📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 13 dokumenDIES NATALIS KE-45 INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG, 2 MARET 2004
Tidak ada deskripsi.
DESAIN DAN ANALISIS TEKUK LATERAL PIPA BAWAH LAUT DI LAUT UTARA JAWA
Fenomena tekuk lateral (lateral buckling) merupakan tantangan utama integritas struktural pada pipa bawah laut yang beroperasi dalam kondisi tekanan dan temperatur tinggi (High Pressure High Temperature). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis stabilitas lateral pipa melalui studi parametrik terhadap 12 kasus pemodelan yang melibatkan variasi amplitudo imperfeksi awal, koefisien friksi, dan jenis tanah (Soft Clay dan Gravel) di wilayah Laut Utara Jawa. Metodologi yang digunakan adalah analisis elemen hingga (Finite Element Analysis) nonlinier dengan metode Riks, di mana Eigenvalue Buckling Mode 1 diintegrasikan sebagai initial imperfection. Hasil analisis menunjukkan bahwa koefisien friksi merupakan parameter paling dominan dalam menentukan ambang batas gaya aksial kritis. Namun, stabilitas lateral juga dipengaruhi secara signifikan oleh interaksi amplitudo imperfeksi dan karakteristik geoteknik dasar laut. Gaya aksial kritis terbesar dicapai pada Case-3 (3116.65 kN) melalui kombinasi koefisien friksi tinggi (0,4), amplitudo imperfeksi minimal (0,05 m), dan jenis tanah Soft Clay. Sebaliknya, gaya aksial kritis terkecil ditemukan pada Case-9 (1821.16 kN), dengan persentase perbandingan gaya aksial kritis mencapai 41.57%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stabilitas lateral dipengaruhi secara simultan oleh interaksi antara koefisien friksi, besarnya ketidaklurusan awal pipa (amplitudo), serta karakteristik tanah dasar laut. Untuk mengoptimalkan desain, diperlukan pendekatan integratif yang menggabungkan pengendalian ketat terhadap imperfeksi awal saat instalasi, rekayasa antarmuka pipa-tanah untuk meningkatkan friksi, serta pemilihan rute pipa yang mempertimbangkan kekakuan vertikal tanah guna memitigasi risiko tekuk lateral.
FAKULTET TEKNIK
-
ANALISIS KESTABILAN TEROWONGAN MENGGUNAKAN METODE ROCK MASS RATING SERTA SIMULASI NUMERIK DI AREA TAMBANG BAWAH TANAH PT ANTAM TBK, GUNUNG PONGKOR, JAWA BARAT
PT Antam Tbk merupakan perusahaan tambang yang melakukan kegiatan penambangan bawah tanah, salah satunya di wilayah Gunung Pongkor yang merupakan tambang emas. Dalam operasionalnya, PT Antam Tbk menggunakan metode conventional cut and fill. Karena metode ini dilakukan di bawah permukaan tanah, diperlukan perhatian khusus terhadap kestabilan struktur bawah tanah, terutama pada terowongan, untuk menjamin kelancaran aktivitas penambangan dan mendukung peningkatan produksi emas. Penelitian ini berfokus pada muka terowongan AU-460, AU-440, dan AU-435. Tujuan penelitian adalah mengklasifikasikan massa batuan menggunakan metode rock mass rating (RMR), memberikan rekomendasi penyangga berdasarkan nilai RMR, serta menentukan tipe potensi runtuhan dengan bantuan data orientasi set diskontinuitas yang berpotensi terjadi di terowongan penelitian. Simulasi numerik dilakukan menggunakan analisis metode elemen hingga 2D berdasarkan nilai faktor kekuatan (FK) dan total perpindahan di sekitar muka terowongan. Berdasarkan pengamatan lapangan, litologi penyusun di AU-460 dan AU-440 terdiri dari tuf lapili, sedangkan di AU-435 terdiri dari breksi tuf. Hasil klasifikasi RMR menunjukkan bahwa massa batuan di AU-460 termasuk kelas IV (buruk), sedangkan di AU-440 dan AU-435 termasuk kelas III (cukup). Berdasarkan parameter RMR dan orientasi diskontinuitas, potensi runtuhan di AU-460 berupa runtuhan baji dan runtuhan massa batuan pada titik tertentu, sementara di AU-440 dan AU-435 berupa runtuhan baji. Rekomendasi penyangga untuk AU-460 meliputi baut batuan, jaring kawat, beton tembak, dan steel sets, sedangkan untuk AU-440 dan AU-435 berupa baut batuan, jaring kawat, dan beton tembak. Analisis numerik menunjukkan bahwa nilai faktor keamanan setelah pemasangan penyangga berdasarkan RMR berada di atas 1,5 pada semua lokasi penelitian, dan nilai total perpindahan juga sudah sesuai dengan standar yang diterapkan oleh PT Antam.
STUDI DAMPAK ALIRAN DUA ARAH PADA SISTEM PERPIPAAN JAWA BARAT–JAWA TENGAH
Studi dampak aliran pipa dua arah terhadap ruas pipa gas Jawa Barat–Jawa Timur dilakukan untuk menganalisis dampak penerapan skenario aliran dua arah pada sistem pipa transmisi gas Jawa Barat–Jawa Tengah sebagai alternatif untuk mengoptimalkan distribusi gas akibat ketidakseimbangan pasokan dan permintaan antarwilayah. Metodologi yang digunakan adalah pemodelan hidraulik menggunakan PIPESIM untuk analisis aliran gas steady-state serta simulasi proses menggunakan Aspen HYSYS guna mengevaluasi kinerja peralatan eksisting. Data masukan meliputi proyeksi kebutuhan gas, karakteristik pipa, serta kondisi operasi eksisting. Hasil simulasi menunjukkan bahwa skenario usulan mampu mengalirkan 34 MMSCFD gas dari arah timur (Semarang) ke barat (Jawa Barat) dengan kondisi tekanan terjaga pada 580–830 psia di sepanjang segmen pipa. Kecepatan aliran maksimum tercatat pada segmen Semarang–Kendal sebesar 28,84 ft/s, masih berada di bawah batas desain 60 ft/s sesuai ASME B31.8 dan API RP14E. Rugi tekanan terbesar terjadi pada segmen Tegal–Cilacap sebesar 0,053517 psi/100 ft, sedangkan rugi tekanan rata-rata pada segmen lain berada di bawah 0,001 psi/100ft, sehingga distribusi tetap dalam batas operasional. Pada evaluasi peralatan, kompresor bekerja pada duty 457,9 kW, lebih rendah dibandingkan kondisi eksisting 524,6 kW, sehingga terjadi penghematan energi sekitar 12,7%. Separator juga tetap mampu beroperasi pada tekanan 3893 kPa dengan vapor fraction 100%, yang menandakan tidak ada carryover cairan signifikan pada kondisi normal. Validasi model dilakukan dengan mengacu pada AGA-3 (orifice flow equation) dan API RP 14E untuk batas erosi, dengan tingkat kesalahan <1% pada titik tekanan acuan, sehingga hasil simulasi dapat dianggap representatif terhadap kondisi lapangan. Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis kuantitatif skenario pembalikan arah aliran pada sistem pipa transmisi eksisting di Jawa Barat–Jawa Tengah tanpa pembangunan jalur baru, dengan pendekatan terpadu antara PIPESIM dan HYSYS. Kajian ini memberikan kontribusi dalam menilai kelayakan teknis, efisiensi energi, serta integritas peralatan secara simultan, yang sebelumnya belum banyak diuraikan pada studi serupa di Indonesia.
PERENCANAAN PENGENDALIAN BANJIR KALI PESANGGRAHAN BAGI PERUMAHAN KEDOYA SELATAN, JAKARTA BARAT
Sungai Pesanggrahan, atau yang biasa disebut Kali Pesanggrahan oleh masyarakat sekitar, merupakan sungai yang mengalir melalui tiga provinsi di Indonesia, yaitu dari Kabupaten Bogor di Provinsi Jawa Barat, melintasi Kota Depok dan wilayah Jakarta Selatan di Provinsi DKI Jakarta, hingga bermuara di Kota Tangerang, Provinsi Banten. Sungai ini memiliki luas daerah aliran sungai (DAS) sebesar 112,50 km² dan panjang aliran sekitar 66,7 km, serta dikelola oleh Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane. Aliran Sungai Pesanggrahan yang melewati kawasan permukiman, seperti di Kedoya Selatan, menjadi salah satu penyebab utama terjadinya banjir yang berdampak signifikan bagi masyarakat sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem pengendalian banjir yang efektif berdasarkan pendekatan teknik sipil, guna menampung debit banjir rencana. Alternatif pengendalian yang dikaji meliputi pembangunan tanggul dengan turap beton dan normalisasi penampang sungai. Pemodelan hidraulika dilakukan menggunakan perangkat lunak HEC-HMS dan HEC-RAS dengan pendekatan dua dimensi (2D), untuk menganalisis perbandingan tinggi muka air banjir terhadap elevasi tepi sungai. Pemodelan ini juga digunakan untuk mengidentifikasi titik rawan banjir serta merancang tanggul dan penampang sungai yang dinormalisasi. Selain itu, analisis kestabilan geoteknik dilakukan untuk menentukan kedalaman pondasi dan dimensi turap beton yang direncanakan. Analisis manajemen rekayasa konstruksi turut dilakukan sebagai bahan pertimbangan dalam pemilihan alternatif berdasarkan estimasi biaya konstruksi. Berdasarkan hasil pemodelan, diperoleh rancangan sistem pengendalian banjir untuk debit kala ulang 25 tahun dengan menggunakan turap beton dan normalisasi penampang pada titik-titik tertentu di ruas Sungai Pesanggrahan.
STUDI KELAYAKAN TEKNIS PEMANFAATAN SUMUR ULB-03 UNTUK PENAMBAHAN SUPPLY UAP KE PLTP
Abstrak bisa dilihat di filenya
ANALISIS PERBANDINGAN PENGGUNAAN SECANT PILE DAN ROCK BOLT DENGAN SOLDIER PILE DAN GROUND ANCHOR TERHADAP STABILITAS LERENG
Abstrak dapat dilihat di File nya
PEMBUATAN LEMBAR KERJA UNTUK PENGUJIAN MENARA PENDINGIN DENGAN METODE STANDAR CTI ATC-105
Menara pendingin digunakan untuk menyediakan pasokan air pendingin secara menerus di PLTP. Menara pendingin berkerja menggunakan prinsip penguapan dengan memanfaatkan kontak langsung antara air panas dengan udara dari lingkungan. Tipe menara pendingin induced-draft aliran-berlawanan menggunakan kipas pada bagian atas menara untuk menarik udara keluar, dengan arah udara bergerak berlawanan secara vertikal dengan arah jatuh air. Metode Merkel dipakai untuk menganalisis kinerja menara pendingin dengan faktor-faktor yang mempengaruhi seperti, temperatur range, nilai approach, temperatur wet-bulb udara, dan total laju aliran air. Kinerja menara pendingin dievaluasi menggunakan pengujian termal yang diatur dalam Metode Standar CTI ACT-105 untuk Menara Pendingin. Terdapat dua metode evaluasi kinerja, yaitu metode kurva karakteristik dan metode kurva kinerja untuk mencari nilai kapabilitas menara pendingin. Kedua metode membutuhkan masing-masing kurva dari manufaktur menara pendingin untuk pengolahan data hasil pengujian menggunakan lembar kerja Microsoft Excel. Lembar kerja dibagi menjadi bagian Test Data, Characteristic Curve, dan Performance Curve. Untuk kedua metode diberikan dua set data yang berbeda sesuai dengan ketersedian jenis kurva dari perusahaan manufaktur. Nilai kapabilitas pengujian dengan metode kurva karakteristik yaitu sebesar 96.17%, menunjukkan bahwa pengoperasian menara pendingin masih dapat diterima. Nilai kapabilitas dari pengujian yang diolah menggunakan metode kurva kinerja yaitu sebesar 88.96%, menunjukkan bahwa terjadi penurunan kinerja menara pendingin dibandingkan dengan kondisi desainnya.
PERANCANGAN PENGENDALIAN BANJIR DI KALI PREMULUNG ANAK SUNGAI BENGAWAN SOLO, JAWA TENGAH
Sungai Premulung atau yang biasa disebut Kali Premulung oleh masyarakat sekitar merupakan salah satu anak sungai Bengawan Solo di bagian hulu yang melintasi Kabupaten Boyolali, Sukoharjo, dan Kota Surakarta. Sungai Premulung yang mengalir melalui pemukiman dan pusat kegiatan masyarakat menjadi salah satu penyebab utama sering terjadinya banjir yang menyebabkan kerugian besar bagi masyarakat sekitar. Penelitian ini dilakukan untuk merancang sistem pengendalian banjir yang paling baik berdasarkan ilmu teknik sipil dalam menampung debit banjir yang direncanakan. Alternatif pengendalian banjir yang direncanakan adalah pemasangan tanggul banjir dengan turap beton dan normalisasi penampang sungai. Pemodelan hidraulika dilakukan dengan bantuan perangkat HEC-HMS dan HEC-RAS menggunakan analisis 1D (satu dimensi) yang meninjau perbandingan tinggi muka air banjir dengan elevasi tepi sungai. Pemodelan digunakan untuk menunjukkan titik lokasi banjir pada ruas sungai dan perencanaan tanggul banjir serta normalisasi penampang. Analisis kestabilan geoteknik dilakukan untuk mengetahui kedalaman pemancangan dan dimensi rancangan turap beton. Analisis manajemen rekayasa konstruksi dilakukan sebagai pertimbangan pemilihan alternatif berdasarkan estimasi biaya konstruksi. Berdasarkan hasil pemodelan, didapatkan rancangan pengendalian banjir untuk debit banjir kala ulang 25 tahun yang direncanakan menggunakan turap beton dan normalisasi penampang di berbagai titik pada ruas Sungai Premulung.
STUDI SWABAKAR BATUBARA DENGAN ALAT PEMANAS ADIABATIK PADA SKALA LABORATORIUM
DAPAT DILIHAT PADA HARDCOPY
ANALISIS TEKNOEKONOMI STASIUN KOMPRESOR GAS PADA MODE OPERASI RECYCLE LINE DAN JUMPER LINE
Pasokan gas alam dari sumur gas X diproyeksikan akan menurun hingga tahun 2030. Penurunan pasok gas alam ini mempengaruhi keseluruhan sistem transmisi gas alam, utamanya stasiun kompresor gas. Penurunan pasokan gas ini melewati batas minimun laju aliran kerja kompresor sehingga fenomena surging akan terjadi. Dua solusi untuk mengatasi hal tersebut adalah menjalankan mode operasi recycle atau mode operasi jumper line. Pada analisis teknik, menggunakan perangkat lunak Aspen Hysys, pemodelan dilakukan untuk mengetahui perubahan kondisi operasi stasiun kompresor gas pada saat kedua mode operasi dijalankan. Berdasarkan hasil pemodelan ini, selanjutnya dilakukan kalkulasi perkiraan besarnya biaya operasional stasiun kompresor gas pada saat salah satu dari dua mode operasi dijalankan. Pengopersian recycle akan menyebabkan peningkatan temperatur suction kompresor. Pada tekanan keluaran stasiun 800 psig, kenaikan temperatur suction menyebabkan peningkatan daya kompresor sebesar 83 hp dari operasi normal. Kenaikan daya kompresor meningkatkan konsumsi bahan bakar turbin gas menjadi 1,082 MMSCFD. Pada tekanan keluaran yang sama, temperatur discharge kompresor diproyeksikan meningkat hingga 215 °F. Biaya operasional stasiun kompresor diproyeksikan menjadi Rp231.548.322,00/hari atau ekuivalen dengan penjualan 2,41 MMSCFD gas. Skenario 1 train minimum merupakan skenario operasi paling ekonomis bagi stasiun kompresor gas. Pada skenario ini, temperatur suction kompresor diproyeksikan menurun menjadi 72 °F. Pada Tekanan keluaran stasiun 800 psig, daya kompresor akan menurun sebesar 63 hp dari operasi normal. Konsumsi bahan bakar turbin gas diproyeksikan menjadi 1,061 MMSCFD. Pada tekanan keluaran stasiun yang sama, temperatur discharge kompresor diproyeksikan menjadi 215 °F. Biaya operasional stasiun kompresor diproyeksikan menjadi Rp229.529.612,00/hari atau ekuivalen dengan penjualan 2,38 MMSCFD gas.
STUDI ANALISIS TEGANGAN DAN DEFORMASI PADA TEROWONGAN TANAH LUNAK DENGAN PENDEKATAN METODE KONVENSIONAL DAN ELEMEN HINGGA
Studi analisis tegangan dan deformasi pada terowongan tanah lunak dengan pendekatan metode konvensional dan elemen hingga ini dibuat sebagai salah satu bentuk kontribusi dalam mengembangkan ilmu ketekniksipilan. Studi analisis ini ditujukan untuk memperluas penelitian terhadap terowongan pada tanah lunak yang di Indonesia sedang berkembang. Kegiatan penting dalam penelitian ini meliputi: membandingkan hasil analisis metode konvensional dan metode elemen hingga (MEH) untuk studi kasus Terowongan 1 proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, memeriksa apakah desain terowongan memenuhi standar berdasarkan hasil analisis, membandingkan pemakaian Earth Pressure Balance (EPB) Shield Tunnel Boring Machine (TBM) dan Slurry Shield TBM untuk kasus Terowongan 1, melakukan evaluasi dan redesain penampang dan penulangan terowongan, dan menentukan tekanan face stability untuk TBM dalam penggalian terowongan. Metodologi yang digunakan dalam studi analisis ini adalah kajian literatur, pengumpulan data, dan analisis MEH serta melakukan analisis dan validasi dengan studi literatur dari hasil yang didapatkan. Berdasarkan studi analisis ini, didapatkan bahwa metode konvensional cenderung menghasilkan nilai gaya dalam terowongan yang overestimate di tanah lunak dibandingkan dengan MEH dan berdasarkan nilai perbedaan, metode konvensional Curtis-Muir Wood memberikan hasil gaya dalam yang paling menyerupai hasil analisis MEH untuk kasus. Didapatkan juga bahwa desain terowongan berdasarkan standar QCR9230-2016 tidak terpenuhi untuk kondisi tanah Stasiun Halim. Hasil redesain dari terowongan ditunjukkan pada subbab 8.2. Terakhir, didapatkan juga berdasarkan analisis kecocokan Terowongan 1 proyek Kereta Cepat Jakarta- Bandung dalam konstruksinya sudah baik menggunakan metode konstruksi slurry shield TBM.