📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 2 dokumenREINTEGRATING THE SEA AND THE CITY: MERAK PORT AS A WATERFRONT TRANSIT HUB FOR MOBILITY AND PUBLIC LIFE
Transformasi kawasan pelabuhan sebagai pintu gerbang kota menghadirkan peluang untuk mengintegrasikan fungsi transportasi, ruang publik, dan identitas kultural dalam satu lanskap arsitektural yang inklusif. Studi ini berfokus pada Pelabuhan Merak di Cilegon, Banten, sebagai simpul mobilitas strategis yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatra, sekaligus salah satu pelabuhan penumpang tersibuk di Indonesia dengan arus pergerakan harian yang sangat dinamis. Secara potensial, pelabuhan ini dapat memperkuat interkonektivitas regional, mempercepat perputaran ekonomi, serta menjadi ruang interaksi sosial yang berkelanjutan. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa peran pelabuhan masih terfokus pada aspek transportasi teknis, sementara kebutuhan dasar pengguna, kenyamanan, dan kualitas sirkulasi antar moda belum terakomodasi dengan baik. Kondisi seperti jarak yang jauh antara Stasiun Merak, terminal penumpang, drop-off point, pool travel-bus, dan dermaga, seringkali menimbulkan pergerakan tidak efisien, mengurangi kualitas pengalaman pengguna dan membatasi aksesibilitas masyarakat. Situasi ini menegaskan pentingnya reposisi fungsi pelabuhan sebagai ruang publik yang inklusif, efisien, dan terhubung dengan kota. Tugas akhir ini mengarahkan pengembangan terminal penumpang di Pelabuhan Merak bertransformasi menjadi waterfront transit hub yang tidak hanya memusatkan sirkulasi manusia dalam jaringan transportasi laut, darat, dan rel, tetapi juga memperluas fungsi terminal penumpang menjadi ruang publik multi-fungsi yang dapat dimanfaatkan oleh penumpang reguler, penumpang eksekutif, pelaku usaha lokal, maupun masyarakat umum. Pendekatan arsitektural dirumuskan dengan merespons tekanan sosial, ekonomi, dan ekologis yang bekerja pada kawasan pesisir, serta diperkaya dengan prinsip biophilic design untuk menghadirkan integrasi elemen alam dalam pengalaman ruang yang sehat, nyaman, dan terhubung dengan laut. Melalui pendekatan ini, rancangan tidak hanya menawarkan solusi atas aksesibilitas, inklusivitas, dan konektivitas antar moda, tetapi juga mendorong transformasi Pelabuhan Merak dari sekadar infrastruktur transportasi menjadi ruang publik waterfront yang hidup, tangguh menghadapi fluktuasi kepadatan penumpang, dan berkontribusi pada terwujudnya lingkungan perkotaan yang lebih adil, inklusif, serta berkelanjutan.
PERANCANGAN STRUKTUR DERMAGA, TRESTEL, DAN CAUSEWAY UNTUK TIPE GENERAL CARGO DI PELABUHAN KILO, NUSA TENGGARA BARAT
Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan ribuan pulau, sangat bergantung pada sistem transportasi laut untuk menghubungkan berbagai wilayah dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam konteks ini, perancangan dermaga general cargo di Pelabuhan Kilo, Provinsi Nusa Tenggara Barat, menjadi sangat penting. Tugas akhir ini bertujuan untuk merancang dermaga yang memenuhi standar internasional dan nasional, yaitu British Standard, The Overseas Coastal Area Development Institute of Japan (OCDI), Standar Nasional Indonesia (SNI), dan Shore Protection Manual. Penelitian ini mencakup berbagai aspek perancangan, termasuk pengolahan data sekunder, pemodelan elemen struktural menggunakan perangkat lunak SAP2000, perhitungan tulangan elemen struktur, dan analisis daya dukung tanah. Pemodelan dengan SAP2000 dilakukan untuk menentukan nilai Unity Check Ratio (UCR) yang optimal yaitu diantara 0.7 hingga 1 serta memastikan defleksi struktural tetap di bawah batas izin maksimum. Hasil pemodelan ini akan digunakan untuk mengukur reaksi perletakan dalam perhitungan daya dukung tanah. Desain dermaga melibatkan dimensi utama sepanjang 112 meter dan lebar 12 meter, dengan elevasi +3.4 meter dari LWS dan kedalaman -7 meter dari LWS. Struktur dermaga mencakup elemen seperti pelat, balok, tiang pancang, dan pile cap. Tiang pancang direncanakan memiliki diameter 590 mm dan tebal 14 mm dengan kedalamannya ditentukan berdasarkan analisis daya dukung tanah yang menunjukkan hingga -28 meter dari seabed. Trestel, yang berfungsi sebagai penghubung antara dermaga dan daratan, memiliki dimensi panjang 80 meter dan lebar 8 meter, serta elemen struktural yang meliputi pelat, balok, tiang pancang, dan pile cap. Tiang pancang yang direncanakan berdiameter 430 mm dan tebal 12 mm, dengan kedalaman tiang pancang yaitu -18 meter dari seabed. Selain itu, untuk menghubungkan trestel dengan daratan, direncanakan sebuah causeway dengan panjang 150 meter dan lebar 8 meter. Causeway ini akan menggunakan material sand untuk timbunan dan quarrystone untuk lapisan penutup. Struktur ini juga akan terbagi menjadi structure head, yang mana direncanakan akan memiliki panjang 25 meter dari trestel, dan structure trunk yang direncanakan memiliki panjang 125 meter dari daratan.