📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 2 dokumenKAPASITAS ADAPTIF MASYARAKAT TERHADAP PROGRAM PERMUKIMAN KEMBALI DI KAWASAN EKONOMI KHUSUS (KEK) MANDALIKA: STUDI KASUS DESA KUTA, KABUPATEN LOMBOK TENGAH
Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika menyebabkan sebagian masyarakat Desa Kuta harus direlokasi akibat kebutuhan lahan untuk pembangunan infrastruktur kawasan. Relokasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemindahan hunian masyarakat secara fisik, tetapi juga perubahan sistem penghidupan masyarakat yang telah dibangun sebelumnya. Perubahan tersebut menuntut kemampuan adaptasi masyarakat untuk menyesuaikan diri menghadapi kondisi lingkungan baru dalam mempertahankan keberlanjutan penghidupan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kapasitas adaptif rumah tangga masyarakat Desa Kuta pascarelokasi akibat pembangunan KEK Mandalika. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-method melalui penyebaran kuesioner, wawancara, observasi lapangan, dan studi literatur. Analisis kapasitas rumah tangga dilakukan menggunakan metode Household Adaptive Capacity (HAC) yang mengukur kapasitas adaptif masyarakat melalui dimensi kesadaran (awareness), kemampuan (ability), dan tindakan (action) sebagai proses adaptasi rumah tangga dalam menghadapi perubahan kondisi penghidupan pascarelokasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas adaptif rumah tangga masyarakat pascarelokasi berada pada tahap berkembang dengan memperoleh nilai indeks 0,43 (kategori sedang). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat mulai menyesuaikan diri terhadap perubahan penghidupan pascarelokasi. Meskipun demikian, stabilitas penghidupan masyarakat masih berada dalam proses penyesuaian membangun strategi penghidupan baru yang masih relatif terbatas dilakukan oleh rumah tangga. Temuan penelitian menunjukkan bahwa perkembangan kawasan pariwisata KEK Mandalika telah membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat relokasi, namun pemanfaatan peluang tersebut masih belum optimal akibat keterbatasan keterampilan dan pengalaman kerja. Oleh karena itu, keberhasilan relokasi tidak hanya ditentukan oleh penyediaan fisik hunian, tetapi juga memerlukan penguatan kapasitas adaptif rumah tangga melalui peningkatan keterampilan dan dukungan berkelanjutan dalam memanfaatkan peluang ekonomi yang berkembang.
EVALUASI PERUBAHAN ASET LIVELIHOOD KAMPUNG WADUK PLUIT PASCA RELOKASI KE RUSUNAWA MUARA BARU
Relokasi atau resettlement merupakan proses pemindahan masyarakat yang menempati suatu lahan secara ilegal atau bermukim di lingkungan yang rawan bencana ke tempat tinggal yang baru. Awal mula dari program relokasi di Kampung Waduk Pluit adalah fenomena banjir besar Jakarta pada awal tahun 2013. Bencana tersebut mendorong pemerintah untuk membenahi sistem pengendalian banjir di Jakarta. Dalam prosesnya, pemerintah melakukan relokasi terhadap Kampung Waduk Pluit dengan membangun Rumah Susun khusus untuk warga Kampung Waduk Pluit guna memenuhi kebutuhan primer yakni perumahan dengan sarana dan prasarana yang lebih layak. Studi ini mengkaji perubahan aset mata pencaharian yang dialami oleh warga Kampung Waduk Pluit setelah mengalami relokasi dari permukiman informal ke rusunawa yang disediakan pemerintah di wilayah Muara Baru, Jakarta Utara pada tahun 2014 dan 2015. Dengan menggunakan pendekatan mixed methods, penelitian ini menyelidiki bagaimana relokasi berdampak pada lima aset utama mata pencaharian: modal manusia, sosial, ekonomi, sumber daya alam serta fisik dan infrastruktur. Penelitian menunjukkan bahwa meskipun beberapa aset meningkat secara signifikan pasca relokasi, seperti aset manusia, aset sumber daya alam serta aset fisik dan infrastruktur, terdapat penurunan dalam kategori aset lainnya. Rekomendasi yang diberikan mencakup inisiatif pelatihan yang ditargetkan untuk meningkatkan aset ekonomi, dan pemantauan berkelanjutan untuk mengatasi isuisu yang muncul terkait dengan aset fisik dan infrastruktur.