📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4 dokumenPEMODELAN 3D KAWAH GUNUNG TALAGA BODAS DENGAN MEMANFAATKAN TEKNOLOGI TLS (TERRESTRIAL LASER SCANNER)
Kawah merupakan objek topografi yang terdapat pada setiap gunung api. Pemetaan dan pemodelan kawah sangat diperlukan dalam proses mitigasi bencana yang terkait dengan aktivitas gunung api seperti bencana erupsi. Pemetaan dan pemodelan tersebut masih kurang dilaksanakan pada saat sekarang karena keterbatasan waktu dan peralatan. Dalam pemodelan permukaan kawah secara cepat dan teliti, banyak cara dan peralatan yang dapat digunakan, salah satunya dengan pemanfaatan teknologi Terrestrial Laser Scanner (TLS). TLS memiliki kemampuan memodelkan objek secara 3D dengan tingkat ketelitian yang tinggi sehingga penggunaan teknologi ini akan menjadi solusi dalam pemodelan kawah secara cepat dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pemanfaatan TLS dalam pemodelan kawah secara 3D dan mengetahui pengaruh kondisi permukaan kawah terhadap data pengukuran TLS. Pemodelan kawah Gunung Talaga Bodas dilakukan dengan cara melakukan pemindaian dengan menggunakan peralatan TLS. Survei dilakukan dengan delapan station pemindaian TLS, sehingga permukaan kawah yang ingin dimodelkan dapat terpindai secara keseluruhan. Pengolahan data dilakukan dengan tahap yaitu registrasi data pemindaian dari delapan station pemindaian sehingga menjadi satu kesatuan. Selanjutnya dilakukan proses filtering, georeferencing, dan pemodelan kawah secara 3D dan didapatkan puncak tertinggi kawah sebesar 65.522 m, diameter kawah dengan panjang 467.231 m, dan luas area 2961054.652 m2. Dalam penelitian ini, juga dibahas tentang pengaruh kondisi lingkungan kawah terhadap data pengukuran TLS. Data yang digunakan adalah data pengukuran jarak dengan TLS, data suhu, dan data kelembaban udara. Hasil yang didapat adalah model 3D dari kawah Gunung Talaga Bodas. Pada pengolahan data pengaruh kondisi lingkungan, diperoleh bahwa kondisi lingkungan tidak berpengaruh secara signifikan untuk pengukuran jarak dekat. Kesimpulan ini didapat karena galat jarak yang dihasilkan sebesar 2 mm, dan masih berada pada rentang akurasi TLS, yaitu 4 mm untuk pengukuran tunggal dengan jarak 50 meter.
PEMODELAN 3D MASJID DAARUT TAUHID BANDUNG MENGGUNAKAN TERRESTRIAL LASER SCANNER
Masjid Daarut Tauhid Bandung yang baru saja selesai di renovasi pada tahun 2015 mengalami peningkatan dari segi bentuk bangunannya, arsitektur yang ada, dan konsep ramah lingkungan. Peningkatan-peningkatan tersebut membuat Masjid Daarut Tauhid Bandung yang baru sangat nyaman. Peningkatan ini harus dapat dipertahankan sehingga diperlukan sebuah model 3D dari bentuk masjid ini yang bisa menunjukan bentuk bangunan dan objek yang ada di dalamnya. Model ini dapat digunakan sebagai acuan saat dilakukan pemeliharaan bangunan atau saat ada rekonstruksi apabila terjadi kerusakan misalkan akibat adanya bencana alam. Model 3D tersebut dapat dihasilkan dengan menggunakan teknologi Terrestrial Laser Scanner (TLS). Tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah membuat model 3D Masjid Daarut Tauhid Bandung dan mengetahui validitas pengukuran TLS yang dihasilkan. Proses yang dilalui untuk menghasilkan model 3D dari teknologi TLS ini meliputi tahapan perencanaan, akuisisi data, serta pengolahan dan penyajian data. Proses pengolahan data sendiri melalui tahapan georeferensi dengan metode georeferensi langsung, registrasi dengan metode cloud to cloud registration dan filterisasi, serta pembuatan model 3D menggunakan metode manual. Hasil akhir dari pembuatan model ini disajikan dalam bentuk video yang menampilkan keseluruhan bagian dari model 3D yang dihasilkan. Model 3D yang dihasilkan masih memiliki kekurangan yaitu kaligrafi pada bagian luar masjid tidak merepresentasikan bentuk kaligrafi yang sebenarnya, beberapa bagian dari masjid memiliki reflektivitas yang kecil tak bisa didapatkan oleh TLS, dan ada bagian dari atap masjid yang tidak tertangkap oleh TLS akibat posisinya yang terlalu tinggi . Begitu juga dengan proses registrasi yang memiliki RMS 0.010 m. Hasil dari validasi geometrik juga menghasilkan nilai perbedaan maksimal ukuran jarak antara TLS dengan distometer atau pita ukur adalah 0.016 m dengan rata- rata ±0.005 m.
PEMODELAN 3D MONUMEN BANDUNG LAUTAN API MENGGUNAKAN TERRESTRIAL LASER SCANNER
Pada umumnya proses pendokumentasian dan pengarsipan suatu bangunan yang memiliki nilai sejarah dan kebudayaan masih berupa foto atau peta yang tergambarkan secara 2D. Dengan berkembangnya teknologi TLS (Terrestrial Laser Scanner) mengakibatkan aplikasi pembuatan model 3D suatu bangunan berkembang pesat. Hal ini diikuti dengan pemanfaatan TLS dalam hal pendokumentasian dan pengarsipan bangunan yang memiliki nilai sejarah dan kebudayaan. Selain memberikan model 3D suatu obyek, pemodelan 3D menggunakan TLS juga dapat menghasilkan model yang bergeoreferensi dalam sistem tertentu. Tahapan pengolahan data untuk memperoleh model 3D dengan TLS meliputi tahapan registrasi, filterisasi, georeferensi, meshing dan pembentukan surface. Tahap registrasi dilakukan untuk menggabungkan data hasil pemindaian dari beberapa tempat berdiri alat. Tahap filterisasi dilakukan untuk membuang data point clouds yang dianggap sebagai noise. Tahap georeferensi dilakukan untuk menghubungkan data point clouds ke dalam sistem koordinat ekstenal. Proses meshing dilakukan agar model space yang berupa point clouds menjadi data berupa poligon yang diwakili oleh bentuk TIN (Triangulated Irregular Network). Tahap pembuatan surface dilakukan untuk merubah mesh model yang diwakili oleh bentuk TIN menjadi bentuk surface. Pada model 3D yang dihasilkan nilai galat rata-rata sebesar 0.002 m. Nilai galat ini dihasilkan setelah melalaui proses registrasi. Pada mesh model yang terbentuk pada proses meshing terdapat lubang (hole). Lubang ini diakibatkan karena kurang rapatnya data point clouds pada daerah tersebut. Pada proses georeferensi yang dilakukan dengan metode secara langsung yang menggunakan dua buah titik referensi, terdapat perbedaan koordinat tititk referensi pada saat sebelum dan setelah proses georeferensi.
PENGARUH PERBEDAAN JUMLAH GCP PADA PENGUKURAN VOLUME STOCKPILE MENGGUNAKAN FIXED-WING UAV (WINGTRA) STUDI KASUS: STOCKPILE GREENBELT 2 BANKO BARAT
Kerja praktik di PT Bukit Asam Tbk bertujuan untuk menerapkan ilmu dan keterampilan dari kegiatan di perkuliahan dalam pengukuran volume stockpile batu bara menggunakan teknologi Terrestrial Laser Scanner (TLS) dan Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Lokasi kerja praktik ada pada Satuan Kerja Pemetaan dengan akuisisi data di stockpile Greenbelt 2, Banko Barat, Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Dalam kegiatan ini, jumlah Ground Control Point (GCP) divariasikan (5, 6, dan 9 GCP) untuk mengevaluasi pengaruhnya terhadap akurasi pengukuran volume menggunakan UAV. Data foto udara yang diperoleh dari UAV diolah menjadi Dense Cloud dan Digital Terrain Model (DTM) untuk menghitung volume, dengan hasil dari TLS dijadikan sebagai data referensi. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa jumlah GCP yang lebih banyak cenderung menghasilkan volume yang lebih akurat, mendekati hasil perhitungan menggunakan data TLS. Pada pemakaian 9 GCP, selisih volume yang diperoleh dengan data TLS sebesar 571.051 m³ dengan perbedaan sebesar 2,957%, yang merupakan selisih terkecil dibandingkan dengan pemakaian 5 dan 6 GCP. Selisih ini menunjukkan bahwa dengan meningkatnya jumlah GCP, akurasi perhitungan volume meningkat. Walau begitu, setiap jumlah GCP yang diuji tetap memberikan hasil dengan selisih volume yang berada di atas toleransi standar ASTM D6172- 98 sebesar 2%. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun penggunaan UAV memberikan hasil yang mendekati data referensi, tetap ada batasan akurasi yang dipengaruhi oleh jumlah dan konfigurasi GCP yang digunakan, serta pengolahan yang dilakukan. Penggunaan UAV juga lebih efisien dalam waktu dan tenaga kerja, namun membutuhkan perencanaan matang dalam hal teknis seperti penempatan GCP dan pemrosessan data yang lebih baik untuk mencapai akurasi setara TLS. Selain itu, visualisasi profil memanjang dan melintang yang dihasilkan dari DTM menunjukkan adanya perbedaan kecil namun signifikan pada ketinggian yang mempengaruhi hasil akhir perhitungan volume. Anomali juga ditemukan pada area yang terdapat obstruksi seperti alat berat (excavator) yang dapat mengganggu proses akuisisi data. Kesimpulan yang diperoleh dari kegiatan ini adalah bahwa penggunaan UAV dalam pengukuran volume stockpile dapat menjadi alternatif yang efisien dan fleksibel dibandingkan dengan TLS, namun akurasi hasil sangat bergantung pada penempatan dan jumlah GCP. Oleh karena itu, untuk mencapai hasil yang optimal, perlu dilakukan perencanaan yang matang dari tahap akuisisi data, pengolahan data, hingga penyajian data.