📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 2 dokumenDESAIN DAN STUDI PENGARUH UPWARD BENDING TERHADAP KARAKTERISTIK ALIRAN DAN WALL SHEAR STRESS PIPA BAWAH LAUT MENGGUNAKAN COMPUTATIONAL FLUID DYNAMIC DI LAUT UTARA JAWA
Sistem perpipaan dengan variasi geometri belokan merupakan titik kritis yang memengaruhi efisiensi aliran akibat munculnya fenomena Dean Vortices dan fluktuasi Wall Shear Stress. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan desain dan analisis komprehensif pada pipa bawah laut sepanjang 19 km di Laut Jawa, mencakup penentuan tebal dinding, stabilitas dasar laut (on-bottom stability), analisis instalasi, bentang bebas (free span), serta analisis pola aliran. Metodologi yang digunakan meliputi pengolahan data lingkungan sesuai standar DNV-RP-C205, perhitungan tebal dinding berdasarkan DNV-ST-F101, ASME B31.4, dan API-RP-1111, serta simulasi dinamika aliran menggunakan Computational Fluid Dynamics (CFD) dengan model turbulensi Shear Stress Transport (SST) k??.. Hasil desain menetapkan penggunaan pipa baja karbon NPS 24 inci (Grade X52) dengan ketebalan dinding 19,1 mm dan lapisan Concrete Weight Coating setebal 29 mm untuk kedalaman 36–40 meter. Analisis instalasi menunjukkan tegangan maksimum sebesar 300,672 MPa pada area antara stinger tip hingga sagbend dengan regangan maksimum 0,13% pada overbend. Selain itu, panjang bentang bebas maksimum yang diizinkan selama operasi ditetapkan sebesar 23,15 meter. Hasil simulasi CFD membuktikan bahwa sudut belokan yang lebih besar secara signifikan meningkatkan ketidakseimbangan tegangan geser dan peningkatan resiko erosi-korosi pada sistem perpipaan.
DESAIN DAN ANALISIS PIPA BAWAH LAUT PADA PROYEK LATAU DI LAUT NATUNA
Minyak dan gas bumi masih menjadi sumber utama dalam pemenuhan kebutuhan energi nasional di Indonesia. Hal ini sejalan dengan target produksi cukup besar yang disusun SKK Migas, yaitu minyak bumi sebanyak 1 juta barrel per hari dan gas bumi sebanyak 12 miliar kaki kubik per hari pada tahun 2030. Berbagai upaya dilakukan, salah satunya kegiatan eksploitasi migas pada sumur-sumur lepas pantai. Oleh karena itu, diperlukan pembangunan fasilitas produksi dan infrastruktur yang memadai, salah satunya sistem pipa bawah laut yang berguna dalam proses transportasi migas. Pembangunan pipa bawah laut memerlukan serangkaian analisis dan tahapan desain untuk memastikan keamanan pipa. Hal tersebut dilakukan pada proyek Latau, yaitu proyek tak nyata yang mengerjakan pembangunan pipa bawah laut sepanjang 32.5 km di Laut Natuna. Pada studi ini, digunakan parameter data lingkungan berupa data hasil distribusi probabilitas yang sebelumnya telah diuji kecocokan menggunakan metode Kolmogorov-Smirnov sebagai data input pada tahapan analisis dan desain. Rute pipa terbagi menjadi dua zona dengan perbedaan data arus dan kedalaman perairan. Zona 1 berlaku pada KP0-KP19, sedangkan Zona 2 berlaku pada KP19-KP32. Tahapan desain dimulai dengan desain tebal dinding pipa berdasarkan standar DNV-ST-F101. Kemudian, hasil analisis tebal dinding berdasarkan DNV-ST-F101 digunakan untuk memilih tebal dinding yang tersedia pada katalog API 5L, yaitu 12.7 mm. Tahapan berikutnya adalah analisis kestabilan pipa di dasar laut (on-bottom stability) berdasarkan standar DNV-RP-F109. Berdasarkan analisis tersebut, didapatkan tebal lapisan beton sebesar 40 mm untuk kedua zona dengan bantuan trenching. Selanjutnya, dilakukan analisis instalasi pipa bawah laut berdasarkan standar DNV-ST-F101 untuk memastikan pipa dapat digelar ke dasar laut menggunakan kapal lay barge berjenis Hafar Neptune. Hasil analisis instalasi berupa konfigurasi lay barge yang tepat sehingga tegangan dan regangan yang terjadi pada pipa tidak melebihi batas menurut kriteria yang berlaku. Tahapan terakhir analisis pada studi ini adalah analisis bentang bebas pipa bawah laut yang bertujuan menentukan panjang bentang bebas maksimum yang diizinkan agar pipa tidak mengalami kegagalan berdasarkan standar DNV-RP-F105. Analisis dilakukan dengan memperhitungkan kriteria screening fatigue dan ultimate limit state (ULS). Panjang bentang bebas yang memenuhi kedua kriteria adalah 12.8 m.