📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 15 dokumen

KEDEKATAN YANG MENGGELISAHKAN: EKSPRESI FAMILIARITAS DAN KETIDAKNYAMANAN MELALUI SENI LUKIS

Interaksi sehari-hari dengan orang terdekat seperti dalam keluarga maupun komunitas ada kalanya pesan yang dianggap remeh-temeh namun memiliki dampak pada batin alam bawah sadar. Interaksi yang disebut adalah infantilisasi, di mana orang lain diperlakukan seolah-olah mereka masih anak-anak, bahkan ketika mereka sepenuhnya mampu membuat keputusan dan mengurus diri sendiri. Fenomena tersebut dialami oleh penulis pribadi. Penulis merasa ketidaknyamanan namun ada perasaan familiaritas yang penulis rasa itu membuat penulis tidak bisa tinggalkan seluruhnya. Padahal perasaan ketidaknyamanan adalah petunjuk untuk menghindari agar dapat ke tempat yang lebih baik. Penulis menyadari akan dampak dari kebanalitasan infantilisasi terbawa ke alam bawah sadar penulis yang kemudian mempengaruhi perilaku penulis. Perasaan akibat banalitas infantilisasi ini yang ingin penulis ekspresikan melalui seni lukis. Objek visual yang dipilih adalah figur yang diabstraksi untuk memperlihatkan sikap serta ketidaklengkapan tubuh yang satu, jendela dengan pola jalusi rumah betawi, ruang yang terdistorsi seperti alam mimpi dan bayangan figur. Tugas akhir ini menggunakan metode eksploratif mencari bentuk sikap dan sapuan kuas untuk membentuk suasana yang mengekspresikan ketidaknyamanan. Tujuannya untuk menjelaskan ketidaknyamanan dan familiaritas kebanalan infantilisasi dalam bentuk ruang, sikap karakter figur melalui sapuan warna dalam karya lukis. Hasil dari tugas akhir ini mengungkapkan bentuk ruang dengan cahaya temaram kemerahan, bayangan, jendela merah dalam, bentuk jalusi yang diabstraksikan, dan berbagai sikap figur menenangkan diri dengan bentuk karakter naif.

2026
👤 Penulis: Rasya Cinta Putri Wibowo
🏷️ Psikologi Interaksi Personal 🏷️ Seni Lukis 🏷️ Analisis Infantilisasi

TUMBUH UNTUK MENJADI: EKSPRESI SIMBOLIK PEREMPUAN DALAM METAFORA BUNGA

Perubahan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan hidup perempuan. Seiring waktu, perempuan mengalami transformasi yang dipengaruhi oleh pengalaman personal, lingkungan sosial, serta tuntutan budaya yang terus berkembang. Dalam prosesnya, perempuan seringkali dihadapkan pada ekspektasi sosial yang menuntut adaptasi, pertumbuhan, perubahan, maupun perlawanan sebagai bentuk pencarian dan penegasan eksistensi dirinya. Perubahan warna dan bentuk bunga digunakan sebagai representasi pertumbuhan dan perubahan yang dialami perempuan, baik itu disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal. Metafora ini digunakan untuk mengekspresikan pengalaman perempuan saat mengalami perubahan dalam menghadapi tuntutan sosial, baik untuk memenuhi ekspektasi maupun untuk menegaskan pilihan hidupnya sendiri. Metode yang digunakan adalah seni lukis sebagai ekspresi simbolik dengan pendekatan estetik ekspresionis. Keenam karya dilukiskan menggunakan cat minyak di atas kanvas menggunakan pisau palet dengan teknik yang berlapis, ekspresif, dan bertekstur. Gaya lukisan ekspresionis dipilih karena dapat menghadirkan emosi dan pengalaman personal mengenai perubahan sebagai perempuan secara lebih intens. Perubahan warna, bentuk, komposisi, tekstur dan lapisan yang beragam, serta goresan yang spontan dan ekspresif digunakan sebagai elemen utama dalam karya. Karya ini memiliki tujuan untuk merepresentasikan pengalaman adaptasi seorang perempuan sesuai dengan waktu dan lingkungannya dalam menghadapi ekspektasi sosial, serta untuk mendapatkan hasil lukisan cat minyak dalam makna ekspresif dan simbolik melalui proses perubahan bunga. Tujuan tersebut membawa makna tersendiri dalam karya, bahwa dalam setiap tahap perubahan yang dialami perempuan, terdapat keindahan di dalamnya.

2026
👤 Penulis: Athiyya Yumna Arifa
🏷️ Seni Lukis 🏷️ Perubahan Perempuan 🏷️ Metafora Hidrologi

MENYAMAR BAYANG: AMBIGUITAS MANUSIA MELALUI EKSPRESI SENI LUKIS

Karya tugas akhir ini berangkat dari kegelisahan personal penulis terhadap praktik pengotakan dan pelabelan yang mereduksi kompleksitas manusia menjadi kategori kategori absolut. Pola pikir ini, yang berakar dari lingkungan keluarga yang kaku, sempat membentuk identitas konkret dalam diri penulis dan membatasi eksplorasi terhadap kemungkinan baru. Namun, perjumpaan penulis dengan seni budaya, khususnya Wayang, memicu intervensi yang mengaburkan batasan tersebut. Muncul konflik batin dan ambiguitas identitas; di satu sisi penulis merasa sebagai orang kota yang asing terhadap tradisi, namun di sisi lain memiliki ketertarikan mendalam untuk melukis dan menjadi bagian darinya. Ambiguitas ini kemudian dipandang sebagai ruang transisi yang produktif. Penulis menemukan analogi pengalaman personalnya dalam sosok Semar dan fenomena bayangan pada pertunjukan wayang. Karakter Semar yang merangkul oposisi biner serta sifat bayangan yang dinamis dan tidak konkret menjadi instrumen bagi penulis untuk masuk ke dalam ruang tradisi tanpa merasa terasing. Secara visual, gagasan ini diwujudkan melalui teknik pengaburan—mentransformasi bayangan dari bentuk konkret menjadi bentuk yang samar dengan percampuran warna yang saling berselingan. Melalui tindakan pengaburan ini, karya ini menjadi manifestasi dari proses pemulihan batin sekaligus upaya untuk menerima eksistensi manusia yang tidak pernah bersifat tunggal.

2026
👤 Penulis: Fedy Putri Kurniawan
🏷️ Kebudayaan 🏷️ Manajemen Identitas 🏷️ Seni Lukis

“REKONTEKSTUALISASI PENGALAMAN KETIDAKNYAMANAN RUANG MELALUI SENI LUKIS”

Pengalaman hidup manusia tidak terlepas dari ruang. Setiap detik manusia masuk dan keluar ruangan, berjalan dari satu tempat ke tempat lain, memasuki atmosfer, dunia, dan waktu yang berbeda. Ruang menjadi tempat dimana bukan hanya barang bermateri saja yang hadir di dalamnya tetapi juga ‘intangible objects’ seperti pengalaman. Ruangan menjadi sebuah saluran untuk memberikan ketegasan berupa batasan pada ruang yang dapat merangkum pengalaman dan melalui itu, ruang pun dapat membentuk ataupun dibentuk oleh manusia itu sendiri. Fenomena subjektif ini menjadi dasar eksplorasi dalam penciptaan karya seri ini, khususnya dalam menanggapi ketidakpastian dan kecemasan yang dialami individu. Keinginan untuk mengeksplorasikan tema ini berangkat dari pengalaman pribadi penulis yang sering berpindah-pindah rumah selama 20 tahun terakhir yang menimbulkan pertanyaan mengenai ruang, hubungannya dengan durasi dan keberlanjutan hidup. Seri kekaryaan ini bertujuan untuk melakukan peralihan pengalaman ruang— mengalihkan makna ruang yang memicu ketidaknyamanan menjadi makna lain, serta berupaya membiasakan diri dengan ketidakpastian. Subjek lukisan berfokus pada struktur ruangan dari rumah-rumah yang pernah dihuni penulis karena ikatan personal yang kuat. proses penciptaan karya menggunakan perpaduan teknik kolase untuk mengacaukan persepsi ruang konvensional dan teknik Grattage (menggores cat basah pada permukaan bertekstur) untuk merefleksikan kesan-kesan dari tempat-tempat yang pernah dihuni. Penggabungan dua teknik ini menjadi aksi simbolis untuk membangun ulang ruang dan memaknakan kembali pengalaman tidak nyaman terhadap ruang. Karya ini berupaya menjawab pertanyaan mengenai bagaimana subjektivitas individu mempengaruhi pembangunan ulang ruang melalui seni lukis dan bagaimana ruang digambarkan dalam proses peralihan pengalaman ruang menggunakan medium seni lukis. Hasil dari kekaryaan ini diharapkan dapat memberikan penerangan mengenai sifat paradoksikal pengalaman ruang yang relatif dan personal.

2026
👤 Penulis: Ruby Putri Kurniawan
🏷️ Kebudayaan 🏷️ Seni Lukis 🏷️ Hidup Manusia

AKU (DALAM) WAKTU: METAFORA HUBUNGAN EKSISTENSI DENGAN WAKTU MELALUI SENI LUKIS

Eksistensi manusia terjalin erat dengan waktu. Berangkat dari pertanyaan pertanyaan seputar konsep tersebut, karya “Aku (dalam) Waktu” muncul sebagai upaya menerjemahkan filosofi eksistensial-waktu ke dalam bentuk seni lukis. Dengan pemikiran Heidegger sebagai kerangka teoritis, pemindahan konsep menjadi bentuk dijembatani oleh pendefinisian waktu dalam tiga jenis: waktu temporal, waktu vulgar, dan waktu dunia. Elemen visual representasional muncul dalam bentuk simbol dengan pendekatan metaforis, dituangkan ke dalam ranah persegi sebagai wadah netral untuk menampung gabungan seni potret dan lanskap. Wajah manusia hadir sebagai representasi waktu temporal sebagai pembentuk keadaan “ada-di-dunia”, ritme pergerakan matahari berperan sebagai representasi bagi waktu vulgar, dan pembagian kurun-kurun waktu dalam hari sebagai pemaknaan peristiwa menjadi representasi bagi waktu dunia. Karya ini digarap menggunakan medium cat minyak di atas lima kanvas berukuran identik. Hasil akhir berupa paduan wajah dan langit dalam kurun waktu yang bergeser pada setiap kanvas. Secara bersama, seri lukis ini membentuk satu karya yang menyampaikan bagaimana eksistensi manusia secara konstan “mengada dalam waktu”.

2025
👤 Penulis: Bening Nurani
🏷️ Kebudayaan 🏷️ Filosofi Eksistensial 🏷️ Seni Lukis

OMBAK SEBAGAI EKSPRESI SENSASI EMOSI MELALUI MEDIUM SENI LUKIS

Emosi merupakan hal alami yang dirasakan oleh semua orang. Hal yang dirasakan ketika mengalami suatu emosi tidak hanya secara psikis, tetapi secara fisik juga. Terdapat sebuah sensasi fisik yang muncul mengiringi emosi karena perubahan fisiologi pada tubuh manusia. Fenomena tersebut dirasakan oleh penulis, dan menjadi hal yang ingin disampaikan melalui karya seni lukis. Ombak diabstraksi menjadi metafora visual yang digunakan untuk mengekspresikan sensasi emosi dalam karya. Ombak dipilih karena dapat mengekspresikan apa yang dirasakan penulis. Hal yang diungkapkan bukan ombak secara representasional, tetapi ekspresi dari karakter serta emosi pribadi penulis dengan harapan agar audiens yang melihat lukisan dapat merasakan curahan hati penulis. Karya diciptakan dengan menggunakan cat akrilik pada kanvas dengan menggunakan metode melukis basah dengan menimpa permukaan kanvas dengan banyak lapisan cat. Proses pelukisan dilakukan secara spontan tanpa menggunakan sketsa. Dasar karya yang berisi goresan biru tua menggambarkan suasana suram yang berasal dari emosi negatif, sedangkan garis putih menjadi ekspresi langsung dari sensasi fisik yang dirasakan. Hasil akhir dari karya merupakan elemen-elemen visual, yaitu warna, tekstur dan ruang, yang membentuk kontras supaya pesan yang ingin disampaikan penulis dapat ditampilkan secara visual pada lukisan. Karya yang gelap memperlihatkan detail yang tersembunyi ketika dilihat lebih dekat, sehingga karya menyediakan pengalaman berbeda tergantung jarak melihat.

2025
👤 Penulis: Sheren Stella Adriana
🏷️ Seni Lukis 🏷️ Emosi Dan Sensasi Fisik 🏷️ Kecerdasan Buatan

MENGEKSPRESIKAN KEPEREMPUANAN DALAM RELASI UMA-DURGA MELALUI SENI LUKIS EKSPRESI SIMBOLIS

Hidup sebagai perempuan di tengah dunia laki-laki membuat penulis merasa tidak nyaman dengan tubuhnya. Pencarian makna mengenai keperempuanan dalam upaya merasa nyaman dengan tubuh yang ditinggali membawa penulis berkenalan dengan sosok bernama Dewi Durga. Sebagai salah seorang shakti dari Dewa Siwa, sosoknya memiliki pengaruh yang besar di kepulauan Nusantara. Salah satu sisinya yang paling banyak dijumpai sebagai dewi pejuang Durga Mahisasuramardini yang memberikan inspirasi mengenai perempuan dan agensi tubuhnya. Semakin mengenal Durga membawa penulis kepada hubungannya dengan shakti Siwa yang lain yaitu Dewi Uma. Hubungan antara kedua dewi tersebut diceritakan dalam kidung Sudamala dari Jawa Timur abad ke-15 M yang tidak ditemui jejaknya di India. Kisah ini menceritakan Uma yang dikutuk menjadi raksasa bengis bernama Durga. Sudamala mengisahkan kedua dewi yang saling bertolak belakang sebagai satu entitas yang sama menawarkan pemahaman baru mengenai keperempuanan yang hanya ada di kepulauan ini. Tugas akhir ini juga merupakan upaya untuk mengekspresikan keperempuanan yang dilihat dalam kontras relasi Uma-Durga demi menghadirkan sebuah harmoni. Proses penciptaan karya lukis sebagian besar dilakukan secara intuitif yang kemudian menghasilkan simbol untuk mengekspresikan keperempuanan. Simbol Durga dibuat dengan warna merah dengan sapuan kuas akrilik, dan simbol Uma dibuat dengan tekstur warna putih yang dibangun dengan teknik impasto menggunakan modeling paste. Melalui tugas akhir ini penulis menyadari bahwa keperempuanan merupakan sebuah kaos yang tidak dapat dikekang, sebagaimana Uma yang ada di dalam tiap diri perempuan untuk disadari ketika Durga mulai bergejolak.

2025
👤 Penulis: Azura Sekararum Maro
🏷️ Kebudayaan Indonesia 🏷️ Seni Lukis 🏷️ Perempuan

MENILIK MERAH EKSPRESI SUPRESI EMOSI MELALUI SENI LUKIS

Supresi emosi merupakan coping mechanism yang menimbulkan timbunan emosi dan memunculkan emosi negatif yang akan bermanifestasi menjadi luka psikis. Untuk menghindari hal tersebut, dilakukan regulasi emosi dengan menuangkan emosi ke dalam karya seni lukis, yaitu melalui katarsis. Katarsis penulis pahami sebagai upaya penyembuhan diri dari rasa sakit supresi emosi dengan membawakan bentuk visual luka yang dirasa bisa merepresentasikan konsep dualitas antara kesakitan dan proses kesembuhan. Pada penciptaan karya ini, penulis menggunakan teori seni sebagai ekspresi R.G Collingwood untuk mengidentifikasi proses ekspresi emosi pada penciptaan karya, teori katarsis oleh Sigmund Freud untuk mengidentifikasi proses katarsis, serta teori bahasa bentuk dan warna Kandinsky untuk menjelaskan kaitan antara bentuk dan warna dengan proses katarsis pada karya. Setelah proses penciptaan karya dilakukan, hasil capaian yang ditemukan adalah emosi negatif yang ada pada diri penulis bisa disublimasikan melalui bentuk visual pada karya tugas akhir. Dengan mengekspresikan emosi menggunakan katarsis, emosi negatif ditranslasikan ke dalam bentuk luka yang perlahan mengecil dari karya pertama ke karya terakhir, menandakan tujuan untuk mencari solusi dari supresi emosi tercapai dengan adanya pengurangan emosi negatif dan ditemukannya rasa lega. Karya merepresentasikan keadaan penyembuhan diri dengan cara menghadirkan bentuk luka yang perlahan mengecil. Selain itu, proses katarsis ditunjukkan melalui bentuk dan warna pada karya yang memiliki kaitan erat dengan emosi yang ingin dituangkan.

2025
👤 Penulis: Ashafitri Sagita Brilianti
🏷️ Kartotherapy 🏷️ Seni Lukis 🏷️ Penyembuhan Emosional

KONSTRUKSI DESTRUKSI LANSKAP KESUNYIAN MELALUI EKSPRESI SENI LUKIS

Bumi telah merekam sejarah umat manusia yang dipenuhi oleh penindasan dan konflik untuk mencapai keuntungan pribadi. Demi memuaskan ego dan kepentingan, manusia dapat menyakiti sesamanya tanpa menunjukkan belas kasih yang menciptakan kehancuran di atas tanah bumi. Hal ini menimbulkan rasa frustrasi di dalam diri penulis sehingga memicu dorongan untuk menciptakan karya yang mengekspresikan kehancuran dan suasana pasca terjadinya kehancuran. Untuk menciptakan karya yang menampilkan kehancuran, penulis membuat lanskap yang memperlihatkan reruntuhan. Sebagai cara untuk menuangkan rasa frustrasi penulis terhadap kehancuran atas perbuatan manusia, penulis menggunakan pendekatan seni sebagai ekspresi. Lalu untuk menyampaikan pesan yang terdapat pada visual karya, penulis menggunakan pendekatan seni sebagai simbol. Intensi penulis dalam menampilkan karya mengenai kehancuran merupakan bentuk perlawanan penulis terhadap kekejaman yang dilakukan oleh manusia. Hal ini selaras dengan teori Fromm mengenai agresi defensif yang menerangkan bahwa manusia dalam perasaan terancam dapat menunjukan sikap agresif demi melindungi diri. Proses pembuatan karya dimulai dengan mencari referensi di internet. Dilanjutkan dengan sketsa digital kemudian sketsa di atas kanvas. Setelah itu penulis mengaplikasikan tekstur dan pewarna pada bidang kanvas. Dari rangkaian proses tersebut tercipta karya lanskap yang menampilkan reruntuhan beserta puing-puing tanpa adanya kehidupan manusia di sana. Alhasil, ketiadaan tanda-tanda kehidupan memancing suasana kesunyian sebagai akibat dari lingkungan yang telah hancur dan tak dapat dihuni lagi.

2025
👤 Penulis: Liviani Marthawinata
🏷️ Seni Lukis 🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan

SEEING-FEELING: REPRESENTASI KEUTUHAN DIRI MELALUI SENI LUKIS

‘Seeing-Feeling’ merupakan proyek tugas akhir yang mengeksplorasi keinginan penulis dalam mencari keutuhan diri yang definit dan autentik. Upaya pencarian ini melibatkan proses konstruksi diri yang disebut sebagai self-model. Self-model dibangun dari kesadaran atas apa yang ingin ditampilkan oleh penulis melalui dirinya; identitas, tubuh, dan perasaan. ‘Seeing-Feeling’ dimaknai sebagai melihat dan juga merasakan apa yang ada di dalam diri. Self-model yang dikonstruksikan secara internal dalam diri penulis diperagakan secara gestural di depan kamera. Kemudian, kamera menangkap pergerakan tubuh penulis menggunakan metode long-exposure yang menghasilkan foto diri penulis dengan gestur yang menumpuk. Penumpukan gestur yang kian menyatu diibaratkan sebagai proses penyatuan dalam mencapai keutuhan diri penulis. Hasil foto yang telah terkumpul kemudian dilukis menjadi enam karya potret diri. Terdapat penyesuaian ketika melukis figur yang menumpuk, dengan pertimbangan bagian-bagian tubuh yang sengaja diperjelas dan sengaja dikaburkan. Potret diri dilukis menggunakan metode seni lukis representasional. Proyek ini ditujukan untuk mencari keutuhan diri yang mengantarkan penulis pada penerimaan diri dan identitasnya sebagai seorang perempuan.

2025
👤 Penulis: Yasmin Shafira
🏷️ Seni Lukis 🏷️ Kecerdasan Emosional 🏷️ Penelitian Kreatif

HARMONI GENANGAN AIR HUJAN DIATAS ASPAL MOMEN EKSPRESIF DALAM SENI LUKIS

Proyek akhir ini berfokus pada eksplorasi visual dan ekspresi emosional melalui medium seni lukis. Karya ini didasari oleh ketertarikan saya terhadap fenomena alam sederhana yaitu genangan air hujan di atas aspal, yang kemudian menjadi inspirasi utama dalam penciptaan karya seni. Latar belakang penciptaan ini berakar dari pengalaman emosional pribadi, khususnya dalam hubungan dengan ayah, yang memuculkan perasaan campur aduk antara kebahagiaan dan kesedihan. Dalam proses penciptaan, saya menggunakan metode observasi langsung terhadap fenomena alam, khususnya air hujan. Konsep visual yang diterapkan berfokus pada bagaimana tekstur dapat merefleksikan emosi dan perasaan yang mendalam. Proses penciptaan ini melibatkan beberapa tahapan, termasuk studi karakteristik air, pemilihan medium yang sesuai, dan eksekusi karya di atas kanvas. Hasil karya yang dihasilkan menunjukkan bahwa melalui seni lukis, saya dapat menggambarkan kompleksitas perasaan yang dialami, menciptakan harmoni antara elemen visual dan emosional. Kesimpulannya, karya ini tidak hanya menjadi representasi visual dari fenomena alam tetapi juga sebagai medium ekspresi personal yang mendalam, menggambarkan hubungan dan perasaan terhadap ayah dan saya.

2024
👤 Penulis: Ilka Suwaidadver Budiman
🏷️ Seni Lukis 🏷️ Analisis Emosi Visual 🏷️ Kecerdasan Buatan Dalam Seni

PERMADANI TERPATRI : NARASI IDENTITAS PEREMPUAN BERTINDIK MELALUI KARYA LUKIS

Konstruksi sosial gender yang kaku dan norma patriarkal telah membatasi ekspresi diri individu, terutama dalam lingkungan konservatif. Dinamika gender, sebagai konstruksi sosial yang terus berkembang, membuka ruang bagi pemahaman yang lebih inklusif terhadap identitas dan ekspresi diri. Melalui seni lukis, penulis berupaya menarasikan perspektif yang terpinggirkan dengan mengangkat tema stigma negatif terhadap tindik pada tubuh perempuan. Seri lukisan "Permadani Terpatri" hadir sebagai visualisasi perlawanan terhadap norma-norma tradisional tentang keindahan dan identitas. Teknik close-up yang menonjolkan detail tindik pada tubuh perempuan merajut narasi tentang upaya perempuan untuk merebut kembali otonomi tubuh dan merayakan kebebasan berekspresi. Karya ini berakar pada teori seni representasi, konsep Painting on Ready-Made Object, dan kajian teori feminisme serta stereotip gender. Penggunaan brokat sebagai ready-made object yang erat korelasinya dengan pakaian wanita dalam karya ini mengungkapkan bagaimana materialitas benda sehari-hari dapat dimaknai ulang, menciptakan simbolisme yang kuat terkait identitas feminin. Dengan merujuk pada seniman seperti Illaria Margutti, Dianna Molzan, dan Sigmar Polke, serta menggunakan metode realis representatif, seri lukisan ini menjadi sebuah pernyataan visual yang kuat tentang keberanian untuk menjadi diri sendiri. Perpaduan antara tindik dan objek perempuan dalam karya ini menggali pengaruh penampilan seseorang terhadap perasaan dan persepsi manusia. Wacana feminisme dan representasi perempuan bertindik melalui seni lukis ini pun memberikan kontribusi signifikan terhadap diskursus seni rupa, membuka ruang bagi pemahaman yang lebih kritis terhadap representasi tubuh perempuan dalam seni.

2024
👤 Penulis: Ariadne Maraya
🏷️ Seni Lukis 🏷️ Feminisme 🏷️ Kecerdasan Buatan

TUNGGANGAN WARNA: REPRESENTASI KEBEBASAN DAN IDENTITAS MELALUI SENI LUKIS

Pada karya tugas akhir ini, penulis merefleksikan perubahan signifikan dalam hidupnya melalui pengalaman modifikasi sepeda motor. Perubahan ini, yang dikenal sebagai budaya kustomisasi atau personalisasi, tidak hanya membawa kepuasan pribadi tetapi juga memunculkan pertanyaan tentang tujuan sebenarnya—apakah modifikasi tersebut untuk kepuasan diri atau untuk mendapatkan validasi dari masyarakat. Sepeda motor bagi penulis bukan sekedar alat transportasi, melainkan media untuk ekspresi diri. Dalam proses ini, penulis mengalami dilemma antara menjadi diri sendiri dan kebutuhan untuk diterima oleh masyarakat, terutama dalam konteks dunia sepeda motor yang didominasi laki-laki, sementara penulis adalah seorang wanita. Karya seni lukis berjudul "Tunggangan Warna" menjadi manifestasi dari perjalanan penulis dalam menemukan jati diri, di mana sepeda motor diinterpretasikan sebagai simbol perubahan diri yang konstan berubah untuk kemudian bisa diterima dalam masyarakat. Kata kunci: Personalisasi, sepeda motor, warna, identitas

2024
👤 Penulis: Sahda Ammarzia Wiedhayaka
🏷️ Personalisasi 🏷️ Seni Lukis 🏷️ Identitas

MEMORI MASA KECIL DALAM IMPRESI WARNA DAN BENTUK RUANG TENGAH KELUARGA

Didorong oleh rasa ingin tahu yang timbul saat mengamati sebuah potret keluarga besar dalam album foto lama, saya tertarik untuk menelusuri lebih jauh makna di balik foto tersebut. Ruang tengah adalah arsip hidup keluarga kami, menyimpan berbagai cerita dan peristiwa yang telah membentuk kita. Tergerak oleh makna ruang tersebut, saya menuangkan penghormatan pada masa lalu melalui 6 karya lukis. Saya menggunakan foto-foto lama sebagai dasar untuk eksplorasi visual. Pemilihan palet warna dilakukan dengan mempertimbangkan aspek psikologis warna, di mana warna-warna hangat diasosiasikan dengan emosi positif dan warna-warna lembut dengan ketenangan. Saya memilih palet warna-warna hangat untuk kenangan bahagia dan warna-warna lembut untuk momen-momen tenang. Karya tugas akhir ini dianalisis menggunakan kerangka teori Post-Impresionisme dan konsep seni sebagai bentuk. Saya memilih Susan Ryder sebagai kaji banding seniman karena adanya persamaan teknik pada sapuan kuas. Karya-karya saya bagaikan portal waktu, mengajak para penikmatnya untuk melakukan perjalanan nostalgia ke masa lampau. Terentang dari kanvas pertama hingga keenam, saya menghadirkan objek ruangan dalam berbagai komposisi.

2024
👤 Penulis: Zhafira Alliya Arifin
🏷️ Seni Lukis 🏷️ Post-Impresionisme 🏷️ Makna Ruang

LELAYU: REPRESENTASI SIMBOLIK PORTRAIT BUNGA

“Lelayu” adalah sebuah seri lukis yang terdiri atas enam karya. Karya ini mencoba untuk melampaui stereotip mengenai keindahan. Dalam hal ini persepsi pada akhirnya dapat menciptakan sebuah stereotip untuk menilai sesuatu, terutama dalam konteks keindahan yang seringkali memiliki penilaian berlebih terhadap ketidaksempurnaan—yang menjadikannya dilabeli kejelekkan– dalam konteks kelayuan. Sehingga adanya stereotip atas keindahan tersebut menjadi pendorong saya dalam berkarya. Menggunakan metode karya seni lukis dengan pendekatan representatif simbolik sebagai pengaitan atas persepsi, dimana kedua hal itu pada akhirnya mengasumsikan bahwa persepsi memiliki kesan sensorik yang akan selalu langsung ditafsirkan. Bunga sebagai salah satu contoh kasus simbolik mengenai keindahan menjadi tolak ukur atau subject matters dalam karya ini. Kemudian pendekatan wujud simbolik bunga juga pada akhirnya merepresentasikan keindahan itu sendiri dengan melalui wujud bunga layu. Dalam prosesnya, bunga tersebut dikomposisikan sebagai subjek dalam bidang kanvas menjadi bentuk format portrait yang keluar dari kesan still life— menjadi sebuah penilaian atas persepsi stereotip yang akan terjadi antara apresiator dengan karya. Simbolik atas bunga layu yang hadir secara tunggal dalam lanskapnya menjadi sebuah persoalan untuk menyadari representasi keindahan tidak hanya hadir dalam kesempurnaan, namun dalam ketidaksempurnaan juga. Karena pada akhirnya bunga layu itu hadir sebagai berita penting akan kematian yang membuat prosesi menuju kelayuan/kematian adalah suatu keindahan.

2024
👤 Penulis: Agnes Indah Permatasari
🏷️ Seni Lukis 🏷️ Persepsi Dan Stereotip 🏷️ Kecerdasan Buatan
💬