📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 4 dokumen

PERANCANGAN GUIDEBOOK UNTUK MENGURANGI SIFAT OVERCONSUMPTION PADA REMAJA DEWASA

Perilaku overconsumption yang kini marak di kalangan remaja dewasa tidak lagi sekadar gaya hidup, melainkan cerminan mekanisme koping yang tidak sehat, sehingga perancangan guidebook ini diarahkan untuk menjadi solusi edukatif yang dapat membantu mengurangi sifat overconsumption. Perancangan ini bertujuan untuk menciptakan sebuah guidebook yang dapat membantu remaja dewasa dalam mengidentifikasi dan mengurangi sifat overconsumption dengan membangun strategi koping yang lebih sehat. Perilaku overconsumption telah menjadi fenomena yang mengkhawatirkan di kalangan remaja dewasa. Pola ini seringkali dipicu oleh keinginan material yang berfungsi sebagai mekanisme koping untuk menghadapi tekanan dari emosi negatif. Melalui studi pustaka, wawancara, dan survei diketahui bahwa overconsumption memang banyak dipraktikkan sebagai bentuk pelarian untuk mengisi kekosongan emosional dan meredakan tekanan. Temuan inilah yang menjadi fondasi bagi penyusunan guidebook. Konsep visual dirancang dengan pendekatan empatik, menggunakan ilustrasi naratif dan tipografi yang reflektif untuk memandu pembaca melakukan introspeksi, mengenali pemicu emosional belanja, serta memberikan alternatif aktivitas penyaluran emosi. Diharapkan, hasil akhir dari perancangan ini dapat menjadi alat yang efektif penurunan perilaku konsumtif berlebih dan impulsif di kalangan remaja dewasa.

2026
👤 Penulis: Arlyn Raissa Ardhani Rakhman
🏷️ Psikologi Remaja 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Emosional

PERANCANGAN KAMPANYE SOSIAL TENTANG PENGELOLAAN KECEMASAN AKIBAT PERBANDINGAN DIRI (SELF-COMPARISON) PADA REMAJA USIA PERTENGAHAN DI WILAYAH URBAN INDONESIA

Masa remaja merupakan periode transisi krusial dari masa kanak-kanak menuju dewasa yang ditandai oleh perubahan fisik, kognitif, emosional, dan sosial yang signifikan. Pada fase remaja pertengahan (usia 15–18 tahun), individu mulai mampu berpikir abstrak dan reflektif, namun masih menghadapi berbagai tantangan perkembangan, seperti pencarian identitas diri, tekanan sosial, serta konflik interpersonal. Data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, termasuk kecemasan dan perasaan kesepian. Kondisi ini diperparah oleh karakteristik kehidupan masyarakat urban yang serba cepat (fast-paced) serta tingginya paparan media digital, yang berpotensi meningkatkan tekanan psikologis pada remaja. Penelitian ini dilakukan untuk merancang sebuah kampanye sosial yang berfokus pada pengelolaan kecemasan remaja usia pertengahan di masyarakat urban melalui penerapan teknik grounding 5-4-3-2-1 sebagai bentuk intervensi preventif nonklinis. Metode perancangan yang digunakan mengacu pada pendekatan desain komunikasi visual dengan mengintegrasikan teori perkembangan remaja, konsep kecemasan, serta strategi kampanye sosial. Kampanye dirancang menggunakan media online dan offline, meliputi konten media sosial (Instagram, Tiktok, dan Whatsapp), KOL, situs web, pameran interaktif, animatik, buku jurnal, stiker, dan poster interaktif. Hasil perancangan diharapkan mampu meningkatkan kesadaran remaja terhadap pentingnya kesehatan mental, memberikan pemahaman tentang mengelola kecemasan sebagai kondisi yang wajar dalam fase perkembangan, serta membekali remaja dengan keterampilan praktis dalam mengelola kecemasan secara mandiri melalui teknik grounding. Kampanye ini diharapkan dapat menjadi salah satu upaya preventif dalam mendukung kesejahteraan psikologis remaja urban secara berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Siti Rohimah
🏷️ Psikologi Remaja 🏷️ Kampanye Sosial 🏷️ Grounding Teknik

PERANCANGAN ANIMASI PENDEK SEBAGAI MEDIA UNTUK MENGURANGI GANGGUAN KECEMASAN PADA REMAJA USIA 15-17 TAHUN

Gangguan kecemasan merupakan permasalahan psikologis yang marak terjadi pada Remaja. Mereka sering kali mengalami kesulitan dalam mengenali dan mengekspresikan rasa cemas yang mereka rasakan, sehingga diperlukan media yang mampu menyampaikan isu tersebut secara reflektif. Penelitian ini bertujuan untuk merancang media animasi sebagai salah satu sarana dalam membantu remaja usia 15–17 tahun memahami serta mengelola kecemasan. Metode penelitian yang digunakan Adalah pendekatan mixed methods. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur terkait gangguan kecemasan pada remaja, observasi, wawancara dengan para ahli seperti psikolog, psikiater, dan animator, wawancara dengan target audiens, serta penyebaran kuesioner kepada siswa SMA berumur 15-17 tahun. Data yang diperoleh dianalisis untuk menentukan konsep naratif, desain karakter, gaya visual yang diminati, dan pendekatan storytelling yang sesuai dengan kondisi psikologis remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan animasi dengan pendekatan visual yang lembut, alur cerita reflektif, serta karakter yang merepresentasikan pengalaman remaja mampu menciptakan rasa keterhubungan emosional dan memberikan efek menenangkan. Media animasi yang dirancang berpotensi menjadi salah satu media pendukung dalam Upaya mengurangi rasa cemas pada Remaja.

2026
👤 Penulis: Azarine Arkan Irhamy
🏷️ Psikologi Remaja 🏷️ Animasi Sebagai Media Edukasi 🏷️ Pembelajaran Reflektif

KAJIAN PERILAKU BERISIKO BERMOTOR SISWA SMA DENGAN MOTORCYCLE RIDER BEHAVIOR QUESTIONNAIRE

Remaja di Indonesia menjadi kontributor utama dalam tingginya kasus kecelakaan sepeda motor secara nasional. Namun, fakta ini diperburuk oleh tidak efektifnya pemantauan serta penegakan hukum, yang membuat pelanggaran lalu lintas oleh pengemudi muda menjadi fenomena yang sulit dikendalikan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik dan perilaku berisiko siswa SMA pengendara sepeda motor yang berpotensi menyebabkan insiden lalu lintas. Untuk mencapai tujuan tersebut, pendekatan kuantitatif diterapkan dengan menggunakan kuesioner Motorcycle Rider Behavior Questionnaire (MRBQ). Kuesioner disebarkan kepada demografi siswa SMA untuk menelusuri faktor-faktor relevan yang memengaruhi perilaku mereka saat mengemudi. Berdasarkan analisis terhadap 126 responden dari Bandung, Jakarta Selatan, dan Depok, ditemukan bahwa jenis kelamin laki-laki dan domisili di kabupaten menunjukkan kecenderungan insiden yang lebih tinggi. Studi ini juga mengungkap bahwa kepemilikan SIM C tidak berasosiasi signifikan dengan insiden, berbeda dengan kapasitas mesin 125cc ke atas yang justru meningkatkan keselamatan. Secara psikologis dan perilaku, persepsi individu terhadap risiko serta tindakan spesifik seperti mengebut atau melakukan kesalahan lalu lintas terbukti secara signifikan meningkatkan probabilitas terjadinya insiden. Kesiapan pengemudi secara menyeluruh, yang mencakup alat pelindung diri, kondisi mesin, dan kesehatan, juga turut menjadi faktor penentu yang memengaruhi keterlibatan dalam insiden. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat karakteristik dan perilaku spesifik pada pengendara di kalangan siswa SMA yang secara signifikan berkontribusi terhadap insiden lalu lintas. Di sisi lain, penelitian ini menemukan bahwa beberapa perilaku berisiko lainnya yang lazim dilakukan tidak memiliki korelasi signifikan dengan terjadinya insiden. Adapun keterbatasan utama penelitian ini terletak pada instrumen Motorcycle Rider Behavior Questionnaire (MRBQ) yang digunakan. Meskipun telah disesuaikan untuk memperhitungkan perilaku lokal, instrumen tersebut pada dasarnya belum dirancang secara spesifik untuk demografi pengendara muda. Oleh karena itu, direkomendasikan adanya penelitian lanjutan untuk mengadaptasi dan memvalidasi instrumen MRBQ agar lebih selaras dengan konteks demografis serta budaya remaja di Indonesia.

2025
👤 Penulis: Christopher Halomoan
🏷️ Psikologi Remaja 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Lalu Lintas 🏷️ Hidrologi Geospasial
💬