📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 2 dokumen

PEMETAAN REVERBERASI GEOMETRI KORONA AGN DI NGC 3516 DAN NGC 4051 DENGAN PENELUSURAN SINAR-X RELATIVISTIK

Pemetaan reverberasi memungkinkan kita untuk menerka morfologi sebuah active galactic nucleus (AGN) dari variabilitas fluksnya di berbagai pita energi foton yang berkorelasi melalui teknik spectral timing. Dengan dukungan simulasi penelusuran sinar relativistik (general relativistic raytracing), pemetaan ini dapat menjangkau hingga ke struktur terdalam (terdekat dari lubang hitam supermasif pusat) yang menjadi sumber utama emisi sinar-X dari AGN, yakni korona. Refleksi relativistik sinar-X dari korona oleh piringan akresi dan jeda waktu (time lag) dari proses reverberasi tersebut memberikan petunjuk tentang ukuran serta geometri korona. Dalam studi ini, 5 set data observasi simultan oleh misi XMM-Newton (0.3 ? 10?keV) dan NuSTAR (3?78?keV) pada NGC 3516 dan NGC 4051 diproses untuk menghasilkan lag spectra dan time-averaged spectrum (spektrum energi) untuk masing-masing epoch observasi. Analisis pada lag-frequency dan lag-energy spectra kedua objek memperlihatkan adanya fitur lag reverberasi di daerah frekuensi 10?5 ? 10?3?Hz, konsisten dengan temuan oleh studi-studi terdahulu untuk objek yang sama. Di sisi lain, joint fitting pada data spektrum menggunakan beberapa model refleksi relativistik memberikan nilai statistik yang cukup baik ? ????? 2 < 2.0 di semua percobaan. Akan tetapi, parameter sudut inklinasi, spin lubang hitam, dan tinggi korona beberapa kali mengalami fluktuasi akibat isu degenerasi antara ketiganya, sehingga hasilnya sering tak konsisten. Semisal parameter inklinasi dan spin diabaikan, ukuran dan geometri korona dapat dideduksi dari plot kontur (????,????). Dengan interpretasi ini, didapat bahwa geometri korona AGN di NGC 3516 berevolusi selama ~3 tahun observasinya, dari hemisphere hingga lamppost. Sementara itu, observasi tunggal pada NGC 4051 cukup konsisten dengan korona lamppost, meski tinggi koronanya belum bisa ter-constrained. Selain itu, di dua kasus di mana korona diduga berupa lamppost, pemodelan lag-energy spectrum berhasil cocok dengan baik terhadap data observasi dari salah satu instrumen yang memiliki kualitas data yang baik. Masih banyak kekurangan dalam studi ini dan perlu dilakukan studi lebih lanjut, khususnya dengan implementasi teknik dan strategi statistik yang lebih kuat.

2026
👤 Penulis: Sulthon Furqandhani Araska
🏷️ Relativistik 🏷️ Korona Agn 🏷️ Pemetaan Reversberasi

STUDI PERUMUSAN METRIK RUANGWAKTU DI SEKITAR BLACK HOLE DENGAN KEBERADAAN HALO DARK MATTER

Dark matter adalah salah satu misteri besar dalam astrofisika modern. Komponen tak terlihat ini diyakini mengisi 27% alam semesta. Dark matter tidak memancarkan cahaya, namun pengaruh gravitasinya dapat diamati, salah satunya melalui fenomena kurva rotasi galaksi datar. Dalam kerangka relativitas umum, gravitasi bukan lagi dipandang sebagai gaya, melainkan sebagai manifestasi kelengkungan ruangwaktu akibat keberadaan massa dan tekanan. Oleh sebab itu, pendekatan relativistik menjadi penting untuk memahami kontribusi dark matter terhadap dinamika galaksi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari bentuk metrik ruangwaktu yang dihasilkan dari kombinasi black hole dan halo dark matter, serta menghasilkan model kerapatan relativistik dari dark matter menggunakan persamaan medan Einstein. Dua model dark matter yang digunakan adalah cold dark matter (CDM) dan scalar field dark matter (SFDM). Melalui pendekatan analitik dan numerik, diperoleh profil kerapatan dan tekanan masing-masing model dalam kerangka relativistik, serta kurva rotasi galaksi yang mencakup halo dark matter di dalamnya.

2025
👤 Penulis: Muchammad Najmi Syarif A.B.
🏷️ Relativistik 🏷️ Dark Matter 🏷️ Black Hole
💬