📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 1 dokumenPENENTUAN RUTE PENGIRIMAN LAST MILE UNTUK MEMINIMASI BIAYA TRANSPORTASI MENGGUNAKAN MODEL THREE-DIMENSIONAL LOADING SPLIT DELIVERY HETEROGENEOUS VEHICLE ROUTING PROBLEM WITH TIME WINDOWS AND SERVICE LEVEL CONSTRAINTS PADA DEPOT CAKUNG PT X
Industri Fast Moving Consumer Goods (FMCG) menuntut efisiensi tinggi dalam sistem distribusi last mile. PT X, sebuah perusahaan FMCG, menghadapi tantangan di Depot Cakung berupa tingginya tingkat penundaan pengiriman harian (rata-rata 16,7%) dan rendahnya utilisasi armada (rata-rata 57,8%), akibat penentuan rute manual yang tidak mempertimbangkan time windows, split delivery, dan dimensi fisik produk sehingga menimbulkan biaya penalti sewa kendaraan hingga Rp135.000.000 per bulan. Penelitian ini mengembangkan model Three-Dimensional Loading Split Delivery Heterogeneous Vehicle Routing Problem with Time Windows and Service Level Constraints (3L-SDHVRPTW-SL) untuk meminimalkan total biaya transportasi dengan mempertimbangkan kendaraan heterogen, split delivery, time windows, pemuatan tiga dimensi, dan service level sebagai hard constraint. Karena kompleksitas model menyebabkan metode eksak (Gurobi) hanya mampu menyelesaikan persoalan hingga 7 pelanggan, penyelesaian dilakukan dengan dua metode metaheuristik, yaitu Adaptive Large Neighborhood Search (ALNS) dan Genetic Algorithm (GA), yang pada pengujian data kecil menghasilkan solusi identik dengan solusi optimal (gap 0,00%) untuk 2 sampai 6 pelanggan, serta gap 0,00% (ALNS) dan 1,12% (GA) pada 7 pelanggan. Pada studi kasus 82 pelanggan tanggal 14 Desember 2023, solusi rute usulan ALNS dan GA masing-masing menekan total biaya transportasi menjadi Rp4.632.432 dan Rp4.804.646, atau penghematan sebesar 48,82% dan 46,92% dibandingkan biaya rute existing sebesar Rp9.051.829. Kedua solusi menggunakan 7 dari 12 kendaraan yang tersedia, memenuhi seluruh permintaan pelanggan dengan service level 100%, serta mengeliminasi seluruh pelanggaran time windows dan biaya pending kirim yang sebelumnya terjadi pada rute existing.