📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 18 dokumenPENYUSUNAN PETA RISIKO BENCANA BERKETELITIAN TINGGI DI BANDUNG
Kota Bandung memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap berbagai bencana hidrometeorologi dan geologi, seperti banjir, gempabumi, dan tanah longsor. Namun, informasi risiko bencana yang tersedia umumnya masih disajikan pada skala administratif sehingga belum mampu menggambarkan variasi risiko secara rinci hingga tingkat persil. Proyek ini bertujuan menyusun peta risiko bencana berketelitian tinggi di Kota Bandung dengan mengintegrasikan komponen bahaya, kerentanan, dan kapasitas sesuai pedoman BNPB. Analisis dilakukan untuk bencana banjir, gempabumi, tanah longsor, serta multibahaya pada skala 1:5.000 menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil analisis disajikan dalam bentuk peta digital per kelurahan dan platform WebGIS yang memungkinkan eksplorasi informasi risiko secara interaktif hingga tingkat persil. Produk yang dihasilkan diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan dalam mitigasi bencana, perencanaan tata ruang, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi risiko bencana yang lebih detail dan mudah dipahami.
PENYUSUNAN PETA RISIKO BENCANA BERKETELITIAN TINGGI DI BANDUNG
Kota Bandung memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap berbagai bencana hidrometeorologi dan geologi, seperti banjir, gempabumi, dan tanah longsor. Namun, informasi risiko bencana yang tersedia umumnya masih disajikan pada skala administratif sehingga belum mampu menggambarkan variasi risiko secara rinci hingga tingkat persil. Proyek ini bertujuan menyusun peta risiko bencana berketelitian tinggi di Kota Bandung dengan mengintegrasikan komponen bahaya, kerentanan, dan kapasitas sesuai pedoman BNPB. Analisis dilakukan untuk bencana banjir, gempabumi, tanah longsor, serta multibahaya pada skala 1:5.000 menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil analisis disajikan dalam bentuk peta digital per kelurahan dan platform WebGIS yang memungkinkan eksplorasi informasi risiko secara interaktif hingga tingkat persil. Produk yang dihasilkan diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan dalam mitigasi bencana, perencanaan tata ruang, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi risiko bencana yang lebih detail dan mudah dipahami.
PENYUSUNAN PETA RISIKO BENCANA BERKETELITIAN TINGGI DI KOTA BANDUNG
Kota Bandung memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap berbagai bencana hidrometeorologi dan geologi, seperti banjir, gempabumi, dan tanah longsor. Namun, informasi risiko bencana yang tersedia umumnya masih disajikan pada skala administratif sehingga belum mampu menggambarkan variasi risiko secara rinci hingga tingkat persil. Proyek ini bertujuan menyusun peta risiko bencana berketelitian tinggi di Kota Bandung dengan mengintegrasikan komponen bahaya, kerentanan, dan kapasitas sesuai pedoman BNPB. Analisis dilakukan untuk bencana banjir, gempabumi, tanah longsor, serta multibahaya pada skala 1:5.000 menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil analisis disajikan dalam bentuk peta digital per kelurahan dan platform WebGIS yang memungkinkan eksplorasi informasi risiko secara interaktif hingga tingkat persil. Produk yang dihasilkan diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan dalam mitigasi bencana, perencanaan tata ruang, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi risiko bencana yang lebih detail dan mudah dipahami.
PENYUSUNAN PETA RISIKO BENCANA BERKETELITIAN TINGGI DI BANDUNG
Kota Bandung memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap berbagai bencana hidrometeorologi dan geologi, seperti banjir, gempabumi, dan tanah longsor. Namun, informasi risiko bencana yang tersedia umumnya masih disajikan pada skala administratif sehingga belum mampu menggambarkan variasi risiko secara rinci hingga tingkat persil. Proyek ini bertujuan menyusun peta risiko bencana berketelitian tinggi di Kota Bandung dengan mengintegrasikan komponen bahaya, kerentanan, dan kapasitas sesuai pedoman BNPB. Analisis dilakukan untuk bencana banjir, gempabumi, tanah longsor, serta multibahaya pada skala 1:5.000 menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil analisis disajikan dalam bentuk peta digital per kelurahan dan platform WebGIS yang memungkinkan eksplorasi informasi risiko secara interaktif hingga tingkat persil. Produk yang dihasilkan diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan dalam mitigasi bencana, perencanaan tata ruang, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi risiko bencana yang lebih detail dan mudah dipahami.
PENYUSUNAN PETA RISIKO BENCANA BERKETELITIAN TINGGI DI KOTA BANDUNG
Kota Bandung memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap berbagai bencana hidrometeorologi dan geologi, seperti banjir, gempabumi, dan tanah longsor. Namun, informasi risiko bencana yang tersedia umumnya masih disajikan pada skala administratif sehingga belum mampu menggambarkan variasi risiko secara rinci hingga tingkat persil. Proyek ini bertujuan menyusun peta risiko bencana berketelitian tinggi di Kota Bandung dengan mengintegrasikan komponen bahaya, kerentanan, dan kapasitas sesuai pedoman BNPB. Analisis dilakukan untuk bencana banjir, gempabumi, tanah longsor, serta multibahaya pada skala 1:5.000 menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil analisis disajikan dalam bentuk peta digital per kelurahan dan platform WebGIS yang memungkinkan eksplorasi informasi risiko secara interaktif hingga tingkat persil. Produk yang dihasilkan diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan dalam mitigasi bencana, perencanaan tata ruang, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi risiko bencana yang lebih detail dan mudah dipahami.
DESAIN DAN KONVERSI STRUKTUR DATA GEOMETRI TIGA DIMENSI KE DALAM BASIS DATA SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS TIGA DIMENSI BERBASIS WEB ( STUDI KASUS : KAMPUS ITB )
Proses penyimpanan data spasial tiga dimensi (3D) dari CAD (Computer Aided Design) ke dalam struktur basisdata Sistem Informasi Geografis (GIS – Geographic Information System) tidak dapat dilakukan secara serta merta mengingat data geometri 3D dalam CAD disusun dalam kondisi bertumpuk (sphagetti). Untuk menjembatani CAD dan GIS dalam hal penyimpanan data spasial 3D dibutuhkan suatu program yang bertugas mengekstraksi dan mengkonversi data geometri objek 3D dalam CAD menjadi data topologi objek dalam GIS. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk merekonstruksi objek tersebut adalah Boundary Representation (B-Rep), dimana objek akan direpresentasikan oleh kulit permukaan (face) yang menyelimutinya. Pendekatan ini memungkinkan penyusunan topologi objek 3D yang siap dimasukkan ke dalam basisdata GIS. Topologi internal dari masing-masing objek akan dikorelasikan dengan atributnya untuk kemudian dimasukkan secara bersama ke dalam satu sistem basisdata. Dalam penelitian ini, kemampuan tersebut masih terbatas pada kelompok objek polihedral. Kelas objek yang akan direkonstruksi terdiri dari: Polyhedron, TriangleMesh, Surface, dan Face. Primitif objek yang dipergunakan dalam penyusunan topologi keempat kelas tersebut adalah node dan face. Proses pengaksesan dari dan ke basisdata menggunakan konsep client-server dalam jaringan intranet. Berdasarkan hasil pengujian diperoleh kesimpulan bahwa program memiliki kemampuan strukturisasi data (structuring) melalui pembentukan basisdata spasial, yang mencakup entitas geometri dan atribut objek 3D, dan presentasi data (presentation) melalui visualisasi grafis dan penyajian data atribut. Keduanya menjadi langkah penting bagi pengembangan GIS 3D di lingkungan web.
PEMANFAATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS BERBASIS WEB UNTUK MEMPERCEPAT PENYAMPAIAN INFORMASI UTILITAS OPERASIONAL SUMUR MINYAK DAN GAS ( STUDI KASUS : LAPANGAN BADAK, VICO INDONESIA )
Utilitas operasional sumur minyak dan gas merupakan utilitas yang berbeda dengan utilitas yang lainnya. Utilitas ini tidak terletak di sembarang tempat karena sangat membahayakan pemilik ataupun penduduk sekitar. Utilitas yang terdapat pada operasional sumur minyak dan gas di VICO INDONESIA antar lain sumur, jalan, gedung, dan pipa. Oleh karena itu dibutuhkan suatu sistem yang dapat menyampaikan informasi tersebut secara cepat sehingga waktu kerja lebih efektif. Penelitian ini mencoba menerapkan SIG berbasis web untuk menyampaikan informasi utilitas operasional sumur minyak dan gas menjadi lebih cepat. Hasil akhir dari penelitian ini menyajikan informasi mengenai utilitas operasional sumur minyak dan gas yang terdapat di Lapangan Badak VICO INDONESIA dengan tampilan antarmuka berbasis web.
PEMBANGUNAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS BERBASIS WEB DARI FENOMENA PENURUNAN TANAH DI KAWASAN JAKARTA
Fenomena penurunan tanah biasanya terjadi di daerah-daerah yang memiliki urban development yang tinggi seperti DKI Jakarta. Pemantauan dari fenomena penurunan tanah ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan metode geodetik yaitu survei sipat datar (levelling), survei GPS, survei gaya berat mikro, dan Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR). Informasi-informasi mengenai penurunan tanah ini dapat digunakan sebagai bahan perumusan kebijakan maupun pengambilan keputusan mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan masalah kebumian serta hal-hal lainnya apabila disimpan serta digunakan secara tepat. Data-data spasial serta informasi pendukung dari penurunan tanah di Jakarta ini belum memiliki suatu sistem sebagai media pengelolaan data. Oleh karena itu dibutuhkan suatu basisdata untuk menyimpan data-data tersebut. Perancangan model basisdata untuk fenomena penurunan tanah ini terdiri dari tiga tahap yaitu perancangan basisdata konseptual, logikal, dan fisikal. Hasil perancangan basisdata kemudian disimpan pada perangkat lunak PostgreSQL/PostGIS sebagai Database Management System. Perangkat lunak GeoServer digunakan sebagai web-mapping server yang berperan sebagai sebuah gateway kepada kumpulan data geospasial dalam bentuk berkas/file, basisdata, maupun layanan lainnya yang kemudian diterjemahkan ke dalam protokol web service seperti Web Map Service (WMS), Web Feature Service (WFS), Web Coverage Service (WCS), dan lainnya. Meskipun data yang disimpan belum lengkap, namun sistem informasi geografis dari penurunan tanah ini masih dapat dibangun karena telah terdapat suatu basisdata yang memanipulasi bagaimana data-data yang belum tersedia tersebut dapat disimpan nantinya. Pembangunan suatu basisdata spasial yang kemudian ditampilkan dalam suatu aplikasi sistem informasi geografis berbasis web diharapkan dapat membantu dalam pengorganisasian data serta mempermudah pengaksesan dan pengorganisasian data-data spasial dari fenomena penurunan tanah di kawasan Jakarta.
PEMBANGUNAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS BERBASIS WEB UNTUK PROMOSI DAN PEMASARAN KEPARIWISATAAN (STUDI KASUS : KABUPATEN GARUT)
Sektor pariwisata merupakan salah satu industri yang dapat diandalkan untuk meningkatkan Pendapatan Domestik Bruto (PBD) suatu negara. Akan tetapi apabila dilihat dari perbandingan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke negara-negara ASEAN pada tahun 2006 sampai dengan 2009, Indonesia hanya menempati peringkat empat setelah Malaysia, Thailand, dan Singapura. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan angka kunjungan wisatawan adalah memberikan informasi mengenai kepariwisataan di Indonesia secara lengkap dan terintegrasi. Informasi geografis sangat berperan dalam perencanaan wisata dan memandu perjalanan wisatawan. Dengan menggunakan data spasial dan data atribut, Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat menjadi solusi untuk memberikan informasi kepariwisataan. Oleh karena itu pada penelitian ini akan dibuat sebuah SIG berbasis web yang dikembangkan dalam jaringan internet. Pembangunan SIG berbasis web ini akan dilakukan menggunakan perangkat lunak MySQL sebagai sistem manajemen basis data dan Google Maps API untuk visualisasi peta dalam bentuk tampilan antarmuka berbasis web. SIG berbasis web ini diharapkan dapat memperkaya bentuk promosi dan pemasaran sehingga dapat meningkatkan angka kunjungan wisatawan ke Indonesia.
MODEL PENENTUAN JALUR PENGANGKUTAN SAMPAH PERKOTAAN DENGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus: Wilayah Bandung Barat)
Abstrak: Untuk menghindari masalah akibat sampah, tempat tempat pembuangan sampah yang terdiri dari tempat tempat pembuangan sementara (TPS) dan tempat pembuangan akhir (TPA) ditempatkan di daerah perkotaan. Sampah dari sumber-sumber sampah dikumpulkan sementara di TPS untuk kemudian diangkut ke TPA. Penumpukan sampah pada TPS sebelum diangkut ke TPA sangat mungkin bahkan sering terjadi. Penentuan jalur pengangkutan sampah merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan suatu sistem pengangkutan sampah perkotaan demi menghindari penumpukan sampah. Pembangunan model penentuan jalur pengangkutan sampah akan memberikan rekomendasi jalur untuk digunakan dalam pengangkutan sampah. Pemodelan jalur pengangkutan sampah perkotaan dengan Sistem Informasi Geografis dapat memberikan model jalur yang diinginkan.
PEMANFAATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DALAM MENGEMBANGKAN LAYANAN LUMPUR TINJA TERJADWAL DI KOTA BANDUNG
Kota Bandung menghadapi tantangan dalam pengelolaan lumpur tinja karena keterbatasan kapasitas Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan merencanakan layanan pengelolaan lumpur tinja yang efektif melalui pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG) dan Interactive Septage Management Toolkit (ISMT). Metode analisis jaringan pada SIG digunakan untuk menentukan pembagian daerah layanan bagi tiga lokasi IPLT potensial (Andir, Cinambo, dan Gedebage) berdasarkan jarak tempuh terdekat. Dua skenario operasional pengangkutan dikembangkan: skenario 1 berdasarkan prioritas jarak dan skenario 2 berdasarkan pembagian zona geografis. Hasil analisis menunjukkan bahwa skenario 2 menawarkan model operasional yang lebih unggul dengan distribusi beban kerja yang lebih seimbang dan stabil, dibuktikan dengan nilai standar deviasi jarak tempuh armada truk yang lebih rendah pada ketiga IPLT. Berdasarkan skenario 2, kapasitas terpilih adalah 49.141,55 m³/tahun untuk IPLT Andir, 18.670,25 m³/tahun untuk IPLT Cinambo, dan 16.257,87 m³/tahun untuk IPLT Gedebage. Hasil perhitungan kebutuhan jumlah truk pada skenario 2 adalah rata-rata 11 truk untuk IPLT Andir, 4 truk untuk IPLT Cinambo, dan 4 truk untuk IPLT Gedebage. Penelitian ini menghasilkan rekomendasi skenario operasional terpilih, pembagian wilayah layanan, serta perhitungan kebutuhan jumlah truk yang optimal untuk mendukung sistem pengelolaan lumpur tinja yang efisien dan berkelanjutan di Kota Bandung hingga tahun proyeksi 2041.
PENERAPAN TEKNIK SPASIAL SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK EKSPLORASI POTENSI ENDAPAN EMAS EPITERMAL DI JAWA BARAT
Penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi potensi endapan emas epitermal di bagian barat Pulau Jawa, Indonesia, dengan menggunakan teknik spasial dalam sistem informasi geografis. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada tingginya permintaan global terhadap emas dan potensi besar yang dimiliki Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, yang belum dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan peta potensi mineralisasi emas epitermal berdasarkan analisis geokimia, geologi, dan struktur geologi menggunakan metode fuzzy logic. Dalam penelitian ini, data geologi regional, geokimia, dan digital elevation model (DEM) digunakan sebagai basis utama analisis. Data geokimia dianalisis untuk memahami distribusi unsur-unsur yang berasosiasi dengan emas epitermal, yaitu Cu dan Zn. Data geologi diolah untuk mengklasifikasikan litologi batuan dan memahami struktur geologi yang mengendalikan keberadaan endapan emas. DEM digunakan untuk menganalisis topografi dan kelurusan yang berkorelasi dengan struktur geologi. Hasil dari analisis tersebut menghasilkan peta prospektivitas yang membagi area studi menjadi zona prospektivitas sangat tinggi, tinggi, rendah, dan sangat rendah.
PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK PEMETAAN KEJAHATAN KOTA BOSTON
Kejahatan merupakan sebuah masalah sosial yang telah menjadi salah satu bagian yang tidak lepas dari masyarakat. Upaya pemetaan lokasi kejahatan telah dilakukan dalam melakukan analisis dan pengambilan keputusan. Salah satu pemetaan kejahatan yang ada adalah dengan menggunakan peta fisik dan pin. Namun, pemetaan fisik dan pin memiliki kekurangan seperti jumlah data yang digunakan (Da?lar et al, 2016), waktu pembuatan pemetaan, informasi yang diberikan sebatas visualisasi, dan pengelolaan data. Sistem informasi geografis dapat memberikan beberapa manfaat dalam melakukan proses pemetaan kejahatan, seperti dapat menampilkan data yang banyak, proses pemetaan yang cepat, dan dapat ditambahkan fungsi tambahan untuk membantu analisis, seperti informasi densitas, klaster data, dan tren kejahatan. Pada penelitian ini dibangun sistem informasi geografis pemetaan kejahatan di Kota Boston. Pemetaan kejahatan akan berbasis website. Sistem dapat melakukan pemetaan kejahatan dengan menggunakan pin digital dan pada setiap pin terdapat nilai deskriptif dari kejahatan tersebut. Sistem juga memiliki beberapa fungsi untuk memberikan informasi lain, seperti heatmap untuk melihat densitas dari suatu daerah, cluster data pada masing-masing district, filtering data berdasarkan nilai deskriptif, serta prediksi tren kejahatan. Pengujian fungsional sistem memberikan hasil yang baik dengan setiap fungsional berjalan sesuai dengan yang rancangan. Sistem hasil implementasi juga sudah cukup mudah digunakan berdasarkan hasil kuesioner yang ada. Kecepatan rata-rata sistem dalam mengambil data hingga menampilkan pemetaan kejahatan adalah 12,67 detik ketika mengambil dari database dan 7,52 detik ketika melalui IndexedDB dengan data yang digunakan adalah 70044 titik lokasi kejahatan.
PEMETAAN RISIKO BENCANA KAWASAN SESAR LEMBANG SECARA PARTISIPATIF
Pemetaan risiko bencana merupakan langkah penting dalam upaya mitigasi dan pengurangan dampak bencana terutama untuk wilayah yang rawan bencana seperti Kawasan Sesar Lembang. Capstone Project ini bertujuan untuk memetakan risiko bencana di Kawasan Sesar Lembang secara partisipatif, dengan melibatkan masyarakat setempat dalam pengumpulan data dan proses analisisnya. Area studi untuk pemetaan risiko bencana ini adalah 19 RW yang berada di 4 desa yakni Desa Gudangkahuripan, Lembang, Pagerwangi, dan Langensari. Peta risiko bencana ini disajikan dalam skala yang besar disebabkan belum tersedianya peta risiko bencana berskala besar untuk wilayah ini. Metode yang digunakan pada project ini meliputi survei lapangan, wawancara langsung, dan pengolahan data-data sekunder. Seluruh data tersebut akan digunakan dalam perhitungan seluruh indikator penyusun faktor risiko kebencanaan seperti bahaya, kerentanan, dan kapasitas. Data-data tersebut diolah dan dianalisis menggunakan Sistem Informasi Geografis untuk menghasilkan peta risiko bencana yang baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 19 RW di Kawasan Sesar Lembang memiliki indeks rata-rata tingkat risiko bencana yang tinggi untuk gempa bumi dan tingkat sedang untuk tanah longsor. Peta risiko bencana yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi dasar untuk perencanaan dan pengambilan keputusan dalam mitigasi bencana di Kawasan Sesar Lembang serta dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap potensi bencana yang ada di Kawasan Sesar Lembang.
PEMETAAN RISIKO BENCANA KAWASAN SESAR LEMBANG SECARA PARTISIPATIF
Pemetaan risiko bencana merupakan langkah penting dalam upaya mitigasi dan pengurangan dampak bencana terutama untuk wilayah yang rawan bencana seperti Kawasan Sesar Lembang. Capstone Project ini bertujuan untuk memetakan risiko bencana di Kawasan Sesar Lembang secara partisipatif, dengan melibatkan masyarakat setempat dalam pengumpulan data dan proses analisisnya. Area studi untuk pemetaan risiko bencana ini adalah 19 RW yang berada di 4 desa yakni Desa Gudangkahuripan, Lembang, Pagerwangi, dan Langensari. Peta risiko bencana ini disajikan dalam skala yang besar disebabkan belum tersedianya peta risiko bencana berskala besar untuk wilayah ini. Metode yang digunakan pada project ini meliputi survei lapangan, wawancara langsung, dan pengolahan data-data sekunder. Seluruh data tersebut akan digunakan dalam perhitungan seluruh indikator penyusun faktor risiko kebencanaan seperti bahaya, kerentanan, dan kapasitas. Data-data tersebut diolah dan dianalisis menggunakan Sistem Informasi Geografis untuk menghasilkan peta risiko bencana yang baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 19 RW di Kawasan Sesar Lembang memiliki indeks rata-rata tingkat risiko bencana yang tinggi untuk gempa bumi dan tingkat sedang untuk tanah longsor. Peta risiko bencana yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi dasar untuk perencanaan dan pengambilan keputusan dalam mitigasi bencana di Kawasan Sesar Lembang serta dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap potensi bencana yang ada di Kawasan Sesar Lembang.