📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 10 dokumenINTEGRASI DATA WGM DAN MEKANISME FOKUS UNTUK IDENTIFIKASI SESAR AKTIF ZONA TEKTONIK TELUK TOMINI
Teluk Tomini merupakan bagian dari sistem tektonik kompleks di Indonesia Timur yang dipengaruhi oleh interaksi blok mikro Sulawesi dan sistem subduksi ganda Laut Maluku. Studi terkini menunjukkan bahwa wilayah ini dikontrol oleh deformasi kerak dangkal dan proses penunjaman slab dalam, namun integrasi antara data gravitasi dan parameter kinematik gempa untuk delineasi struktur aktif masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan mengkarakterisasi struktur sesar aktif di Teluk Tomini melalui integrasi analisis anomali gravitasi dan inversi moment tensor, serta mengestimasi potensi magnitudo maksimum berdasarkan segmentasi sesar. Metode yang digunakan meliputi pemisahan anomali regional dan residual menggunakan analisis spektral radial, ekstraksi lineament melalui Total Horizontal Gradient (THG) dan Fast Sigmoid Edge Detection (FSED), analisis statistik orientasi menggunakan diagram rose, serta interpretasi parameter strike, dip, dan rake dari data inversi moment tensor. Estimasi magnitudo maksimum dilakukan menggunakan persamaan empiris berbasis panjang rupture bawah permukaan (RLD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode gravitasi efektif dalam mengidentifikasi batas struktur dan orientasi sesar pada zona kerak dangkal (Poso, Tinombo, Gorontalo, dan Luwuk), sedangkan pada zona timur (Una-una, Sangihe I, dan Sangihe II) pola residual kurang merepresentasikan struktur akibat dominasi gempa kedalaman menengah hingga dalam. Pada zona tersebut, tren anomali regional lebih konsisten dengan arah strike moment tensor, mengindikasikan kontrol kuat sistem Subduksi Sangihe yang menunjam dari timur ke barat. Estimasi magnitudo maksimum menunjukkan potensi kegempaan berkisar Mw 6,3–7,2. Secara keseluruhan, integrasi data gravitasi dan moment tensor mampu mengidentifikasi struktur aktif secara komprehensif dan mengonfirmasi Teluk Tomini sebagai zona tektonik aktif dan kompleks dengan sumber gempa multipel, baik dari sesar kerak dangkal maupun sistem subduksi regional.
STRUKTUR TERMAL REGIONAL PULAU JAWA (INDONESIA) DARI ESTIMASI KEDALAMAN TITIK CURIE BERDASARKAN ANALISIS SPEKTRAL DATA MAGNETIK MENGGUNAKAN METODE IRLS DE-FRACTAL
Pulau Jawa terbentuk di atas zona subduksi antara Lempeng Benua Eurasia dan Lempeng Samudra Indo-Australia. Interaksi antar lempeng ini membentuk busur vulkanik di sepanjang Pulau Jawa, sehingga wilayah ini dikenal dengan potensi geotermal yang signifikan di Indonesia. Kajian struktur termal kerak melalui estimasi kedalaman titik Curie atau Curie Point Depth (CPD) sangat penting untuk memahami geodinamika regional, khususnya keterkaitan antara tektonisme, vulkanisme, dan distribusi geotermal. CPD berperan sebagai parameter proksi dalam pemetaan distribusi gradien geotermal dan aliran panas, yang merupakan komponen utama dari parameter geotermal. Penelitian ini menerapkan sebuah pendekatan baru, yaitu Metode IRLS de-fractal, yang menggabungkan metode Iteratively Reweighted Least Squares (IRLS) dan pendekatan de-fractal yang dimodifikasi, untuk memperkirakan CPD secara lebih robust dan mengurangi pengaruh outlier. Analisis menggunakan data anomali magnetik WDMAM dengan cakupan regional, yang dibagi ke dalam 33 blok berukuran 184 km × 184 km dengan 50% overlap, serta menerapkan teknik reduction-to-the-pole (RTP) pada setiap blok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai CPD di Pulau Jawa berkisar antara 14,21 23,41 km, gradien geotermal antara 23,69-39,03 °C/km, dan aliran panas antara 75,21-143,82 mW/m². CPD dangkal, umumnya berkorelasi dengan gradien geotermal dan aliran panas yang tinggi, teridentifikasi di sepanjang sabuk vulkanik Kuarter di Zona Barat dan Zona Timur Pulau Jawa. Anomali termal di Zona Barat diindikasikan berkaitan dengan pengaruh geometri lempeng dan mekanisme perpindahan panas yang dikontrol oleh struktur patahan, sedangkan di Zona Timur lebih dipengaruhi oleh intrusi magmatik dan aktivitas vulkanik yang intens. Secara keseluruhan, hasil ini mengindikasikan peran penting proses tektonik dan magmatik litosfer dalam mengontrol pola struktur termal regional Pulau Jawa, yang secara spasial berasosiasi dengan keberadaan sumber-sumber geotermal di wilayah tersebut.
PENILAIAN KUANTITATIF TEKTONIK BERDASARKAN KARAKTERISTIK MORFOMETRI DAN RESPON GEOMORFIK VULKANIK-TEKTONIK DAS CIMANUK, JAWA BARAT
DAS Cimanuk di Jawa Barat, Indonesia, merupakan wilayah morfotektonik yang kompleks yang dipengaruhi oleh interaksi antara vulkanisme aktif di selatan dan struktur geologi di utara. Memahami variasi spasial aktivitas tektonik di lingkungan vulkanik-tektonik ini sangat penting untuk merekonstruksi evolusi geomorfik wilayah tersebut dan menilai bahaya tektonik aktif. Evaluasi tektonik aktif dilakukan pada drainase yang diturunkan dari DEM dan indeks geomorfik dengan total 69 Sub-DAS. Studi ini bertujuan untuk mengukur aktivitas tektonik relatif di DAS Cimanuk dengan mengintegrasikan beberapa indeks geomorfik: Hipsometri Integral (HI), Indeks Gradien Panjang Aliran (SL), Rasio Lebar Dasar Lembah terhadap Tinggi Lembah (Vf), Indeks Bentuk Daerah Aliran Sungai (Bs), dan Faktor Asimetri (Af) menjadi Indeks Aktivitas Tektonik Relatif (IATR) komposit. Rata-rata dari lima indeks geomorfik yang diukur digunakan untuk mengevaluasi distribusi aktivitas tektonik relatif di wilayah studi. Empat kelas digunakan untuk mengklasifikasikan tingkat aktivitas tektonik relatif, yaitu kelas 1 dengan nilai 1,60–1,95 aktivitas tektonik sangat tinggi; kelas 2 dengan 1,96–2,30 aktivitas tektonik tinggi; kelas 3 dengan 2,31–2,65 aktivitas tektonik sedang; serta kelas 4 dengan 2,66–3,00 aktivitas tektonik rendah. Hubungan antara nilai Indeks Aktivitas Tektonik Relatif (IATR) dan indeks geomorfik menunjukkan perbedaan respon geomorfologi yang jelas antara domain tektonik dan vulkanik di DAS Cimanuk. Domain tektonik dicirikan oleh kombinasi nilai SL tinggi, Vf rendah, Bs memanjang, dan Af tinggi yang merefleksikan pengangkatan diferensial serta pengaruh struktur terhadap sistem aliran sungai, sedangkan domain vulkanik menunjukkan nilai IATR yang lebih rendah akibat dominasi proses vulkanik, seperti pola drainase radial dan litologi piroklastik muda. Hasil ini menegaskan bahwa interpretasi IATR perlu mempertimbangkan mekanisme geomorfik yang berbeda antara proses tektonik dan vulkanik yang bekerja secara bersamaan. Integrasi data morfometri dan geologi menegaskan bahwa DAS Cimanuk merupakan bentang alam yang mengalami deformasi aktif, dibentuk oleh vulkanik dan tektonik kompresional regional. Hasil pada area vulkanik memiliki hasil yang bias, dan perlu untuk konfirmasi secara cek lapangan atau analisis dari parameter lain.
ANALISIS SPASIAL DEFORMASI TEKTONIK DI PULAU SUMATERA MENGGUNAKAN METODE INTERPOLASI MOVING AVERAGE
Pulau Sumatera berada pada pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Kedua lempeng tersebut bertabrakan di sepanjang lepas pantai Sumatera dimana lempeng Indo-Australia bergerak ke bawah lempeng Eurasia. Tumbukan tersebut menghasilkan energi dan tersimpan dalam lapisan bumi hingga mencapai batas elastisitas. Regangan yang telah melewati batas akan dilepas sebagai gempa bumi. Pemantauan deformasi Pulau Sumatera dilakukan untuk mempelajari karakteristik pergeseran dan aktivitas tektonik yang terjadi. Data vektor pergeseran hanya tersedia pada beberapa titik pengamatan. Interpolasi moving average digunakan untuk mengestimasi besarnya vektor pergeseran yang terjadi di seluruh Pulau Sumatera. Vektor pergeseran pada titik interpolasi kemudian digunakan untuk menghitung besarnya regangan yang terjadi. Model vektor pergeseran Pulau Sumatera yang dibentuk berdasarkan interpolasi menunjukkan adanya aktivitas interseismic yang ditandai dengan arah pergeseran ke timur laut dan postseismic dengan arah pergeseran ke barat daya.
PENENTUAN LAJU GESER DAN KEDALAMAN KUNCIAN (LOCKING DEPTH) SESAR PALU-KORO BERDASARKAN DATA GPS
Pulau Sulawesi yang memiliki daerah patahan terbanyak di wilayah timur Indonesia sarat dengan aktivitas tektonik. Hal itu karena pulau Sulawesi merupakan bagian dari wilayah Indonesia Timur yang berada pada kawasan pusat pertemuan tiga (3) lempeng tektonik yaitu lempeng Hindia-Australia, lempeng Pasifik dan lempeng Eurasia. Hasil dari aktivitas tektonik yang terjadi yaitu terbentuknya sesar yang tersebar di wilayah pulau Sulawesi, salah satunya sesar yang cukup aktif yaitu sesar Palu – Koro yang berada di wilayah Sulawesi Tengah.Sesar Palu-Koro sebagai salah satu bagian dari studi geodinamika dapat diamati pergerakannya secara teliti dengan menggunakan GPS (Global Positoning System). Berdasarkan data pengamatan GPS pada tahun 2005, 2006, dan 2007, titik-titik pengamatan GPS yang tersebar di sekitar sesar mengalami pergerakan horizontal yang berkisar antara 10 – 30 mm/tahun. Hasil vektor pergerakan sesar juga memperlihatkan bahwa sesar Palu-Koro ini termasuk kedalam jenis sesar geser mengiri (Left-lateral-strike-slip fault).Analisis deformasi dalam Tugas Akhir ini bertujuan untuk mengindikasi pola pergerakan deformasi sesar, serta menghitung laju geser (slip rate) maupun kedalaman bidang sesar yang terkunci (locking depth). Berdasarkan penghitungan, sesar Palu-Koro memiliki laju geser sebesar 32-36 mm/tahun yang terkunci pada kedalaman 5-6 km. Analisis deformasi ini bermanfaat untuk memprediksi kekuatan gempa bumi yang terjadi di sekitar sesar dalam jangka waktu yang panjang.
IDENTIFIKASI SUBAQUEOUS STRUCTURE DI AREA DANAU RANAU DENGAN MENGINTEGRASIKAN DATA BATIMETRI DAN SATELLITE GRAVITY & IMPLIKASINYA PADA ZONA PERMEABILITAS GEOTERMAL
Danau Ranau merupakan salah satu danau tektonik–vulkanik terbesar di Sumatra Selatan yang terbentuk akibat aktivitas tektonik Sesar Besar Sumatra yang memiliki arah umum NW - SE dan proses vulkanisme. Kompleksitas struktur geologi bawah permukaan di area ini berperan penting dalam memahami evolusi tektonik, potensi bahaya geologi, serta zona permeabilitas pada sistem panas bumi. Model konseptual dari interpretasi survey 3G di area daratan oleh penelitian sebelumnya, menunjukan adanya tren struktur yang diinterpretasikan sebagai jalur permeabilitas mengikuti arah dari struktur yang ada yaitu NW-SE. Namun kurangnya data di area danau membuat interpretasi struktur bawah air masih dapat dipertanyakan. Penelitian ini mengintegrasikan data survei batimetri dengan data satellite gravity untuk menggambarkan adanya zona tambahan/sesar tambahan yang dapat menjadi subaqueous structure di area Danau Ranau. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi subaqueous structure di Danau Ranau melalui integrasi data batimetri dan data gravitasi satelit. Analisis batimetri dilakukan untuk mengungkap morfologi dasar danau, kelurusan, serta indikasi pola rekahan yang terekam pada kontur isobath. Sementara itu, data gravitasi satelit diolah dengan metode First Horizontal Derivative (FHD) untuk menonjolkan batas-batas kontras densitas batuan yang diasosiasikan dengan keberadaan sesar bawah air danau. Hasil integrasi menunjukkan bahwa pola kelurusan batimetri memiliki kesesuaian dengan zona gradien tinggi pada anomali gravitasi, yang mengindikasikan adanya jaringan sesar utama berarah barat laut –tenggara dan timur laut – barat daya. Temuan ini memberikan pemahaman baru mengenai konfigurasi struktur bawah permukaan Danau Ranau serta implikasinya terhadap sistem panas bumi dan dinamika tektonik di kawasan tersebut.Danau Ranau merupakan salah satu danau tektonik–vulkanik terbesar di Sumatra Selatan yang terbentuk akibat aktivitas tektonik Sesar Besar Sumatra yang memiliki arah umum NW - SE dan proses vulkanisme. Kompleksitas struktur geologi bawah permukaan di area ini berperan penting dalam memahami evolusi tektonik, potensi bahaya geologi, serta zona permeabilitas pada sistem panas bumi. Model konseptual dari interpretasi survey 3G di area daratan oleh penelitian sebelumnya, menunjukan adanya tren struktur yang diinterpretasikan sebagai jalur permeabilitas mengikuti arah dari struktur yang ada yaitu NW-SE. Namun kurangnya data di area danau membuat interpretasi struktur bawah air masih dapat dipertanyakan. Penelitian ini mengintegrasikan data survei batimetri dengan data satellite gravity untuk menggambarkan adanya zona tambahan/sesar tambahan yang dapat menjadi subaqueous structure di area Danau Ranau. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi subaqueous structure di Danau Ranau melalui integrasi data batimetri dan data gravitasi satelit. Analisis batimetri dilakukan untuk mengungkap morfologi dasar danau, kelurusan, serta indikasi pola rekahan yang terekam pada kontur isobath. Sementara itu, data gravitasi satelit diolah dengan metode First Horizontal Derivative (FHD) untuk menonjolkan batas-batas kontras densitas batuan yang diasosiasikan dengan keberadaan sesar bawah air danau. Hasil integrasi menunjukkan bahwa pola kelurusan batimetri memiliki kesesuaian dengan zona gradien tinggi pada anomali gravitasi, yang mengindikasikan adanya jaringan sesar utama berarah barat laut –tenggara dan timur laut – barat daya. Temuan ini memberikan pemahaman baru mengenai konfigurasi struktur bawah permukaan Danau Ranau serta implikasinya terhadap sistem panas bumi dan dinamika tektonik di kawasan tersebut.
STUDI GEOLOGI DAN KONTROL KEMUNCULAN MATA AIR DINGIN DAN HANGAT DI DAERAH SIULAK, KABUPATEN KERINCI, PROVINSI JAMBI
Daerah Siulak, Kabupaten Kerinci memiliki mata air dingin dan hangat yang dimanfaatkan langsung oleh masyarakat sebagai kebutuhan sehari-hari maupun pariwisata. Maka perlu dilakukan penelitian untuk memahami sistem geologi dan hidrogeologi yang mengontrol kemunculan mata air dingin dan hangat, mengingat adanya aktivitas vulkanik dan tektonik di daerah Siulak. Studi ini mengintegrasikan analisis penginderaan jauh, pemetaan geologi lapangan, dan analisis laboratorium untuk mengidentifikasi kondisi geologi sebagai dasar konservasi sumber daya air. Hasil pemetaan menunjukkan wilayah penelitian tersusun atas 6 satuan geomorfologi dan 8 satuan batuan tidak resmi. Selain itu, teridentifikasi empat struktur sesar utama, termasuk Sesar Menganan Siulak dan Sesar Normal Siulak Deras, yang secara fundamental membentuk kerangka tektonik regional. Faktor pengontrol keluaran mata air di lapangan dapat diklasifikasikan menjadi tiga tipe, yaitu depresi topografi, rekahan, dan sesar. Analisis isotop stabil berhasil mengidentifikasi zona resapan air pada elevasi antara 1200 hingga 1350 meter, yang dicirikan oleh litologi piroklastik dan kemiringan lereng landai, sementara zona luahan berada di elevasi lebih rendah pada endapan aluvial. Mata air hangat memiliki kandungan ion terlarut yang lebih tinggi (Total Dissolved Solids >1000 ppm) dibandingkan mata air dingin (Total Dissolved Solids <100 ppm), yang mengindikasikan interaksi yang lebih lama dan dalam dengan batuan panas di bawah permukaan. Mata air dingin menunjukkan aliran lokal sampai intermediet tanpa kontaminasi termal, sedangkan mata air hangat mencerminkan aliran regional yang muncul melalui bidang sesar akibat pengaruh sisa aktivitas vulkanik daerah sekitarnya.
ANALISIS SHEAR WAVE SPLITTING UNTUK IDENTIFIKASI ARAH POLARISASI (SFAST) DAN WAKTU TUNDA AFTERSHOCK GEMPA CIANJUR 2022
Pada tanggal 21 November 2022, gempa bumi dangkal dengan magnitudo 5,6 mengguncang Cianjur, Jawa Barat. Gempa ini menyebabkan 602 orang meninggal, 7.810 luka-luka, 8 orang hilang, dan merusak 56.278 bangunan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gempa ini disebabkan oleh aktivitas sepanjang garis patahan yang baru diidentifikasi sebagai sesar konjugat. Analisis shear wave splitting (SWS) merupakan salah satu pendekatan untuk mengetahui kondisi anisotropi seismik di bawah permukaan bumi. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan salah satu metode analisis SWS yaitu metode eigenvalue yang mampu mengidentifikasi parameter SWS berupa arah polarisasi (Sfast) dan waktu tunda. Kedua parameter ini dapat mengeksplorasi distribusi spasial dan variasi medan tegangan regional serta mengungkapkan struktur tektonik regional. Data yang digunakan merupakan 514 data aftershock yang direkam oleh 19 unit seismometer pada daerah gempa Cianjur 2022 dengan jumlah total rekaman yang diperoleh dalam rentang waktu satu bulan (22 November – 22 Desember 2022) adalah 3419 waktu kedatangan gelombang geser untuk seluruh stasiun. Parameter SWS yang diperoleh dari pengolahan data menggunakan algoritma library open-source software Pytheas. Hasil penelitian menunjukkan arah polarisasi rata-rata gelombang geser cepat di area penelitian adalah 81° ± 7.3°, dengan dominasi orientasi WSW – ENE. Nilai rata-rata waktu tunda yang relatif tinggi sebesar 0.052 s/km juga menunjukkan medium anisotropi yang dilalui oleh gelombang geser di wilayah ini cukup kompleks.
PEMODELAN STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN KAMCHATKA MONOGENETIC VOLCANIC FIELD (KMVF) MENGGUNAKAN DATA GRAVITASI DAN MAGNETIK
Gunung api monogenetik merupakan tipe gunung api yang unik, ditandai dengan volume erupsi kecil dan sejarah erupsi singkat. Daerah Kamchatka memiliki Monogenetic Volcanic Field (MVF) yang terdistribusi di sekitar kawasan Klyuchevskaya Volcanic Group (KVG). Di Daerah Kamchatka terjadi interaksi antar Lempeng Pasifik dan Lempeng Eurasia yang memicu aktivitas tektonik dan vulkanik yang signifikan. Penelitian ini berfokus pada fenomena penipisan kerak yang menunjukkan pembentukan MVF, di mana magma dari mantel bumi naik secara sporadis hingga menembus permukaan. Untuk menggambarkan pemodelan bawah permukaan, penulis menggunakan data satelit gravitasi GGMPlus dan magnetik EMAG2. Proses pengolahan data melibatkan koreksi Bouguer dan koreksi terrain pada data gravitasi disturbance untuk menghasilkan Anomali Bouguer Lengkap (CBA), serta reduksi ke kutub pada data magnetik untuk menghilangkan pengaruh medan magnet bumi. Hasil analisis menunjukkan bahwa densitas dan suseptibilitas mantel bumi masing – masing adalah 2,99 – 3,4 gr/cc dan 0,000001 - 0,0055 cgs, sementara untuk kerak bumi adalah 2,72 – 2,76 gr/cc dan 0,000004 – 0,060355 cgs. Pemodelan 2D memperlihatkan keberadaan dapur magma, aliran magma, serta variasi batas Moho antara 26 km hingga 35 km. Fenomena penipisan kerak paling signifikan terdeteksi pada kedalaman 26 km di bawah MVF. Penelitian ini memberikan wawasan baru mengenai dinamika vulkanik di Kamchatka, serta implikasinya terhadap interpretasi aktivitas tektonik dan vulkanik di zona subduksi. Temuan ini dapat digunakan sebagai referensi dalam studi serupa di wilayah vulkanik lainnya.
PENENTUAN HIPOSENTER MENGGUNAKAN METODE NON-LINEAR DI SULAWESI TENGAH BERDASARKAN DATA TANGGAL 1 DESEMBER 2019-31 JANUARI 2020
Gempa 7,5 Mw terjadi di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Indonesia, pada 28 September 2018 tergolong gempa kuat dan merusak. Gempa tersebut terpicu oleh aktivitas Sesar Palu-Koro dan mengakibatkan sejumlah gempa susulan. Pemahaman tentang aktivitas gempa susulan dan pola seismisitas merupakan bagian dari upaya mitigasi bahaya gempa. Secara tatanan tektonik, wilayah Sulawesi khususnya Sulawesi Tengah memiliki tatanan tektonik yang relatif rumit dan aktif. Pola tatanan tektonik di suatu wilayah dapat dipahami dari pola seismisitas yang diperoleh dari hasil penentuan hiposenter. Pada penelitian Tugas Akhir ini, penulis menggunakan data rekaman 10 titik seismograf dengan rentang rekaman mulai dari 1 Desember 2019 - 31 Januari 2020. Jaringan pengamatan seismograf tersebut merupakan kerjasama ITB, BMKG dan University of Cambridge. Proses penentuan hiposenter gempa mengaplikasikan metode non-linear dan menggunakan program Non-Linear Location (Nonlinloc). Penulis memilih fase gelombang P dan S secara manual menggunakan perangkat lunak Seisgram2K. Berdasarkan hasil penentuan lokasi gempa, diperoleh 44 kejadian gempabumi dengan 492 fase gelombang P dan S. Hasil hiposenter ditampilkan dalam bentuk peta sebaran hiposenter di wilayah Sulawesi Tengah. Secara umum zona seismogenik berada pada kedalaman kurang dari 30 km dan tersebar di bagian timur Sesar Palu-Koro. Selain itu, terdapat cluster sebaran gempa di bagian timur Sesar Palu-Koro yang kemungkinan terpicu oleh sesar aktif yang belum terpetakan.