📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 1 dokumenKARAKTERISTIK MORFOLOGI DAN FISIOLOGI BIBIT SEBAGAI ACUAN PEMILIHAN SPESIES UNTUK REHABILITASI HUTAN
Deforestasi hutan tropis Indonesia ditandai dengan penurunan tutupan hutan primer dari 55,7% menjadi 45,2% luas daratan antara tahun 2000–2022, dan program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) yang diamanatkan Permen LHK Nomor 23 Tahun 2021 belum mencapai target dengan mortalitas bibit di lapangan mencapai 40–70% pada tahun pertama penanaman. Kegagalan ini bersumber dari ketidaksesuaian spesies dengan kondisi tapak dan minimnya data ekofisiologi lokal untuk mendukung seleksi spesies berbasis bukti ilmiah. Bibit yang tampak sehat di persemaian tidak menjamin kemampuan bertahan di lapangan, karena morfologi tidak mencerminkan kapasitas fisiologis aktual dalam menghadapi cekaman di tapak terbuka. Penelitian ini dilaksanakan di Persemaian Aklimatisasi ITB Kampus Jatinangor selama sebelas minggu, mengkaji tiga spesies hutan tropis untuk rehabilitasi, yaitu Khaya anthotheca (KA), Altingia excelsa (AE), dan Intsia bijuga (IB). Pengukuran morfologi mencakup tinggi, diameter batang, jumlah, ketebalan daun, dan Specific Leaf Area (SLA). Pengukuran fisiologi dilakukan menggunakan IRGA CI-340 pada intensitas cahaya 1.500 ?mol/m²/s, mencakup laju fotosintesis neto, transpirasi, konduktansi stomata, suhu daun, dan Water Use Efficiency (WUE), dilanjutkan kalkulasi Relative Growth Rate (RGR) dan uji ANOVA-Tukey HSD. KA sebagai spesies pionir mencatat konduktansi stomata tertinggi, suhu daun terendah, dan akselerasi pertumbuhan batang tertinggi pada periode akhir. AE sebagai spesies transisi menunjukkan tekanan termal kumulatif dengan kompensasi struktural parsial. IB sebagai spesies klimaks menerapkan strategi trade-off antara pertumbuhan primer dan sekunder disertai kapasitas re-growth daun pascagugur. Berdasarkan integrasi data morfofisiologi dan dinamika pertumbuhan, ketiga spesies direkomendasikan untuk ditanam secara bertahap sesuai zonasi suksesional sebagai dasar program rehabilitasi hutan tropis berbasis data ilmiah.