📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 13 dokumenPERANCANGAN BOOK APP TENTANG IMPLEMENTASI EMPAT KATA AJAIB DALAM KEHIDUPAN SOSIAL ANAK USIA 7 - 9 TAHUN
Perkembangan teknologi digital memberikan pengaruh terhadap perilaku sosial anak usia sekolah dasar, termasuk dalam penggunaan bahasa sopan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu fenomena yang muncul adalah memudarnya penggunaan empat kata ajaib, yaitu permisi, maaf, tolong, dan terima kasih, pada anak usia 7 – 9 tahun. Kondisi ini dipengaruhi oleh paparan konten media digital yang kurang edukatif serta minimnya pembiasaan pendidikan karakter yang konsisten di lingkungan anak. Oleh karena itu, diperlukan media pembelajaran alternatif yang mampu menanamkan nilai sosial secara menarik dan sesuai dengan tahap perkembangan anak. Tugas akhir ini bertujuan merancang Book App sebagai media pembelajaran interaktif yang mengimplementasikan empat kata ajaib dalam kehidupan sosial anak usia 7–9 tahun. Perancangan dilakukan melalui strategi visual storytelling yang menggabungkan ilustrasi bergaya kartun semi-realistis, narasi berbasis situasi keseharian anak, serta elemen interaktif seperti tap, slide, dan drag-and-drop yang terintegrasi dengan alur cerita. Hasil user testing menunjukkan bahwa Book App dapat diterima dengan baik oleh pengguna, dengan visual yang menarik dan nyaman dilihat, navigasi serta instruksi yang mudah dipahami, dan penyampaian pesan moral yang dapat diterima dengan baik oleh anak. Temuan tersebut menunjukkan bahwa Book App berpotensi menjadi media edukatif yang mendukung pembiasaan perilaku sopan santun melalui pengalaman belajar yang interaktif dan menyenangkan.
INOVASI MODEL BISNIS BERBASIS TEKNOLOGI MELALUI ADOPSI DRONE PERTANIAN: STUDI KASUS KUALITATIF PADA PT BANGUN NAWASENA PARIKESIT
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana adopsi teknologi drone pertanian mendorong inovasi model bisnis pada PT Bangun Nawasena Parikesit, sebuah perusahaan penyedia jasa kehutanan dan perkebunan di Indonesia. Berbeda dengan penelitian yang berfokus pada kinerja operasional atau aspek teknis, studi ini menggunakan perspektif strategis dan manajerial untuk memahami bagaimana adopsi drone memicu dan membentuk perubahan pada model bisnis perusahaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif, dengan data yang dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan dokumen pendukung. Analisis dilakukan dengan menggunakan kerangka Business Model Navigator yang dikembangkan oleh Gassmann et al., dengan fokus pada perubahan pada dimensi Who–What–How–Why serta ditafsirkan berdasarkan tahapan inovasi model bisnis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adopsi drone pertanian berperan sebagai pemicu strategis yang menghasilkan inovasi model bisnis secara inkremental, bukan transformasi yang bersifat radikal. Perubahan tersebut terintegrasi secara bertahap ke dalam konfigurasi model bisnis yang sudah ada, khususnya dalam aspek penciptaan nilai, penyampaian nilai, dan mekanisme tata kelola manajerial. Selain itu, penelitian ini mengungkap implikasi strategis dan manajerial dari model bisnis berbasis drone, terutama terkait dengan pengambilan keputusan manajemen, koordinasi, dan pengendalian dalam konteks operasional yang tersebar secara geografis. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada literatur inovasi model bisnis dengan menunjukkan peran teknologi digital dalam mendorong rekonfigurasi model bisnis secara inkremental. Secara praktis, temuan penelitian ini memberikan wawasan bagi manajemen dalam menyelaraskan adopsi teknologi dengan logika model bisnis untuk mendukung keberlanjutan organisasi.
EVALUASI ADOPSI MYRENTOKIL DAN IMPLIKASINYA TERHADAP SERVICE PROFIT CHAIN DI PT RENTOKIL INITIAL INDONESIA
Teknologi digital di sektor jasa sangat penting untuk meningkatkan efisiensi, kepatuhan, dan kualitas. MyRentokil berbasis cloud dari PT Rentokil Initial Indonesia menyederhanakan pelaporan teknisi dan memperluas akses data pelanggan. Keterbatasan konsistensi internal dan penolakan yang cukup besar terhadap perubahan prosedur kerja telah membatasi profitabilitas platform tersebut. Masalah-masalah ini telah menimbulkan kekhawatiran manajerial tentang tata kelola digital dan integrasi loyalitas serta kinerja layanan. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara infrastruktur teknologi dan layanan pelanggan di lapangan. Studi ini meneliti determinan adopsi MyRentokil oleh supervisor dan teknisi serta pengaruhnya terhadap kualitas layanan dan loyalitas pengguna. Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2 (UTAUT2) dan Service Profit Chain digunakan untuk memetakan perilaku penggunaan sistem digital dan produktivitas layanan pelanggan. Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) digunakan untuk mengevaluasi model prediksi eksploratif pada variabel laten meskipun ukuran sampel terbatas. Di tempat kerja, ekspektasi upaya, kondisi pendukung, dan kebiasaan mendorong kontak staf dengan sumber daya operasional. Karena Ekspektasi Kinerja tidak memengaruhi pengguna sistem, ekspektasi profesional dan rutinitas harian mendorong adopsi teknologi baru. Intensitas penggunaan aplikasi yang berkelanjutan meningkatkan Kepuasan Kerja, yang membantu membangun persepsi kualitas layanan. Karena kontak langsung yang lemah, transformasi digital membutuhkan dukungan tata kelola yang stabil dan implementasi praktis untuk memuaskan pelanggan. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh adopsi teknologi tetapi juga oleh tata kelola digital, kesiapan organisasi, dan integrasi antara sistem, proses, dan perilaku manusia. Penelitian ini merekomendasikan penguatan program pelatihan berbasis peran, standardisasi proses layanan berbasis data digital, dan penguatan peran pengawasan dari para supervisor untuk memastikan bahwa adopsi MyRentokil menghasilkan dampak manajerial yang berkelanjutan bagi perusahaan.
PERSEPSI MEREK MEWAH DI ERA DIGITAL: STRATEGI NARATIF, PEMASARAN INFLUENCER, DAN PERSEPSI KONSUMEN
Penelitian ini menyelidiki bagaimana merek-merek mewah menavigasi transformasi digital sambil mempertahankan warisan dan eksklusivitas mereka. Dengan maraknya media sosial dan pemasaran influencer, branding mewah menghadapi peluang sekaligus tantangan. Studi ini mengkaji bagaimana keterlibatan digital, khususnya melalui hubungan parasosial dengan influencer dan pengalaman daring yang dipersonalisasi, memengaruhi persepsi konsumen, autentisitas merek, dan ekuitas merek. Temuan menunjukkan bahwa penggunaan platform digital yang strategis dapat memperkuat ikatan emosional dan loyalitas, sehingga meningkatkan kesediaan konsumen untuk membayar harga premium. Influencer, ketika selaras dengan identitas merek, efektif membangun kepercayaan dan keterhubungan, tetapi paparan yang berlebihan dapat berisiko melemahkan keunikan yang dipersepsikan. Studi ini juga menunjukkan bahwa teknologi seperti uji coba virtual dan kustomisasi memperkuat nilai simbolis ketika digunakan untuk mempersonalisasi dan memperkaya penceritaan, alih-alih sekadar mengikuti tren digital. Dengan menggunakan analisis PEST, riset ini menempatkan branding mewah dalam tren lingkungan makro yang lebih luas. Secara politis, industri ini berada di bawah tekanan untuk menjadi lebih berkelanjutan dan transparan. Secara ekonomi, ketergantungan pada kenaikan harga bergeser ke arah strategi pertumbuhan berbasis volume. Secara sosial, dominasi Gen Z di pasar barang mewah menuntut autentisitas dan kefasihan digital. Secara teknologi, AI dan perangkat imersif sedang membentuk kembali pengalaman mewah dengan tetap mempertahankan keintiman dan eksklusivitas. Secara teoritis, studi ini berkontribusi pada literatur branding dengan mengintegrasikan dimensi digital dan relasional ke dalam kerangka ekuitas merek yang ada. Secara praktis, studi ini menawarkan wawasan bagi para manajer barang mewah dalam menyeimbangkan inovasi dengan tradisi. Pada akhirnya, penelitian ini menyimpulkan bahwa merek-merek mewah harus secara strategis merangkul perangkat digital untuk berkembang sekaligus memperkuat modal simbolis dan budaya mereka di pasar yang cepat berubah.
PENERIMAAN PENGGUNA TERHADAP SPBU SELF SERVICE PERTAMINA MENGGUNAKAN UNIFIED THEORY OF ACCEPTANCE AND USE OF TECHNOLOGY 2 (UTAUT 2) DI DAGO
Solusi dan teknologi digital memiliki potensi yang signifikan untuk mentransformasi penyampaian layanan pelanggan di sektor ritel bahan bakar Indonesia. Dalam industri energi, adopsi teknologi layanan mandiri merupakan komponen penting untuk efisiensi operasional dan peningkatan pengalaman pelanggan, terutama di negara berkembang seperti Indonesia di mana model layanan hibrid berdampingan dengan pendekatan layanan penuh tradisional. Karena ritel bahan bakar merupakan komponen kritis dari interaksi konsumen harian yang membawa dampak langsung pada kepuasan pelanggan dan operasi bisnis. Salah satu bentuk implementasi teknologi adalah dispenser layanan mandiri yang relatif mudah diakses dan semakin banyak digunakan oleh pelanggan di SPBU Pertamina. Pasar ritel bahan bakar saat ini mengalami pergeseran bertahap menuju otomasi, dengan opsi layanan mandiri mencapai implementasi di lokasi SPBU terpilih di daerah perkotaan seperti Dago. Karena tingkat adopsi teknologi layanan mandiri di kalangan konsumen Indonesia masih relatif rendah akibat tingkat literasi teknologi yang beragam dan preferensi budaya untuk layanan yang dimediasi manusia, penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dampak implementasi teknologi layanan mandiri terhadap penerimaan dan perilaku penggunaan pelanggan di SPBU Pertamina. Dengan metode kuantitatif menggunakan survei kepada 253 pelanggan berusia 17 tahun ke atas yang telah mengalami sistem layanan mandiri Pertamina di Dago, hasil menunjukkan bahwa adopsi pelanggan terutama didorong oleh pola kebiasaan dan persepsi nilai harga daripada penilaian berbasis kinerja. Juga, faktor-faktor yang menghasilkan temuan ini adalah pembentukan kebiasaan, persepsi nilai harga, dan kesenjangan intensi-perilaku yang tidak terduga, bersama dengan perbedaan berbasis gender dalam pola evaluasi, yang bertentangan dengan ekspektasi komponen teori UTAUT2 tradisional mengenai hubungan antara intensi perilaku dan perilaku penggunaan aktual.
MENINGKATKAN PENDAPATAN PERUSAHAAN MELALUI TEKNOLOGI DIGITAL: KERANGKA KAIZEN DAN PORTER’S FIVE FORCES DALAM INDUSTRI ALAT UJI DAN PENGUKURAN
Covid-19 telah mengubah dunia dengan sangat cepat. Bagi banyak perusahaan, pandemi ini berdampak pada berbagai sektor, seperti pemrosesan pesanan, inventaris, logistik, penjualan, operasional, dan layanan pelanggan. Situasi ini menyebabkan penurunan kinerja perusahaan. Dalam kondisi yang tidak dapat diprediksi ini, perusahaan mulai mencari cara untuk menggantikan atau mengurangi peran manusia dalam beberapa fungsi pekerjaan. Aktivitas administratif dan transaksi merupakan fungsi yang dapat digantikan dengan sistem yang terotomatisasi. Kemampuan unik yang dapat membuat perusahaan bertahan adalah adopsi teknologi digital. Teknologi digital dapat diwujudkan dalam bentuk platform e-commerce, seperti marketplace, atau melalui pembuatan platform e-procurement perusahaan untuk memudahkan pelanggan dalam mendapatkan produk. Melalui analisis Porter’s Five Forces, dapat dipahami bahwa nilai yang memberikan keuntungan kompetitif bagi perusahaan adalah sejauh mana perusahaan telah mengadopsi teknologi digital dalam kegiatan bisnisnya. Nilai ini dapat membantu perusahaan memenangkan persaingan dan meningkatkan daya tawar terhadap berbagai faktor eksternal.
PERANCANGAN KEMBALI MUSEUM SINGHASARI
Museum memiliki peran dalam pelestarian warisan budaya sekaligus sebagai ruang edukatif dan rekreatif bagi masyarakat. Namun, dalam implementasinya, masih ditemukan berbagai kendala yang memengaruhi efektivitas fungsi ruang dan penyampaian informasi kepada pengunjung. Penelitian ini bertujuan untuk merancang ulang interior Museum Singhasari dengan menekankan pengembangan tata ruang yang mendukung kegiatan utama museum serta pemanfaatan teknologi digital. Pendekatan Learning Style Theory diterapkan untuk menyesuaikan bentuk penyajian informasi dengan beragam gaya belajar pengunjung, khususnya pelajar sebagai kelompok pengunjung dominan. Konsep perancangan melibatkan penggunaan media visual, auditori, dan kinestetik, serta integrasi elemen digital seperti multimedia interaktif dan sistem basis data koleksi. Perancangan ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi pemanfaatan ruang, memperkaya pengalaman pengunjung dan memperkuat peran Museum Singhasari sebagai institusi edukatif yang adaptif terhadap dinamika kebutuhan masyarakat dan perkembangan teknologi informasi.
POTENSI TEKNOLOGI DIGITAL UNTUK KONSTRUKSI SEBAGAI INSTRUMEN PEMASARAN: PERSEPSI KONTRAKTOR DAN KLIEN
Salah satu persoalan substansial dalam industri konstruksi terletak pada ketimpangan struktural antara penawaran dan permintaan. Volume jasa konstruksi yang ditawarkan kontraktor kerap kali melebihi kapasitas serapan pasar, menciptakan surplus pasokan dan memicu persaingan yang semakin intens. Dalam menghadapi kondisi ini, pemasaran menjadi praktik strategis untuk meningkatkan visibilitas sekaligus mengoptimalkan penyerapan permintaan yang terbatas. Salah satu pendekatan yang berkembang dalam praktik ini adalah penggunaan teknologi digital untuk melakukan pemasaran. Seiring dengan itu, teknologi digital untuk konstruksi (TD) mulai dipandang sebagai instrumen potensial dalam menciptakan diferensiasi berbasis nilai tambah guna menghadirkan keunggulan kompetitif kontraktor di tengah pasar yang jenuh. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memperoleh potensi TD sebagai instrumen pemasaran. Untuk mewujudkannya, penelitian dilaksanakan dengan pendekatan campuran. Pertama-tama, metode yang digunakan mencakup penyebaran kuesioner berbasis persepsi potensi. Meskipun persepsi pada dasarnya bersifat subjektif, hasilnya tetap memberikan cerminan objektif dari kondisi pasar saat ini. Kemudian, wawancara semi-terstruktur dilakukan sebagai pelengkap untuk mengonfirmasi dan mengeksplorasi temuan data kuantitatif antara kontraktor dan klien secara komparatif. Temuan menunjukkan bahwa meskipun kontraktor dan klien memiliki tingkat pengetahuan dan tingkat persepsi terhadap penerapan sebagai instrumen pemasaran yang relatif setara terhadap berbagai jenis TD, kecuali pada kelompok visualisasi data. Berdasarkan konfirmasi, TD yang direkomendasikan terbagi ke dalam 2 (dua) kelompok: utama (Building Information Modeling, Immersive Media, dan Unmanned Aerial Vehicle) dan komplementer (cloud computing, Internet of Things, dan laser scanner). Optimalisasi praktik rekomendasi dapat diperkuat oleh reputasi kontraktor di pasar serta adanya motivasi untuk mentransfer pengetahuan TD kepada klien guna membangun kepercayaan dan memperluas daya saing. Dalam hal ini, TD tidak secara langsung menjalankan fungsi pemasaran, namun memberikan kontribusi melalui peningkatan kualitas produk konstruksi, yang pada akhirnya memperkuat upaya pemasaran. Dengan demikian, peran TD sebagai instrumen pemasaran lebih bersifat implisit melalui penciptaan keunggulan kompetitif berbasis nilai tambah yang tertanam dalam produk konstruksi itu sendiri.
ANALISA PERBANDINGAN MANAJEMEN STRATEGIS DAN VALUASI SAHAM BERDASARKAN PERFORMA PT METRODATA ELECTRONICS TBK
Teknologi, terkhususnya teknologi digital dan komputer semakin berkembang dengan cepat. Pengunaan teknologi digital untuk memperkuat bisnis menjadi perihal terutama karena mereka mampu memberikan nilai tambah kepada perusahaan. Sebab akibatnya, bermunculanlah perusahaan-perusahaan teknologi yang hadir untuk menyediakan solusi melalui teknologi, mulai dari pengembangan software hingga jasa konsultasi teknologi. PT Metrodata Electronics Tbk adalah sebuah perusahaan distributor perangkat komputer dan penyedia jasa yang berbasis di Indonesia. Pada tahun 2022, mengingat keadaan ekonomi dan demi mengundang investor baru, Metrodata memutuskan untuk mengadakan “stock split”. Dibanding dua pesaing Metrodata yang dibandingkan dalam studi ini, Metrodata memiliki jumlah asset terbesar diantara ketiganya, menyiratkan bahwa Metrodata memiliki kemampuan dan peluang untuk mengalahkan pesaingnya. Menggunakan methode valuasi saham dan meninjau keadaan bisnis saat ini, penelitian ini mencoba untuk mencari nilai "intrinsik" PT Metrodata Electronics. Ditemukan bahwa harga saham pasar Metrodata dinilai terlalu tinggi ("Overvalued") dibandingkan dengan harga saham intrinsiknya. Penulis menyarankan agar Metrodata memaksimalkan upaya ke teknologi terbaru untuk mengambil permintaan pasar yang sedang mencondong ke teknologi baru, agar bisa mendapatkan pendapatan berlebih dan menyimbangkan ratio harga pasar mereka dengan harga intrinsiknya. Diharapkan dengan begitu, harga saham Metrodata bisa mencapai dibawah harga intrinsik ("Undervalued"). Penulis juga percaya bahwa strategi diversifikasi Metrodata seperti perluasan ke agensi pemasaran merupakan tindakan yang bagus untuk mendapatkan pendapatan tambahan. Mengingat bahwa agensi pemasaran memang sedang marak diminati.
MENERAPKAN ANALISIS KEPUTUSAN UNTUK MENDESAIN ULANG PENGEMBANGAN PRODUK PERANGKAT LUNAK SEBAGAI LAYANAN (SAAS): KASUS PERANGKAT LUNAK MANAJEMEN RANTAI PASOK DI PERUSAHAAN RINTISAN
Penelitian ini menyelidiki kebutuhan mendesak untuk analisis keputusan yang efektif dalam pengembangan perangkat lunak manajemen rantai pasok untuk perusahaan rintisan di lanskap teknologi Indonesia yang berkembang pesat. Dengan tujuan Indonesia untuk memanfaatkan teknologi demi pertumbuhan ekonomi dan peran signifikan UMKM, penting untuk mengatasi tantangan yang dihadapi bisnis ini dalam mengadopsi solusi digital. UMKM menyumbang 61% dari PDB Indonesia dan mempekerjakan 97% tenaga kerja, namun hanya sebagian kecil yang telah mengadopsi teknologi digital. Menggunakan kerangka strategis seperti SMART, SWOT, dan VRIO, penelitian ini mengidentifikasi dan memprioritaskan fitur perangkat lunak utama yang diperlukan untuk skalabilitas dan kecocokan pasar. Peralihan perusahaan dari CMS headless ke perangkat lunak manajemen rantai pasok menyoroti perlunya solusi inovatif dan skalabel yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis yang beragam. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran, menggabungkan analisis kualitatif dan kuantitatif untuk memahami secara komprehensif posisi pasar perusahaan dan kebutuhan pelanggan. Data primer dari calon pelanggan dan data sekunder dari literatur yang ada serta wawasan perusahaan memberikan gambaran tentang profil pelanggan ideal, lingkungan bisnis, dan kekuatan internal. Alat seperti Lima Kekuatan Porter, analisis pesaing, dan pemetaan persepsi membantu mengidentifikasi peluang dan ancaman pasar. Dengan menganalisis faktor-faktor ini, perusahaan bertujuan untuk mengembangkan produk yang skalabel yang memenuhi kebutuhan spesifik UMKM di Indonesia, dengan fokus pada perangkat lunak manajemen rantai pasok yang efisien dan integrasi sistem yang mulus. Temuan ini menekankan pentingnya pendekatan terstruktur dalam pengembangan produk, menggunakan kerangka seperti SMART untuk memprioritaskan fitur berdasarkan preferensi pelanggan dan tujuan bisnis. Penelitian ini merekomendasikan strategi bagi perusahaan untuk menavigasi lanskap kompetitif, meningkatkan penawaran teknologinya, dan mencapai prioritas pengembangan produk untuk Monago dalam mengembangkan solusi perangkat lunak sebagai layanan dari solusi berbasis proyek. Penelitian ini memberikan peta jalan bagi perusahaan untuk meningkatkan upaya pengembangan perangkat lunaknya, mendorong inovasi dan pertumbuhan di pasar Indonesia.
PENGEMBANGAN SISTEM E-TICKETING BERBASIS QR CODE UNTUK EVENT PERTUNJUKAN DENGAN IMPLEMENTASI ALGORITMA SCHMIDT-SAMOA
Perkembangan teknologi digital telah mempermudah manusia dalam memperoleh tiket dengan tiket digital atau e-ticket. E-ticket menawarkan kemudahan serta manfaat untuk mengatasi kelemahan keamanan sistem tiket konvensional yakni lemahnya proses validasi tiket. Walaupun demikian, penggunaan e-ticket sebagai pengganti tiket fisik nyatanya masih menghadapi berbagai masalah berkaitan dengan pencurian data tiket, pemalsuan tiket, dan sulitnya menjamin kepemilikan tiket. Sebagai upaya untuk mengatasi ketiga permasalahan tersebut, tugas akhir ini menerapkan konsep digital signature dengan algoritma Schmidt-Samoa untuk mengembangkan sistem e-ticketing berbasis QR Code. Sistem ini dikembangkan dengan melakukan proses enkripsi terhadap data tiket menggunakan kunci privat penyelenggara event yang memastikan keaslian tiket, menggunakan enkripsi algoritma kriptografi kunci publik pada database yang mencegah pencurian data tiket, serta mengenkripsi identitas asli pembeli tiket untuk divalidasi dengan kartu identitas yang menjamin kepemilikan tiket. Sistem e-ticket pada tugas akhir ini dikembangkan sebagai dua buah purwarupa website, yakni website customer sebagai platform pembelian tiket serta website admin sebagai platform verifikator untuk melakukan validasi tiket. Hasil pengujian dengan berbagai skenario uji menunjukkan bahwa sistem ini telah berfungsi secara baik dan sesuai dengan spesifikasi. Selain itu, hasil pengujian juga memperlihatkan berbagai ospi panjang kunci yang ideal untuk digunakan dalam sistem jika pengguna tetap ingin mempertahankan efisiensi proses verifikasi tiket, yakni sepanjang 1024 bit untuk event yang membutuhkan proses verifikasi sangat cepat, dan 2048 bit untuk proses verifikasi 1 detik yang masih dapat ditoleransi. Dengan menggunakan sistem e-ticketing berbasis QR Code yang menerapkan konsep digital signature dengan algoritma Schmidt-Samoa, tiket menjadi tidak mudah dipalsukan dengan meniru format tiket, identitas tiket lebih terjaga dengan adanya enkripsi database, serta penggunaan tiket kini hanya dapat digunakan oleh pemilik tiket, tentunya dengan tetap mempertahankan efisiensi proses verifikasi.
PENGEMBANGAN MODEL PENERIMAAN TEKNOLOGI (TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL) MARKETPLACE BAGI UKM DI PEKANBARU
Usaha, Kecil, dan Menengah (UKM) merupakan komponen penting bagi perekonomian Indonesia, dengan jumlah mencapai 64 juta UKM yang mencakup 99,99% dari populasi bisnis. Namun, UKM sering menghadapi tantangan dalam pengelolaan manajemen, pemasaran, keuangan, dan strategi bisnis akibat keterbatasan sumber daya dan kemampuan. Pandemi Covid-19 telah memperburuk situasi ini dengan menurunkan penjualan, produksi, dan pendapatan UKM. Meskipun demikian, pandemi juga memaksa UKM untuk beradaptasi dengan teknologi digital, khususnya e-commerce, yang menawarkan banyak keuntungan seperti peningkatan pendapatan, pengurangan biaya transaksi, dan kenyamanan bagi konsumen. E-commerce berkembang pesat dan diperkuat dengan banyaknya marketplace yang saat ini menguasai pasar di Indonesia. Marketplace merupakan kategori spesifik dari platform e-commerce yang berperan sebagai penghubung antara penjual, baik individu maupun bisnis yang menawarkan produk atau layanan dengan pembeli, individu yang mencari produk atau layanan untuk dibeli. Marketplace menyediakan tempat bagi berbagai UKM untuk membuka toko online dan menjual produk mereka, sehingga membantu UKM menjangkau pasar yang lebih luas dan meningkatkan efisiensi operasional mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi marketplace oleh UKM di Pekanbaru Model yang digunakan pada penelitian ini adalah Model Penerimaan Teknologi (Technology Acceptance Model atau TAM) yang diperluas dengan menambahkan variabel internal, yaitu pengaruh kepercayaan (trust) dan kondisi yang memfasilitasi (facilitating conditions), serta variabel eksternal, yaitu dukungan pemerintah (government support) terhadap niat UKM untuk mengadopsi marketplace. Penelitian ini menggunakan 19 indikator untuk mengukur 6 konstruk penelitian. Survei dilakukan terhadap 110 UKM pakaian perempuan di Pekanbaru, dan data diolah menggunakan metode PLS-SEM (Partial Least Squares Structural Equation Modelling). Pengumpulan data menunjukkan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin perempuan dan memiliki tingkat pendidikan Sekolah Menengah Atas. Berdasarkan ii pengalaman penggunaan marketplace, aplikasi yang paling banyak digunakan adalah Shopee. Hasil menunjukkan bahwa trust, perceived ease of use, perceived usefulness dan government support berpengaruh positif dan signifikan terhadap marketplace adoption. Lebih lanjut, diketahui bahwa trust berpengaruh positif dan signifikan terhadap perceived ease of use dan perceived usefulness, perceived ease of use berpengaruh positif dan signifikan terhadap perceived usefulness. Akan tetapi, tidak ditemukan hubungan yang positif dan signifikan antara facilitating conditions dan marketplace adoption. Penelitian ini menawarkan rekomendasi untuk pelaku UKM, penyedia layanan dan pemerintah terkait dorongan UKM untuk mengadopsi marketplace sesuai dengan temuan yang dihasilkan pada penelitian. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan rekomendasi praktis bagi UKM dalam mengoptimalkan penggunaan marketplace sebagai strategi bisnis di era digital, serta memberikan masukan bagi pemerintah dalam merancang kebijakan yang mendukung digitalisasi UKM.
ANALISIS IMPLEMENTASI INTEGRATED BIM PADA PROSES CONTRACT CHANGE ORDER (CCO) (STUDI KASUS: PROYEK ITB INNOVATION PARK GEDEBAGE)
Contract Change Order (CCO) memberikan mekanisme formal perubahan pada pelaksanaan konstruksi yang lazim terjadi pada proyek-proyek konstruksi dan memberikan fleksibilitas serta adaptabilitas. Proses CCO membutuhkan mekanisme koordinasi yang panjang dan waktu yang lama sehingga manajemen informasi yang baik harus dilakukan untuk mencegah dampak negatif yang dapat terjadi. Penerapan teknologi digital seperti Building Information Modelling (BIM) terintegrasi berbasis Common Data Environment (CDE) menjadi inovasi baru yang memiliki potensi besar dalam membantu proses CCO. Di Indonesia, penerapan BIM didorong melalui Permen PUPR No 22 tahun 2018 untuk bangunan gedung negara tidak sederhana. Tidak terkecuali pada Proyek ITB Innovation Park (IIP) Gedebage yang menjadi proyek percontohan dalam implementasi BIM terintegrasi. Meski begitu, dalam penerapan teknologi baru tidak jarang terdapat kendala dalam realisasinya. Analisis perlu dilakukan pada studi kasus proyek ini untuk mengidentifikasi implementasi BIM terintegrasi pada proses CCO melalui kajian literatur, telaah dokumen kontrak, wawancara dan penggalian informasi. Rencana pelaksanaan CCO berbasis BIM terintegrasi dibandingkan dengan kondisi aktual kemudian dianalisis faktor-faktor pendorong dan penghambat dalam proses adopsi penerapannya di Proyek IIP Gedebage. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keterbatasan jumlah pemilik akun CDE, gap pemodelan 3D, dan aspek legalitas menjadi isu utama yang menghambat. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan masukan kepada pihak ITB sebagai Owner proyek dalam meningkatkan implementasi BIM terintegrasi pada proses CCO.