📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 4 dokumen

RE-DESAIN SMP SANTA ANGELA DENGAN PENDEKATAN HUMAN-CENTERED DESIGN DAN SENSE OF PLACE DI BANDUNG

Di Kota Bandung, SMP Santa Angela merupakan sekolah Katolik yang menempati bangunan cagar budaya yang berdiri sejak masa kolonial. Sekolah ini menghadapi tantangan dalam menyesuaikan fasilitas dengan kebutuhan pembelajaran saat ini. Ruang kelas yang dialihfungsikan, kompleksitas kebutuhan siswa, dan kondisi lingkungan belajar yang belum optimal, seperti kebisingan, pencahayaan yang kurang memadai, dan penghawaan yang kurang nyaman. Selain itu, integrasi nilai sekolah dalam desain ruang masih terbatas sehingga potensi penguatan identitas sekolah dalam pengalaman ruang belum terimplementasi secara optimal. Perancangan ini bertujuan untuk menghasilkan desain baru dalam mengatasi permasalahan dan tatangan di SMP Santa Angela melalui pendekatan human- centered design dan sense of place. Pendekatan human-centered design berfokus pada kebutuhan fisik, psikologis, dan sosial pengguna yang akan menjadi dasar pengembangan solusi desain. Pendekatan sense of place diterapkan untuk menyelaraskan karakter fisik bangunan, aktivitas sosial, dan makna simbolik guna memperkuat keterikatan serta rasa memiliki (sense of belonging) warga sekolah. Metode penelitian meliputi survei, observasi, kuesioner, wawancara, dan pengukuran faktor lingkungan menggunakan 5 in 1 environment meter. Perancangan ulang SMP Santa Angela ini mengangkat tema “Transforming into a Brighter Future: Honoring the Past, Transforming the Present, Shaping the Future” sebagai upaya menyelaraskan pelestarian identitas historis bangunan cagar budaya dan nilai Serviam dengan transformasi ruang yang responsif terhadap kebutuhan masa kini serta kebutuhan pembelajaran masa depan. Implementasi desain menerapkan kedua pendekatan desain pada sekolah dengan 6 ruang sebagai prioritas tertinggi, yaitu lobi, koridor sejarah, student hub, ruang guru, dan 2 ruang kelas tipikal. Perancangan ini diharapkan dapat mendukung terciptanya lingkungan belajar yang lebih baik dan berpusat pada pengguna, mendukung kenyamanan, aktivitas, interaksi sosial, serta memperkuat identitas sekolah melalui pengalaman ruang untuk meningkatkan ‘rasa memiliki’ bagi warga sekolah.

2026
👤 Penulis: Maria P. Michelle Nifanngelyau
🏷️ Desain Lingkungan Sekolah 🏷️ Human-Centered Design 🏷️ Sense Of Place

PEMBENTUKAN SENSE OF PLACE MELALUI INTIMASI RUANG PADA INTERIOR FASILITAS NGADI SALIRO BAGI PENGUNJUNG PEREMPUAN (STUDI KASUS : NURKADHATYAN SPA, KEPUTREN PESANGGRAHAN AMBARRUKMO, YOGYAKARTA)

Perawatan tradisional Jawa merupakan ruang pengalaman yang dibentuk oleh relasi antara sejarah, tradisi, tubuh, indera, emosi, dan makna tempat. Nurkadhatyan Spa di lingkungan Pesanggrahan Ambarrukmo, Yogyakarta, memiliki posisi penting karena berada dalam situs sejarah berusia sekitar 200 tahun yang terkait dengan tradisi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Konteks tersebut menjadikan pengalaman spa tidak hanya berlangsung sebagai layanan perawatan tubuh kontemporer, tetapi juga sebagai pengalaman dalam lanskap warisan budaya yang memuat jejak tradisi perawatan tubuh perempuan Jawa. Penelitian ini menempatkan tradisi perawatan tubuh di Keputren sebagai landasan historis, kultural, dan konseptual untuk membaca praktik Ngadi Saliro yang diadaptasi di Nurkadhatyan Spa. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi aspek pembentuk intimasi dalam tradisi perawatan tubuh Ngadi Saliro, menganalisis bagaimana adaptasi tradisi Keputren pada setting spasial dan sosial-kultural Nurkadhatyan Spa membentuk pengalaman perempuan, serta merumuskan model intimasi ruang dalam konteks pembentukan sense of place. Dalam penelitian ini, sense of place dipahami sebagai luaran pengalaman, sedangkan intimasi ruang diposisikan sebagai mediator yang menghubungkan setting ruang, layanan, tubuh, pengalaman multisensori, pengalaman afektif, narasi budaya, dan pemaknaan tempat. Intimasi ruang tidak dipahami semata sebagai kedekatan fisik, tetapi sebagai kondisi afektif-relasional yang terbentuk melalui privasi, rasa aman, kepercayaan, kontrol atau agency, personalisasi, embodied care, dan pengendapan pengalaman. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi melalui studi literatur, observasi, dokumentasi, pembacaan artefak, serta wawancara mendalam terhadap 30 partisipan perempuan setelah menjalani rangkaian perawatan di Nurkadhatyan Spa. Analisis dilakukan melalui pembacaan tematik-relasional terhadap alur pengalaman berfase, mulai dari kedatangan, perpindahan pertama, perawatan, perpindahan kedua, hingga relaksasi atau penutup. Pembacaan ini diperkuat dengan Associative Conceptual Network Analysis (ACNA) untuk menelusuri jaringan asosiasi kata, impresi dominan, dan kedalaman kognitif pengalaman partisipan. Dengan demikian, pengalaman spa dibaca tidak hanya sebagai narasi verbal, tetapi juga sebagai struktur asosiasi antara unsur sensorik, afektif, tubuh, memori, dan makna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intimasi ruang dalam spa tradisional Jawa dibentuk oleh empat aspek utama, yaitu aspek spasial, aspek sosial-kultural, aspek aktivitas ritual dan proksimitas, serta aspek makna privat, kultural, dan pemulihan diri. Tradisi Keputren berperan sebagai fondasi historis yang memperlihatkan pentingnya ruang perempuan yang privat, relasi sosial yang mengasuh, praktik perawatan tubuh yang holistik, serta makna perawatan sebagai bagian dari pembentukan diri perempuan. Dalam adaptasinya di Nurkadhatyan Spa, nilai-nilai tersebut diterjemahkan melalui atmosfer Jawa-Keraton, tata ruang, material, aroma, suara, taman, minuman, sentuhan, suhu, posisi tubuh, alur layanan, privasi, dan interaksi terapis yang dibingkai oleh etika unggah-ungguh. Temuan utama penelitian menegaskan bahwa sense of place pada spa tradisional Jawa tidak terbentuk secara langsung dari estetika budaya, elemen interior, atau simbol Keraton semata, melainkan melalui proses intimasi ruang yang berfase, embodied, multisensori, afektif, naratif, dan relasional. Dimensi sense of place paling dominan muncul melalui dependence dan attachment, sementara continuity hadir melalui jejak memori sensorik, dan identity muncul secara selektif ketika pengalaman dipersonalisasi sebagai rasa dimanjakan, berkelas, atau terhubung dengan citra perempuan Keraton. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian sense of place dengan menempatkan intimasi ruang sebagai mediator utama antara setting ruang dan pemaknaan tempat, serta memberikan implikasi bagi perancangan interior dan pengelolaan spa tradisional Jawa yang peka terhadap kebutuhan psikologis, sensorik, tubuh, dan kultural perempuan.

2026
👤 Penulis: Debri Haryndia Putri
🏷️ Sense Of Place 🏷️ Intimasi Ruang 🏷️ Perawatan Tradisional Tubuh

PRINSIP PENGEMBANGAN WISATA SEJARAH DENGAN PENDEKATAN SENSE OF PLACE (STUDI KASUS: KAWASAN TERDAMPAK BENCANA GAMPONG PANDE)

Gampong Pande sebagai sebuah toponim kuno yang mencerminkan jejak sejarah Kerajaan Aceh Darussalam dan cikal bakal berdirinya Kota Banda Aceh memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah. Upaya rekonstruksi pasca-bencana, meski berhasil membangun kembali fisik kawasan, nyatanya telah menghilangkan karakter khas kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi elemen-elemen sense of place yang dapat mendukung pembentukan kembali identitas kawasan sebagai destinasi wisata sejarah pascabencana, serta merumuskan prinsip dan kriteria pengembangan kawasan yang kontekstual dan aplikatif. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara semi- struktural, serta telaah dokumen kebijakan dan perencanaan daerah. Analisis dilakukan dengan mengintegrasikan teori sense of place (form, activity, meaning) dengan kerangka evaluatif What Makes a Great Place? dari Project for Public Spaces. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gampong Pande memiliki elemen- elemen sejarah, simbolik, dan ekologis yang saling terkait, namun belum dikelola secara terpadu. Tantangan utama yang ditemukan antara lain adalah minimnya infrastruktur interpretatif, belum adanya ruang publik yang terdesain untuk mendukung aktivitas komunitas, serta lemahnya narasi visual dan identitas spasial kawasan. Penelitian ini merumuskan prinsip-prinsip pengembangan berbasis sense of place yang mencakup aspek fisik-spasial, sosial-kultural, dan simbolik. Prinsip- prinsip ini kemudian dijabarkan ke dalam pedoman desain teknis serta arahan modular bagi elemen-elemen kawasan yang bersifat implementatif. Dengan demikian, hasil penelitian ini tidak hanya berkontribusi secara teoritis dalam pengembangan pariwisata sejarah berbasis makna tempat, tetapi juga menawarkan kerangka aplikatif yang dapat digunakan sebagai rujukan dalam perencanaan dan revitalisasi kawasan sejarah pascabencana.

2025
👤 Penulis: Yumna Alifa
🏷️ Gampong Pande 🏷️ Pariwisata Sejarah 🏷️ Sense Of Place

KAJIAN SENSE OF PLACE PERPUSTAKAAN AKADEMIK:ANALISIS PERAN ZONASI FUNGSI DAN KONFIGURASI FURNITUR(STUDI KASUS KOMPARATIF: PERPUSTAKAAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG DAN TELKOM UNIVERSITY)

Seiring transformasi perpustakaan akademik menjadi learning center, pemahaman mendalam mengenai sense of place menjadi krusial. Penelitian ini menganalisis peran sinergis antara zonasi fungsi dan konfigurasi furnitur dalam membentuk sense of place mahasiswa. Melalui pendekatan studi kasus komparatif, penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pola-pola kunci dari dua konteks desain yang berbeda di Perpustakaan Institut Teknologi Bandung dan Telkom University. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi, kuesioner (n=60), dan wawancara mendalam. Analisis data dilakukan melalui triangulasi untuk membangun pemahaman yang komprehensif mengenai persepsi dan pengalaman pengguna terkait desain ruang di kedua perpustakaan. Temuan utama penelitian ini menunjukkan bahwa zonasi fungsi dan konfigurasi furnitur secara sinergis membentuk sense of place pada tingkatan yang berbeda. Zonasi fungsi, yang didukung oleh komunikasi visual yang efektif, berperan sebagai kerangka makro pembentuk Place Identity. Sementara itu, konfigurasi furnitur beroperasi pada tingkat mikro untuk membentuk Place Dependence melalui pemenuhan kebutuhan fungsional dan Place Attachment melalui kenyamanan emosional. Studi komparatif ini juga menemukan bahwa pendekatan desain dengan variasi furnitur yang kaya dan komunikasi spasial yang jelas cenderung menghasilkan sense of place yang lebih koheren. Secara keseluruhan, penelitian ini berkontribusi pada teori sense of place dengan menegaskan peran penting kenyamanan sensoris dan sense of control pengguna. Secara praktis, temuan ini menawarkan panduan desain berbasis bukti bagi pengelola perpustakaan untuk menciptakan lingkungan belajar yang tidak hanya fungsional, tetapi juga responsif secara psikologis dan mampu membangun keterikatan emosional yang kuat dengan penggunanya.

2025
👤 Penulis: Stella Maris Cindera Kasih
🏷️ Sense Of Place 🏷️ Desain Perpustakaan Akademik 🏷️ Kenyamanan Sensoris
💬