πŸ“š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 7 dokumen

PERAN TAMAN SUPRATMAN SEBAGAI RUANG PUBLIK DALAM MENDUKUNG AKTIVITAS FISIK DAN INDIKATOR KOTA SEHAT DI KOTA BANDUNG

Meningkatnya kesadaran masyarakat perkotaan terhadap gaya hidup sehat, khususnya melalui aktivitas fisik, menjadi perhatian dalam pembangunan kota berkelanjutan. Konsep Kota Sehat menekankan integrasi antara lingkungan fisik, sosial, dan perilaku masyarakat. Bandung sebagai salah satu kota yang mengadopsi konsep ini terus mengembangkan ruang publik, seperti Taman Supratman, meskipun pemanfaatannya belum optimal. Penelitian ini bertujuan mengkaji peran ruang publik dan aktivitas fisik masyarakat di Taman Supratman sebagai indikator Kota Sehat. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif dengan metode campuran melalui observasi, kuesioner IPAQ, dan data sekunder. Hasilnya menunjukkan bahwa taman ini cukup mendukung aktivitas fisik dan interaksi sosial, dengan dominasi aktivitas intensitas sedang (cukup aktif), meskipun belum optimal untuk intensitas tinggi. Secara keseluruhan, Taman Supratman berkontribusi dalam mendukung kesehatan masyarakat, terutama pada aspek kehidupan sehat mandiri dan fasilitas umum. Namun, masih diperlukan peningkatan pada pemerataan fasilitas, aksesibilitas, dan penguatan peran ruang publik agar lebih efektif dalam mendorong aktivitas fisik dan gaya hidup sehat.

2026
πŸ‘€ Penulis: Nayla Putri Salma
🏷️ Kesehatan Masyarakat 🏷️ Ruang Publik 🏷️ Konsep Kota Sehat

PERAN ELEMEN STREETSCAPE TERHADAP KEAKTIFAN PEJALAN KAKI DI KORIDOR KOMERSIAL GATOT SUBROTO KOTA SURAKARTA

Ruang jalan kota tidak hanya berfungsi sebagai sarana mobilitas, tetapi juga memainkan peran penting sebagai ruang publik yang menunjang interaksi sosial dan aktivitas ekonomi, khususnya di koridor komersial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh elemen streetscape terhadap keaktifan pejalan kaki di Koridor Komersial Jalan Gatot Subroto, Kota Surakarta, yang saat ini dikembangkan sebagai pilot project koridor ramah pejalan kaki. Dengan pendekatan kuantitatif eksplanatori berbasis metode Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM), penelitian ini mengkaji hubungan antara tiga variabel eksogen yaitu public, connectivity, dan private-public terhadap variabel endogen berupa keaktifan pejalan kaki. Data dikumpulkan melalui survei kuesioner kepada pengguna koridor serta observasi spasial menggunakan teknik behavioral mapping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh elemen streetscape berpengaruh positif terhadap keaktifan pejalan kaki, dengan menunjukkan bahwa model mampu menjelaskan sebesar 47,7% variasi keaktifan pejalan kaki melalui kontribusi ketiga variabel streetscape tersebut. Elemen public menjadi variabel yang paling signifikan dan dominan pengaruhnya. Pada elemen public yang mencakup fasilitas trotoar, fasad, signage, vegetasi-peneduh, tempat duduk, dan penerangan. Penerangan dan peneduh menjadi variabel yang memiliki peran paling kuat yang terbukti meningkatkan kenyamanan, keamanan, dan daya tarik visual bagi pejalan kaki. Elemen private-public dan connectivity juga memiliki pengaruh positif meskipun dalam tingkat yang lebih rendah. Dengan peran fasad bangunan serta keterhubungan trotoar menjadi variabel yang memiliki peran paling kuat dalam menjadi daya tarik dan memberikan kemudahan pergerakan bagi para pejalan kaki. Selain itu, hasil pemetaan perilaku menunjukkan adanya konsentrasi aktivitas di dua titik utama koridor yang dipengaruhi oleh keberadaan kegiatan temporer dan fungsi bangunan sekitar. Temuan ini mengindikasikan bahwa kualitas streetscape yang dirancang secara kontekstual tidak hanya mendukung mobilitas, tetapi juga menciptakan pengalaman ruang kota yang lebih inklusif dan hidup. Oleh karena itu, pengembangan elemen streetscape perlu diintegrasikan secara menyeluruh dalam perencanaan kawasan komersial agar dapat mendorong terciptanya koridor kota yang aktif, aman, dan ramah bagi pejalan kaki.

2025
πŸ‘€ Penulis: Muhammad Faishal Hafizh
🏷️ Ruang Publik 🏷️ Koridor Ramah Pedestrian 🏷️ Analisis Structural Equation Modeling

PENINGKATAN KUALITAS RUANG PUBLIK SEBAGAI INFRASTRUKTUR PENDUKUNG PARIWISATA YANG BERKELANJUTAN DI KOTA SABANG

Kota Sabang merupakan salah satu kawasan strategis pariwisata nasional sekaligus Port of Call kapal pesiar di wilayah barat Indonesia. Untuk memaksimalkan manfaat jangka panjang dan meminimalkan dampak negatif, terutama terhadap lingkungan pulau kecil, diperlukan pengembangan pariwisata yang berbasis keberlanjutan dan didukung oleh infrastruktur yang inklusif. Ruang publik memiliki peran penting, tidak hanya sebagai sarana rekreasi dan aktivitas harian, tetapi juga sebagai ruang interaksi sosial antara masyarakat dan wisatawan yang dapat mendorong kesadaran kolektif terhadap nilai-nilai sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan. Namun, kondisi ruang publik di Kota Sabang saat ini masih belum optimal dari segi fasilitas, aksesibilitas, maupun pemanfaatannya. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kondisi eksisting ruang publik melalui observasi lapangan dan survei persepsi masyarakat, dengan menggunakan indikator ruang publik berkelanjutan yang disusun dari kajian literatur. Analisis faktor internal dan eksternal dilakukan melalui pendekatan IFAS, EFAS, dan SWOT. Hasil analisis menghasilkan enam alternatif strategi, yaitu: (1) pengembangan ruang publik sebagai destinasi wisata alternatif, (2) Optimalisasi penyelenggaraan Event Tahunan dan Aktivitas Rekreasi masyarakat, (3) Revitalisasi Jalur Pedestrian dan Peningkatan Integrasi, (4) Rehabilitasi fasilitas eksisting untuk difungsikan sebagai pusat kegiatan rekreasi dan penyelenggaraan event wisata terjadwal, (5) Penguatan kemitraan dengan sektor swasta dan pemanfaatan dana pemerintah, dan (6) Digitalisasi dan Promosi Ruang Publik. Strategi ini diharapkan menjadi acuan dalam pengembangan ruang publik sebagai bagian dari infrastruktur pariwisata berkelanjutan di Kota Sabang.

2025
πŸ‘€ Penulis: Fachrurrazi
🏷️ Ruang Publik 🏷️ Pariwisata Berkelanjutan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Lingkungan

PENGARUH AFFORDANCES DAN BEHAVIORAL SETTINGS DALAM PEMBENTUKAN AKTIVITAS DAN PLACEMAKING PADA RUANG PUBLIK(STUDI KASUS: BANGUNAN CAGAR BUDAYA DI KAWASAN PARIWISATA BRAGA DAN ALUN-ALUN, KOTA BANDUNG)

Studi ini mengeksplorasi bagaimana sebuah bank pada bangunan cagar budaya (BCB) yang digunakan kembali sebagai bank dapat menimbulkan keragaman jenis aktivitas ruang publik melalui placemaking. Placemaking bertujuan meningkatkan hubungan antara pengguna dan ruang publik, dengan empat indikator utama: access and linkages, sociability, uses and activities, serta comfort and images (PPS, 2024). Penelitian ini dilakukan dengan metodologi kualitatif melalui observasi menggunakan pendekatan studi kasus dan dianalisis secara deskriptif pada lima bangunan cagar budaya di kawasan pariwisata Braga dan Alun-Alun, Kota Bandung. Penelitian ini menemukan bahwa affordances menunjukkan desain ruang mendukung aktivitas tertentu, tetapi pengguna dapat memanfaatkannya secara subjektif. Aktivitas dipengaruhi oleh letak, jarak dari bangunan, waktu, dan cuaca. Faktor internal seperti desain dan faktor eksternal seperti behavioral settings serta konsep image of the city dari Kevin Lynch juga memengaruhi variasi aktivitas. Dalam pembentukan ruang publik, objek penelitian ini ditemukan dimana proses placemaking terjadi secara topdown melalui pengelolaan bangunan dan penyediaan fasilitas publik, serta secara bottom-up melalui keragaman aktivitas pengguna yang memanfaatkan elemen ruang sesuai subjektivitas mereka. Temuan ini diharapkan dapat berkontribusi dalam pengembangan ruang publik pada bangunan cagar budaya lainnya di masa depan.

2024
πŸ‘€ Penulis: Sulthan Isa Ahmad
🏷️ Placemaking 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Ruang Publik

EVALUASI KUALITAS RUANG PUBLIK TERAS CIHAMPELAS KOTA BANDUNG PASCA REVITALISASI BERDASARKAN KRITERIA THE PLACE DIAGRAM

Teras Cihampelas merupakan ruang publik di Kota Bandung yang awalnya direncanakan sebagai sky walk untuk menghubungkan Jl. Cihampelas dengan Jl. Gelap Nyawang, tetapi hanya terealisasi di sepanjang Jalan Cihampelas sebagai area pemberdayaan Pedagang Kaki Lima (PKL). Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa Teras Cihampelas belum efektif sebagai tempat relokasi PKL maupun sebagai ruang publik. Pada tahun 2022, pemerintah Kota Bandung melakukan revitalisasi dan membuka kembali Teras Cihampelas pada 19 September 2023. Meskipun lebih menarik secara visual, perhatian terhadap Teras Cihampelas masih kurang. Penelitian ini mengevaluasi kualitas ruang publik Teras Cihampelas pasca revitalisasi menggunakan kriteria β€œThe Place Diagram”, dengan metode pengumpulan data wawancara, observasi, kuesioner, dan studi literatur, serta metode analisis data berupa analisis konten, deskriptif kualitatif, dan deskriptif statistik. Hasilnya menunjukkan potensi besar sebagai ruang publik yang nyaman, namun membutuhkan perbaikan dalam aksesibilitas, keterhubungan, dan pemeliharaan. Rekomendasi perbaikan mencakup peningkatan visibilitas dengan signage, kebersihan, aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, keamanan dengan CCTV dan petugas, penyediaan Wi-Fi, diversifikasi kegiatan komunitas, dan promosi di media sosial.

2024
πŸ‘€ Penulis: Putu Krisna Prema Dutta
🏷️ Ruang Publik 🏷️ Revitalisasi Kawasan Publik 🏷️ Analisis The Place Diagram

PUSAT KEBUDAYAAN: RUANG PUBLIK DENGAN PENDEKATAN ENVIROMENTAL EXPERIENCE DAN COMMUNITY DI KABUPATEN GARUT

Pusat Kebudayaan di Garut diharapkan dapat merealisasikan visi dan misi yang telah ditetapkan dengan menerapkan pendekatan arsitektur spatial. Kesinambungan antara kebudayaan lokal dan desain arsitektur yang unik diharapkan dapat menarik minat masyarakat dan membantu pelestarian serta pengembangan warisan budaya setempat. Pusat kebudayaan ini akan mencakup berbagai fasilitas seperti museum, teater, studio, galeri, perpustakaan, dan pusat pengembangan kebudayaan, semuanya dirancang untuk meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap budaya lokal. Dalam mencapai tujuan proyek ini, kriteria perancangan diterapkan untuk menciptakan kesan yang unik dan menarik. Performance requirements melibatkan penggunaan ruang terbuka dengan ventilasi alami, komposisi bentuk geometri dasar yang disusun secara berulang, aplikasi material dan tekstur pada fasad bangunan, serta permainan cahaya dan bentukan arsitektural yang menghasilkan estetika ilusi bayangan. Pendekatan placemaking for public good juga diterapkan dengan prinsip-prinsip seperti welcoming, friendly, neighborly, attractive, active, dan safe. Selain itu, bangunan ini diharapkan dapat menjadi identitas lokal dengan mengintegrasikan elemen-elemen alam, menggunakan material lokal, merespons iklim setempat, melestarikan warisan budaya, mendorong interaksi sosial, dan menyediakan pendidikan serta interpretasi bagi pengunjung. Dengan demikian, pusat kebudayaan ini diharapkan tidak hanya menjadi pusat pelestarian dan ekspresi budaya tetapi juga menjadi titik fokus bagi pengembangan dan pemahaman kekayaan budaya lokal.

2024
πŸ‘€ Penulis: Mochammad Husni Kamal
🏷️ Ruang Publik 🏷️ Desain Arsitektur 🏷️ Pengelolaan Warisan Budaya

PENATAAN RUANG TERBUKA PUBLIK DI BENTENG KUTO BESAK PALEMBANG YANG MENDUKUNG KAWASAN CAGAR BUDAYA

Secara umum, ruang publik terbuka adalah area yang mendukung kebutuhan manusia untuk berkumpul dan berinteraksi, menyediakan tempat yang sesuai untuk berbagai aktivitas. Ruang publik berperan penting dalam perkembangan wilayah karena menyediakan aksesibilitas, jalur komunikasi, dan tempat untuk bermain serta bersantai. Kualitas ruang publik ditentukan oleh kenyamanan, citra positif, aksesibilitas, konektivitas, dan tingkat interaksi sosial. Kawasan Benteng Kuto Besak (BKB) di Palembang adalah contoh ruang publik yang kaya akan nilai historis dan berfungsi sebagai pusat aktivitas sosial serta wisata. Keberadaan ruang terbuka publik di perkotaan seperti Palembang, termasuk Kawasan BKB, sangat penting untuk interaksi sosial dan destinasi wisata. BKB, yang bersejarah dari abad ke-18, telah dijadikan ruang publik dan wisata, namun menghadapi tantangan dalam perawatan dan daya tariknya. Upaya pembenahan oleh pemerintah bertujuan menjadikan BKB sebagai tujuan wisata dengan perhatian khusus pada pelestarian cagar budaya dan peningkatan fasilitas. Tujuan dari penelitian ini adalah mengukur keberhasilan ruang terbuka publik serta mengevaluasi kegiatan perbaikan dan pengembangan kawasan melalui peningkatan kualitas penataan bangunan dan lingkungan yang mampu memberdayakan aktivitas ekonomi, sosial, dan budaya. Selain itu, penelitian ini bertujuan agar kegiatan penataan kawasan dapat memberikan karakter khusus berdasarkan potensi yang dimiliki, sehingga kawasan tersebut mampu menampilkan karakteristik kebudayaan dan menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan terhadap kota yang ditinggali. Untuk mecapai tujuan terdapat sasaran yang perlu dipenuhi yaitu, terindentifikasinya aspek dan indikator yang memengaruhi keberhasilan ruang terbuka publik yang baik di kawasan cagar budaya, teridentifikasinya fakta lapangan yang menunjukkan potensi dan persoalan yang terjadi di ruang terbuka publik di Kawasan Benteng Kuto Besar, terukurnya kualitas ruang terbuka publik berdasarkan metode Public Space Index dan Importance Performance Analysis yang ada, teridentifikasinya peran dan kepentingan para stakeholder yang berpengaruh dan terdampak dalam penataan ruang terbuka publik yang mendukung kawasan cagar budaya dan termuskannya pertimbangan dan komponen yang perlu di tata pada ruang terbuka publik di kawasan cagar budaya berdasarkan persoalaniii dan berbagai kebijakan. Setelah itu dilanjutkan dengan pengukuran dan analisis. Tahapan penelitian ini dimulai dengan merumuskan isu persoalan yang dimuat pada latar belakang, merumuskan tujuan penelitian dilanjutkan melakukan kajian teori berdasarkan literatur yang berkaitan, menyusun metodologi kemudian melakukan survey serta analisis. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif & kuantitatif (mix method) dengan pendekatan deskriptif eksploratif dengan tujuan mendeskripsikan objek penelitian ataupun hasil penelitian. Hasil studi didapatkan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan ruang terbuka publik berdasarkan kajian literatur seperti inclusiveness, meaningfull activities, comfort, safety, pleasurability, makna, budaya, kreatifitas. Faktor-faktor ini yang selanjutnya menjadi variabel dalam pengukuran keberhasilan ruang terbuka publik. Kemudian didapatkan juga kondisi faktual berupa perosalaan dan potensi yang ada dinilai melalui observasi menggunakan variabel tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan importance performance analysis (IPA) untuk mengevaluasi dan memahami persepsi pengguna terhadap suatu layanan atau fasilitas hasilnya didapatkan 4 kuadran berisi masing-masing atribut yang perlu diprioritaskan penataannya maupun yang sudah baik sekalipun. Selanjutnya mencari stakeholder mana yang memiliki peran paling berpengaruh dalam penataan ruang terbuka publik di Kawasan BKB melalui stakeholder mapping. Selanjutnya termuskannya rekomendasi ruang terbuka publik di Kawasan BKB berdasarkan hasil kondisi faktual lapangan dan persepsi pengguna dan dibantu dengan stakeholder yang berwenang berdasarkan derajat pengaruh dan kepentingannya.

2024
πŸ‘€ Penulis: Sabrina Alifia Zahra
🏷️ Ruang Publik 🏷️ Kawasan Cagar Budaya 🏷️ Peningkatan Fasilitas
πŸ’¬