π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 7 dokumenPOTENSI DAN JALUR TERJADINYA STUNTING: ANALISIS METODE GANDA TERHADAP DETERMINAN WASH DAN SOSIOEKONOMI DI JAKARTA PUSAT
Stunting pada anak masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat utama di Indonesia, termasuk di wilayah perkotaan seperti Jakarta Pusat. Meskipun cakupan infrastruktur relatif tinggi, ketimpangan dalam kualitas sanitasi, sumber daya rumah tangga, dan kapasitas pengasuhan tetap mempengaruhi status gizi anak. Stunting, yang diukur menggunakan Height-for-Age Z-score (HAZ), mencerminkan kekurangan gizi kronis akibat asupan makanan yang tidak memadai, infeksi berulang, serta kondisi sosial ekonomi dan lingkungan yang tidak menguntungkan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi potensi dan jalur determinan sosioekonomi serta WASH (Water, Sanitation, and Hygiene) terhadap status gizi anak di Jakarta Pusat. Data primer dikumpulkan dari 210 rumah tangga dengan anak usia 0β59 bulan. Analisis menggunakan regresi linear multivariat untuk mengukur kekuatan determinan dan Structural Equation Modelling (SEM) untuk menganalisis jalur struktural. Hasil regresi menunjukkan bahwa pendidikan ibu (? = 0.285) dan kondisi sanitasi (? = 0.276) merupakan prediktor terkuat terhadap HAZ, diikuti oleh kekayaan rumah tangga (? = 0.220). Analisis SEM menunjukkan bahwa pengaruh kekayaan terhadap pertumbuhan anak terutama terjadi melalui jalur tidak langsung, khususnya melalui pendidikan ibu dan kondisi WASH, dengan WASH (? = 0.345) menunjukkan pengaruh langsung terkuat. Penelitian ini memberikan bukti empiris tingkat mikro bahwa stunting perkotaan termediasi secara struktural melalui kualitas pendidikan ibu dan sanitasi rumah, bukan semata-mata oleh pendapatan.
KAJIAN STUNTING, MIKROMINERAL, DAN PAPARAN TIMBAL PADA WILAYAH NONINDUSTRI DI DESA DATAR, KABUPATEN BANYUMAS
tunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2021, terdapat 22,2% atau sekitar 150,8 juta balita di dunia mengalami stunting. Indonesia menempati peringkat ketiga stunting tertinggi di Asia Tenggara. Pada tahun 2023, prevalensi stunting mencapai 21,6%, yang berarti sekitar satu dari tiga anak mengalami gangguan pertumbuhan. Penyebab stunting faktor multi dimensi, tidak hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak balita. Penelitian sebelumnya melaporkan defisiensi mikromineral seperti zat besi, seng, dan vitamin terbukti terkait dengan kejadian stunting. Sebuah studi di Indonesia menemukan bahwa anak usia 6β59 bulan dengan defisiensi mikromineral memiliki prevalensi stunting yang lebih tinggi, selain itu paparan logam berat seperti timbal (Pb) mulai diakui sebagai faktor lingkungan penting yang turut berkontribusi terhadap risiko stunting anak. Penelitian di pulau Bangka menunjukkan bahwa anak-anak dengan kadar timbal darah (BLL) 5,5 Β΅g/dL memiliki odds ratio 9,75 kali lebih besar untuk stunting setelah dikontrol asupan gizi mikro dan faktor sosial ekonomi. Timbal menyebabkan penurunan sekresi gonadotropin, dan kelainan pada hormon pertumbuhan yang berkontribusi pada perkembangan saraf yang merugikan, timbal telah terbukti neurotoksik, kadar timbal yang tinggi dalam darah dihubungkan dengan intelegensi yang rendah pada anak. Anak-anak dapat mengabsorbsi 4-5 kali lebih besar dibandingkan orang dewasa serta merupakan kelompok yang rentan terhadap efek samping paparan timbal. Penelitian ini bertujuan menganalisis kadar mikromineral dalam darah balita stunting dan tidak stunting serta mengkaji hubungan paparan timbal dan status mikromineral dengan kejadian stunting, sekaligus mengidentifikasi sumber paparan lingkungan serta mengevaluasi edukasi kesehatan pada ibu balita. Metode penelitian ini terdiri atas dua komponen desain. Pertama, studi analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional (potong lintang) yang bertujuan menganalisis 4 kadar logam, hubungan antara paparan timbal, kadar mikromineral (Mn, Zn, dan Fe), serta kejadian stunting pada balita. Selanjutnya dilakukan survei dan pengambilan sampel lingkungan di sekitar balita (air, makanan, sayuran, beras, ikan, tanah, dan kerokan cat tembok) untuk mengidentifikasi kemungkinan sumber paparan timbal. Kedua, studi kuasi-eksperimental dengan rancangan preβpost test satu kelompok, digunakan untuk mengevaluasi intervensi edukasi kesehatan terhadap peningkatan pengetahuan ibu balita mengenai stunting, mikromineral, dan bahaya timbal. Hasil penelitian dari 58 balita, 32 balita (55,2%) memiliki kadar timbal darah ?5 ?g/dL, sebagian besar menunjukkan konsentrasi mangan yang tinggi 39 balita (67,2%), memiliki kadar seng normal 53 balita (91,4%) dan banyak yang mengalami defisiensi zat besi 38 balita (65,5%). Berdasarkan usia balita didapatkan usia 24-60 bulan lebih banyak ditemukan kadar timbal darah yang tinggi, tidak ada keterkaitan signifikan Pb, Mn, Zn dan Fe dengan kejadian stunting (p > 0,05), sumber lingkungan seperti sayuran yang terkontaminasi, dedaunan di pinggir jalan, tanah, dan kerokan cat tembok diidentifikasi sebagai kontributor potensial paparan timbal. Edukasi kesehatan secara signifikan meningkatkan pengetahuan ibu tentang stunting, mikromineral, dan bahaya timbal (p < 0,05). Kebaruan (novelty) dan orisinalitas penelitian ini, paparan timbal dalam darah balita yang stunting dan tidak stunting di daerah pedesaan nonindustri belum diteliti di Indonesia, penelitian sebelumnya hanya membahas tentang paparan timbal pada anak di daerah resiko polusi lingkungan, daur ulang baterai asam, polusi asap kendaraan di kota besar yang padat penduduk. Penelitian sebelumnya terkait stunting hanya membahas faktor gizi dan sosial ekonomi, sedangkan penelitian ini menambahkan dimensi paparan logam berat sebagai faktor risiko tambahan. Kesimpulan penelitian separuh balita menunjukkan kadar timbal darah melebihi standar kesehatan, mayoritas memiliki konsentrasi mangan yang berlebihan, sebagian besar memiliki konsentrasi seng normal, dan banyak yang kekurangan zat besi. Usia balita 24-60 bulan lebih banyak memiliki kadar timbal darah yang tinggi dibandingkan umur balita 0-23 bulan, meskipun tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara kadar logam timbal, mangan, seng dan besi dengan stunting, temuan menggarisbawahi interaksi kompleks faktor lingkungan dan gizi yang mempengaruhi kesehatan anak. Sumber lingkungan seperti sayuran yang terkontaminasi, dedaunan, tanah, dan kerokan cat tembok di identifikasi sebagai kontributor potensial. Intervensi edukasi kesehatan yang disampaikan melalui posyandu terbukti signifikan (p = 0,039 < 0,05), serta memiliki dampak praktis yang cukup kuat.
INTERAKSI KANDIDAT PROBIOTIK DAN KANDIDAT PATOGEN YANG DIISOLASI DARI SAMPEL FESES BAYI UNTUK PENANGANAN STUNTING
Stunting didefinisikan sebagai kondisi gangguan pertumbuhan pada anak balita yang disebabkan oleh malnutrisi. Kelimpahan bakteri patogen yang lebih tinggi dibandingkan bakteri komensal dan probiotik dalam usus dapat menyebabkan kondisi disbiosis. Pembentukan biofilm oleh bakteri probiotik merupakan salah satu mekanisme dalam mencegah kolonisasi dan biofilm oleh patogen. Pada penelitian sebelumnya, telah dilakukan isolasi dan purifikasi mikroba dari sampel feses bayi dengan prevalensi stunting dan normal. Didapatkan 7 isolat kandidat probiotik dan 7 isolat kandidat patogen yang mampu membentuk biofilm dengan kategori Moderate Biofilm Former (MBF) pada kondisi cekaman pH 3. Tujuan penelitian ini adalah: (1) menentukan kemampuan auto- agregasi dan ko-agregasi kandidat probiotik serta kandidat patogen; (2) menentukan pola pertumbuhan kandidat probiotik dan kandidat patogen terpilih; (3) menentukan konsentrasi minimum pembentukan biofilm kandidat probiotik dan kandidat patogen melalui biofilm assay; serta (4) menentukan interaksi dan kelimpahan total antara kandidat probiotik dengan kandidat patogen melalui biofilm assay. Isolat kandidat probiotik (OBI 1 , OBI 2, OBI 4, OBI 5, OBI 6, OBI 7, OBI 8, OBI 9, OBI 10, OBI 11, OBI 12) dan kandidat patogen (PAT 1, PAT 2, PAT 3, PAT 4, PAT 5, PAT 6, PAT 7) yang telah dipurifikasi kembali diuji survivabilitasnya pada kondisi pH rendah dan garam empedu 0,3% (w/v). Kemampuan auto-agregasi serta ko-agregasi isolat diuji secara kuantitatif dan kualitatif menggunakan suspensi bakteri dalam PBS dengan kepadatan sekitar 10? CFU/mL. Uji ko-agregasi dilakukan dengan bakteri patogen (E. coli, S. aureus, B. subtilis, P. aeruginosa), kandidat patogen, dan bakteri probiotik (L. acidophilus). Isolat terpilih ditentukan pola pertumbuhannya selama 24 jam pada medium Luria Bertani dengan kondisi Β±25ΒΊC tanpa agitasi. Kemampuan pembentukan biofilm dikarakterisasi dengan biofilm assay pada medium Luria Bertani dengan suhu inkubasi 37? selama 24 jam. Interaksi biofilm kandidat probiotik dan kandidat patogen diuji melalui biofilm assay dan kelimpahan total dalam uji interaksi biofilm dengan metode Total Plate Count (TPC). Berdasarkan hasil penelitian, seluruh isolat kandidat probiotik dan kandidat patogen dapat bertahan hidup pada cekaman pH 4 serta pH 4 dan garam empedu 0,3% (w/v). Seluruh isolat mampu melakukan auto- agregasi dengan OBI 4, OBI 5, OBI 10, PAT 3, PAT 5, dan PAT 6 memiliki %autoagregasi tertinggi berturut-turut sebesar 96,87; 95,78; 95,78; 99,02; 96,49; 95,55. OBI 4 memiliki %koagregasi positif terhadap Escherichia coli (13,13%), PAT 3 (85,58%), PAT 5 (164,80%), dan Lactobacillus acidophilus (77,11%); OBI 5 memiliki %koagregasi positif terhadap Staphylococcus aureus (33,62%), Bacillus subtilis (91,30%), dan PAT 6 (34,44%); serta OBI 10 memiliki %koagregasi positif terhadap E. coli (5,00%), B. subtilis (71,48%), PAT 5 (59,91%), PAT 6 (55,89%), dan L. acidophilus (30,00%). Di samping itu, PAT 3 dan PAT 5 memiliki %koagregasi yang kuat. OBI 4, OBI 10, PAT 3, dan PAT 5 mengalami fase logaritmik berturut-turut pada 12, 15, 12, dan 6 jam pertama. OBI 4 dengan konsentrasi awal 102 CFU/mL membentuk biofilm kategori moderat pada jam ke-12, OBI 10 konsentrasi awal 106 CFU/mL membentuk biofilm kategori moderat pada jam ke-6, PAT 3 konsentrasi awal 102 CFU/mL membentuk biofilm kategori kuat pada jam ke-24, dan PAT 5 konsentrasi awal 106 CFU/mL membentuk biofilm kategori moderat pada jam ke-6. Introduksi PAT 3 dan PAT 5 pada biofilm OBI 4 menginduksi pembentukan Strong Biofilm Former (SBF). Introduksi PAT 3 pada biofilm OBI 10 tidak memengaruhi pembentukan biofilm, namun introduksi PAT 5 menyebabkan penurunan pembentukan biofilm menjadi kategori moderat pada jam ke-24. Tren kelimpahan sel planktonik dan sel dalam biofilm untuk introduksi PAT 3 dan PAT 5 terhadap biofilm OBI 4 teramati serupa dengan kontrol. Kelimpahan sel planktonik dan lokalisasi sel dalam biofilm menurun setelah introduksi PAT 3 dan PAT 5 pada biofilm OBI 10. OBI 4 dan OBI 10 dengan PAT 3 dan PAT 5 menunjukkan interaksi antagonistik, dengan intensitas interaksi antagonistik lemah untuk OBI 4.
POTENSI PRODUKSI BAKTERIOSIN OLEH ISOLAT BAKTERI GRAM-NEGATIF DARI FESES BAYI DENGAN PREVALENSI STUNTING DAN NON-STUNTING
Stunting, yakni gangguan perkembangan fisik dan kognitif anak akibat malnutrisi kronis, masih menjadi masalah di Indonesia dan dunia. Selain pemenuhan gizi, disbiosis mikrobioma usus juga berperan dalam patogenesis stunting. Bakteriosin, salah satu modulator alami mikrobioma usus, berpotensi digunakan sebagai pengontrol mikroba dalam penanganan stunting. Penelitian sebelumnya telah mengisolasi 14 kandidat patogen dan probiotik dari feses bayi yang mampu membentuk biofilm dalam cekaman saluran cerna. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menentukan isolat bakteri Gram-negatif dari feses bayi yang berpotensi menghasilkan bakteriosin; (2) menentukan profil penghambatan pembentukan biofilm oleh bakteri Gram-negatif penghasil bakteriosin dalam kultur campuran; (3) menentukan model interaksi bakteri Gram-negatif penghasil bakteriosin dalam biofilm kultur campuran; serta (4) menentukan profil pertumbuhan bakteri Gram-negatif penghasil bakteriosin dan profil produksi bakteriosinnya. Aktivitas bakteriosin dideteksi melalui uji difusi cakram Kirby-Bauer ekstrak kasar bakteriosin (diperoleh melalui presipitasi amonium sulfat media pertumbuhan) terhadap bakteri indikator: Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Bacillus subtilis, dan Staphylococcus aureus (105 CFU/mL). Penghambatan pembentukan biofilm diamati melalui crystal violet biofilm assay dan analisis dinamika populasi. Signifikansi statistik ditentukan dengan uji ANOVA, diikuti uji Tukey HSD (? = 5%). Dari purifikasi dan karakterisasi 14 isolat awal, didapatkan 15 isolat murni bakteri Gram-negatif. Ekstrak kasar bakteriosin 9 dari 15 isolat mampu membentuk zona bening terhadap P. aeruginosa, dengan zona bening terbesar dan stabil dihasilkan isolat OBI7 (5,3 mm) dan PAT6 (3,7 mm). Dalam biofilm kultur campuran, uji ANOVA menunjukkan efek antagonistik signifikan OBI7 terhadap E. coli dan P. aeruginosa, serta PAT6 terhadap E. coli. Analisis dinamika populasi dilakukan terhadap ko-kultur OBI7 dengan P. aeruginosa tidak menunjukkan adanya penghambatan pertumbuhan OBI7 maupun P. aeruginosa, sehingga penurunan kemampuan pembentukan biofilm diprediksi disebabkan oleh gangguan rekrutmen sel maupun sintesis matriks. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkarakterisasi peran isolat dalam dinamika komunitas mikroba. Kurva pertumbuhan menunjukkan fase logaritmik OBI7 hingga 9 jam (? = 0,724 jam-1). Profil produksi bakteriosin belum berhasil diidentifikasi selama pertumbuhan karena reprodusibilitas yang rendah, sehingga diperlukan optimasi lebih lanjut.
PENGARUH MIGRASI ORANG TUA TERHADAP KEJADIAN STUNTING PADA ANAK DI INDONESIA
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara migrasi orang tua dengan kejadian stunting pada anak usia 0-59 bulan di Indonesia. Penelitian ini data dari Indonesian Family Life Survey (IFLS) tahun 2014. Pemodelan dilakukan menggunakan regresi logistik biner dengan memasukkan variabel bebas utama, yaitu migrasi orang tua, serta variabel kontrol yang meliputi karakteristik anak, orang tua, dan rumah tangga. Hasil analisis menunjukkan bahwa migrasi orang tua memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan risiko stunting pada balita. Anak dengan salah satu orang tua yang bermigrasi ke luar negeri memiliki peluang 15,9% lebih tinggi mengalami stunting dibandingkan anak yang dari keluarga bukan migran. Faktor lain yang memberikan pengaruh signifikan terhadap status stunting anak meliputi berat lahir, usia anak, tingkat pendidikan ibu, tempat melahirkan, tinggi badan ibu, status pekerjaan ayah, dan kuintil pengeluaran rumah tangga. Berat lahir normal menurunkan peluang anak mengalami stunting sebesar 23,8% dibandingkan anak dengan berat lahir rendah. Usia anak yang lebih tua memiliki hubungan negatif dengan risiko stunting, di mana setiap kenaikan usia satu bulan menurunkan peluang stunting sebesar 1,2%. Pendidikan ibu yang lebih tinggi memberikan perlindungan signifikan terhadap risiko stunting, dengan setiap tambahan satu tahun pendidikan ibu menurunkan peluang stunting sebesar 7%. Selain itu, tempat melahirkan di fasilitas medis menurunkan risiko stunting dibandingkan tempat melahirkan non-medis. Tinggi badan ibu yang lebih tinggi juga berhubungan dengan penurunan risiko stunting anak, di mana setiap tambahan satu sentimeter tinggi ibu menurunkan peluang stunting sebesar 4,6%. Karakteristik rumah tangga menunjukkan bahwa kuintil pengeluaran yang lebih tinggi berasosiasi negatif dengan status stunting. Rumah tangga dengan kuintil pengeluaran tertinggi menurunkan peluang stunting anak sebesar 19,3% dibandingkan kuintil pengeluaran terendah. Temuan ini menegaskan pentingnya pendapatan rumah tangga dalam mendukung akses terhadap makanan bergizi, fasilitas kesehatan, dan sanitasi yang layak. Diskusi penelitian ini menyoroti kompleksitas pengaruh migrasi orang tua terhadap kesehatan anak. Meskipun migrasi dapat memberikan manfaat ekonomi melalui remitansi, ketidakhadiran fisik orang tua dapat berdampak negatif pada pola pengasuhan dan kesejahteraan psikologis anak. Dampak ini lebih terasa ketika salah satu orang tua, terutama ibu, meninggalkan rumah tangga. Faktor pendidikan ibu menjadi kunci penting dalam memitigasi risiko stunting melalui peningkatan kemampuan pengasuhan, penerapan praktik kesehatan yang baik, dan akses terhadap layanan kesehatan. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa status gizi anak dipengaruhi oleh migrasi orangtua dan interaksi berbagai faktor, karakteristik anak, pendidikan orang tua, dan kondisi ekonomi rumah tangga. Untuk mengurangi prevalensi stunting, diperlukan intervensi yang komprehensif, seperti peningkatan pendidikan ibu, akses terhadap fasilitas kesehatan yang memadai, serta peningkatan kesejahteraan ekonomi keluarga melalui program dukungan sosial dan pengembangan sumber daya manusia.
DAMPAK DARI PATOGEN TERHADAP PEMBENTUKAN BIOFILM KANDIDAT PROBIOTIK LACTOBACILLUS ACIDOPHILUS ATCC 314 SEBAGAI PENANGANAN KASUS STUNTING
Stunting merupakan kondisi malnutrisi kronis jangka panjang yang dialami oleh anak pada usia 1000 hari pertama akibat gizi buruk dan infeksi berulang. Anak-anak dikategorikan stunting apabila memiliki tinggi badan terhadap usia (height-to-age) < -2 SD di bawah median standar pertumbuhan anak menurut WHO. Keberadaan bakteri patogen yang lebih banyak dibandingkan dengan bakteri komensal, termasuk probiotik, dapat mengarah kepada ketidakseimbangan mikrobiota usus atau yang disebut juga sebagai kondisi disbiosis usus. Kehadiran probiotik yang memiliki kemampuan membentuk biofilm dalam saluran pencernaan dapat menghambat pembentukan biofilm oleh bakteri patogen, salah satunya melalui mekanisme kompetisi untuk pencegahan kolonisasi patogen. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : (1) Menentukan kurva pertumbuhan bakteri L. acidophilus ATCC 314, (2) Menentukan konsentrasi minimum pembentukan biofilm dari L. acidophilus ATCC 314 melalui biofilm assay pada media skim milk dan Luria Bertani (LB), serta (3) Menentukan interaksi dan kelimpahan L. acidophilus ATCC 314 yang ditantang oleh Staphylococcus sp. M dan Staphylococcus sp. N melalui biofilm assay pada media skim milk. Pada penelitian ini, digunakan L. acidophilus ATCC 314 sebagai kandidat probiotik dan digunakan patogen Staphylococcus sp. M serta Staphylococcus sp. N. Pembuatan kurva pertumbuhan dari L. acidophilus ATCC 314 pada media Lactobacillus MRS, suhu inkubasi 37Β°C selama 24 jam tanpa agitasi, volume kultur kerja sebesar 180 mL, inokulum 10% (v/v) dengan kepadatan awal sebesar 107 CFU/mL. Data kurva pertumbuhan dalam CFU/mL diambil tiap 3 jam dalam waktu 24 jam secara duplicate. Dilakukan uji penentuan konsentrasi minimum pembentukan biofilm dari L. acidophilus ATCC 314 dengan menggunakan biofilm assay pada medium Luria Bertani (LB) dan skim milk yang mencakup variasi konsentrasi 102, 103, 104, dan 106 CFU/mL. Uji pembentukan biofilm diukur pada empat titik (waktu) menggunakan kristal violet sebagai pewarna lapisan biofilm. Pengukuran kemampuan biofilm pada variasi konsentrasi dilakukan pada absorbansi 595 nm secara triplicate. Dengan metode yang serupa, dilakukan uji interaksi biofilm antara L. acidophilus ATCC 314 (106 CFU/mL) dan patogen berupa Staphylococcus sp. M 10% dan Staphylococcus sp. N 10% pada medium skim milk 200 ?L dengan variasi konsentrasi 103, 104, 105, 106, dan 107 CFU/mL. Kemudian, dilakukan uji interaksi untuk melihat komposisi antara probiotik dan patogen yang terbentuk melalui enumerasi sel planktonik dan biofilm dengan menggunakan inokulum patogen sebesar 103 CFU/mL untuk kedua isolat Staphylococcus sp. M dan Staphylococcus sp. N serta 106 CFU/mL untuk L. acidophilus ATCC 314. Kelimpahan dari L. acidophilus ATCC 314 dikuantifikasi menggunakan MRS Agar, sedangkan Staphylococcus sp. M dan Staphylococcus sp. N dikuantifikasi menggunakan Staphylococcus agar. Hasil penelitian menunjukkan fase logaritmik mulai dari jam ke-0 hingga jam ke-12 serta waktu generasi selama 0.3 jam melalui pembuatan kurva pertumbuhan. Dari hasil biofilm assay, diperoleh konsentrasi minimum pembentukan biofilm sebesar 106 CFU/mL dari medium skim milk dan Luria Bertani (LB). Berdasarkan hasil uji interaksi, terjadi peningkatan absorbansi biofilm dari L. acidophilus ATCC 314 pada jam ke-18 dengan katogeri strong biofilm-former (SBF) pada tiap konsentrasi patogen (Staphylococcus sp. M dan Staphylococcus sp. N) dan didapatkan konsentrasi penghambatan pembentukan biofilm pada konsentrasi kedua patogen 103 dan 107 CFU/mL. Didapatkan kelimpahan akhir dari L. acidophilus ATCC 314 sebesar 108 CFU/mL pada uji interaksi probiotik dan patogen, serta teramati bahwa biofilm yang dibentuk oleh L. acidophilus ATCC 314 dapat menjaga dominansinya ketika diinfeksikan oleh Staphylococcus sp. M dan Staphylococcus sp. N dengan patogenisitas Staphylococcus sp. N yang lebih tinggi dibandingkan dengan Staphylococcus sp. M. Hal ini ditandai dengan kenaikan konsentrasi sel planktonik L. acidophilus ATCC 314 sekitar 1 log pada jam ke-7 hingga jam ke-12 bersamaan dengan terjadinya penurunan sekitar 0.5 log pada jam ke-12 di kosentrasi sel pembentuk biofilm L. acidophilus ATCC 314. Dengan adanya pembentukan biofilm dari L. acidophilus, dapat mencegah kolonisasi bakteri patogen pada usus sehingga L. acidophilus ATCC 314 memenuhi kriteria kandidat probiotik yang baik untuk pencegahan kasus stunting di Indonesia. K
KARAKTERISASI KEMAMPUAN PEMBENTUKAN BIOFILM KANDIDAT PROBIOTIK DARI SAMPEL FESES BAYI DENGAN PREVALENSI STUNTING DAN NORMAL
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) prevalensi stunting nasional pada tahun 2022 sebesar 21,6 persen dan prevalensi stunting Provinsi Jawa Barat sebesar 20.2%. Probiotik merupakan kelompok mikroorganisme yang mampu mengatur mikrobioma usus, mencegah penyakit usus, meningkatkan sistem imun, menghasilkan bakteriosin, memiliki aktivitas antioksidan, dan mampu memproduksi enzim ekstraseluler sehingga berpotensi untuk mencegah stunting. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini yaitu: (1) Menentukan kelimpahan dan diversitas mikroba terkultur pada sampel feses bayi penderita stunting dan bayi normal, (2) Menentukan kemampuan pembentukan biofilm mikroba kandidat probiotik dari sampel feses terhadap cekaman pH rendah (3, 4, 5), (3) Menentukan kemampuan pembentukan biofilm mikroba kandidat probiotik dari sampel feses terhadap garam empedu 0,3% (w/v), dan (4) Menentukan pola pertumbuhan kandidat probiotik lolos uji. Sampel yang digunakan adalah sampel feses bayi dengan prevalensi stunting dan bayi normal usia <12 bulan. Penelitian menggunakan media umum (Luria Bertani) dan media selektif (Pantothenate Lactobacillus Agar; deMan, Rogosa, Sharpe Lactobacillus Agar; Glucose Yeast Extract Agar) yang diinkubasi pada suhu 37? selama 48 jam. Seleksi isolat probiotik dilakukan dengan cekaman pH rendah (pH 3, 4, 5) dan garam empedu 0.3% (w/v). Analisis biofilm dilakukan dengan biofilm assay pada medium Luria Bertani dengan variasi pH pertumbuhan dan cekaman garam empedu 0,3% (w/v) dengan kondisi tanpa agitasi pada suhu 37? selama 48 jam. Pola pertumbuhan kandidat probiotik yang terpilih dilihat melalui kurva pertumbuhan isolat selama 24 jam pada medium Luria Bertani dengan kondisi suhu ruang tanpa agitasi. Berdasarkan hasil isolasi dari keempat medium pertumbuhan, didapatkan kelimpahan bakteri fastidious dan non-fastidious dari sampel stunting (3,34x109 CFU/g) lebih tinggi dibanding sampel normal (2,13x109 CFU/g). Berdasarkan isolasi tersebut didapatkan 21 isolat yang memiliki karakteristik makroskopis berwarna putih, berbentuk sirkular dengan margin entire dan secara mikroskopis didominasi oleh bakteri Gram negatif berbentuk basil. Berdasarkan seleksi survivabilitas dan pembentukan biofilm pada media dengan pH rendah (3, 4, 5, dan 7) dengan ODCut sebesar 0,239, didapatkan 7 isolat dengan kemampuan MBF (Moderate Biofilm Former) yaitu isolat FS403, FS404, FS304, FS305, FS306, FS501, dan FN304. Berdasarkan seleksi pembentukan biofilm dengan cekaman garam empedu dan ODCut sebesar 0,548, didapatkan 5 isolat yaitu FS403, FS404, FS304, FS306, dan FS501 yang dapat mempertahankan kemampuan MBF pada cekaman pH rendah (4 dan 5) dan cekaman garam empedu 0,3% (w/v). Berdasarkan kurva pertumbuhan, isolat FS403 dan FS404, mengalami fase log selama 12 jam pertama dengan laju pertumbuhan 0,60/jam dan 0,76/jam sementara isolat FS304, FS406, dan FS501 mengalami fase log selama 9 jam pertama dengan laju pertumbuhan 0,75/jam, 0,82/jam, dan 0,72/jam.