📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 8 dokumenUJI EFEKTIVITAS PUPUK KASGOT PELET PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL PRODUKSI BIOMASSA TANAMAN SAWI HIJAU (BRASSICA JUNCEA L.)
Ketersediaan sawi hijau (Brassica juncea L.) berbanding terbalik dengan konsumsinya yang tinggi. Salah satu penyebab penurunan ketersediaan ini adalah degradasi tanah akibat pemakaian pupuk anorganik yang berlebih. Pengunaan pupuk kasgot pelet diharapkan dapat menjadi pembenah tanah untuk memperbaiki kesuburan tanah. Penelitian ini dilakukan di Greenhouse di Kampus ITB Jatinangor pada bulan Desember 2024 sampai Februari 2025. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan faktor perlakuan 5 jenis pupuk yaitu : pupuk NPK mutiara, pupuk kasgot pelet, pupuk kasgot curah, pupuk NPK + pupuk kasgot pelet, dan pupuk NPK + pupuk kasgot curah dengan 4 kali pengulangan.. Hasil penelitian menunjukkan pupuk organik secara nyata meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman dibandingkan pupuk anorganik (NPK). Efektivitas pemberian pupuk organik kasgot terhadap pertumbuhan tanaman adalah sebagai berikut pupuk kasgot curah > pupuk kasgot pelet > NPK + kasgot curah > NPK + kasgot pelet > pupuk NPK. Meski efektivitas pupuk pelet kasgot lebih rendah dibandingkan kasgot curah, namun pupuk ini dapat direkomendasikan karena menghasilkan pertumbuhan dan hasil yang optimum pada tanaman sawi
PRODUKSI PUPUK ORGANIK PADAT DARI LIMBAH PSEUDOSTEM PISANG (MUSA SPP.) DENGAN PENAMBAHAN BIOAKTIVATOR EFFECTIVE MICROORGANISM 4 (EM4)
Indonesia memiliki produksi pisang yang tinggi, namun batang pisang (pseudostem) sering menjadi limbah pertanian yang tidak dimanfaatkan. Setiap satu ton pisang, dihasilkan 4 ton limbah pseudostem pisang. Jumlah tersebut berpotensi mencemari lingkungan jika tidak dikelola dengan tepat. Pseudostem pisang mengandung karbon (21,85%), nitrogen (0,28%), fosfor (0,98%), kalium (3,30%), dan rasio C/N sebesar 78. Melalui proses pengomposan dengan bioaktivator EM4 (Effective Microorganism 4), limbah pertanian tersebut dapat terurai lebih cepat dan menjadi pupuk organik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh komposisi bahan tambahan terhadap proses pengomposan, serta menentukan komposisi dan waktu pengomposan terbaik berdasarkan parameter pH, rasio C/N, kadar hara makro (N, P, K), dan yield. Penelitian terdiri dari 2 faktor perlakuan: komposisi bahan dan waktu pengomposan (7, 14, dan 21 hari). Selama pengomposan, temperatur diukur setiap 2 hari, sedangkan pH, rasio C/N, dan kadar hara makro (N, P, K) diuji setiap 7 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi bahan organik memengaruhi temperatur, pH, dan rasio C/N selama pengomposan, tetapi tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kadar hara makro. Kombinasi bahan organik berupa limbah pseudostem pisang dan dedak padi (1:2 basis kering), serta bioaktivator EM4 dengan waktu pengomposan 14 hari memberikan hasil yang paling baik. Perlakuan ini menghasilkan pupuk organik sesuai standar mutu SNI-3-7763-2024, yakni dengan pH sebesar 7,68 ± 0,80; rasio C/N sebesar 22,30 0,37; kadar hara makro sebesar 2,88%, dan yield sebesar 90,96%.
PRODUKSI PUPUK ORGANIK PADAT BERBAHAN DASAR ECENG GONDOK (EICHHORNIA CRASSIPES) DENGAN BIOAKTIVATOR EFFECTIVE MICROORGANISM 4 (EM4)
Eceng gondok (Eichhornia crassipes) adalah tanaman air invasif yang tumbuh cepat, sering menyumbat saluran air dan merusak kualitas lingkungan perairan. Tanaman ini menurunkan kadar oksigen terlarut (DO) dan meningkatkan kekeruhan air, sehingga merugikan ekosistem akuatik, termasuk ikan dan organisme lain yang membutuhkan oksigen. Meskipun dianggap sebagai limbah, eceng gondok mengandung nutrisi penting seperti karbon (C), nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K) yang menjadikannya bahan baku potensial untuk pembuatan pupuk organik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi dan waktu pengomposan terbaik dalam produksi pupuk organik padat berbahan dasar eceng gondok dengan tambahan dedak padi dan kotoran kambing menggunakan bioaktivator Effective Microorganism 4 (EM4). Pengomposan dilakukan secara aerobik selama 28 hari, dengan perlakuan variasi campuran bahan organik. Parameter yang dianalisis meliputi pH, rasio C/N, kadar nitrogen (N), fosfor (P?O?), kalium (K?O), suhu, dan persenkonversi. Data hasil percobaan dianalisis dengan metode statistik ANOVA Dua arah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan campuran eceng gondok dan kotoran kambing selama 2 minggu menghasilkan kualitas pupuk terbaik, dengan pH 8,28, rasio C/N 24,83, kadar hara makro (N+P?O?+K?O) sebesar 43,72%, serta rendemen mencapai 76,08%. Hasil akhir menunjukkan pupuk organik padat yang memenuhi standar mutu SNI 7763:2024. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan perlakuan dengan komposisi bahan kering eceng gondok dan kotoran kambing (1:2) dengan waktu pengomposan 2 minggu sebagai metode optimal dalam produksi pupuk organik berbahan dasar eceng gondok.
PENINGKATAN PRODUKSI & PRODUKTIVITAS TANAMAN EDAMAME (GLYCINE MAX L. MERRILL) VAR. BIOMAX 1 MELALUI PEMBERIAN CAMPURAN PUPUK TULANG AYAM DAN PUPUK KANDANG AYAM
Seiring bertambahnya jumlah penduduk, kebutuhan akan pangan masyarakat Indonesia semakin bertambah setiap tahunnya. Kedelai hijau atau edamame merupakan komoditas pangan penghasil protein nabati yang bergizi tinggi dan diminati oleh masyarakat Indonesia. Salah satu unsur yang mempengaruhi produktivitas serta hasil panen kedelai hijau adalah unsur fosfor (P). Unsur P ditemukan dalam kandungan yang tinggi pada limbah tulang ayam dan limbah kotoran ayam. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan produksi dan produktivitas tanaman kedelai hijau (edamame) yang ditanam pada polybag dengan pemberian campuran pupuk tulang ayam dan pupuk kandang ayam. Rancangan penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yaitu perbandingan jenis pupuk. Jenis pupuk yang digunakan meliputi pupuk NPK sebagai kontrol (p0), pupuk organik granular (p1), dan campuran pupuk tulang ayam dengan pupuk kandang ayam (p2) dari limbah tulang ayam. Dosis pupuk disesuaikan dengan perhitungan kebutuhan pupuk sesuai dengan SOP Pemupukan Balitsa. Produksi kedelai hijau dengan perlakuan campuran pupuk tulang ayam dan pupuk kandang ayam mencapai 39,03 gram per tanaman, sedangkan produktivitasnya mencapai 1,40 ton/ha. Penelitian ini membuktikan adanya perbedaan nyata pada perlakuan penggunaan campuran pupuk tulang ayam dan pupuk kandang ayam dan membuktikan adanya peningkatan produksi dan produktivitas pada perlakuan tersebut
APLIKASI KANVAS BISNIS MODEL KEBERLANJUTAN (SUSTAINABLE BUSINESS MODEL CANVAS) UNTUK BISNIS PRODUK GROW KIT BERBASIS PUPUK ORGANIK
Di perkotaan, sistem pertanian yang dapat dengan mudah diaplikasikan di kehidupan sehari-hari adalah pertanian dengan sistem urban farming. Urban farming adalah sebuah konsep bertani di perkotaan dengan menggunakan teknik tertentu, salah satunya adalah dengan memanfaatkan container farming yang menggunakan polybag. Namun, keberhasilan pertanian sistem ini sangat bergantung terhadap media tanam serta pupuk. Sebagian besar pertanian urban mengandalkan media tanam dan pupuk yang berasal dari daerah rural sehingga menurunkan tingkat keberlanjutan dari pertanian tersebut. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan memproduksi pupuk dengan pengolahan limbah organik perkotaan menggunakan agen hayati seperti mikroorganisme (seperti kompos) maupun makro fauna (seperti vermikompos dan kasgot). Seiring dengan pertumbuhan pertanian urban sebagai bagian dari kehidupan masyarakat kota, maka terdapat beberapa inovasi yang dapat dikembangkan untuk memenuhi pasar ini, yaitu Grow Kit (GK) yang merupakan sebuah KIT (Kotak Instrumen Terpadu). Grow Kit adalah sebuah produk yang berisikan media tanam berupa campuran tanah, arang sekam, dan pupuk kasgot, benih tanaman, polybag, kertas panduan, stik es krim, dan alat drip irrigation. Jika ditinjau dari perdagangan domestik, produk GK termasuk ke dalam sektor DIY (Do It Yourself atau barang yang dapat dirakit sendiri), pertamanan, dan juga hewan peliharaan. Pendapatan di segmen produk DIY, pertamanan, dan hewan peliharaan dan sektor ini diprediksi akan memiliki 10,27 juta pengguna dengan volume pasar sebesar $3,928.00 juta pada tahun 2027. Produk bisnis ini sendiri relatif masih baru di Indonesia dan belum terdapat suatu model bisnis yang dapat dijadikan dasr untuk menentukan kelayakan dan pengembangan bisnis ini. Pada penelitian ini, dilakukan penelaahan model bisnis Grow Kit dengan pendekatan SBMC (Sustainable Business Model Canvas). Berdasarkan hasil penelitian, bisnis GK layak untuk dijalankan sebagai sebuah bisnis pertanian. Bisnis ini memiliki Value Propositions sebagai produk DIY yang ramah pemula, fleksibilitas dalam lokasi untuk mengerjakan, dengan produk akhir berupa produk pangan bernutrisi tinggi yang dapat dikonsumsi. Model bisnis GK memiliki Payback Period dalam 5 tahun 5 bulan 16 hari, NPV senilai Rp937.568,479,55, Internal Rate of Retrun sebesar 24,91%, dan Benefit/Cost Ratio sebesar 1,56.
APLIKASI KANVAS BISNIS MODEL KEBERLANJUTAN (SUSTAINABLE BUSINESS MODEL CANVAS) UNTUK BISNIS PRODUK GROW KIT BERBASIS PUPUK ORGANIK
Di perkotaan, sistem pertanian yang dapat dengan mudah diaplikasikan di kehidupan sehari-hari adalah pertanian dengan sistem urban farming. Urban farming adalah sebuah konsep bertani di perkotaan dengan menggunakan teknik tertentu, salah satunya adalah dengan memanfaatkan container farming yang menggunakan polybag. Namun, keberhasilan pertanian sistem ini sangat bergantung terhadap media tanam serta pupuk. Sebagian besar pertanian urban mengandalkan media tanam dan pupuk yang berasal dari daerah rural sehingga menurunkan tingkat keberlanjutan dari pertanian tersebut. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan memproduksi pupuk dengan pengolahan limbah organik perkotaan menggunakan agen hayati seperti mikroorganisme (seperti kompos) maupun makro fauna (seperti vermikompos dan kasgot). Seiring dengan pertumbuhan pertanian urban sebagai bagian dari kehidupan masyarakat kota, maka terdapat beberapa inovasi yang dapat dikembangkan untuk memenuhi pasar ini, yaitu Grow Kit (GK) yang merupakan sebuah KIT (Kotak Instrumen Terpadu). Grow Kit adalah sebuah produk yang berisikan media tanam berupa campuran tanah, arang sekam, dan pupuk kasgot, benih tanaman, polybag, kertas panduan, stik es krim, dan alat drip irrigation. Jika ditinjau dari perdagangan domestik, produk GK termasuk ke dalam sektor DIY (Do It Yourself atau barang yang dapat dirakit sendiri), pertamanan, dan juga hewan peliharaan. Pendapatan di segmen produk DIY, pertamanan, dan hewan peliharaan dan sektor ini diprediksi akan memiliki 10,27 juta pengguna dengan volume pasar sebesar $3,928.00 juta pada tahun 2027. Produk bisnis ini sendiri relatif masih baru di Indonesia dan belum terdapat suatu model bisnis yang dapat dijadikan dasr untuk menentukan kelayakan dan pengembangan bisnis ini. Pada penelitian ini, dilakukan penelaahan model bisnis Grow Kit dengan pendekatan SBMC (Sustainable Business Model Canvas). Berdasarkan hasil penelitian, bisnis GK layak untuk dijalankan sebagai sebuah bisnis pertanian. Bisnis ini memiliki Value Propositions sebagai produk DIY yang ramah pemula, fleksibilitas dalam lokasi untuk mengerjakan, dengan produk akhir berupa produk pangan bernutrisi tinggi yang dapat dikonsumsi. Model bisnis GK memiliki Payback Period dalam 5 tahun 5 bulan 16 hari, NPV senilai Rp937.568,479,55, Internal Rate of Retrun sebesar 24,91%, dan Benefit/Cost Ratio sebesar 1,56.
PRA-RANCANGAN SISTEM BUDIDAYA PERMAKULTUR TERINTEGRASI DENGAN PENGOLAHAN LIMBAH ORGANIK PADA SET-UP URBAN FARMING
Urban farming melibatkan penggunaan lahan perumahan dan untuk menghasilkan sistem produksi pertanian yang berkelanjutan maka aplikasi pupuk organik dapat memanfaatkan limbah rumah tangga sebagai media pertanian, seringkali dengan memanfaatkan pupuk organik seperti kasgot yang dihasilkan dari larva BSF. Pakcoy, salah satu sayuran yang populer, menjadi pilihan utama dalam praktik urban farming karena kemampuannya untuk tumbuh dalam lahan yang terbatas. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan konsentrasi media tanam (kasgot 0%, 10%, 20%, dan 30%) dan 6 ulangan. Parameter pertumbuhan yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, panjang akar, bobot basah, dan bobot kering. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan metode analisis ragam (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95%, dan perbedaan signifikan diuji lebih lanjut dengan metode Uji Beda Nyata Jujur (BNJ/Tukey) dengan taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kasgot menghasilkan perbedaan signifikan terhadap semua parameter. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa untuk tinggi tanaman, jumlah daun, dan luas daun adalah sebagai berikut: P0 (10,250 cm; 6,083 daun; 114,431 cm²), P1 (13,816 cm; 7,333 daun; 268,826 cm²), P2 (14,158 cm; 6,500 daun; 206,655 cm²), dan P3 (12,233 cm; 6,666 daun; 123,735 cm²). Untuk panjang akar, bobot basah, dan bobot kering, hasilnya adalah: P0 (18,042 cm; 11,450 g; 0,243 g), P1 (16,708 cm; 46,342 g; 0,9367 g), P2 (12,063 cm; 30,483 g; 0,6067 g), dan P3 (12,195 cm; 19,508 g; 0,4033 g). Budidaya Pakcoy dengan aplikasi pupuk kasgot akan layak dilaksanakan dalam skala komunal dengan BCR sebesar 1.320.
PENGARUH PUPUK TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN SERAI WANGI (CYMBOPOGON NARDUS) VARIETAS SERAI WANGI-1 DAN KUALITAS FISIK TANAH PADA LAHAN PASCATAMBANG BATUBARA
Dalam kegiatan reklamasi lahan bekas tambang, penggunaan komoditas dan bahan organik menjadi faktor penting dalam keberjalanannya. Serai wangi memiliki kemampuan pertumbuhan dan adaptasi yang baik pada kondisi lingkungan sub optimum. Tandan kosong kelapa sawit merupakan limbah organik yang dapat dijadikan alternatif bahan organik untuk memperbaiki karakteristik tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh bahan organik tandan kosong kelapa sawit, pupuk kandang sapi, dan kombinasi keduanya. Pengamatan pertumbuhan dilakukan selama 10 MST dengan parameter pertumbuhan; tinggi tanaman, panjang daun, dan jumlah anakan. Pengamatan sifat fisik tanah dilakukan dengan mengambil sampel tanah utuh menggunakan core sampler di area lahan penelitian pada sebelum penanaman dan sesudah penanaman untuk menentukan adanya perubahan pada parameter bobot isi tanah, porositas total tanah, dan kadar air tanah. Sedangkan pada pengamatan sifat kimia tanah diambil sampel tanah komposit setelah penanaman. Pengujian sampel tanah dilakukan di Laboratorium Pertanian Universitas Padjajaran untuk sifat fisik tanah dan Laboratorium Pertanian Universitas Mulawarman untuk sifat kimia tanah. Diperoleh hasil penelitian pada tiga perlakuan tidak terdapat perbedaan dengan rata-rata tinggi tanaman tertinggi 123.44 cm, rata-rata panjang daun terpanjang pada 90.58 cm, dan rata-rata jumlah anakan terbanyak 39.67 anakan. Pada parameter sifat fisik tanah, diperoleh bobot isi tanah terbaik sebesar 1.03 g/cm³ dan porositas total tanah sebesar 61.3% Sedangkan, pada sifat fisik tanah dengan parameter kadar air diperoleh rata-rata hasil tertinggi sebesar 37.6%