📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5 dokumenHARMONI TRADISI DAN KREASI BALAI BATABUAH : PUSAT SENI PERTUNJUKAN SEBAGAI RUANG KOLABORASI, APRESIASI, DAN INOVASI BUDAYA SENI DI RANAH MINANGKABAU
Seni Pertunjukan merupakan salah satu budaya seni yang terancam hilang karena perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, fenomena ini disebut juga dengan fenomena globalisasi dan modernisasi. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki tingkat kekayaan dan keragaman budaya yang tinggi. Salah satu budaya seni pertunjukan dari suatu suku bangsa di Indonesia yang terancam hilang merupakan budaya suku bangsa Minangkabau. Tidak tersedianya fasilitas pertunjukan yang sesuai dengan standar juga menjadi salah satu alasan tidak berkembangnya budaya seni pertunjukan di ranah Minangkabau. Untuk itu dibutuhkan sebuah usaha untuk memulihkan kembali budaya seni pertunjukan tradisional Minangkabau dan tetap mengembangkan seni pertunjukan modern. Oleh karena itu, diperlukan sebuah fasilitas yang dapat mewadahi aktivitas seni pertunjukan di ranah Minangkabau. Pusat seni pertunjukan ini memiliki fasilitas utama berupa teater pada umumnya dan juga salah satu teater khas Minangkabau yaitu Medan nan Bapaneh. Selain itu, juga terdapat fasilitas sekunder serta fasilitas pendukung dalam proses keberjalanan operasional bangunan tersebut. Persoalan perancangan pada proyek ini terdiri dari tiga persoalan yaitu, adaptabilitas dan fleksibilitas ruang, identitas arsitektur Minangkabau dan atraktivitas wisata kebudayaan.
PERANCANGAN SEKOLAH SENI PERTUNJUKAN UNTUK PENYANDANG DISABILITAS
Akhir-akhir ini, pengakuan terhadap hak penyandang disabilitas semakin berkembang, tetapi diskriminasi dan keterbatasan aksesibilitas masih banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Hambatan fisik, sosial, dan lingkungan membuat penyandang disabilitas kesulitan mengakses pendidikan yang setara, sehingga peluang kerja mereka menjadi lebih rendah dibandingkan kelompok non-disabilitas. Kondisi ini menimbulkan ketimpangan yang berdampak pada kemandirian dan partisipasi sosial penyandang disabilitas. Untuk menjawab permasalahan tersebut, dirancanglah sekolah seni pertunjukan bagi penyandang disabilitas fisik dan sensorik, khususnya pengguna kursi roda, kruk, walker, kaki/tangan prostetik, tunanetra, dan low vision. Seni pertunjukan dipilih sebagai fokus kegiatan karena aktivitas ini menuntut pergerakan yang selama ini menjadi tantangan bagi mereka, sehingga dibutuhkan pendekatan desain yang inklusif dan responsif terhadap keterbatasan mobilitas. Sekolah ini tidak hanya menjadi sarana pendidikan dan pengembangan keterampilan, tetapi juga sebagai wadah ekspresi, kreativitas, dan pembentukan rasa percaya diri bagi siswa. Lingkungan belajar dirancang aman, nyaman, dan mendorong siswa untuk berkreasi tanpa rasa takut terhadap risiko cedera maupun stigma negatif. Dengan demikian, sekolah ini diharapkan mampu mengenalkan seni pertunjukan disabilitas yang masih kurang dikenal di Indonesia. Proyek sekolah seni pertunjukan ini dibangun di Kota Surabaya sebagai lembaga kursus dan pelatihan nonformal yang memiliki sertifikasi kompetensi. Program pendidikan terdiri dari tiga jenjang—dasar, menengah, dan mahir—dengan empat jurusan utama, yaitu seni tari, teater, musik, dan film. Pendirian sekolah ini merupakan kerja sama pemerintah dengan BRI, memanfaatkan lahan milik BRI melalui program tanggung jawab sosial perusahaan dalam mendukung pendidikan inklusif bagi penyandang disabilitas.
PERANCANGAN INTERIOR PUSAT SENI TARI, MUSIK, DAN TEATER BALI DENGAN PENDEKATAN SOSIAL BUDAYA
Pandemi COVID-19 telah memberikan dampak signifikan terhadap seni pertunjukan di Bali, terutama dalam hal aktivitas secara langsung yang mengalami penurunan drastis. Penelitian ini menelaah dampak pandemi terhadap dua kelompok utama dalam seni pertunjukan Bali: kelompok Cultural-Centric, yang berfokus pada pelestarian nilai budaya tradisional dan gotong royong, dan kelompok Market-Centric, yang lebih berorientasi pada permintaan pasar dan inovasi. Melalui pendekatan sosial budaya, penelitian ini mengevaluasi pengaruh sosial, partisipasi budaya, dan adaptasi budaya yang terjadi selama pandemi. Kelompok Cultural-Centric menghadapi tantangan dalam mempertahankan aktivitas budaya dan tradisi di tengah pembatasan sosial yang mengurangi interaksi komunitas dan kegiatan gotong royong. Sebaliknya, kelompok Market-Centric menemukan peluang dalam media digital untuk mencapai audiens yang lebih luas. Adaptasi budaya di masa pandemi menunjukkan bahwa minat terhadap seni pertunjukan sebenarnya tidak menurun, melainkan bergeser ke platform tidak langsung seperti pertunjukan virtual. Namun di sisi lain, angka ketergantungan seniman pada pertunjukan secara langsung justru meningkat. Tujuan dari perancangan ini adalah untuk menciptakan fasilitas yang dapat mengakomodasi sekaligus menyertakan kedua kelompok dalam revitalisasi seni pertunjukan yang terdampak pandemi. Dengan merancang Pusat Seni Tari, Musik, dan Teater Bali yang dapat memfasilitasi kolaborasi antara pelestarian budaya dan inovasi modern, diharapkan dapat meningkatkan partisipasi budaya dan kesejahteraan seniman Bali, serta menjaga keberlanjutan nilai-nilai budaya dalam menghadapi perubahan zaman.
PUSAT SENI PERTUNJUKAN BANDUNG: SENI PERTUNJUKAN UNTUK SEMUA
Pada tahun 2015, Kota Bandung dinobatkan sebagai kota kreatif oleh UNESCO. Namun, seni pertunjukan sebagai sub-sektor ekonomi kreatif belum berkembang sesuai potensinya, meskipun terdapat banyak pelaku seni pertunjukan di kota ini. Data PPKD tahun 2018 menunjukkan bahwa seni pertunjukan di Bandung hanya difasilitasi oleh komunitas, sementara Bandung merupakan kontributor terbesar pelaku seni di Jawa Barat dengan persentase 12,47% dari pelaku ekonomi kreatif. Proyek ini bertujuan mendirikan Bandung Performing Arts Center yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat dari berbagai lapisan sosial, serta berfungsi sebagai ruang publik yang mengintegrasikan seni pertunjukan tradisional dan modern. Terletak di Jalan Asia Afrika nomor 88 di pusat kota, lokasi ini dipilih karena aksesibilitasnya yang mudah dan posisinya di kawasan cagar budaya yang menjadi daya tarik Kota Bandung. Kriteria perancangan utama yang dipertimbangkan meliputi pembentukan ruang publik, responsif terhadap kebutuhan masyarakat, dan pengalaman ruang yang inspiratif serta transparan. Bandung Performing Arts Center diharapkan menjadi ikon arsitektur yang meningkatkan minat dan kontribusi seni pertunjukan dalam ekonomi kreatif serta pariwisata budaya di Kota Bandung.
ENHANCING INDONESIAN PERFORMING ARTS HERITAGE: PUSAT SENI PERTUNJUKAN SEGABAI SIMBOL INTEGRASI SENI DAN KEBUDAYAAN KOTA JAKARTA
Budaya berfungsi sebagai sistem simbolik untuk panduan hidup dan adaptasi sosial, menetapkan aturan dan strategi untuk perilaku manusia dan hubungan sosial. Seni, sebagai manifestasi budaya, memenuhi standar estetika dan menyampaikan makna melalui simbol-simbol ekspresif. Seni pertunjukan berkontribusi signifikan terhadap pariwisata dan pertumbuhan ekonomi. Globalisasi dan modernisasi telah mengubah persepsi dan pelestarian budaya tradisional, menyebabkan penurunan konsumsi seni tradisional, terutama di kalangan pemuda yang terpengaruh oleh budaya barat. Jakarta, yang kaya akan keragaman budaya dan sejarah, dapat mempromosikan warisan budaya nasional melalui seni pertunjukan. Respons arsitektural harus mengintegrasikan arsitektur dan seni pertunjukan untuk menciptakan ruang inovatif. Proyek desain pusat seni pertunjukan bertujuan untuk memperkenalkan, melestarikan, dan mendidik masyarakat tentang seni pertunjukan, meningkatkan keharmonisan komunitas dengan mengembangkan seni tradisional dan modern. Ini termasuk pelatihan, pendidikan, fasilitas pertunjukan, dan ruang publik untuk mendukung pertumbuhan seni pertunjukan. Proyek ini bertujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan warisan budaya Indonesia, menghidupkan kembali minat pada seni pertunjukan tradisional dan modern melalui kolaborasi antara seni, budaya, dan arsitektur. Dengan menciptakan ruang-ruang ini, proyek ini tidak hanya melestarikan tetapi juga menghidupkan kembali praktik budaya, memastikan relevansi dan daya tariknya bagi generasi mendatang, sehingga mengamankan warisan budaya yang hidup bagi Indonesia.