📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 1 dokumenPEMODELAN GEOMEKANIKA 1D DAN ANALISIS KESTABILAN LUBANG BOR UNTUK PENENTUAN JENDELA AMAN BERAT LUMPUR PENGEBORAN PADA LAPANGAN ‘IQ’, SUB-CEKUNGAN BALAM, CEKUNGAN SUMATRA TENGAH
Lapangan 'IQ' merupakan salah satu lapangan minyak skala sub-cekungan yang termasuk dalam wilayah kerja PT Pertamina Hulu Rokan dan terletak di Sub-Cekungan Balam, Cekungan Sumatra Tengah. Lapangan ini berada dalam tatanan stratigrafi dan tektonik yang kompleks sehingga menimbulkan tantangan tersendiri dalam operasi pengeboran. Permasalahan operasi pengeboran, seperti struktur breakout, sloughing hole, dan wellbore enlargement teridentifikasi pada Formasi Telisa dan Formasi Brown Shale di Lapangan 'IQ' berdasarkan laporan pengeboran dan interpretasi data log gambar. Penelitian ini membahas jendela aman berat lumpur pengeboran beserta karakteristik kestabilannya melalui pemodelan geomekanika 1D dan analisis kestabilan lubang bor pada Lapangan 'IQ', terutama pada Formasi Telisa dan Formasi Brown Shale. Pemodelan dilakukan dengan pendekatan empiris berbasis data log tali kawat yang dikalibrasi dengan data uji sumur dan data pengeboran lainnya, seperti laporan pengeboran dan deskripsi batuan inti. Hasil pemodelan berdasarkan analisis kriteria Mohr Coulomb menunjukkan bahwa Formasi Telisa memiliki rentang jendela aman berat lumpur pengeboran 11,54-14,42 ppg pada kedalaman 1358-1710 kaki (414-521 m) dan 11,9-14,42 ppg pada kedalaman 2324-2728 kaki (708-831 m). Sementara itu, Formasi Brown Shale memiliki rentang jendela aman berat lumpur pengeboran 11,54-15,38 ppg pada kedalaman 2642-5038 kaki (805-1536 m) dan 11,54-13,46 ppg pada kedalaman 4674-6647 kaki (1425-2026 m). Kedua formasi sama-sama berada pada rezim tegasan sesar normal dengan orientasi tegasan horizontal maksimum N 35° E. Formasi Telisa memiliki karakteristik geomekanika serpih lunak dengan kerentanan yang lebih tinggi terhadap kegagalan geser, sedangkan Formasi Brown Shale menunjukkan karakter serpih lunak hingga agak kaku. Ketidakstabilan pada Formasi Brown Shale turut dipengaruhi oleh kondisi overpressure pada interval yang lebih dalam serta potensi swelling clay akibat dominasi mineral Smektit pada interval yang lebih dangkal.