📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 2 dokumen

TERMINAL DI TENGAH ARUS: TRANSFORMASI TERMINAL LEUWIPANJANG SEBAGAI RUANG ADAPTIF TERHADAP ARUS MANUSIA, AIR, DAN POLUSI KOTA

Perkembangan pesat wilayah metropolitan Bandung menempatkan mobilitas dan konektivitas regional menjadi sebuah isu yang krusial. Kepadatan penduduk dan aktivitas ekonomi yang terus meningkat seiring dengan meningkatnya transmigrasi membuat kapasitas infrastruktur transportasi perlu ditingkatkan. Salah satunya yaitu terminal bus yang menampung moda transportasi yang penting bagi Kota Bandung. Keberadaan terminal menjadi pendukung dan berperan vital sebagai simpul transportasi baik antar provinsi, kota, maupun desa. Salah satu simpul transportasi utama di Kota Bandung adalah Terminal Leuwipanjang yang merupakan terminal tipe A dan menjadi pintu masuk bus dari arah barat. Terminal in melayani angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP), angkutan dalam kota, dan angkutan pedesaan. Sebagai infrastruktur vital, terminal bus masih menghadapi beberapa persoalan seperti fenomena banjir yang menggangu operasional, kurangnya perkembangan fasilitas dan persepsi masyarakat terhadap terminal yang cenderung negatif. Terminal Leuwipanjang berlokasi di Kelurahan Situsaeur, Kecamatan Bojongloa Kidul yang termasuk kecamatan dengan kerentanan banjir sekitar 7.35% total lahan termasuk daerah bahaya bnjir. Permasalahan banjir dapat disebabkan karena curah hujan yang tinggi, kurangnya resapan air, drainase kurang baik, ataupun dominasinya perkerasan pada tipologi terminal. Kondisi ini pula yang dapat mengakibatkan pada persoalan kedua yaitu persepsi masyarakat terhadap terminal sebagai tempat yang kurang baik, kumuh, tidak sehat, dan penuh asap. Persepsi masyarakat dapat berujung pada menurunnya pengguna terminal. Untuk menanggapi tantangan terkait Terminal Leuwipanjang, perancangan ulang terminal dilakukan dengan menempatkan terminal bukan hanya sekedar tempat bus datang dan pergi tetapi terminal memiliki makna dan fungsi yang lebih besar. Penerapan konsep dengan menghubungkan tiga konsep besar terminal sebagai simpul kota, resapan kota, dan ruang ketiga. Proses perancangan dilakukan melalui studi literatur, observasi lapangan, analisis kondisi eksisting, dan studi preseden terminal. Hasil dari proses ini yaitu konsep perancangan yang berfokus pada integrasi fungsi transportasi yang efisien dalam meningkatkan konektivitas sesuai dengan fungsi utamanya sekaligus membawa unsur keberlanjutan lingkungan dan membawa funsi baru yang meningkatan persepsi posifitif masyarakat terhadap terminal. Perancangan bertukuan untuk mentransformasikan terminal sebagai hub transportasi multimoda yang efisien, mengembangkan funsi terminal sebagai ruang publik inklusif (ruang ketiga) yangn mampu mewadahi kehidupan sosial masyarakat, dan infrastruktur yang berorientasi pada mitigasi banjir yang sering terjadi melalui strategi water sensitive urban design.

2026
👤 Penulis: Zacky Silva Faried Putra
🏷️ Ruangan Ketiga 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

IDENTIFIKASI KEBERADAAN RUANG KETIGA BAGI SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DI KOTA BANDUNG

Masa transisi yang dialami siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dari anakanak menuju remaja merupakan fase yang krusial dalam perkembangan sosial mereka. Dalam periode ini, siswa mulai mencari ruang di luar rumah dan sekolah yang memungkinkan mereka untuk berinteraksi, berekspresi, serta membangun identitas sosial. Ruang ketiga, sebagai tempat di luar lingkungan formal yang dapat mendukung interaksi sosial siswa, memiliki peran yang signifikan dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Namun, di Kota Bandung belum banyak diteliti terkait keberadaan, aksesibilitas, serta pemanfaatan ruang ketiga oleh siswa SMP. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan ruang ketiga yang digunakan siswa SMP di Kota Bandung, menganalisis aksesibilitasnya, serta mengkaji pola pemanfaatan dan preferensi siswa terhadap ruang ketiga. Pendekatan kualitatif digunakan pada penelitian ini dengan metode walk and talk conversation bersama siswa, wawancara dengan pengajar, serta observasi di tiga SMP dengan karakteristik lokasi yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruang ketiga yang dimanfaatkan siswa saat jam istirahat mencakup area di dalam sekolah seperti lorong dan koridor kelas, tangga, taman, kantin, serta ruang di luar sekolah saat mereka pulang seperti area komersial dan ruang terbuka di sekitar lingkungan sekolah. Fitur utama yang disukai siswa di antaranya keteduhan, ketersediaan jajanan, dan tempat duduk. Kebutuhan siswa akan berinteraksi dicerminkan dari aktivitas utama yang dilakukan di ruang ketiga mereka yaitu mengobrol. Namun, beberapa lokasi yang digunakan siswa belum sepenuhnya mendukung aktivitas sosial mereka karena aksesibilitas yang terbatas, minimnya fasilitas pendukung, serta keamanan. Oleh karena itu, keberadaan ruang ketiga perlu dirancang secara terencana, bukan hanya sebagai ruang sisa, tetapi bagian dari ruang publik yang dapat multifungsi, seperti taman atau area terbuka di sekitar sekolah yang aman dan mudah diakses oleh siswa.

2025
👤 Penulis: Aulia Siti Nurmala
🏷️ Ruangan Ketiga 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Sekolah 🏷️ Kecerdasan Buatan
💬