📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 2 dokumenANALISIS KESENJANGAN NIAT-PERILAKU (INTENTION-BEHAVIOR GAP) DALAM KONSERVASI AIR BERDASARKAN KONTEKS (RUMAH DAN SEKOLAH) MENGGUNAKAN KERANGKA THEORY OF PLANNED BEHAVIOR (STUDI KASUS: SISWA SMA NEGERI X DI BANDUNG)
Penelitian ini menganalisis perilaku konservasi air siswa SMA Negeri X di Bandung menggunakan kerangka Theory of Planned Behavior (TPB) dengan membandingkan konteks rumah dan sekolah. Menggunakan pendekatan kuantitatif dan non-probability sampling, data valid berhasil dikumpulkan dari 139 responden siswa kelas XI yang berusia 17–18 tahun. Data kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda serta berbagai uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model TPB valid secara simultan dalam menjelaskan niat dan perilaku hemat air siswa. Namun, analisis parsial mengungkap dikotomi yang jelas: perilaku di rumah didorong oleh niat otonom, sedangkan perilaku di sekolah murni digerakkan oleh Persepsi Kontrol Perilaku (PBC). Skor PBC dan tindakan aktual di sekolah terbukti secara signifikan lebih tinggi dibandingkan di rumah. Temuan ini tidak disebabkan oleh otomatisasi teknologi karena sekolah masih menggunakan keran manual, melainkan dipicu oleh defisiensi pasokan air bersih harian dan air tanah yang berwarna kuning yang bertindak sebagai pemaksa situasional. Kondisi tersebut memicu fenomena kesenjangan terbalik (reverse gap) di sekolah, di mana tindakan aktual siswa secara signifikan melampaui niat awal mereka akibat batasan lingkungan yang mengambil alih kendali kognitif. Sebaliknya, tidak terdapat kesenjangan niat-perilaku yang signifikan dalam konteks rumah. Pengujian tambahan membuktikan bahwa faktor sosio-demografi (gender, uang saku, pendidikan orang tua), paparan kurikulum akademik (Biologi/Geografi), riwayat krisis air domestik, dan kepadatan hunian tidak berpengaruh signifikan terhadap perilaku aktual siswa di sekolah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keterbatasan sumber daya efektif memaksa efisiensi perilaku secara pasif di sekolah. Pihak sekolah direkomendasikan untuk melakukan optimalisasi filtrasi air serta menerapkan kontrol rekayasa (engineering control) proaktif melalui pemasangan teknologi hemat air (seperti keran tekan otomatis atau aerator) untuk menjaga keberlanjutan konservasi di masa depan tanpa bergantung pada fluktuasi motivasi internal individu.
ANALISIS INTENSI PENGGUNAAN LAYANAN GO-TRANSIT MENGGUNAKAN THEORY OF PLANNED BEHAVIOR
Meskipun pengembangan integrasi transportasi publik pesat, permasalahan transportasi di Jabodetabek, seperti kemacetan, masih tetap ada. Pengguna transportasi publik masih membutuhkan transportasi untuk perjalanan first-mile dan last-mile. Adanya layanan Go-Transit yang mengintegrasikan layanan ojek online dengan KRL merupakan salah satu layanan berbasis kemudahan yang mampu mengakomodir perjalanan first-mile dan last-mile dari pengguna transportasi umum. Oleh karena itu, studi ini mengeksplor faktor psikologis dari pengguna KRL berdasarkan Theory of Planned Behavior (TPB). Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap perencanaan integrasi transportasi publik di Jabodetabek. Data dikumpulkan melalui kuesioner online yang disebarkan kepada 322 responden di Jabodetabek dan dianalisis dengan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM). Bagi pengguna Go-Transit, intensi penggunaan layanan tersebut dipengaruhi secara signifikan oleh norma subjektif dan persepsi kontrol perilaku. Sedangkan bagi yang belum pernah menggunakan Go-Transit, variabel sikap dan persepsi kontrol perilaku mempengaruhi intensi penggunaan layanan secara signifikan. Secara keseluruhan, hasil pemodelan menunjukkan bahwa seluruh variabel TPB berpengaruh signifikan terhadap intensi penggunaan layanan Go-Transit, dengan persepsi kontrol perilaku merupakan variabel yang paling mempengaruhi. Perasaan mudah dan kepuasan terhadap tarif yang ditawarkan merupakan indikator yang paling dominan dalam variabel laten sikap. Harapan orang-orang sekitar untuk menggunakan layanan Go-Transit menjadi indikator paling dominan dalam variabel laten norma subjektif. Sedangkan ketersediaan informasi yang membuat pengguna lebih mudah menggunakan layanan Go-Transit adalah indikator dominan dalam variabel persepsi kontrol perilaku.