📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5 dokumenAPLIKASI TERRESTRIAL LASER SCANNER DALAM BIDANG KEHUTANAN (PENENTUAN 12 PARAMETER BIOMASSA)
Manajemen hutan merupakan salah satu cara untuk memanfaatkan hutan secara bijaksana. Manajemen hutan dilakukan terhadap berbagai aspek, salah satunya adalah pemantauan terhadap kompetisi intraspesifik yang merupakan salah satu faktor kunci pertumbuhan pohon di dalam hutan. Pohon dapat merespon tekanan kompetitif dari pohon tetangganya melalui pola pertumbuhan batang dan tajuk untuk menghindari kompetisi. Banyak metode pengukuran di bidang kehutanan yang digunakan untuk mengambarkan kompetisi yang terjadi di dalam hutan. Salah satu metode baru yang sedang dikembangkan dalam bidang kehutanan adalah Terrestrial Laser Scanner (TLS). Penelitian ini mengaplikasikan (TLS) untuk mengukur 12 parameter biomassa tumbuhan yang berkaitan dengan interaksi antar pohon. Parameter-parameter itu berupa parameter pada batang, parameter pada tajuk, dan parameter antar pohon Metodologi yang digunakan adalah studi literatur, membuat rencana pengukuran, melaksanakan pengambilan data, mengolah data TLS, mencari besaran parameter yang diinginkan dan melakukan validasi hasil pengukuran TLS dengan membandingkan hasil pengukuran menggunakan pita ukur. Hasil penelitian ini berupa hasil ukuran 12 parameter biomassa yang berkaitan dengan kompetisi antar pohon. Hasil pengukuran menggunakan TLS dapat dinyatakan valid, karena selisih hasil pengukuran dengan hasil pengukuran menggunakan pita ukur sebesar 1 mm – 7.73 cm. TLS dapat diaplikasikan pada bidang kehutanan dan mampu menganalisis bentuk komplek 3-Dimensi dari pohon, terutama plastisitas pertumbuhan dari tajuk pohon, sehingga dapat digunakan untuk memprediksi kompetisi yang terjadi. Namun pengukuran menggunakan TLS mempunyai kendala pada daerah dengan intensitas hembusan angin yang sering karena dapat membuat bentuk objek menjadi tidak konsisten.
PEMODELAN 3D MONUMEN PERJUANGAN RAKYAT JAWA BARAT MENGGUNAKAN TERRESTRIAL LASER SCANNER
Pemodelan 3D untuk proses pendokumentasian dan pengarsipan suatu bangunan bersejarah pada umumnya menggunakan teknik pemodelan terbalik. Dengan berkembangnya teknologi TLS (Terrestrial Laser Scanner), teknik pemodelan terbalik ini menjadi lebih mudah, cepat, dan akurat. Selain memberikan hasil model 3D suatu obyek, pemodelan 3D menggunakan TLS juga menghasilkan model yang sudah bergeoreferensi dalam sistem tertentu. Pada tugas akhir kali ini obyek yang dipilih adalah Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Metode pengambilan data yang digunakan adalah pemindaian dengan menggunakan TLS serta pengukuran GPS untuk mendapatkan koordinat titik referensi. Metode pengolahan data yang dipakai meliputi tahapan-tahapan, yaitu registrasi, filtrasi, georeferensi, meshing point cloud, pembentukan surface, penggambaran, dan pembuatan video model 3D yang dihasilkan. Pada model 3D dihasilkan nilai galat rata-rata sebesar 0.003 m. Nilai galat disebabkan karena pengaruh proses pendataran nivo pada laser scanner dan target yang digunakan. Hal ini disebabkan karena posisi nivo pada proses pendataran laser scanner dan target berbeda tiap station-nya. Hasil pembandingan antara model 3D yang dihasilkan dan obyek sesungguhnya menunjukkan perbedaan tinggi dan jarak rata-rata 1.5 cm.
PEMODELAN 3D MENGGUNAKAN TEKNOLOGI TERRESTRIAL LASER SCANNER (OBJEK STUDI: MASJID AL IRSYAD KOTA BARU PARAHYANGAN)
Seiring berjalannya waktu, pembuatan model 3D suatu bangunan saat ini telah berkembang pesat. Salah satu cara untuk mendukung pembuatan model 3D yaitu dengan menggunakan teknologi TLS (Terrestrial Laser Scanner). TLS dapat dimanfaatkan diberbagai bidang, diantaranya: pemetaan, arsitektur, cagar budaya, industri, konstruksi, pertambangan, kepolisian, dan rekayasa balik. Melalui kegiatan penyusunan Tugas Akhir akan dibuatkan model bangunan 3D berupa bangunan masjid. Tujuan dari penulisan Tugas Akhir ini yaitu menghasilkan model 3D Masjid Al-Irsyad Kota Baru Parahyangan menggunakan teknologi TLS beserta data ukuran bangunan.Proses pengolahan data untuk memperoleh model 3D dengan TLS meliputi tahapan registrasi, filterisasi, meshing dan pembentukan surface. Pemodelan ini menggunakan koordinat lokal sebagai acuannya. Dalam pembuatan surface dilakukan mesh model dengan mengubah bentuk TIN (Triangulated Irregular Network) menjadi bentuk surface. Hasil akhir penelitian ini berupa model 3D dari bangunan masjid beserta data ukuran. Dari hasil pengolahan data, diperoleh kesimpulan bahwa melalui survei dan pemetaan menggunakan TLS dapat menghasilkan model 3D beserta ukuran jarak dari bangunan, tetapi bentuk pada dinding masjid masih kurang sempurna akibat dari kurang rapatnya point clouds pada daerah tersebut. Model 3D bangunan masjid memiliki nilai galat rata-rata sebesar 0.002 m. Nilai galat ini dihasilkan setelah melalui proses registrasi. Pemodelan pada Tugas Akhir ini dapat digunakan untuk pendokumentasian, pengarsipan dan dapat dijadikan referensi untuk proses rekonstruksi bangunan masjid.
PEMANTAUAN LONGSORAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI TERRESTRIAL LASER SCANNER DAN GLOBAL POSITIONING SYSTEM (DAERAH STUDI : CILOTO, JAWA BARAT)
Fenomena longsor, khususnya pada area Ciloto, Jawa Barat sebelumnya telah dipantau menggunakan metode geodetik seperti pengamatan Global Positioning System. Metode ini digunakan dengan pengamatan pergerakan titik kontrol secara 3D dalam domain waktu yang linier. Namun metode ini belum dapat menghasilkan model area secara visual dalam 3D yang dapat diekstraksi informasi geometriknya. Pemanfaatan teknologi Terrestrial Laser Scanner memungkinkan tercapainya hal tersebut. Metodologi penelitian yang digunakan adalah studi literatur, membuat perencanaan pengukuran, melaksanakan pengambilan data, dan pengolahan data untuk memperoleh model 3D zona longsor dari dua kala pengukuran, yaitu pada bulan April 2013 dan September 2013. Dari hasil penelitian ini didapatkan dua model 3D yang berdasarkan hasil analisis terjadi pergerakan tanah rata-rata sebesar 4.9 mm dalam jangka waktu lima bulan. Didapatkan juga data pengamatan posisi dan pergerakan titik pantau hasil pengukuran Global Positioning System sebagai pembanding. Data GPS yang diperoleh pada penelitian ini masih belum optimal untuk digunakan dalam validasi data dikarenakan durasi pengamatan GPS yang belum optimal. Hasil pemodelan 3D dari pengukuran Terrestrial Laser Scanner dapat diaplikasikan untuk pemetaan dan pemantauan deformasi area longsor Ciloto, Jawa Barat. Namun demikian pemodelan tersebut masih memiliki galat akibat berbagai faktor. Hal ini disebabkan oleh faktor kesalahan dari alat, lingkungan, obyek yang dipindai dan kesalahan metodologis pada pengambilan data kala pertama dan kedua. Penelitian ini juga memberikan kelebihan dan kekurangan pemanfaatan teknologi Terresttrial Laser Scanner dibandingkan dengan teknologi Global Positioning System dalam aplikasi pemantauan longsoran.
PEMANTAUAN LONGSORAN DI KAWASAN CILOTO (CIANJUR) MENGGUNAKAN TEKNOLOGI TERRESTRIAL LASER SCANNER
Fenomena longsor merupakan hal yang sering terjadi di Jawa Barat. Salah satu tempat yang paling sering mengalami longsor adalah di daerah Ciloto, Puncak. Diawali pada tahun 1988, kejadian longsor Ciloto mengakibatkan penurunan permukaan jalan yang diikuti dengan pergerakan tanah hingga lebih dari 1,5 meter dan terus diikuti dengan longsor yang berakhir di sungai Cijember (Sadarviana, 2006). Maka dari itu, selain untuk mengetahui besarnya longsoran yang terjadi, penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui manfaat apa saja yang didapat dalam memantau longsoran menggunakan TLS Inti dari pengamatan deformasi dan longsoran dalam bidang geodesi adalah menghitung pergeseran atau perpindahan titik atau objek yang diamati. Oleh karena itu, pengamatan longsor dengan menggunakan teknologi laser scanner harus ada dua data pengamatan yang diambil dalam rentang waktu tertentu agar dapat ditentukan nilai longsorannya. Setelah keduanya melalui proses registrasi, filtering, dan modeling, kita dapat membandingkannya dan mendapatkan nilai pergerakan tanah yang terjadi. Hasil yang didapat, dalam selang 6 bulan (April 2012- Oktober 2012), daerah Ciloto mengalami pergeseran tanah rata-rata sebesar 4mm dan pergeseran tanah maksimum 13mm. Hal ini menunjukan daerah Ciloto masih mengalami longsor sampai saat ini. Dari hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa melakukan pemantauan dengan menggunakan terrestrial laser scanner memberikan beberapa manfaat, antara lain pemantauan dapat dilakukan dalam waktu yang relatif singkat dan hasil yang diperoleh dapat merepresentasikan pergerakan longsor yang terjadi.