrasikan proses bisnis existing dengan proses tambahan yang diperlukan untuk mendukung pengelolaan perusahaan. Proses bisnis yang diusulkan berfokus pada penguatan kemampuan perusahaan dalam memenuhi permintaan pelanggan yang meningkat melalui penyelarasan strategi perusahaan, perencanaan produksi, pengelolaan kualitas, pemasaran, pengelolaan keuangan, dan pengelolaan sumber daya manusia. Penelitian ini menghasilkan struktur organisasi yang terdiri atas 6 departemen dan 13 fungsi jabatan dengan tiga tingkatan hierarki. Hasil perancangan diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pengelolaan dan koordinasi dalam perusahaan.
MEMPERKUAT PENCEGAHAN RISIKO KECURANGAN MELALUI ANALISIS PROSES BISNIS: STUDI KASUS PADA PT GLOBAL INTAN TEKNINDO
Kecurangan merupakan risiko signifikan bagi UKM, terutama perusahaan dengan pola komunikasi informal, dokumentasi terbatas, dan kontrol internal yang lemah. Penelitian ini bertujuan memperkuat pencegahan risiko kecurangan pada PT Global Intan Teknindo (GIT) dengan mengidentifikasi penyebab utama fraud, merancang strategi pencegahan melalui perbaikan proses, dan menilai kapabilitas organisasi yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan manajemen risiko fraud yang kredibel. Pendekatan studi kasus kualitatif digunakan melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen, serta didukung literatur dan benchmarking. Triangulasi memastikan validitas temuan.Hasil analisis menunjukkan bahwa risiko fraud muncul dari inquiry yang tidak tercatat, komunikasi vendor informal, quotation tanpa persetujuan, PO melalui saluran pribadi, invoice tanpa otorisasi, dan pembayaran ke rekening pribadi. Kondisi ini diperburuk oleh lemahnya kontrol preventif dan minimnya verifikasi digital. Rekomendasi mencakup perancangan ulang proses, digitalisasi dokumentasi, penguatan kontrol, pembentukan Internal Controller, serta pengembangan kapabilitas people, tools, systems, dan structure.
PERANCANGAN PERBAIKAN PROSES BISNIS DEPARTEMEN PERENCANAAN PRODUKSI DAN PENGENDALIAN INVENTORI PADA CV SINAR BAJA ELECTRIC
CV Sinar Baja Electric, produsen speaker yang menerapkan batch processing dan menyediakan produk brand sendiri serta layanan Original Equipment Manufacturer (OEM) dan Original Design Manufacturer (ODM), berupaya meningkatkan daya saing melalui efisiensi. Ketepatan pemenuhan jadwal produksi yang belum mencapai target, sebagai hambatan utama perusahaan, salah satunya terjadi karena Departemen PPIC masih melakukan aktivitas tidak bernilai. Lebih daripada itu, perusahaan belum memiliki instrumen pengukuran efisiensi, sehingga kesulitan mengidentifikasi akar masalah dan mengambil keputusan perbaikan. Untuk itu dilakukan pemetaan dan perbaikan proses bisnis guna merumuskan proses usulan yang lebih efisien. Metodologi Model-based and Integrated Process Improvement (MIPI) digunakan untuk perbaikan proses bisnis. Pemahaman proses bisnis existing dilakukan dengan observasi singkat, wawancara dengan narasumber terpilih, serta studi dokumen perusahaan. Pemetaan proses bisnis menggunakan format Process Classification Framework (PCF). Evaluasi efisiensi proses bisnis via Value-Added Analysis (VAA) menunjukkan proporsi proses bisnis bersifat VA, BVA, dan NVA secara berturut-turut sebesar 11%, 53%, dan 36%. Diagram Pareto digunakan untuk menentukan proses bisnis kritis berdasarkan kelompok proses dengan NVA terbanyak. Perancangan proses bisnis usulan diberlakukan kepada proses bisnis kritis berdasarkan analisis pemborosan yang mencakup identifikasi pemborosan, penentuan akar masalah dengan kerangka kerja 6M, dan membuat usulan dengan systematic reengineering method yang lebih dikenal dengan ESIA. Perancangan juga dilakukan berdasarkan benchmarking dengan acuan Consumer Electronics PCF oleh American Productivity & Quality Center. Proses bisnis usulan dari kedua pendekatan menghasilkan proses bisnis perbaikan yang dipetakan dengan PCF dan matriks RACI. Proses bisnis perbaikan memiliki 9 NVA, berkurang seperempat dari proses bisnis existing yang memiliki 36. Proses bisnis usulan yang tidak memiliki klasifikasi nilai tambah terdapat 11 pada proses bisnis perbaikan. Proses bisnis perbaikan mengimplikasikan penyesuaian SOP, pengkajian sumber daya manusia, peningkatan sistem ERP, serta pertimbangan terhadap jaringan produksi serta strategi perusahaan dalam jangka panjang.
PERANCANGAN PERBAIKAN PROSES BISNIS KEGIATAN SERAH TERIMA BAHAN KEMAS DI DEPARTEMEN PRODUCTION PT AGRI
PT Agri adalah perusahaan manufaktur yang memproduksi makanan dan minuman (food and beverage consumer goods). Saat ini, PT Agri sedang mengevaluasi proses serah terima bahan kemas yang memiliki tingkat pemborosan cukup tinggi sebesar 5,98%. Angka ini berada di atas standar yang ditetapkan perusahaan, yakni 2%. Berdasarkan hasil wawancara pendahuluan dengan Production Manager PT Agri, salah satu kemungkinan penyebab dari fenomena ini adalah proses serah terima bahan kemas yang kurang efisien. PT Agri juga belum pernah melakukan upaya perbaikan yang berfokus pada pemetaan dan perancangan proses bisnis pada aktivitas serah terima bahan kemas. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada pemetaan dan perbaikan aktivitas serah terima bahan kemas yang dilakukan PT Agri. Harapannya, perbaikan ini dapat mengeliminasi pemborosan yang terjadi dan meningkatkan produktivitas proses sesuai objektif yang ditetapkan perusahaan. Pendekatan yang digunakan dalam melakukan pemetaan dan perbaikan proses bisnis PT Agri dalam penelitian ini adalah model-based and integrated process improvement (MIPI). Pemilihan metodologi ini dilakukan karena dirasa sesuai dengan profil perusahaan dan kejelasan tahapan yang perlu dilakukan untuk menyusun rancangan perbaikan. Tahapan perbaikan dimulai dengan memahami profil perusahaan terlebih dahulu, yang dilanjutkan dengan pemetaan proses bisnis eksisting. Pemetaan dilakukan dengan melakukan wawancara terhadap pemangku kebijakan dan observasi proses secara langsung. Hasil pemetaan ini kemudian dipetakan dalam format workflow survey dan process profile worksheet, dan divisualisasikan dalam bentuk cross-functional diagram. Proses yang sudah terpetakan juga dianalisis nilai tambahnya. Selanjutnya, proses yang terpetakan diolah dengan menghitung waktu siklus pada analisis value stream mapping (VSM) dan diurutkan berdasarkan waktu siklusnya. Hasil perhitungan ini diolah dengan diagram Pareto untuk menentukan proses bisnis kritis yang akan diperbaiki. Perbaikan dilakukan dengan mengidentifikasi pemborosan pada aktivitas kritis dengan analisis pemborosan dan identifikasi akar masalah. Hasil pengolahan ini kemudian dijadikan dasar dalam menentukan usulan perbaikan yang dapat diberikan. Proses usulan yang sudah diperbaiki kemudian dipetakan kembali dengan tools yang sudah digunakan sebelumnya. Usulan perbaikan yang diberikan terdiri dari pembuatan SOP yang sesuai dengan aktivitas, digitalisasi proses dengan sistem informasi, serta pelatihan pegawai untuk standardisasi kemampuan. Berdasarkan usulan perbaikan yang diberikan, jumlah proses yang dilakukan berkurang dari 55 aktivitas menjadi 45 aktivitas. Selain itu, aktivitas yang kurang bernilai tambah juga mengalami penurunan, dengan pengurangan sebesar 12,53%
PERBAIKAN MATURITAS PROSES BISNIS BERDASARKAN TAHAP PERTUMBUHAN ORGANISASI PADA PERUSAHAAN ADORABLE PROJECTS UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI PROSES BISNIS
Industri mode merupakan sektor yang telah berkembang pesat di Indonesia hingga menjadi salah satu subsektor ekonomi kreatif unggulan. Tidak hanya berkembang dalam skala nasional, industri mode di Indonesia berpotensi untuk berkembang memasuki pasar global. Perkembangan industri dengan dinamika yang tinggi ini mendorong setiap perusahaan di dalam industri terkait untuk dapat beradaptasi terhadap perubahan yang ada dan tetap dapat bersaing secara kompetitif. Adorable Projects merupakan perusahaan yang bergerak di industri mode dengan produk utamanya adalah sepatu. Meskipun sudah berdiri selama lebih dari 10 tahun, Adorable Projects masih mengalami inefisiensi dalam proses bisnisnya, seperti pelaksanaan proses bisnis perusahaan yang sering mengalami keterlambatan, inkonsistensi kualitas proses bisnis, dan kesalahan pelaksanaan proses bisnis yang terjadi secara berulang. Permasalahan- permasalahan tersebut mengacu pada akar permasalahan yang memperlihatkan karakteristik bahwa perusahaan belum memperhatikan kapabilitas proses bisnisnya. Padahal, kapabilitas proses bisnis menjadi landasan yang penting untuk suatu perusahaan melakukan perbaikan berkelanjutan dan menyelaraskan tujuan perusahaan dengan prosesnya. Pada penelitian ini, perbaikan maturitas proses bisnis akan dilakukan untuk mengelola atau bahkan meningkatkan kapabilitas proses bisnis perusahaan. Model yang digunakan sebagai standar acuan adalah Process Classification Framework (PCF) oleh American Productivity & Quality Center (APQC) untuk pemetaan proses bisnis organisasi. Sementara itu, pengukuran tingkat maturitas proses bisnis mengacu pada definisi yang dijabarkan Business Process Maturity Model (BPMM) oleh Object Management Group (OMG) dengan standar maturitas ditentukan berdasarkan tahap pertumbuhan organisasi perusahaan, yaitu growth. Menggunakan standar tingkat maturitas growth, diidentifikasi terdapat 6 proses bisnis existing yang membutuhkan perbaikan maturitas. Rekomendasi solusi perbaikan maturitas proses bisnis dirumuskan menggunakan Failure Modes and Effect Analysis (FMEA). Implementasi solusi kemudian diprioritaskan menggunakan analisis pareto dan ditampilkan dalam bentuk 4 project charter.