📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 1 dokumenMENUA BERSAMA, BERKARYA BERSAMA: PERANCANGAN PUSAT PELAYANAN LANSIA DAN ANAK DENGAN FOKUS PADA RUANG KOMUNAL ANTARGENERASI
Lansia dan anak-anak usia dini di lingkungan urban padat sering kali menghadapi tantangan psikologis serta keterbatasan fasilitas interaksi. Bagi lansia, rasa kesepian menjadi persoalan utama akibat ketiadaan peran sosial. Kondisi ini mendesak di Kecamatan Kiaracondong, kawasan permukiman terpadat di Kota Bandung dengan populasi 17.210 anak (0-9 tahun) dan 14.802 lansia. Tingginya angka keluarga dengan pendapatan ganda menciptakan urgensi akan fasilitas sekolah dan penitipan anak dekat rumah yang aman. Namun, kebutuhan demografis masif ini berbanding terbalik dengan ketersediaan lembaga formal, sehingga memicu ketimpangan akses. Ketiadaan layanan seimbang diperparah oleh pemisahan tipologi secara kaku antara hunian lansia dan sekolah anak dalam sistem birokrasi, sehingga menciptakan isolasi sosial dan kesenjangan spasial yang bertentangan dengan Sustainable Development Goals (SDG) ke-10 mengenai penanganan ketidaksetaraan. Menjawab permasalahan tersebut, “Menua Bersama, Berkarya Bersama” hadir sebagai proyek perancangan Pusat Pelayanan Lansia dan Anak yang menyatukan tipologi hunian lansia dan sekolah anak melalui fokus pada ruang komunal antargenerasi. Makna “Menua Bersama” diartikan sebagai perputaran siklus kehidupan: lansia menjalani masa senja yang aktif dengan membagikan nilai kehidupan, sementara anak-anak bertumbuh dengan mendapatkan limpahan perhatian. Konsep “Berkarya Bersama” diwujudkan melalui arsitektur yang menjembatani kedua generasi untuk berbaur, bertukar pengetahuan, serta berkreasi bersama di dalam wadah sosial yang inklusif. Rancangan ini menerapkan lima strategi desain utama: Communal Area as a Meeting Point, Homey Housing Design, Therapeutic Productive & Recreative Landscape, Natural Surveillance, dan Intuitive Circulation as a Secure Base. Berlokasi di Jalan Papanggungan, Kiaracondong, Bandung, fasilitas ini menyatukan area sekolah dan hunian lansia melalui konfigurasi massa jamak berundak yang memusat. Pendekatan arsitektural ini secara proaktif memecah kesan kaku bangunan institusional melalui penyediaan ruang terbuka hijau di setiap lantai, serta memanfaatkan jembatan intergenerasional sebagai jalur sirkulasi intuitif yang aman sekaligus memperluas jangkauan pengawasan visual alami. Program ruang mengalokasikan 47,85% area untuk Pusat Komunitas Antargenerasi (ruang seni, ruang musik, perpustakaan, dan urban farm), yang diintegrasikan bersama hunian lansia berdesain universal di area tenang, serta sekolah anak yang adaptif. Tujuan utama dari perancangan ini adalah memecah pembatasan tipologi kaku di Indonesia dan menghadirkan jembatan spasial yang aman bagi lansia dan anak-anak untuk hidup berdampingan. Melalui pendekatan arsitektur antargenerasi, proyek ini diharapkan mampu menjadi sebuah "rumah" seutuhnya yang secara proaktif menyehatkan secara psikologis, memulihkan kebugaran fisik, meningkatkan kedekatan emosional, serta mengembalikan fungsi sosial yang bermakna di tengah dinamika kawasan urban Kota Bandung.