📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 3 dokumenPERANCANGAN ANIMASI 2D MENGENAI DAMPAK PENINGKATAN COST OF LIVING BAGI MAHASISWA SARJANA
Peningkatan cost of living atau biaya hidup merupakan fenomena sosial-ekonomi yang semakin dirasakan oleh mahasiswa, khususnya mereka yang menempuh pendidikan sarjana sambil hidup mandiri. Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya tempat tinggal, transportasi, serta kebutuhan akademik memunculkan tekanan finansial yang berdampak pada kondisi ekonomi, psikologis, sosial, dan akademik mahasiswa, namun persoalan ini kerap dipandang sebagai masalah personal semata sehingga belum banyak mendapat perhatian sebagai isu struktural dalam keberlanjutan pendidikan tinggi. Tugas akhir ini bertujuan mengidentifikasi dampak peningkatan cost of living di kalangan mahasiswa Bandung dan menghasilkan karya animasi 2D yang mampu merepresentasikan realitas sosial tersebut secara komunikatif dan emosional. Metode perancangan yang digunakan bersifat kualitatif deskriptif melalui studi literatur, kuesioner, serta wawancara terbatas dengan mahasiswa dan praktisi animasi, yang hasilnya digunakan untuk mengidentifikasi pola tekanan finansial, perubahan gaya hidup, beban psikologis, serta strategi adaptasi mahasiswa. Hasil perancangan berupa animasi 2D berdurasi 3–5 menit tanpa dialog, yang mengandalkan bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan simbolisasi visual sebagai elemen utama pembangun empati penonton. Konsep elemen fantasi berupa dunia mimpi dan representasi diri yang terkurung dihadirkan sebagai visualisasi konflik internal karakter utama, memperkuat aspek dramatik sekaligus membedakan karya ini dari media penyampaian konvensional. Melalui pendekatan desain komunikasi visual ini, animasi diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai media informasi, tetapi juga sebagai medium refleksi yang membangun kesadaran dan empati sosial terhadap ketimpangan ekonomi dalam dunia pendidikan tinggi..
ANALISIS PERSEPSI PEKERJA TERHADAP DAMPAK SOSIAL RENCANA PROYEK PENGOLAHAN SAMPAH MENJADI ENERGI LISTRIK (PSEL) DI TPA SUMUR BATU
Pengelolaan sampah di Kota Bekasi menghadapi tekanan berat seiring kondisi TPA Sumur Batu yang telah lama kelebihan beban. Sebagai jalan keluar, pemerintah merencanakan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) dengan teknologi moving grate incinerator, yang menandai pergeseran dari sistem padat karya menuju sistem termal padat modal dan membawa implikasi sosial bagi pekerja TPA. Kajian dampak sosial selama ini lebih banyak menyoroti penolakan warga di luar lokasi, sementara persepsi pekerja di dalam kawasan sebagai pihak yang paling langsung berhadapan dengan disrupsi masih jarang diteliti. Penelitian ini bertujuan melakukan analisis persepsi pekerja terhadap dampak sosial rencana proyek tersebut berdasarkan persepsi pekerja, dengan sasaran menganalisis alasan di balik pola pikir pekerja, mengidentifikasi karakteristik demografi dan sebaran opini, serta mengukur tingkat persepsi, penerimaan sosial, dan kesiapan adaptasi. Penelitian bersifat deskriptif evaluatif dengan pendekatan metode campuran strategi concurrent embedded, memadukan data sekunder, wawancara, dan kuesioner berskala Likert yang dipilih secara purposive, lalu dianalisis melalui analisis kualitatif deskriptif, statistik deskriptif, dan indeks persepsi dengan kerangka Social Impact Assessment. Hasil penelitian menunjukkan pekerja formal menerima rencana proyek dengan sangat baik, dengan penerimaan peluang dan kesiapan adaptasi yang tinggi serta persepsi risiko terhadap pekerjaan pada titik terendah, meski masih disertai kesenjangan informasi karena sosialisasi baru menjangkau tingkat manajerial. Berbeda dari studi sejenis yang menjadikan persepsi risiko warga sebagai penentu sikap dan menemukan penerimaan baru menguat setelah fasilitas beroperasi, penelitian ini mendapati penerimaan tinggi sudah muncul sebelum konstruksi dimulai. Kebaruannya terletak pada pengalihan fokus dari masyarakat luar pagar ke pekerja di dalam kawasan TPA, sekaligus menegaskan bahwa garis antara pekerja yang aman dan yang terancam berimpit dengan garis antara status formal dan informal. Penelitian ini menyumbang landasan empiris bahwa keberhasilan sosial proyek semacam ini tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh pemerataan informasi dan keadilan terhadap kelompok yang paling sedikit terlindungi.
STUDI POTENSI PENGEMBANGAN COLD SUPPLY CHAIN DI INDONESIA TIMUR (STUDI KASUS: MALUKU)
Indonesia Timur, dengan kekayaan sumber daya alam hayati, khususnya perikanan, memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan berkontribusi pada perekonomian nasional. Namun, minimnya infrastruktur Cold Supply Chain yang memadai menjadi kendala utama dalam mempertahankan kualitas produk perikanan sebagai komoditas terbesar di indonesia timur, sehingga berdampak pada nilai jual dan daya saing produk di pasar domestik maupun internasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi provinsi-provinsi prioritas di Indonesia Timur yang memiliki potensi besar dalam pengembangan Cold Supply Chain dengan menggunakan metode Multi Criteria Analysis. Kriteria yang digunakan terbagi menjadi dua aspek di sembilan provinsi di Indonesia Timur. Aspek pertama yaitu sosioekonomi yang terdiri dari Jumlah Penduduk, Indeks Pembangunan Manusia, dan Produk Domestik Regional Bruto. Aspek kedua yaitu potensi sumber daya perikanan yang terdiri dari Jumlah Nelayan, Jumlah Unit Pengolahan Ikan, Volume Produksi Perikanan Tahunan, Jumlah Kapal Nelayan Tangkap Laut, Angka Konsumsi Ikan, dan Volume Eskpor Perikanan. Dilakukan juga survey lapangan ke Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) dan pihak Unit Pengolahan Ikan (UPI) menganalisis kondisi eksisting infrastruktur Cold Supply Chain yang ada pada provinsi prioritas. Hasil survey lapangan akan dianalisis untuk menggambarkan alur value chain produk perikanan eksisting sehingga dengan mudah mengidentifikasi kebutuhan infrastruktur cold supply chain apa saja yang kurang untuk mendukung sektor perikanan dengan menghitung kapasitas dan kebutuhan tiap fasilitas Cold Supply Chain. Melalui kajian mendalam terhadap kebutuhan dan hambatan pada kondisi eksisting pada proses Cold Supply Chain, akan diusulkan rekomendasi pengembangan pada aspek infrastruktur yang komprehensif untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas Cold Supply Chain di wilayah tersebut.