π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 8 dokumenPERANCANGAN CONCEPT ART BERDASARKAN NOVEL MISTERI KELUARGA BIRU SEBAGAI AWARENESS FENOMENA PENCULIKAN ANAK BAGI DEWASA AWAL
Fenomena penculikan anak merupakan persoalan sosial yang kompleks dan berkaitan erat dengan kerentanan anak serta lemahnya perlindungan lingkungan di sekitarnya. Anak sebagai kelompok rentan tidak memiliki kapasitas untuk melindungi dirinya sendiri, sehingga upaya pencegahan perlu melibatkan peran komunitas, khususnya kelompok dewasa awal. Dewasa awal (20β40 tahun) memiliki posisi strategis sebagai bagian dari lingkungan terdekat anak, tetapi kesadaran terhadap isu penculikan anak masih tergolong rendah. Tugas akhir ini bertujuan untuk merancang concept art berdasarkan novel Misteri Keluarga Biru sebagai media awareness fenomena penculikan anak bagi dewasa awal. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif eksploratif dengan pendekatan naratif dan interpretatif, melalui kajian literatur, analisis kasus penculikan anak, serta wawancara dengan narasumber di bidang kriminologi dan psikologi. Hasil perancangan diharapkan mampu menghadirkan concept art yang merepresentasikan kerentanan anak dan tanggung jawab komunal secara visual dan naratif, sehingga dapat meningkatkan kesadaran dewasa awal terhadap isu penculikan anak.
PERANCANGAN ANIMASI EKSPERIMENTAL TENTANG KECEMASAN AKIBAT EKSPEKTASI ORANG TUA PADA ANAK TUNGGAL DEWASA MUDA UNTUK MENINGKATKAN SELF-AWARENESS
Sebagai satu-satunya anak dalam keluarga, anak tunggal menerima ekspektasi orang tua yang terpusat pada dirinya. Di Indonesia, kondisi ini membuat mereka lebih rentan mengalami tekanan psikologis dan kecemasan dibandingkan individu dengan saudara kandung. Kecemasan tersebut dapat diringankan melalui pengembangan self-awareness, yang membantu anak tunggal dewasa muda mengenali bahwa tekanan yang dirasakan berasal dari internalisasi ekspektasi orang tua, sehingga dapat direspons secara lebih adaptif. Penelitian ini merancang animasi eksperimental berjudul "Untuk Satu, dari Satu", yang menggambarkan kecemasan seorang anak tunggal menghadapi keterkaitan antara tekanan masa kecil dan dirinya di masa kini. Metode Double Diamond digunakan dalam perancangan ini, didukung penelitian kualitatif melalui wawancara dengan psikolog, praktisi animasi eksperimental, dan responden anak tunggal dewasa muda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman kecemasan tersebut dapat direpresentasikan melalui rangkaian pengalaman yang dekat dan metafora visual, yang kemudian dapat mendorong audiens melakukan refleksi diri setelah menonton. Penelitian ini menunjukkan potensi animasi eksperimental sebagai pendekatan untuk meningkatkan self-awareness.
PENGARUH TINGKAT ANTROPOMORFIK CHATBOT KONSELING TERHADAP PREFERENSI MAHASISWA: PERAN KARAKTERISTIK PSIKOLOGIS DAN GENDER
Perkembangan teknologi digital mendorong pemanfaatan chatbot sebagai media interaksi dalam berbagai layanan berbasis daring, termasuk layanan konseling. Meskipun chatbot menawarkan kemudahan dan efisiensi, efektivitas interaksi chatbot dalam layanan konseling juga perlu diperhatikan, karena preferensi pengguna terhadap chatbot mencerminkan sejauh mana interaksi tersebut sesuai dengan kebutuhan masing-masing pengguna. Preferensi ini tidak bersifat seragam, sehingga variasi respons dapat diamati lebih jelas ketika pengguna dibedakan berdasarkan demografi tertentu. Meskipun sejumlah penelitian telah mengkaji preferensi pengguna terhadap chatbot dan peran karakteristik psikologis dalam interaksi manusia dan teknologi, kajian yang menelaah pola preferensi pada masing-masing kelompok gender serta mengaitkannya langsung dengan perancangan alur interaksi chatbot konseling masih terbatas. Penelitian ini memberikan perspektif tambahan dengan menempatkan fokus analisis pada preferensi terhadap tingkat antropomorfisme chatbot konseling pada masing- masing kelompok gender dan mengaitkannya dengan implikasi perancangan alur interaksi chatbot konseling. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pola preferensi pengguna terhadap chatbot konseling berdasarkan karakteristik psikologis pengguna dalam masing-masing kelompok gender. Penelitian melibatkan 188 responden mahasiswa dengan dua variabel psikologis, yaitu social anxiety dan neuroticism. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola preferensi pengguna terhadap tingkat antropomorfisme chatbot konseling berbeda antar kelompok gender. Studi ini memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan kajian interaksi manusia dan chatbot melalui pendekatan psikologis, serta kontribusi praktis bagi pengembang layanan konseling digital dalam merancang chatbot yang lebih sesuai dengan preferensi pengguna.
ESENSI EVOLUSI: EKSPRESI JATI DIRI LEWAT KUDA BERGERAK DAN WARNA
Manusia yang senantiasa mengalami perubahan ada kalanya merasa tidak nyaman dengan perubahan yang terjadi sebab keanehan yang dirasakan atau bahkan konflik dengan individu lain yang mengiringinya. Di samping perubahan yang terjadi, akan ada beberapa kekonsistensian yang selalu muncul dan bertahan sejak kecil hingga dewasa, bisa berupa perilaku, kebiasaan, atau preferensi terhadap sesuatu. Dalam Esensi Evolusi, kuda yang bergerak merupakan ekspresi dari keresahan akan perubahan yang terjadi, alegori dari manusia itu sendiri yang kemudian diasosiasikan dengan warna-warna kontras tertentu, yakni dua warna primer yang saling beroposisi serta dua warna netral yang saling beroposisi. Elaborasi dari keduanya menjadi representasi dari perubahan yang dialami manusia serta representasi dari kekonsistensian dari pribadi yang lama yang tidak hilang yang lantas menjadi instrumen pemberi validitas makna jati diri yang sesungguhnya untuk manusia. Menggunakan metode eksploratif dengan menghilangkan bagian bagian tertentu dari sosok kuda dan mengganti warna-warnanya yang tidak lazim ada pada kuda di dunia nyata, dengan demikian akan menjadi bagian dari simbol sebuah kondisi dan sifat dari suatu keadaan. Adapun tujuannya untuk menggali keterkaitan pergerakan kuda dan warna dalam mengekspresikan perasaan ketidaknyamanan akan perubahan kepribadian manusia; dan memvisualkan sosok kuda yang bergerak dan pemilihan warna-warna tertentu menjadi alegori dari perubahan kepribadian manusia dan perasaan ketidaknyamanan. Hasilnya merupakan Esensi Evolusi, mengekspresikan perubahan kepribadian manusia menuju jati diri sejatinya lewat penggambaran kuda yang bergerak dan warna warna kontras tertentu yang memiliki representasinya masing-masing sebagai metaforanya. Proses berkarya dengan kenyataan bahwa manusia mutlak telah dan akan berubah. Perubahan tersebut akan menimbulkan kebentrokan di dalam batin pribadi, atau bahkan dengan sesama yang lain tetapi tidak akan mengubah kenyataan, bahwa itulah realita yang pasti terjadi. Perubahan tidak lantas mengubah identitas manusia, karena perubahan merupakan identitas murni dari manusia tersebut.
KONSTRUKSI MEMORI: EKSPRESI INGATAN KOTA MELALUI LUKISAN LANSKAP
Memori adalah titik pertemuan antara pikiran dan materi di mana otak berperan dalam menerjemahkan pengalaman personal menjadi sebuah persepsi. Melalui memori perjalanan ke sebuah tempat asing, penulis berupaya menghadirkan kembali ingatan tersebut dengan kesadaran yang dimiliki saat ini. Hal tersebut tentunya menciptakan persepsi baru karena memori telah mengalami keberjarakan. Teori seni rupa yang penulis gunakan dalam penciptaan ini adalah teori seni sebagai ekspresi Croce-Collingwood dan kajian lukisan lanskap. Kemudian dilengkapi dengan Teori Materi dan Memori oleh Henry Bergson sebagai penunjang. Seniman referensi yang memiliki keterkaitan terkait lanskap dan memori digunakan sebagai referensi diantaranya Jules de Balincourt, Alia Ahmad, dan Marius Bercea. Karya seri βKonstruksi Memoriβ menghadirkan enam buah kanvas lukisan yang mengeksplorasi persepsi baru dalam melihat memori. Medium yang penulis gunakan dalam seri ini adalah kanvas, cat minyak dan medium, tinta india, dan kuas. Hasil akhir dari karya ini adalah lukisan lanskap suasana perkotaan Jepang yang ekspresif dan menjauhi realita. Meski berada dalam satu tema, setiap karya menampilkan permainan tumpukan cat, sudut pandang, dan bentuk visual yang berbeda.
PERANCANGAN FILM PENDEK MENGENAI DISSOCIATIVE IDENTITY DISORDER (DID) UNTUK REMAJA HINGGA DEWASA MUDA
Dissociative Identity Disorder (DID), sebelumnya disebut Multiple Personality Disorder (MPD), adalah salah satu penyakit mental disosiasi yang dikarakterisasi dengan adanya lebih dari dua kepribadian atau identitas dalam seseorang. Dengan peran krusial film dalam penyampaian informasi dan pembentuk persepsi masyarakat, banyaknya representasi DID dalam film yang kurang humanis dapat menyebabkan terdistorsinya pemahaman masyarakat terhadap gangguan ini. Salah satu strategi dalam memberikan perspektif lain dari seorang pemilik DID adalah membangun suatu cerita dengan pendekatan kontra narasi dengan media yang sama, film. Perancangan ini menunjukkan masa adaptasi seseorang setelah didiagnosis dengan DID dengan pendekatan point of view, sinematografis, penggunaan metafora barang, narasi yang menggambarkan ketegangan psikologis, serta penerimaan diri.
PENDAR DIALOG : PRIVAT DAN PUBLIK DALAM INSTALASI
Rumah atau ranah privat merupakan tempat untuk memperoleh perasaan nyaman dan aman. Sayangnya kondisi ini tidak untuk semua orang. Bagi sebagian orang, ranah privat justru menimbulkan rasa tidak nyaman dan aman. Oleh karena itu, ruang publik kemudian dipilih sebagai alternatif lain berdasarkan pertimbangan bahwa tidak ada ancaman ketika berekspresi, mengembangkan diri, dan optimasi diri. Karya ini mengeksplorasi persoalan relasi pola didik orang tua yang mempengaruhi rasa aman oleh individu di ranah privat yang mengakibatkan pencarian alternatif di ruang publik. Hal ini menunjukkan bagaimana perasaan nyaman dan aman diperlukan untuk mengembangkan potensi diri. Penulis kemudian membuat sebuah karya yang merespon kata-kata verbal yang familiar didengar di ranah privat dengan teks hasil proses berpikir di ruang publik mengenai teks tersebut. Penulis menggunakan pendekatan secara psikologis atau non fisik untuk mengeksplorasi permasalahan ini. Simbolisasi permasalahan diatas diadopsi dengan teks yang familiar didengar pada ranah privat. Teks tersebut kemudian direspons oleh pemikiran kritis publik sehingga membuat kontras menggunakan neon flex. Penggunaan instalasi terdiri dari 8 manekin yang disusun secara berpasangan. Setiap manekinnya dikelilingi oleh text neon flex dan pada manekin dipakaikan baju ranah privat serta ruang publik.
ASSEMBLING THE SHARDS OF IDENTITY SAFE SPACE
Penelitian artistik ini mengeksplorasi "Identitas Kintsugi," yang terinspirasi dari seni Kintsugi Jepang, di mana objek yang rusak diperbaiki dengan pernis emas, merayakan ketidaksempurnaan dan melambangkan penerimaan diri. Studi ini menyelami kompleksitas identitas manusia, dengan fokus pada individu yang menavigasi berbagai identitas budaya, nasional, dan pribadi. Identitasidentitas ini, mulai dari gender, etnis, dan kebangsaan, hingga keyakinan agama, profesi, dan afiliasi politik, baik yang diwariskan maupun diperoleh, sering kali menyebabkan konflik internal dan tantangan psikologis. Tujuan riset ini adalah untuk memahami bagaimana individu mengelola identitas yang beragam ini dan bagaimana metafora Kintsugi dapat mengintegrasikan bagianbagian ini menjadi satu kesatuan yang kohesif. Penelitian ini menggunakan perspektif psikologi, filsafat, dan studi budaya, dengan metode kualitatif yang berujung pada proyek seni yang unik. Proyek ini memperluas dan melampaui makna Kintsugi sebagai teknik tradisional memperbaiki keramik, dengan menggunakannya sebagai kerangka metaforis untuk menyatukan fragmen identitas pribadi dan budaya. Pendekatan artistik ini memungkinkan individu untuk mengeksplorasi dan merayakan penggabungan identitas mereka yang beragam, mengubah bekas luka menjadi simbol kekuatan dan pertumbuhan. Serta menghubungkan Identitas Kintsugi dengan filosofi Jepang wabi-sabi, yang menekankan keindahan dalam ketidaksempurnaan seiring berjalannya waktu. Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan bagi dunia akademis dengan menawarkan perspektif baru tentang identitas dan ketahanan, memberikan wawasan tentang cara menavigasi identitas yang beragam dan tantangan terkait menggunakan seni sebagai alat transformasi. Penelitian artistik ini mempergunakan pendekatan instalasi keramik sebagai kerangka metaforis baru untuk merepresentasikan pertumbuhan pribadi dan penerimaan diri dalam kaitan framen identitas personal dan budaya. Penelitian ini mendorong individu untuk mengeksplorasi kompleksitas identitas mereka dan merayakan bekas luka mereka sebagai simbol kekuatan dan pertumbuhan.