📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 3 dokumenSTUDI KARAKTERISTIK SESAR LEMBANG BANDUNG DENGAN TEKNOLOGI GPS
Penyelidikan-penyelidikan terdahulu telah menghubungkan bahwa Sesar Lembang adalah sesar normal terjadi setelah letusan besar G. Sunda yang berlangsung pada zaman Kuarter Tua. Kemudian hasil analisis gaya berat dari hasil pengukuran beberapa penampang yang melintas Sesar Lembang, ternyata memberikan suatu interpretasi di bawah permukaan adanya bidang sebagai sesar yang mempunyai kemiringan berlawanan dengan kemiringan gawir morfologi Sesar Lembang yaitu ke arah selatan, ke arah depresi Bandung. Suatu studi dengan mengimplementasilkan teknologi GPS untuk mengamati aktifitas Sesar Lembang dilakukan pada bulan Juni dan September 2006. Kemudian hasil pengolahan data GPS dua kala dengan software Bernesse 4.2 tersebut belum dapat memberi informasi lebih jauh mengenai karakteristik Sesar Lembang sehingga memang perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.
PEMODELAN MEKANISME DEFORMASI POST - SEISMIC DARI GEMPA BENGKULU 2007
Kepulauan Sumatra merupakan salah satu daerah dengan aktivitas tektonik paling aktif di dunia. Kepulauan Sumatra berada pada sekitar pertemuan dua buah lempeng, yaitu lempeng benua Eurasia dan lempeng samudra indoaustralia (zona subduksi), sehingga di Kepulauan tersebut sering terjadi gempa. Pada tahun tanggal 12 September 2007 telah terjadi gempa besar dengan Magnitude 8.4 yang disusul dengan gempa magnitude 7.8 dan 7.1 pada keesokan harinya. Gempa tersebut telah menelan ratusan korban jiwa, merusak infrastruktur yang ada. Untuk meminimalkan dampak dari bencana alam gempa bumi, baik itu pada saat gempa maupun setelah kejadian gempa, maka dirasa perlu untuk mempelajari mekanisme dari proses kejadian gempa tersebut. Gempa bumi selalu terjadi secara berulang, diawali dengan kejadian interseismik, coseismik dan kemudian postseismik. Pada setiap tahap kejadian gempa tersebut, biasanya selalu diikuti dengan perubahan posisi yang disebut dengan proses deformasi. Teknologi GPS dapat digunakan untuk mengamati setiap tahap kejadian gempa berdasarkan perubahan posisi yang disebabkan oleh gempa tersebut. Tahapan postseismik, sebagai tahap pelepasan energi gempa dapat terus dipantau berdasarkan perubahan posisinya untuk mempelajari gempa yang terjadi secara labih detail. Dengan data yang cukup tahapan deformasi postseismik dapat dimodelkan untuk selanjutnya dapat digunakan untuk memprediksi lama dari kejadian deformasi postseismik tersebut pada area yang terkena dampak gempa. Sehingga besarnya perkiraan pergeseran pada suatu waktu dan kapan perkiraan tahapan postseismik akan berakhir untuk selanjutnya gempa mengalami perulangan kembali dapat diketahui.
ANALISIS DEFORMASI KOSEISMIK GEMPA SIMEULUE FEBRUARI 2008
Sumatra mengakomodasi tumbukan lempeng Indo-Australia yang men-subduksi lempeng Eurasia. Manifestasi dari tumbukan tersebut telah menghasilkan serangkaian gempabumi di sepanjang pantai barat Sumatra dan salah satunya adalah gempa Simeuleu yang terjadi pada bulan Februari 2008. Gempa Simeulue dengan magnitude 7.4 merupakan bagian dari rangkaian gempa yang sudah terjadi sebelumnya sehingga penting untuk dilakukan studi pemodelan gempa dari siklus gempa yang terjadi melalui pemantauan deformasi kerak bumi. Teknologi GPS yang terus berkembang menjadi salah satu metoda yang handal digunakan untuk pemantauan deformasi akibat gempa bumi. Sumatran GPS Array network (SuGAr) sebagai stasiun GPS kontinyu yang di pasang di sepanjang pulau Sumatra digunakan untuk studi deformasi akibat gempa. Studi deformasi koseismik sebagai upaya pemantauan terjadinya pergeseran pada saat gempa memberikan nilai pergeseran yang besar pada area disekitar episenter. Dalam penelitian yang dilakukan besarnya deformasi koseismik pada gempa Simeulue mengakibatkan pergeseran yang sangat signifikan pada stasiun gps SuGAr yang berada di pulau Simeulue yaitu stasiun gps LEWK bergeser kearah barat daya sebesar 8.87 cm dan stasiun gps BSIM bergeser kearah tenggara sebesar 1.87 cm dengan mekanisme gempa berupa sesar naik (Reverse fault). Gempa Simeulue tidak memberi pengaruh yang signifikan pada stasiun GPS yang berada diluar pulau Simeulue.