📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 8 dokumenSENI INSTALASI BERBASIS MEDIUM CAHAYA DAN BUNYI SEBAGAI PRAKTIK DZIKIR VISUAL TERHADAP WAKTU
Betwixt Light merupakan karya tugas akhir yang berangkat dari pengalaman personal penulis ketika berhadapan dengan cahaya. Pengalaman tersebut memunculkan kesadaran mengenai keberadaan diri di hadapan alam serta keterbatasan manusia dalam memahami realitas secara utuh. Berangkat dari pengalaman tersebut, karya ini tidak berupaya merepresentasikan pengalaman sublim secara langsung, melainkan membangun kondisi ambang, yaitu keadaan ketika persepsi berada di antara melihat dan memahami, sehingga membuka ruang refleksi bagi audiens. Proses penciptaan dilakukan melalui perancangan objek geometris bercahaya yang ditempatkan pada berbagai lanskap alam yang dipilih secara cermat agar bebas dari tanda-tanda objek buatan manusia. Pertemuan antara cahaya alami, cahaya artifisial, lanskap, dan objek geometris kemudian direkam melalui medium fotografi dan diwujudkan dalam seri fotografi berukuran A0 yang dipresentasikan di ruang pamer. Hasil penciptaan menunjukkan bahwa makna karya tidak terletak pada setiap elemen secara terpisah, melainkan pada hubungan yang terbentuk di antara lanskap, cahaya, bentuk geometris, dan fotografi dalam membangun kondisi ambang. Melalui hubungan tersebut, Betwixt Light menghadirkan ruang refleksi mengenai posisi manusia di tengah realitas yang lebih luas tanpa menawarkan jawaban yang bersifat final
ANTARA SENI DAN AGAMA : PERANCANGAN SADALI ART SPACE SEBAGAI RUANG REFLEKSI HUBUNGAN SENI, ISLAM, DAN ARSITEKTUR DENGAN PENDEKATAN CONCEPT BASED
Art space sebagai ruang representasi seni tidak hanya berfungsi sebagai wadah apresiasi dan aktivitas kreatif, tetapi juga dapat menjadi medium dialog antara nilai dan pengetahuan yang ingin disampaikan. Di tengah kehidupan masyarakat modern yang semakin menjauh dari ruang-ruang kontemplasi, seni kerap dipahami hanya sebagai objek visual sehingga kehilangan perannya sebagai media refleksi. Padahal dalam Islam, seni bisa menjadi salah satu jalan untuk membangun kesadaran spiritual. Seni dalam Agama Islam sering dianggap sebagai suatu hal yang tabu karena akan mengarah kepada kemusyrikan. Padahal jika ditelaah lebih jauh, seni bukan hanya tentang membuat sebuah karya fisik namun dapat membantu kita dalam mencintai Sang Maha Pencipta, dengan memiliki jiwa seni kita akan mendapatkan keindahaan, kesyahduan, dan ketenangan jiwa yang justru akan membantu kita dalam memahami lebih ajaran-ajaran Islam. Berangkat dari kondisi tersebut, tugas akhir ini bertujuan merancang Sadali Art Space sebagai ruang refleksi yang mengintegrasikan seni, Islam, dan arsitektur melalui penerjemahan nilai-nilai Islami dalam kehidupan sehari-hari serta nilai spiritual dalam karya Ahmad Sadali ke dalam pengalaman ruang dengan pendekatan Concept Based Design. Pendekatan Concept Based Design digunakan dengan menjadikan konsep sebagai dasar utama dalam proses perancangan. Konsep dirumuskan melalui kajian terhadap prinsip-prinsip lukisan Ahmad Sadali, nilai-nilai arsitektur Islam, studi preseden, analisis tapak, serta kebutuhan pengguna. Prinsip-prinsip tersebut kemudian ditransformasikan menjadi strategi perancangan yang diwujudkan melalui pembentukan massa bangunan, organisasi ruang, pemanfaatan cahaya alami, material, tekstur, elemen air, serta penyusunan alur sirkulasi sebagai sebuah perjalanan reflektif yang mengajak pengunjung mengalami proses pencarian, perenungan, hingga kembali kepada kesadaran akan hubungan manusia dengan Tuhan. Lokasi perancangan dipilih di kawasan Summarecon Gede Bage, Kota Bandung, berdasarkan pertimbangan strategis, kontekstual, dan konseptual. Kedekatannya dengan Masjid Raya Al Jabbar, kawasan Pendidikan Islam, serta lanskap danau buatan memberikan potensi untuk menghadirkan ruang publik yang mendukung pengalaman refleksi sekaligus memperkuat karakter kawasan sebagai destinasi budaya dan spiritual. Perancangan art space ini juga menerapkan prinsip desain pasif, optimalisasi pencahayaan dan penghawaan alami, serta pengelolaan air hujan sebagai bagian dari strategi arsitektur berkelanjutan yang mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 10 (Reduce Inequalities) melalui penyediaan ruang yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan latar belakang sosial, ekonomi, maupun keyakinan, serta SDG 13 (Climate Action) melalui pendekatan desain yang responsif terhadap iklim. Hasil perancangan menunjukkan bahwa pendekatan konseptual mampu menghasilkan art space yang tidak hanya mewadahi kegiatan seni, tetapi juga menghadirkan ruang edukatif dan reflektif yang memperlihatkan keterkaitan antara seni, Islam, dan arsitektur. Melalui penerjemahan nilai-nilai spiritual ke dalam pembentukan massa bangunan, organisasi ruang, pemanfaatan cahaya alami, material, tekstur, elemen air, serta penyusunan alur sirkulasi tanpa bergantung pada simbol-simbol religius yang eksplisit, Sadali Art Space diharapkan menjadi ruang publik yang mampu memperkuat apresiasi seni, memperdalam kesadaran spiritual, serta memberikan kontribusi terhadap pengembangan arsitektur, pendidikan, dan budaya di Kota Bandung.
SAKANA: TIDUR SEBAGAI SIMBOL KETENANGAN BATIN MELALUI SENI PATUNG
Kegelisahan terhadap budaya pencapaian yang melelahkan, memicu kerinduan akan ketenangan batin. Refleksi kritis terhadap fenomena tersebut menimbulkan ketertarikan pada fenomena tidur yang dalam budaya pencapaian sering dianggap sebagai istirahat biasa atau kemalasan. Tidur kemudian dipandang sebagai simbol ketenangan batin yang diposisikan sebagai sesuatu yang bernilai lebih tinggi dan dianggap penting dibandingkan budaya pencapaian tersebut. Lingkup permasalahan karya ini mencakup bagaimana tidur sebagai simbol ketenangan batin dapat dimanifestasikan melalui seni patung dan proses penciptaannya. Teori utama yang digunakan adalah teori seni sebagai simbol oleh Susanne K. Langer dalam bukunya Feeling and Form (1953). Visualisasi gagasan berpusat pada penciptaan kesatuan bentuk yang berfungsi sebagai simbol dalam mengartikulasikan perasaan tenang. Karya ini diwujudkan melalui medium seni patung figuratif dengan marmer putih sebagai material utama. Miniaturisasi dan elemen instalasi dalam seni patung digunakan sebagai strategi artistik yang mendukung kematangan visualisasi gagasan. Proses penciptaan karya meliputi empat tahapan utama yaitu eksplorasi gestur tidur, pembuatan sketsa karya, produksi objek patung, dan pemasangan atau display karya. Seluruh rangkaian proses menciptakan hasil karya berupa patung figuratif berskala miniatur dengan material marmer putih yang menampilkan sosok perempuan tertidur. Karya ini tidak hanya mewakili pengalaman batin pribadi terkait ketenangan dalam tidur, tetapi juga mencerminkan pengalaman kolektif masyarakat. Interpretasi dan pemaknaan terhadap karya tetap bergantung pada penonton dan bagaimana karya tersebut dipersepsi. Pada tingkat yang lebih dalam, karya diharapkan tidak sekadar memberikan pengalaman visual tetapi juga memantik pengalaman eksistensial yang bermakna.
BERAKHIR KEMBALI: INSTALASI CYANOTYPE SEBAGAI REFLEKSI KEMATIAN MELALUI DOA
Berakhir Kembali merupakan karya Tugas Akhir berupa instalasi seni yang mengangkat refleksi tentang kematian dan doa dalam perspektif Islam. Inspirasi awal muncul dari pengalaman penulis saat peristiwa Tsunami Aceh 2004, yang menjadi pemantik renungan mengenai kefanaan manusia, kehilangan, dan kepulangan kepada Allah. Kematian dipahami sebagai kenyataan gaib yang menuntut kesadaran spiritual, dan doa menjadi sarana dialog antara yang ada dan yang tiada, sekaligus pengingat akan ketundukan manusia kepada kehendak Ilahi. Fokus utama karya ini adalah bagaimana doa terhadap kematian dapat direpresentasikan secara simbolik melalui seni, serta bagaimana instalasi dapat menjadi ruang kontemplatif yang mendorong pengamat merenungi hidup dan mati. Karya tidak bertujuan menampilkan peristiwa tsunami secara literal, melainkan memanfaatkan fragmen memori dan jejak pengalaman sebagai medium perenungan. Bencana diposisikan sebagai pengingat eksistensial agar praktik doa senantiasa hadir dalam kehidupan. Proses penciptaan meliputi perumusan konsep, eksplorasi medium dan visual, eksperimen teknis, serta perancangan instalasi. Medium cyanotype dipilih karena sifat visualnya menyerupai bayangan atau jejak, dan warna birunya diartikan sebagai yang “tak terlihat menjadi terlihat”, selaras dengan gagasan kematian dan doa yang bersifat tidak kasatmata. Kain katun berwarna putih digunakan sebagai medium utama, menguatkan simbolisme kepulangan manusia dan sifat fana materi. Elemen visual seperti ombak, batu, dinding terkorosi, dan teks doa disusun secara vertikal untuk membangun pengalaman kontemplatif. Melalui instalasi ini, karya menjadi ruang refleksi antara yang ada dan yang tiada, mendorong pengamat untuk menempatkan doa sebagai respon spiritual terhadap kefanaan manusia.
MENITI ALIR: EKSPLORASI PENGALAMAN DUKA MELALUI GOSOKAN CHARCOAL
Kehilangan seseorang yang dicintai merupakan pengalaman universal yang dialami dan akan dialami setiap manusia. Hal ini sering kali mempengaruhi kehidupan dan emosi seseorang yang menjalaninya. Dalam karya ini, penulis mengangkat pengalaman pribadi atas kepergian ibu, yang menjadi pemicu eksplorasi perasaan dan visual. Penciptaan seri karya berjudul “Meniti Alir” menjadi dorongan penulis untuk memproses duka melalui praktik seni, sebagai cara untuk menyelami perasaan yang sempat diabaikan atau ditekan. Dimana proses kreatif nya dimulai dari menggali perasaan yang muncul saat mengingat, kemudain mengungkapkan kondisi emosional dari pengalaman duka melalui ekspresi gambar charcoal yang diabstraksi. Proses berkarya dilakukan sebagai bentuk katarsis, di mana emosi yang selama ini terpendam dituangkan melalui ekspresi visual yang spontan. Bentuk visual aliran digunakan sebagai metafora dari dinamika perasaan, yang terus berubah, mulai dari tenang hingga mengalir deras, menggambarkan fluktuasi beban emosional yang dirasakan. kemudian dilanjutkan eksplorasi yang visualisasi aliran dan, kontras gelap-terang melalui gosokan charcoal. Menggabungkan refleksi personal, observasi terhadap gerak aliran, serta eksplorasi intuitif dalam penggunaan charcoal. Pada akhirnya, rangkaian kekaryaan ini tidak hanya menjadi medium ekspresi diri, tetapi juga ruang penyembuhan dan pertumbuhan. Melalui pencurahan emosi dan eksplorasi visual, penulis mencoba menerima kehilangan sebagai bagian dari keberlanjutan hidup, menjadikan seni sebagai jalan untuk berdamai dengan luka serta menemukan kembali makna kehidupan secara lebih utuh.
FRAGMEN KEHIDUPAN MELALUI PYROGRAPHY DRAWING PADA PERMUKAAN KULIT
Tugas akhir ini mengeksplorasi representasi esensi manusia dalam siklus kehidupan melalui medium kulit dan metode pyrography drawing. Esensi, yang dipahami sebagai hakikat atau sifat dasar dari sebuah benda dan makhluk hidup, menjadi fokus utama dalam karya ini. Inspirasi karya bersumber dari pengamatan penulis terhadap fenomena alam seperti pembusukan dan regenerasi, serta ritual kematian yang diamati baik secara langsung maupun tidak langsung. Visualisasi pengalaman pengamatan atas esensi ini diwujudkan melalui teknik pyrography pada medium kulit, menghasilkan enam karya seni tentang hubungan antara kehidupan dan kematian. Pemilihan teknik pyrography, yang melibatkan pembakaran permukaan untuk menghasilkan gambar, tidak hanya didasarkan pada kemampuan teknis, tetapi juga nilai simbolisnya sebagai perwujudan kehidupan dari kematian. Sementara itu, penggunaan kulit sebagai medium dipilih karena sifat alaminya yang kuat namun lentur, sekaligus menyimbolkan hubungan paradoks antara kehidupan dan kematian. Dengan mengadopsi pendekatan visual yang alegoris, penulis berusaha menggambarkan esensi yang dimiliki setiap manusia dalam konteks hubungan antara kehidupan dan kematian. Melalui karya ini, penulis berharap dapat menyajikan perspektif dan interpretasi baru tentang kematian sebagai bagian integral dari siklus kehidupan.
SUDUT MEWUJUD: REPRESENTASI PENGALAMAN GERAK TUBUH SEBAGAI PRAKTIK WAWAS DIRI MELALUI DRAWING
Karya Tugas Akhir “Sudut Mewujud” merupakan usaha penulis untuk mengapresiasi kehidupan dengan praktik wawas diri. Usaha tersebut penulis lakukan melalui sadar akan pengalaman ketubuhan. Gagasan ini diawali ketertarikan penulis pada bentuk dan kemampuan tubuh untuk bergerak. Penulis berusaha menilik dengan lebih dalam persoalan ketubuhan tersebut dan menemukan esensi sesungguhnya dari tubuh yang hidup dan bergerak, yaitu kesadaran. Usaha untuk wawas diri kemudian penulis lakukan dengan menyadari sepenuhnya pengalaman dalam proses eksplorasi gerak yang dilakukan sebagai subjek matter utama dari karya. pengalaman tersebut kemudian penulis visualisasikan pada karya melalui karya drawing dengan melakukan breakdown pada proses sebuah gerak. Penulis memvisualisasikan pengalaman gerak dengan berlandaskan teori Fenomenologi Persepsi Merlau-Ponty yang membantu penulis memahami bagaimana pengalaman gerak tubuh sebagai sebuah persepsi yang kemudian penulis terjemahkan lewat gambar tubuh yang bergerak, Gambaran tersebut kemudian menjadi representasi dari persepsi penulis akan pengalaman gerak, serupa dengan usaha representasi persepsi yang dilakukan Giacometti pada kekaryaannya. Gambar tubuh yang bergerak dicapai melalui spontanitas dan karakter medium drawing yang mampu memberikan jejak, khususnya dalam karya ini dengan penggunaan charcoal pada kertas menggunakan metode gambar yang berlapis. Proses eksplorasi dan visualisasi tersebut menghasilkan total 36 karya yang masing-masingnya menggambarkan proses gerak yang terfokus pada satu gerakan yang melibatkan anggota tubuh tertentu. Pada akhirnya karya ini berperan sebagai jejak dan dokumentasi dari usaha penulis untuk kembali melihat diri lewat tubuh yang menggambarkan persepsi dan pengalaman penulis sendiri, menghadirkan gambaran tubuh sebagai tempat untuk mengalami dan mewujudkan hidup. Lewat karya ini penulis ingin mengajak audiens untuk kembali melihat diri lewat tubuh yang dimiliki, sama seperti usaha yang dilakukan penulis.
MENGALAMI DISHARMONI: PENGGAMBARAN KONTEMPLASI ANTARA MANUSIA DAN ALAM MELALUI DRAWING
“Mengalami Disharmoni” adalah seri Drawing yang terdiri dari enam karya. Karya ini menghadirkan kembali kesadaran dari perjalanan, yaitu kontradiksi antara lingkungan manusia dan alam, pemahaman bahwa manusia adalah objek yang diatur oleh alam sebagai subjek, dan perbedaan persepsi mengenai keteraturan dan ketidakteraturan yang menyebabkan disharmoni dalam relasi manusia dengan alam. Seni sebagai representasi, Romantisisme, serta Apollonian dan Dystopian dalam seni adalah teori-teori yang mendasarkan kekaryaan ini. Gagasan pada kekaryaan ini juga didasari oleh teori dari Gregory Bateson dan buku “The Language of Symmetry”. Selanjutnya, Caspar David Friedrich dan Peter Doig menjadi kaji banding seniman dari segi visual dan proses kekaryaan. Figur yang nampak pada karya berperan sebagai pembanding proporsi lanskap yang membangun jarak dan persepsi asing dan disharmoni. Kekaryaan Drawing ini dibuat menggunakan soft pastel, hard pastel, dan charcoal sebagai dasar warna gelap. Ketika menggambar di atas kertas, saya menggunakan teknik garis-garis bertumpuk tanpa digosok dengan jari atau tangan. Teknik dan medium ini merupakan representasi yang paling cocok dalam menggambarkan limitasi saya sebagai manusia saat mendaki gunung langkah demi langkah secara perlahan. Penggunaan kertas menjadi sesuatu yang tidak familiar bagi apresiator, sehingga terdapat suatu jarak dari persepsi medium. Masing-masing karya merupakan gambaran dari pengalaman yang berbeda-beda, namun memori tersebut membentuk sebuah kontemplasi dan kesadaran yang dapat ditarik benang merahnya. Secara keseluruhan, pengalaman selama perjalanan-perjalanan tersebut menjadi katalisator akan kesadaran diri dan posisi saya di lingkup alam yang makro. Pada akhirnya karya ini menumbuhkan sebuah kesadaran bahwa saya harus mengikuti bagaimana alam berkehendak dan mengatur hukumnya sendiri. Ketidakberdayaan ini menjadi proses saya belajar dan menurunkan ego sebagai manusia.