π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5 dokumenANALISIS PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN BERDASARKAN HASIL INTERPRETASI VISUAL CITRA UNTUK PENERIMAAN PBB
Pesatnya pembangunan menyebabkan tingginya perubahan pola penggunaan lahan. Lahan yang dulunya merupakan lahan sawah maupun lahan kering, banyak yang mengalami perubahan fungsi menjadi lahan terbangun. Perubahan penggunaan lahan dapat di monitoring menggunakan data spasial remote sensing . Akusisi data remote sensing secara berseri dari waktu ke waktu memungkinkan untuk melakukan analisis perubahan penggunaan lahan. Dalam penelitian ini digunakan dua citra yaitu citra Ikonos tahun 2000 dan citra Quickbird tahun 2003. Pada kedua citra tersebut dilakukan digitasi on screen, sehingga di peroleh peta perubahan penggunaan lahan. Hasil perubahan penggunaan lahan tersebut ditumpangsusunkan dengan peta tata guna lahan dari PBB agar diperoleh data NJOP pada wilayah yang mengalami perubahan.
PENGEMBANGAN MODEL KLOROFIL-A BERBASIS CITRA SATELIT SENTINEL-2 DAN LANDSAT 9 PADA WADUK SAGULING, SUNGAI CITARUM, JAWA BARAT
Waduk Saguling memiliki kondisi hulu tercemar ringan dengan kandungan nitrat yang diatas baku mutu, sehingga diperlukan pemantauan kualitas air guna menjaga kualitas air waduk. Konsentrasi klorofil-a sebagai indikator proxy biologi dapat digunakan sebagai salah satu parameter air dalam pemantauan kualitas air. Namun, pemantauan kualitas air secara tradisional membutuhkan waktu, biaya dan tenaga yang memadai. Oleh karena itu, teknologi remote sensing dapat menjadi alternatif sebagai solusi permasalahan dari keterbatasan pada pemantauan kualitas air secara tradisional tersebut. Pada remote sensing, konsentrasi klorofil a dapat diidentifikasi melalui sifatnya yang menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu. Sehingga, cahaya yang diserap oleh klorofil-a akan diukur oleh satelit untuk mendapatkan nilai reflektansi yang dapat digunakan untuk memprediksi klorofil-a. Pada penelitian ini digunakan dua citra satelit, yaitu Sentinel-2 dan Landsat 9 untuk memprediksi klorofil-a pada Waduk Saguling. Model empiris berupa persamaan regresi digunakan untuk memprediksi konsentrasi klorofil-a dari data citra satelit. Data nilai konsentrasi klorofil-a insitu dan data nilai reflektansi pada tahun 2022 digunakan dalam memperoleh model empiris berupa persamaan regresi untuk prediksi konsentrasi klorofil-a. Sedangkan data validasi yang digunakan berupa data tahun 2024 yang menggabungkan data musim hujan dan kemarau. Pengolahan data-data tersebut dilakukan menggunakan software Rstudio. Data nilai reflektansi dan visualisasi hasil model menggunakan software Google Earth Engine (GEE). Pada penelitian ini juga membandingkan nilai reflektansi pada Sentinel-2 dan Landsat 9 berdasarkan data SR (Surface Reflectance) yang sudah di koreksi atmosferik dan data TOA (Top of Atmosphere) yang belum dilakukan koreksi atmosferik. Perbandingan ini untuk mengetahui kesesuaian data satelit dalam model. Uji validasi model dilakukan dengan parameter statistik berupa R2 dan Root Mean Squared Error (RMSE), melalui perbandingan antara hasil model dengan data tahun 2022 dan data tahun 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model citra satelit Sentinel-2 dengan data SR memiliki performa yang lebih baik dibandingkan dengan data TOA, berdasarkan nilai R2 yang lebih tinggi dan RMSE yang lebih rendah. Hasil model Sentinel-2 SR diperoleh nilai R2 dan RMSE sebesar 0,751 dan 1,39. Sedangkan TOA diperoleh nilai R2 dan RMSE sebesar 0,551 dan 1,86. Hasil model Landsat 9 TOA dengan R2 dan RMSE sebesar 0,280 dan 2,35 memiliki performa lebih baik daripada model Landsat 9 SR dengan R2 dan RMSE sebesar 0,289 dan 2,35. Hasil uji validasi menunjukkan bahwa model Sentinel-2 SR memiliki performa model yang lebih baik terhadap data baru dibandingkan dengan model Landsat 9 TOA. Model Sentinel-2 SR berupa persamaan Multiple Linear Regression (MLR) dengan integrasi band 2, 3, 4, 5 dan 11, dengan persamaan matematis sebagai berikut: y =13,36 - 239,98B2 + 235,19B3 β 0,578B4 - 56,68B11. Hasil uji validasi model Sentinel-2 diperoleh nilai R2 dan RMSE sebesar 0,261 dan 4,2, yang menunjukkan penurunan nilai R2 dan kenaikan RMSE yang mengindikasikan adanya penurunan performa model terhadap data baru. Namun, konsentrasi klorofil-a hasil model dengan nilai aktual masih berada pada status trofiknya yang sama. Sehingga model dapat memberikan gambaran besar prediksi sebaran konsentrasi klorofil-a pada Waduk Saguling dan dapat digunakan untuk memodelkan musim kemarau maupun musim hujan. Hasil visualisasi estimasi sebaran konsentrasi klorofil-a pada tahun 2022 β 2025 menunjukkan adanya kenaikan konsentrasi klorofil-a pada tahun 2022-2023 serta penurunan konsentrasi klorofil-a dari 2023 hingga Januari 2025. Hasil model dengan Sentinel-2 SR dapat digunakan untuk melakukan pemantauan kualitas air Waduk Saguling dan menjadi pertimbangan dalam keputusan pengelolaan air pada waduk tersebut.
PEMETAAN ANOMALI TERMAL BERDASARKAN VARIASI TEMPORAL PADA AKTIVITAS GEOTERMAL GUNUNG SIRUNG, NUSA TENGGARA TIMUR DENGAN CITRA SATELIT
Lapangan geotermal Gunung Sirung merupakan salah satu potensi geotermal yang akan dikembangkan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan rencana kapasitas sebesar 5 Mwe. Secara geologi, Gunung Sirung berada pada lokasi dengan aktivitas kegunungapian dan tektonisme yang aktif. Dalam rangka eksplorasi, diperlukan pengetahuan mengenai kondisi area prospek dan pengaruh aktivitas kegunungapian terhadap aliran fluida geotermal pada area prospek. Perubahan aliran fluida geotermal dapat terjadi akibat aktivitas kegunungapian dan dapat diamati dari temperatur permukaan. Pengamatan temperatur permukaan dilakukan dengan pendekatan remote sensing menggunakan citra ASTER Thermal Infra Red (TIR) akuisisi malam hari untuk memantau adanya variasi termal melalui land surface temperature (LST). Selanjutnya dilakukan perhitungan Radiative Heat Flux (RHF) untuk mengetahui pola sebaran panas yang diradiasikan olehh manifestasi. Penelitian hanya berfokus pada area non ubahan manusia yang dieliminasi menggunakan citra Dynamic World V1 Land Use Land Cover (LULC). Validasi data citra termal diantaranya dilakukan dengan citra visible resolusi tinggi Satellite Pour IβObservation de la Terre (SPOT) untuk kenampakan true color composite dan Landsat 8 untuk mengidentifikasi zona vegetasi rendah dan sebaran alterasi hidrotermal. Pengamatan perubahan temperatur permukaan dilakukan dalam kurun waktu sepuluh tahun untuk mengetahui perubahan yang terjadi dari dua erupsi Gunung Sirung pada tahun 2012 dan 2015. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa secara umum terjadi fluktuasi temperatur permukaan dan RHF dari tahun ke tahun yang selaras dengan aktivitas kegunungapian Gunung Sirung. Kemudian disimpulkan terdapat enam area anomali termal yaitu Area Anomali Termal Kawah Sirung, Gunung Beang, Reng Ara, Isiabang Kuaralau dan Puriali yang kemunculannya dikontrol struktur geologi dan berkorelasi dengan zona upflow sistem geotermal Gunung Sirung. Salah satu nilai RHF tertinggi tercatat pada zona Kawah Sirung (18,86 W/m2) yang merupakan kawah gunung api aktif.
PEMBUATAN PETA BATIMETRI DENGAN DATA SDB (SATELLITE DERIVED BATHYMETRY)
Indonesia adalah Negara Kepulauan dengan luas laut lebih dari 3 juta km2. Laut menjadi bagian penting dalam aspek politik, ekonomi, dan Sosial Indonesia sehingga batas dari laut tersebut perlu ditetapkan dengan jelas. Umumnya batas laut tersebut ditentukan dengan melakukan survei lapangan, namun kegiatan ini memerlukan waktu dan biaya yang sangat besar. Capstone ini membahas mengenai pembuatan peta batimetri menggunakan metode Remote Sensing Sattelite Derived Bathymetry (SDB) rasio logaritmik Stumpf. Dari kedalaman yang dihasilkan selanjutnya akan dilakukan delineasi garis pantai saat Lowest Astronomical Tide (LAT) agar didapatkan garis pangkal normal sebagai dasar penentuan Batas Laut Negara. Selain itu juga dilakukan pengolahan data citra satelit menggunakan algoritma Normalized Difference Water Index (NDWI) dan data slope dari DEMNAS untuk mendapatkan garis pantai pada saat Highest Astronomical Tide (HAT). Garis pantai pada saat HAT ini selanjutnya dilakukan buffer sejauh 12 Mil Laut untuk mendapatkan Batas Kewenangan Provinsi di Laut. Citra yang digunakan dalam capstone ini adalah citra SPOT6, SPOT7, dan Sentinel 2A. Untuk data training dan validasi dalam metode SDB digunakan titik kedalaman dari peta laut yang dikeluarkan Pusat Hidrografi dan Oseanografi Angkatan Laut (PUSHIDROSAL). Dari proses pengolahan tersebut, didapatkan 3 buah produk, yaitu Peta Batimetri, Peta Garis Pangkal, dan Peta Batas Kewenangan Provinsi di Laut. Dari Peta Batimetri, didapatkan kualitas SDB dengan korelasi bervariasi dari 0.605-0.763, RMSE 5.614 m-8.219 m, dan MAE 4.66 m-6.882 m. Dari Peta Batas Kewenangan Provinsi di Laut, dilakukan pengujian terhadap garis pantai HAT dan didapatkan nilai RMSE terhadap garis refrensi sebesar 21.122 m dan MAE sebesar 15.444 m. Dari peta garis pangkal, dilakukan pengujian terhadap Titik Dasar No.046A, dan didapatkan adanya pergeseran garis pangkal sebesar 156 m. Dari hasil uji produk, di ambil kesimpulan bahwa metode SDB dapat digunakan untuk mendapatkan kedalaman dan melakukan monitoring garis pangkal dengan biaya yang jauh lebih terjangkau dibandingkan survei lapangan. Metode analisis NDWI juga dapat digunakan untuk mendapatkan garis pantai saat HAT dengan ketelitian yang cukup tinggi untuk digunakan sebagai dasar penentuan batas kewenangan provinsi di laut. Metode-metode ini memiliki harga yang jauh lebih terjangkau dibandingkan melakukan survei lapangan.
PEMBUATAN PETA BATIMETRI DENGAN METODE SDB (SATELLITE DERIVED BATHYMETRY)
Indonesia adalah Negara Kepulauan dengan luas laut lebih dari 3 juta km2. Laut menjadi bagian penting dalam aspek politik, ekonomi, dan Sosial Indonesia sehingga batas dari laut tersebut perlu ditetapkan dengan jelas. Umumnya batas laut tersebut ditentukan dengan melakukan survei lapangan, namun kegiatan ini memerlukan waktu dan biaya yang sangat besar. Capstone ini membahas mengenai pembuatan peta batimetri menggunakan metode Remote Sensing Sattelite Derived Bathymetry (SDB) rasio logaritmik Stumpf. Dari kedalaman yang dihasilkan selanjutnya akan dilakukan delineasi garis pantai saat Lowest Astronomical Tide (LAT) agar didapatkan garis pangkal normal sebagai dasar penentuan Batas Laut Negara. Selain itu juga dilakukan pengolahan data citra satelit menggunakan algoritma Normalized Difference Water Index (NDWI) dan data slope dari DEMNAS untuk mendapatkan garis pantai pada saat Highest Astronomical Tide (HAT). Garis pantai pada saat HAT ini selanjutnya dilakukan buffer sejauh 12 Mil Laut untuk mendapatkan Batas Kewenangan Provinsi di Laut. Citra yang digunakan dalam capstone ini adalah citra SPOT6, SPOT7, dan Sentinel 2A. Untuk data training dan validasi dalam metode SDB digunakan titik kedalaman dari peta laut yang dikeluarkan Pusat Hidrografi dan Oseanografi Angkatan Laut (PUSHIDROSAL). Dari proses pengolahan tersebut, didapatkan 3 buah produk, yaitu Peta Batimetri, Peta Garis Pangkal, dan Peta Batas Kewenangan Provinsi di Laut. Dari Peta Batimetri, didapatkan kualitas SDB dengan korelasi bervariasi dari 0.605-0.763, RMSE 5.614 m-8.219 m, dan MAE 4.66 m-6.882 m. Dari Peta Batas Kewenangan Provinsi di Laut, dilakukan pengujian terhadap garis pantai HAT dan didapatkan nilai RMSE terhadap garis refrensi sebesar 21.122 m dan MAE sebesar 15.444 m. Dari peta garis pangkal, dilakukan pengujian terhadap Titik Dasar No.046A, dan didapatkan adanya pergeseran garis pangkal sebesar 156 m. Dari hasil uji produk, di ambil kesimpulan bahwa metode SDB dapat digunakan untuk mendapatkan kedalaman dan melakukan monitoring garis pangkal dengan biaya yang jauh lebih terjangkau dibandingkan survei lapangan. Metode analisis NDWI juga dapat digunakan untuk mendapatkan garis pantai saat HAT dengan ketelitian yang cukup tinggi untuk digunakan sebagai dasar penentuan batas kewenangan provinsi di laut. Metode-metode ini memiliki harga yang jauh lebih terjangkau dibandingkan melakukan survei lapangan.