📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 4 dokumen

EVALUASI KEBIJAKAN OPERASIONAL SISTEM PRODUKSI SEPABLOCK MENGGUNAKAN PENDEKATAN SIMULASI

Sepablock merupakan salah satu produk diversifikasi non semen dari PT Semen Padang. Sistem produksi Sepablock dijalankan dengan memaksimalkan kapasitas mesin pada setiap shift, tanpa penyesuaian terhadap fluktuasi permintaan. Berdasarkan data historis, rata-rata produksi harian sebesar 2.080 unit, sedangkan rata-rata permintaan harian hanya sebesar 990 unit, sehingga terbentuk inventori harian dengan rata-rata 1.090 unit. Kondisi ini menunjukkan terjadinya overproduction akibat kebijakan operasional yang tidak selaras dengan kebutuhan pasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh kebijakan operasional terhadap terjadinya overproduction serta menyusun kebijakan operasional yang lebih selaras dengan permintaan guna menurunkan tingkat overproduction. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah simulasi yang digunakan untuk memodelkan kondisi aktual sistem produksi dan menguji beberapa skenario alternatif dengan konfigurasi jumlah shift dan mesin. Evaluasi dilakukan berdasarkan indikator total produksi, tingkat persediaan, lost sales, utilisasi sumber daya, dan total biaya yang terdiri atas biaya simpan dan biaya kehilangan penjualan. Hasil simulasi menunjukkan bahwa konfigurasi satu shift dan satu mesin menghasilkan produksi sebesar 376.000 unit dalam setahun dengan inventori akhir tahun sebesar 2.260 unit dan total biaya terendah sebesar Rp67.849.375,08, meskipun terdapat lost sales sebesar 11.934 unit namun menurunkan akumulasi persediaan dan total biaya secara signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa penyesuaian kebijakan operasional berbasis permintaan lebih efektif dalam menekan overproduction dibandingkan pendekatan berbasis kapasitas maksimum. Konfigurasi satu shift direkomendasikan sebagai kebijakan operasional yang paling efisien dalam menyeimbangkan produksi dan permintaan serta meminimalkan total biaya sistem.

2026
👤 Penulis: Jasmine Khairina H. W.
🏷️ Simulasi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

EVALUASI TINGKAT PELAYANAN TERMINAL BANDARA MENGGUNAKAN MIKROSIMULASI (STUDI KASUS: BANDARA INTERNASIONAL MINANGKABAU)

Tingkat pelayanan gedung terminal tidak hanya secara langsung berkaitan dengan kenyamanan penumpang tapi juga berkaitan dengan efisiensi operasional. Tingkat pelayanan yang tidak efisien dapat mengurangi kapasitas terminal secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat pelayanan terminal Bandar Udara Internasional Minangkabau khususnya di area check in. Analisis dilakukan dengan mengevaluasi fasilitas sisi darat eksisting Bandar Udara Internasional Minangkabau mengacu kepada SKEP No 77/VI/2005 serta mengevaluasi sistem antrian check in dengan model antrian M/M/1 dan model simulasi menggunakan PTV Vissim. Parameter antrian yang menjadi dasar evaluasi adalah waktu tunggu maksimum di dalam antrian dan ruang per penumpang (m²/pax). Kedua parameter dibandingkan dengan kerangka tingkat pelayanan oleh IATA. Hasil penelitian menunjukan bahwa fasilitas sisi darat eksisting Bandar Udara Internasional Minangkabau selain luas selasar keberangkatan sudah memenuhi syarat teknik yang tercantum dalam SKEP No 77/VI/2005. Parameter antrian waktu tunggu maksimum diperoleh kurang dari 20 menit sehingga masih memenuhi acceptible waiting time oleh IATA. Parameter ruang per penumpang diperoleh lebih dari 1.3 m²/pax yang juga memenuhi batas minimum yang ditetapkan oleh IATA. Beberapa upaya untuk meningkatkan kinerja sistem antrian proses check in di Bandar Udara Internasional Minangkabau untuk mengantisipasi peningkatan jumlah penumpang pada peak season yaitu mengoptimalkan penggunaan self check in, membuat zonasi antara antrian check in dan antrian baggage drop serta menerapkan common use check in system.

2025
👤 Penulis: Ardelia Deani Adithia
🏷️ Simulasi 🏷️ Manajemen Terminal Bandar Udara 🏷️ Kepatuhan Pelayanan

USULAN PENINGKATAN KINERJA SARANA BONGKAR MUAT DI DERMAGA SAMUDERA TERMINAL CURAH KERING (TCK) BENGKULU DENGAN METODE SIMULASI

Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu melayani aktivitas bongkar muat produk curah kering, khususnya batu bara dengan total throughput pelabuhan 3,21 juta ton pada tahun 2024. Meskipun begitu, terdapat potensi throughput yang dapat dimuat sebesar 7,76 juta ton per tahun yang berasal dari cadangan batu bara di wilayah Bengkulu dan sekitarnya, namun belum bisa terealisasi karena adanya keterbatasan pada kapasitas pelabuhan yang disebabkan oleh gangguan operasional seperti faktor cuaca dan pemadaman listrik. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas sarana bongkar muat di Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu, khususnya di Dermaga Samudera Terminal Curah Kering Bengkulu melalui perbaikan pada bottleneck operasi serta analisis skema implementasi paling efektif. Permasalahan ini diselesaikan dengan menggunakan metode simulasi karena cakupan masalah yang kompleks berupa sistem operasional terminal curah kering dan interaksi antar komponennya dengan nilai waktu proses yang stokastik. Pendekatan simulasi yang digunakan adalah discrete event simulation dengan dibantu oleh perangkat lunak AnyLogic untuk menghitung total throughput tahunan batu bara di Dermaga Samudera. Terdapat 3 skenario simulasi, yaitu skenario existing, skenario usulan 1, dan skenario usulan 2. Skenario existing memodelkan kondisi nyata dari sistem saat ini, skenario usulan 1 mengatasi permasalahan gangguan operasional dan memaksimasi jam kerja peralatan, sedangkan skenario 2 melakukan penggantian peralatan bottleneck pada Konveyor C. Pemilihan skenario terbaik dilakukan dengan perbandingan rasio kenaikan manfaat-biaya dari masing-masing skenario. Berdasarkan analisis, skenario usulan 2 terpilih sebagai opsi paling layak dengan nilai rasio manfaat-biaya inkremental 8,92 terhadap skenario usulan 1. Hasil simulasi menunjukkan skenario usulan 2 mampu meningkatkan throughput tahunan Dermaga Samudera dari 1,06 juta ton menjadi 1,97 juta ton, meningkat 85,59%. Melalui analisis skema kemitraan, implementasi skenario usulan 2 di Dermaga Samudera direkomendasikan dengan menggunakan skema full equity.

2025
👤 Penulis: Husein
🏷️ Simulasi 🏷️ Operasional Terminal Curah Kering 🏷️ Optimisasi Kapasitas Pelabuhan

SIMULATION STUDY OF CO2 FOAM CO-INJECTION PROCESSES: IMPLICATIONS FOR ENHANCING OIL RECOVERY IN FIELD-SCALE DEVELOPMENT PLANNING

The Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) predicts that the global oil demand and consumption will rise to 116 million barrels per day by 2045. It is also in line with Indonesia’s target to increase the national production by 1 million BOPD of oil and 12 billion SCFD of natural gas in 2030. To meet the growing demand for energy, the petroleum industry will be pushed to develop new techniques and improve current ones that can increase the oil production rates from both conventional and unconventional reserves. CO2 foam injection is recognized as a promising approach to increase oil production rates. The idea of injecting CO2 foam was proposed to deal with the problems of early gas breakthrough and poor sweep efficiency occurred in the process of pure CO2 injection. In the CO2 foam injection process, the presence of foam lamella reduces the gas mobility so that the oil recovery process can significantly improve the displacement efficiency. The foam can stabilize the oil displacement process by increasing the effective viscosity of the gas. This study performs a simulation study by using CMG STARS for a reservoir model with a direct line drive pattern to evaluate several development strategies for CO2 foam co-injection with foam properties sensitivity. After performing reservoir simulations for 15 years injection to identify the effect of CO2 foam co-injection compared to pure CO2 injection and watersurfactant injection, then doing sensitivity to identify the effect of foam properties with varying foam quality and Mobility Reduction Factor, this simulation study reveals the following findings. First, adding foam into the CO2 EOR process can reduce the mobility of CO2 so the gravity override does not occur and slow down the gas breakthrough occurrence. Then, it leads to the increase of displacement efficiency and cumulative oil production. The CO2 foam co-injection also can reduce the water cut compared with the water-surfactant injection. Second, increasing the foam quality can decrease the displacement efficiency and cumulative oil production but in the other side slow down the gas breakthrough and reduce the water cut. Meanwhile, increasing the MRF can increase the displacement efficiency and cumulative oil production as well as slow down the gas breakthrough. As a result, the application of CO2 foam co-injection offers significant benefit and represents an innovative technique with promising potential for enhancing oil recovery.

2024
👤 Penulis: Dahlia Putri Permatasari
🏷️ Simulasi 🏷️ Efisiensi Penelanjutan Minyak 🏷️ Pemanfaatan Co2 Foam
💬